NovelToon NovelToon
Istri Gendut Yang Diceraikan

Istri Gendut Yang Diceraikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Rumah Tangga / Dendam Kesumat / Cewek Gendut
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Danti tiba-tiba diceraikan oleh suaminya saat rumah tangga mereka sedang baik-baik saja.

Alasannya? karena tubuh Danti berubah gemuk setelah menjalani berbagai program kehamilan yang selama ini sedang mereka perjuangkan bersama.

Bukannya menangis dan memohon agar dicintai kembali, Danti justru menerima perceraian itu dengan tenang.

Namun sebelum palu hakim diketuk, Danti akan membuktikan bahwa perempuan yang dicampakkan karena bentuk tubuhnya... kini masih bisa berubah menjadi bidadari yang membuat banyak lelaki tergila-gila.

Dan saat mantan suaminya menyesal, Danti hanya tersenyum sambil berkata...

“Aku pawang buaya yang akan membuka kembali peternakannya!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tempat untuk pulang

Kafe itu bernuansa kayu dan tanaman gantung. Aroma kopi dan roti panggang menyambut begitu pintu kaca terbuka, bercampur alunan musik jazz yang mengalun pelan. Mata Danti menyapu ruangan, dan jantungnya berdegup.

Di meja dekat jendela, seorang perempuan berambut sebahu melambai-lambaikan tangan dengan semangat berlebihan.

"Danti!"

Nadia sudah berdiri sebelum Danti sampai. Mereka berpelukan lama di tengah kafe, tak peduli beberapa pengunjung menoleh. Pelukan yang erat, bergoyang ke kiri dan kanan, disertai tawa dan isak kecil yang tertahan.

"Kamu kurusan, Nad," bisik Danti.

"Kurusan apanya, aku ngekos di kota kecil makan mi instan tiap malam!"

Mereka melepaskan diri, saling menatap. Dan di sekejap itu, Danti melihat sesuatu melintas di wajah sahabatnya. Sedikit, hanya sepersekian detik. Mata Nadia melebar saat menelusuri tubuh Danti, wajahnya yang lebih bulat, bahunya yang lebih lebar, lekuk gaunnya yang kini lebih penuh.

Danti merasakan seluruh tubuhnya menegang. Ia sudah menunggu kalimat itu. "Kok kamu gemuk banget?" Ia bahkan sudah menyiapkan senyum paling tabah yang selama ini selalu ia gunakan hampir setiap hari.

Tapi Nadia hanya tersenyum. Senyum lebar yang menutupi keterkejutannya dengan begitu rapi.

"Ya ampun, Dan. Kamu makin cantik, ya! Wajahmu makin cerah, makin manis."

Danti terdiam sebentar. Lalu tertawa pendek, tawa getir yang tak ia niatkan. "Makin cantik... atau makin gendut?"

Kalimat itu keluar begitu saja. Nadia tertegun.

Dan Danti langsung menyesal. Kebiasaan lama, kata-kata yang selama ini ia dengar setiap hari menyusup ke mulutnya sendiri seperti hama.

Nadia bagaimanapun tak tersinggung. Ia meraih kedua tangan Danti dan meremasnya lembut. "Dua-duanya salah," katanya mantap. "Kamu makin cantik. Titik."

Mata Danti memanas. Ia buru-buru menunduk, pura-pura mencari kursi.

Nadia memesan seperti orang yang baru mendapat bonus. Nasi ayam bakar, sup iga, dua porsi kentang goreng, tahu crispy, sepiring pasta, dan dua gelas es teh leci. Pelayan mencatat sambil sesekali melirik takjub.

"Nad, ini kebanyakan..."

"Nggak. Aku kelaparan banget." Nadia mengibaskan tangan. "Semalam sampai kota udah larut, nggak sempat makan. Tadi pagi cuma minum air putih. Mati-matian nunggu ketemu kamu."

Danti tahu itu setengah bohong. Ia mengenal sahabatnya terlalu baik. Nadia selalu lapar tepat ketika ada orang lain yang butuh makan dan selalu terlalu kenyang ketika ia sendiri yang membutuhkannya. Dulu, di panti ia sering menyembunyikan lauknya di bawah nasi agar Danti, yang waktu itu baru kehilangan ibu dan tak mau makan berhari-hari mau menyuap.

Dan Nadia tidak buta. Sejak Danti melangkah masuk, ia sudah melihat bibir yang agak pucat, jemari yang sedikit gemetar, dan cara Danti sesekali menekan perutnya dengan telapak tangan.

Sepiring demi sepiring tiba. Uap harum memenuhi meja.

