NovelToon NovelToon
Suara Untuk Dia

Suara Untuk Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Balas Dendam / Idola sekolah
Popularitas:153
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Putra Satria Hsb

【Perjuang keras meraih cinta+Cerita di waktu SMA+Romantis nonfiksi】Seseorang yang jatuh cinta kepda perempuan terpintar di sekolah... Meskipun dia bukan pria yang pandai dalam akademi tapi dia ingin membuktikan jika dia layak mendapatkan perempuan tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Putra Satria Hsb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4- Jatuh Cinta dan Senjata Utama

Perkataan Pak Suryadi yang menyebutku "keturunan Pithecanthropus" memang berhasil memancing tawa seisi kelas X IPA 2. Muka ini rasanya panas bukan main, merah padam seperti udang rebus. Namun, di balik rasa malu yang menjalar sampai ke ujung telinga, ada kepuasan aneh yang terselip di dalam hati. Dari sudut mataku, aku sempat melihat Nara tertawa kecil—bukan tawa ejekan yang jahat, melainkan tawa renyah yang membuat kedua lesung pipinya terlihat sangat jelas.

Bagi pemuda ingusan seperti aku yang baru pertama kali merasakan getaran aneh bernama jatuh cinta, melihat dia tersenyum gara-gara kelakuanku sudah lebih dari cukup untuk menutupi rasa malu berdebat soal Teori Darwin.

Suasana kelas X IPA 2 kembali bising begitu Pak Suryadi melangkah keluar dari pintu. Beberapa teman sekelas langsung bersiul dan tertawa sambil menunjuk-nunjuk ke arahku. Diko, sahabat karibku yang duduk tepat di sebelahku, langsung menepuk pundakku keras-keras sampai aku hampir tersedak ludah sendiri.

"Kau memang beda dari yang lain, Satria! Baru hari-hari awal sekolah di IPA 2, kau sudah mengajak guru Sejarah bertengkar soal asal-usul kera. Otakmu itu dipasang di mana, hah?" ledek Diko sambil tertawa terbahak-bahak sampai matanya menyipit.

"Sembarangan kau, Ko! Itu namanya kritis. Daripada diam saja memperhatikan gambar kera tua di papan tulis, mending ada perlawanan dari murid IPA 2," balasku membela diri, walau sejujurnya gengsiku sedang dipertaruhkan.

"Kritis matamu peang! Yang ada Pak Suryadi makin yakin kalau kau memang keturunan kera," seru Diko lagi, masih belum puas mengejekku.

Aku tidak membalas lagi omongan Diko. Perhatianku justru langsung teralih pada sosok perempuan yang duduk tepat di depanku. Nara sedang sibuk merapikan buku-buku catatannya. Tulisannya rapi sekali, tersusun bersaf-saf dengan garis bawah warna-warni menggunakan pulpen gel. Di sebelahnya, Lina masih tampak kebingungan melihat tumpukan materi Sejarah Lintas Minat yang baru saja disajikan.

Aku memberanikan diri untuk mengikis jarak. Kudoel-doel pundak Nara menggunakan ujung pulpenku dari belakang.

"Hey, Ra," panggilku dengan suara yang diusahakan se-berkharisma mungkin.

Nara membalikkan badannya perlahan. Rambut di balik jilbabnya yang agak berantakan sedikit dirapikan dengan jemarinya yang lentik. Dia menatapku dengan mata bulatnya yang jernih, lalu menghela napas panjang.

"Apa lagi, Satria? Kamu mau nanya lagi kera mana yang jadi nenek moyangmu?" sahut Nara dengan nada ketus yang dibuat-buat, tapi ujung bibirnya tidak bisa menyembunyikan senyuman.

"Yee... Enak saja. Aku cuma mau tanya, gimana tadi pertanyaan hebatku? Menambah wawasan kelompok kita, kan?" kataku sambil menaikkan sebelah alis, mencoba berlagak sok keren di depannya.

Nara menatapku lama, seolah-olah sedang menguji seberapa tebal muka yang kumiliki. Lalu, sebuah hembusan napas tawa lolos dari bibirnya.

"Hebat dari mananya, Satria? Yang ada Pak Suryadi makin pusing, waktu jam pelajaran kita habis terbuang cuma gara-gara mendengarkan kamu berdebat hal yang sama sekali enggak ada di modul! Harusnya tadi kita bisa menyelesaikan tiga nomor soal lagi," cerocos Nara. Cerotehannya panjang, cepat, dan penuh intonasi, mirip seperti ibu-ibu yang sedang menawar harga sayuran di pasar pagi.

"Tapi setidaknya suasana kelas jadi cair, kan? Daripada kamu cemberut terus dari tadi. Muka galakmu itu kalau dilihat-lihat makin mirip ibu-ibu kehilangan dompet tahu enggak," godaku lagi.

"Ihh... Satria!" Nara memukul lengan atasku menggunakan gulungan buku catatan Sejarahnya. Tidak terlalu sakit, tapi cukup membuatku meringis pura-pura kesakitan. "Aku itu cuma mau nilai kelompok kita bagus! Di kelas X IPA 2 ini kan saingannya berat-berat. Kalau kita enggak aktif tanya hal yang berbobot, nanti nilai harian kita bisa disalip sama kelompok lain!"

Melihat Nara yang begitu ambisius soal nilai membuatku makin terpesona sekaligus minder. Perempuan di depanku ini bukan sekadar cewek manis yang cuma tahu bersolek atau tebar pesona. Dia punya target, punya mimpi, dan punya semangat belajar yang luar biasa tinggi. Sementara aku? Masuk ke kelas X IPA 2 saja rasanya seperti sebuah keajaiban yang salah alamat. Ranking pas-pasan saat SMP, tidak pernah masuk 10 besar, dan lebih sering main PS2 di rumah Diko daripada menyentuh buku pelajaran.

