Di antara cahaya yang tak pernah cukup dan bayangan yang tak pernah padam, namanya terucap hanya dalam hening: Orion.
Ia bukan milik dunia yang kau kenal. Pangeran dari kedalaman kegelapan, sosok yang dikabarkan tak pernah menyentuh sinar matahari, yang berjalan di tempat di mana cahaya tak mampu menjangkau. Banyak yang gemetar menyebut namanya; banyak yang menganggapnya kutukan. Namun bagi Aruna—ia adalah satu-satunya keberkahan yang menyelamatkannya dari jurang.
Aruna, gadis yang hidup di antara keraguan dan bahaya yang datang tanpa peringatan, selalu menemukan dirinya ditarik ke tepi jurang—sampai sepasang tangan yang kuat, hangat meski berasal dari kegelapan, menariknya kembali. Orion selalu hadir tepat saat dunia tampak membelakanginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerbang yang Tak Terlihat
Kabut di sekeliling kami makin pekat, tebalnya sampai aku nyaris tak bisa melihat ujung kakiku sendiri. Kalau bukan karena tangan Orion yang menggenggam erat tanganku, aku yakin sudah lama tersesat di sini. Rasanya seperti berjalan di dalam mimpi yang tak berujung—tanpa suara langkah kaki, tanpa arah yang jelas, hanya ada kehangatan dari genggamannya yang menjadi satu-satunya penunjuk jalan.
"Jangan lepaskan tanganku," bisik Orion, suaranya terdengar dekat meski badannya tersembunyi di balik kabut tebal. "Jangan pedulikan apa pun yang kau dengar. Tetaplah melangkah bersamaku."
"Aku tidak akan melepaskannya," jawabku, meremas sedikit jemarinya yang terasa dingin namun kokoh. "Tapi... ke mana persisnya kita pergi? Rasanya kita sudah berjalan cukup lama."
"Kita sedang menyeberangi batas, Aruna. Tempat di mana duniamu berakhir dan mulailah duniku. Tidak ada jalan yang terlihat, tidak ada peta yang bisa menggambarkannya. Kita hanya perlu mempercayai perasaannya."
Baru saja kalimat itu selesai terucap, angin tiba-tiba berubah. Bukan lagi sejuk seperti tadi, melainkan dingin yang menusuk sampai ke tulang. Dari kejauhan terdengar suara—bukan angin, bukan hewan, tapi seperti orang berbisik banyak sekaligus. Suara-suara itu lembut tapi menyakitkan di telinga, seolah ingin masuk ke dalam kepalaku dan mengacak-acak pikiranku.
"Kau tidak perlu pergi... kau bisa pulang... di sini terlalu gelap untukmu..."
Aku menelan ludah, mempererat genggamanku pada tangan Orion. "Kau dengar itu juga, kan?"
Orion berhenti melangkah. Dia berbalik ke arahku, meski wajahnya samar di balik kabut, aku bisa merasakan tatapannya yang tenang. "Itu bukan suara sungguhan. Itu keraguanmu sendiri yang berubah menjadi bisikan. Mereka hidup di sini, di tempat yang tidak punya batas antara nyata dan khayalan. Jangan dengarkan mereka."
"Tapi suaranya... terdengar seperti ibuku. Seperti Dinda."
"Itulah caranya. Mereka mengambil bentuk yang paling kau rindukan, agar kau berbalik arah. Tutup matamu, Aruna. Percayalah padaku, bukan pada apa yang kau lihat atau kau dengar."
Aku menutup matanya rapat-rapat. Dunia langsung menjadi gelap total, tapi anehnya, aku justru merasa lebih tenang. Kehadiran Orion terasa begitu jelas di sampingku—getaran dari jantungnya yang berdetak tenang, aroma udara yang segar dan dingin, kehangatan yang mengalir dari persentuhan tangan kami.
"Baik," kataku pelan. "Aku siap. Bimbing aku."
"Langkah kecil saja. Ikuti aku."
Kami berjalan lagi, mataku tetap terpejam. Suara-suara itu makin keras, makin mendesak.
"Dia bukan milikmu... kau akan hancur di sini... pulanglah selagi kau masih bisa..."
Satu suara terdengar sangat mirip Dinda, sampai aku hampir membuka mataku. Tapi aku menahan diri. Aku tahu Dinda tidak akan memintaku pulang dengan nada yang begitu putus asa dan dingin. Dinda akan membiarkanku pergi, karena dia tahu di mana kebahagiaanku berada.
"Orion..." panggilku pelan.
"Aku di sini," jawabnya segera, seolah sudah menunggu aku bicara.
"Apakah sulit bagimu dulu... melewati tempat ini sendirian?"
Dia terdiam sejenak, lalu menghela napas pelan. "Sangat sulit. Kadang aku berjalan berhari-hari di sini, lupa arah, lupa waktu. Suara-suara itu akan berbisik hal-hal yang paling kutakutkan—bahwa aku akan selamanya sendirian, bahwa tidak ada yang akan pernah mencintaiku. Dan aku percaya pada mereka, karena memang itu yang kurasakan saat itu."
"Dan sekarang?"
"Sekarang ada kau di sisiku. Suara-suara itu tidak lagi punya kekuatan. Karena aku tahu ke mana aku pergi, dan siapa yang menungguku di sana."