"Ayo, makan!" seru Nadia sambil mengambil sendok.

Danti mengangkat sendoknya, lalu berhenti.

Di kepalanya, suara itu muncul lagi. "Kamu kebanyakan makan, Dan." "Dikasih makan sedikit, nggak akan berhenti." "Padahal udah segede itu." Gelak tawa di ballroom. Ibu mertuanya yang menjejalkan lauk ke dalam wadah plastik.

Ia mengambil sedikit nasi, hanya beberapa sendok. Mengunyah pelan, nyaris tak bersuara, sambil mengintip ke sekeliling seakan seseorang akan datang dan menegurnya. Setiap suapan terasa seperti mencuri.

Nadia berhenti mengunyah. Matanya memperhatikan.

Danti yang ia kenal tak seperti ini.

Danti yang ia kenal akan merebut ayam bakar dari piringnya sambil tertawa. Danti yang ia kenal pernah menghabiskan tiga porsi bakso di kantin sekolah dan memenangkan taruhan, lalu berpose bangga di depan teman-teman. Danti yang dulu tak pernah malu-malu soal makan, tak pernah meminta maaf atas nafsu makannya, dan tak pernah menengok kiri-kanan seakan sedang berbuat dosa.

"Ada yang salah," batin Nadia.

Namun alih-alih bertanya, ia tersenyum. Ia mengambil sepotong besar ayam bakar, menggigitnya dengan lahap, lalu mengerang puas seperti seseorang di iklan makanan.

"Ya Tuhan, enak banget! Dan, cobain deh!" Ia mengunyah dengan mulut penuh, berantakan dan sama sekali tak anggun. "Aku udah lama nggak makan seenak ini."

Tanpa menunggu jawaban, ia menyendok nasi tambahan, kentang goreng, dan irisan ayam, lalu menumpuknya di piring Danti hingga nyaris menggunung.

"Nad, itu banyak banget..."

"Habisin."

"Tapi..."

"Habisin, Danti." Nadia menatapnya, nada suaranya lembut tapi tak bisa ditawar. "Aku nggak mau makan sendirian. Temenin."

Danti menatap piring itu. Gunungan nasi dan lauk yang mengepulkan aroma menggoda. Lalu beralih ke wajah Nadia yang tengah makan dengan wajah bahagia, pipi menggembung, tanpa takut dihakimi.

Ada sesuatu yang mengendur di dada Danti.

Pelan-pelan, sendoknya bergerak. Satu suap, lalu satu lagi. Ia mengunyah, lalu menutup mata sesaat. Rasa gurih ayam bakar itu menyebar di lidah, hangat dan nyata. Perutnya yang kosong sejak kemarin seolah berterima kasih, menggeliat lega.

Suapan ketiga datang lebih cepat. Lalu keempat. Kelima.

Nadia melirik dari balik gelasnya, dan diam-diam tersenyum. Matanya berkaca-kaca, tapi ia cepat-cepat mengerjap dan pura-pura sibuk mengambil tahu crispy.

Danti masih terlihat canggung. Ia masih sering melirik sekitar, masih menyuap dengan sedikit tergesa seolah takut waktunya terbatas. Belum seperti Danti yang dulu, yang percaya diri dan lepas. Tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia makan sampai piringnya hampir bersih.

"Gitu dong," ujar Nadia ringan, meski suaranya sedikit serak. "Itu baru Danti."

Piring-piring telah menyusut menjadi sisa tulang dan remah. Pelayan datang membereskan, lalu menaruh dua gelas kopi panas. Musik jazz masih mengalun, matahari sudah bergeser lebih tinggi, dan suasana di antara mereka sudah jauh lebih tenang.

Nadia menyesap kopinya, menaruh cangkir dengan perlahan lalu menatap Danti lurus-lurus.

"Dan."

"Hm?"

"Kamu kenapa?"

Cangkir di tangan Danti berhenti di udara. "Maksudnya?"

"Jangan pura-pura." Nadia menyandarkan siku ke meja, suaranya merendah. "Lima tahun aku kenal kamu sebelum aku pergi, dan lima tahun lagi dari jauh. Aku tahu kamu. Kamu nggak pernah makan sepelan dan sehati-hati itu. Kamu nggak pernah takut sama makanan. Dan kamu nggak pernah, sekali pun melihat ke sekitar seolah ada yang mau marahin kamu."

Danti memaksakan senyum. "Aku baik-baik aja, Nad. Beneran. Mungkin cuma... lagi nggak enak badan. Atau lagi diet."

"Kamu bohong."

"Aku nggak..."