"Beda kelas memang kalau sudah omongan anak pinter," bisikku pelan, agak menunduk.

Nara yang menyadari perubahan raut mukaku langsung terdiam. Tatapan matanya yang tadi penuh amarah mendadak melunak.

"Kok malah melamun? Kamu marah ya aku pukul pakai buku tadi?" tanya Nara halus. Suaranya berubah 180 derajat, menjadi begitu lembut dan ramah, persis seperti kesan pertamaku saat melihatnya di parkiran sekolah.

"Enggak, mana ada marah. Cuma lagi mikir saja... Gimana caranya aku yang otak pas-pasan ini bisa mengimbangi anak sejernih kamu di IPA 2 ini," jawabku jujur tanpa memikirkan gengsi lagi.

Nara tersenyum tipis. Lesung pipinya muncul kembali, memberikan pemandangan indah yang menyejukkan dada. "Makanya, kalau di kelas itu fokus dengarkan guru, bukannya malah buat kerusuhan. Buka bukunya, dibaca."

"Ya sudah, kalau begitu kamu saja yang ajari aku. Gimana?" tantangku cepat, memanfaatkan kesempatan emas yang ada di depan mata.

"Ajari kamu?" Nara menaikkan sebelah alisnya.

"Iya. Guru di sekolah kan penjelasannya kadang bikin ngantuk. Tapi kalau kamu yang ngajari, jangankan paham materi Sejarah, rumus Kimia yang rumit pun pasti langsung nyangkut di otakku," jawabku sambil tersenyum lebar.

Diko yang mendengarkan percakapan kami dari samping langsung menyela dengan nada mengejek, "Alasan saja itu Nara! Jangan mau! Dia itu cuma mau nyari alasan biar bisa melihat mukamu terus dari dekat. Satria ini akalnya banyak!"

"Diam kau, Diko! Jangan merusak prospek masa depanku!" seruku sambil menyiku pinggang Diko. Diko hanya tertawa-tawa sambil mengaduh pura-pura sakit.

Nara tertawa melihat tingkah kami berdua. Suara tawanya sangat renyah, bergema pelan di dalam ruangan kelas yang mulai sepi karena sebagian besar siswa sudah berhamburan pergi ke kantin.

"Boleh saja aku ajari," kata Nara akhirnya.

Mataku langsung berbinar. "Beneran, Ra?"

"Beneran. Tapi ada syaratnya," jawab Nara sambil menyilangkan kedua tangannya di dada, memasang raut wajah sok tegas.

"Apa syaratnya? Apapun bakal aku turuti, asal bukan disuruh nangkep kera di hutan," jawabku bercanda.

"Pertama, kalau lagi aku jelasin materi, kamu enggak boleh jahil atau panggil-panggil nama aku terus. Kedua, pas pendaftaran eskul sore nanti, kamu sama Diko janji enggak boleh buat ulah di lapangan. Dan yang ketiga... Traktir aku dan Lina es teh di kantin sekarang juga!" pamer Nara dengan senyum cantiknya yang mengunci kemenangan.

"Siap! Jangankan es teh, sekalian sama bakso dan gorengannya aku traktir hari ini!" jawabku tanpa ragu sedikit pun. Dompet di saku celanaku mungkin akan menjerit kehabisan uang saku, tapi demi mengukir senyuman di wajah Nara, rasanya uang lima belas ribu rupiah di dompetku ikhlas dikorbankan.

Kami berempat—aku, Diko, Nara, dan Lina—akhirnya berjalan bersama menuju kantin belakang sekolah. Sepanjang koridor kelas X IPA 2 yang ramai oleh lalu lalang siswa lain, aku berjalan tepat di samping Nara. Angin sepoi-sepoi berhembus lembut, memainkan ujung jilbab Nara yang berkibar pelan. Aroma wangi yang lembut keluar dari tubuhnya, aroma khas yang sampai kapan pun tidak akan pernah bisa kulupakan.

Saat berjalan di sisinya, aku sempat melirik tangannya yang terayun santai. Tiba-tiba kenangan di hari pertama kembali berputar di kepala. Saat tangan mungil itu kugenggam erat tanpa mau kulepas, dan saat ucapan polosku yang bilang "kamu cantik" meluncur begitu saja tanpa disaring. Muka Nara waktu itu yang memerah dan jawaban gokilnya soal pelet benar-benar membuat hatiku tertambat padanya.

"Satria, kok jalanmu lambat banget sih? Nanti baksonya kehabisan!" teriak Nara dari depan, menyadarkanku dari lamunan panjang. Dia sudah berdiri di dekat tangga koridor sambil melambaikan tangannya kepadaku.

"Iya, iya, ini jalan!" balasku sambil berlari kecil menyusulnya.

Di dalam hati, aku berbisik pada diriku sendiri. Masa-masa awal di SMA ini mungkin akan terasa berat karena pelajaran IPA 2 yang menumpuk. Tapi berada di kelas yang sama dengan Nara, melihat senyumnya setiap hari, dan mendengarkan suara renyahnya saat mengomel, membuatku sadar satu hal: rasa jatuh cinta ini telah memberiku senjata utama. Keberanian dan alasan kuat untuk bertahan, berusaha, serta membuktikan bahwa aku pantas berdiri sejajar di sampingnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!