Kalimat itu terasa seperti perisai di sekelilingku. Rasa takutku perlahan luntur, digantikan oleh keyakinan yang tenang.
Tiba-tiba langkah Orion terhenti. "Buka matamu sekarang, Aruna."
Aku membuka mataku. Kabut tebal itu perlahan menipis, terbelah di depan kami seolah ada tangan tak terlihat yang menyibakkannya. Dan di hadapanku berdiri sebuah gerbang—bukan terbuat dari kayu atau besi, melainkan dari cahaya yang berkilauan, berwarna keemasan lembut yang memancar dari dalam kabut itu sendiri. Tingginya menjulang ke atas, menghilang di langit yang tak terlihat ujungnya.
"Ini..." suaraku tercekat. "Ini gerbang ke duniamu?"
"Ini gerbang perbatasan," jawab Orion pelan, matanya menatap gerbang itu dengan campuran rasa hormat dan sedih. "Di sinilah aku dikutuk berdiri sendirian selama ribuan tahun. Tidak boleh masuk ke duniamu, tidak boleh pulang ke sana."
Dia melangkah mendekat ke arahku, kedua tangannya menggenggam kedua tanganku di dadanya.
"Aruna, sebelum kita melangkah melewati ini, aku harus jujur padamu satu hal lagi. Di sana, tidak ada matahari. Tidak ada siang seperti yang kau kenal. Cahayamu akan menjadi hal yang paling terang di antara kami, dan itu... itu akan membuatmu terlihat sangat jelas bagi siapa pun yang mencari. Termasuk mereka yang tidak menyukai keberadaanmu di sana."
"Aku tahu risikonya," jawabku mantap. "Tapi aku juga tahu satu hal: di mana pun kau berada, di sanalah aku ingin berada. Bahkan jika tempat itu gelap gulita."
Orion tersenyum, senyum yang begitu tulus sampai matanya berbinar. Dia menunduk sedikit, menyentuh keningku dengan keningnya sendiri.
"Kau tidak tahu betapa berartinya kata-katamu bagiku. Ribuan tahun aku menunggu seseorang yang mau berkata begitu tanpa ragu sedikit pun."
"Kalau begitu, mari kita masuk bersama," ajakku.
Dia mengangguk, lalu memegang tanganku erat sekali. "Pegang erat-erat. Jangan lepaskan, walau rasanya aneh. Perasaan melintas di antara dua dunia bisa membuat pusing. Tarik napas dalam-dalam."
Aku menarik napas panjang, lalu mengangguk. "Siap."
Saat kami melangkah melewati gerbang itu, rasanya seperti berjalan masuk ke dalam air yang hangat. Segala sesuatu di sekelilingku berputar pelan—suara, cahaya, bahkan waktu seolah berhenti sejenak. Mataku terpejam karena cahaya yang tiba-tiba terasa begitu terang meski di balik kelopak mata. Detik berikutnya, kehangatan itu menghilang, digantikan oleh udara yang sejuk dan bersih, segar seperti setelah hujan turun di pegunungan yang tinggi.
Ketika aku membuka mataku, aku tidak lagi berdiri di jalan setapak yang kubawa dari Banjarmasin.
Di depannya terbentang sebuah lembah yang luas, diterangi cahaya samar berwarna perak lembut yang seolah datang dari mana saja dan tidak ada sama sekali. Tanahnya berwarna keemasan pucat, rumput-rumputnya berkilauan halus seperti debu bintang. Di kejauhan terlihat bukit-bukit yang lembut, dan di langit—tidak ada matahari, tidak ada bulan, tapi ada ribuan bintang yang bersinar terang dan dekat, seolah bisa dijangkau dengan tangan.
"Ini..." aku menelan ludah, takjub sampai lupa berkedip. "Ini duniamu?"
"Bagian yang paling aman," jawab Orion pelan, matanya memperhatikan ekspresiku dengan cemas. "Tidak terlalu jauh ke dalam, tidak terlalu dekat dengan batas. Bagaimana? Apakah... apakah kau kecewa? Tidak ada bunga berwarna-warni, tidak ada langit biru..."
Aku menoleh padanya, lalu tersenyum lebar—senyum paling tulus yang pernah kuberikan padanya.
"Kecewa? Orion, ini tempat terindah yang pernah kulihat. Tenang... damai... dan sepi."
Dia menghela napas lega, seolah beban berat baru saja terangkat dari pundaknya. "Aku takut kau akan merasa asing di sini."
"Aku tidak akan merasa asing selama kau ada di sini," jawabku tulus.
Orion tersenyum, lalu menunjuk ke sebuah arah di mana terlihat sebuah bangunan kecil yang terbuat dari batu halus, tersembunyi di antara pepohonan yang daunnya berkilauan lembut.
"Itu tempatku dulu. Sebelum aku dikutuk ke perbatasan. Tidak besar, tapi cukup untuk kita berdua. Setidaknya untuk sementara waktu."
Kami berjalan beriringan menuju ke sana. Langkahku terasa ringan, seolah beban di pundakku ikut tertinggal di gerbang tadi. Di belakangku, gerbang itu perlahan menghilang, menyatu dengan cahaya perak di udara. Tidak ada jalan pulang yang terlihat. Tapi anehnya, aku tidak merasa cemas. Karena di sampingku berjalan rumahku yang sesungguhnya.