"Danti." Suara Nadia tak keras, tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat Danti terdiam. "Kita cuma berdua di dunia ini. Kamu tahu itu. Aku nggak punya siapa-siapa selain kamu, dan kamu nggak punya siapa-siapa selain aku. Waktu di panti, waktu ibumu meninggal, waktu aku dimarahin pengasuh dan nggak boleh makan malam, kita nggak pernah nyimpan satu rahasia pun. Kenapa sekarang beda?"

Danti membuka mulut. Tak ada kata yang keluar.

Ada begitu banyak yang ingin ia katakan. Tentang jarum suntik dan hasil lab. Tentang pesta, tawa, dan tangan yang mencengkeram pergelangannya. Tentang piring kosong, karung beras, dan cangkir kopi yang tak pernah dipuji. Tentang sebuah rumah yang tak lagi terasa seperti rumah.

Tapi semuanya tersangkut di tenggorokan, menyumbat seperti batu.

"Aku..." Suaranya pecah. "Aku nggak apa-apa, Nad. Beneran..."

"Dan."

Hanya satu kata itu. Lembut. Hangat. Tanpa tuntutan.

Dan pertahanan Danti runtuh.

Bahunya bergetar. Ia menutupi wajah dengan kedua tangan, tapi isak itu lolos juga, terbata dan pecah.

Nadia tak menunggu apa-apa lagi. Ia bangkit dari kursinya, berpindah ke samping Danti dan merengkuh sahabatnya erat-erat.

Kepala Danti jatuh ke bahunya, dan air matanya membasahi kain bajunya, hangat dan deras seperti hujan yang tertahan bertahun-tahun.

"Nggak apa-apa," bisik Nadia, mengusap punggung Danti pelan, berulang-ulang. "Aku di sini. Nangis aja. Aku di sini."

Di sudut kafe itu, di antara aroma kopi dan alunan musik yang lembut, Danti akhirnya menemukan sesuatu yang sudah lama hilang darinya.

Sebuah tempat untuk pulang.

1
Muft Smoker
ayoo dantii ,, tegakan kepala mu ,, jgn mau trus di hina dan di rendah kan oleh keluarga Rizal ,, biar hanya mereka yg tenggelam dlm kehancuran ,, sedangkan km harus ttap terbang tinggi ,,
ryuka
semangat dantiii.. kamu lah pemenang nya.. si rizal aja yg terlalu bodoh
ryuka
bagus rizal semakin cepat kamu masuk kurang klo bgini 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
selamat Rizal sbntar lgii km bkal masuk k jurang kehancuran 😏
Muft Smoker
awalnya emnk manis ,, tp nanti juga akhirnya anda bakal ngerasa mana yg tulus ma hidup mu ,, mana yg cuma tulus ma uang mu zal ,, 😒😒😒
ryuka
nunggu kehancuran kalian sekeluarga aku tuuuhhh 🤭🤭🤭🤭🤭
ryuka
haduuuhh biasa nya yg gampang terpukau itu yg gampang di bodohi 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
ryuka
orang salah emang selalu cari pembenaran 🫠🫠🫠🫠🫠🫠
Muft Smoker
ayoo dantii ,, semangat berjuang ,,
ryuka
semangat dantiiii 👍👍👍👍👍👍👍
ryuka
kamu mulai terlena rizal.. haduh haduh haduhh.. /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Muft Smoker
gpp danti ,, biarkan si Rizal hancur sndrii dg selalu merasa bnar ,,
km tinggal fokus dg ap yg Skrang km kerjakan ,, meski rasa sakit mungkin ad ,, sbgai istri melihat suami sperti itu ,,
Muft Smoker
baru 1 hari atur uang belanja ,, km udh stress zal/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
ryuka
naahhh mikir kamu sekarang.. haduuhh di bodohin kok mau aja sihhh
Muft Smoker
sbntar lgii jugaaa hancur dy ,, biarin aj ,,
ryuka
bodoh kamu bodoh rizal.. tunggu kehancuran kamu zal
Muft Smoker
gpp zal semakin km merasa bosan ma danti ,, semakin penyesalan dan kehancuran mendekat ke arah mu
ryuka
terlalu bodoh kamu rizal../Sweat//Sweat//Sweat//Sweat/
Muft Smoker
danti pun membalas ,, ' km banci mas ' 😒😒😒😒😒
Muft Smoker
good dantii ,, keluarin uneg2 mu ,, abis tu tinggalin si Rizal ,, punya suami otak ny Segede udang rebon ,, yx begitu ,, 😒 😒 😒 😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!