NovelToon NovelToon
Sepuluh Ribu Kematian Abadi

Sepuluh Ribu Kematian Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Mengubah Takdir / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Di Sekte Lembah Giok Hitam, menjadi "Murid Teladan" bukanlah kehormatan, melainkan vonis mati sebagai tumbal perpanjangan umur sang tetua.

Di malam sebelum darahnya dikuras habis di atas altar, Gu Yuan, seorang murid luar tanpa latar belakang, tak sengaja membangkitkan artefak peninggalan ayahnya: Kaca Kematian Awal (Yuan Sha Jing).

Setiap kali niat membunuh mengarah padanya, cermin kuno itu membekukan waktu dan memaksanya mati dalam ribuan cabang simulasi. Ia merasakan lehernya ditebas, meridiannya meledak, dan racun membakar jantungnya berulang kali, semua demi satu hal yakni menemukan satu-satunya jalan keluar hidup-hidup.

"Jika takdir menyuruhku mati sepuluh ribu kali, maka aku akan bangkit sepuluh ribu satu kali untuk memenggal takdir itu sendiri."

Bagi Gu Yuan, kematian bukan akhir, melainkan peta menuju keabadian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 028 - Penebasan Luo Biao di Ujung Rantai

Mata Luo Biao melotot liar seperti binatang terluka saat menyadari bilah pedang bajanya tertancap sedalam tiga ruas jari di tulang belikat anak buahnya sendiri. Darah segar yang menyembur dari dada mayat pengawas itu memerciki wajah dan matanya, mengaburkan pandangannya selama sepersekian kedipan mata yang berharga.

“Mati kau, tikus tambang keparat!” raung Luo Biao buas dengan suara yang serak dan cadel.

Alih-alih membuang waktu menarik pedangnya yang tersangkut di tulang belikat, pria itu menyalurkan seluruh sisa tenaga Pemurnian Raga lapis kesembilannya ke kedua lengannya yang kekar dan berurat tebal. Dengan sentakan otot lengan yang meledak liar, ia memutar gagang pedang secara paksa, membelah tulang iga dan jubah mayat pengawas itu hingga tubuh tak bernyawa tersebut terpelanting miring ke samping.

Ayunan pedang lanjutan meluncur mendatar dengan lintasan melingkar yang sangat ganas dan cepat, membabat lurus ke arah dada Gu Yuan yang kini berdiri tanpa perlindungan tameng hidup.

Namun, Gu Yuan sama sekali tidak berniat mundur atau menangkis tebasan pedang dari seorang praktisi raga lapis kesembilan yang unggul jauh dalam massa otot dan tenaga mentah fana.

Sejak awal pertarungan di mulut lorong tadi, Gu Yuan telah mengamati kebiasaan fisik dan membaca momentum ayunan pedang Luo Biao: pria itu selalu bertumpu berat pada kaki kirinya karena lutut kanannya masih bengkak dan pincang akibat tusukan paku rel berkarat di lorong bawah tanah barak luar. Setiap kali Luo Biao melancarkan tebasan mendatar dengan kekuatan penuh, tubuh bagian atasnya akan terlempar condong ke depan dan bagian belakang lehernya akan terbuka lebar tanpa perlindungan selama satu tarikan napas pendek.

Gu Yuan merundukkan tubuhnya serendah mungkin ke lantai marmer hitam yang licin oleh genangan darah dan lumut basah. Bilah pedang baja Luo Biao menyambar mendesing sejengkal di atas kepalanya, hanya memotong beberapa helai rambutnya yang basah oleh keringat sebelum mata pedang itu menancap menghantam dinding batu kapur di belakangnya dengan percikan bunga api yang tajam.

Bersamaan dengan posisi merunduknya di lantai marmer, tangan kanan Gu Yuan menyambar ujung rantai besi tebal yang tergeletak di samping bibir kolam darah—rantai tembaga purba sepanjang dua depa yang sebelumnya digunakan oleh Mo Cheng untuk menambat ekor Ular Sisik Lendir di dasar kolam.

Rantai besi itu terasa sangat berat, kasar, dan dingin membeku di telapak tangannya. Karat purba dan sisa lendir beracun menggores kulit telapak tangan Gu Yuan yang melepuh, menimbulkan rasa perih yang membakar, namun ia menggenggam mata rantai tersebut dengan cengkeraman mati yang tak tergoyahkan.

Gu Yuan meluncur maju di bawah ketiak kanan Luo Biao yang sedang kehilangan keseimbangan tumpuan akibat ayunan pedangnya yang meleset menabrak dinding batu. Dengan satu gerakan memutar tubuh yang sangat cepat, dingin, dan eksplosif, Gu Yuan melilitkan lilitan rantai besi itu dua kali membelit leher Luo Biao dari arah belakang.

“Ugh… kkkkh!”

Napas Luo Biao seketika tercekat kaku di pangkal kerongkongan saat mata rantai tembaga yang tebal dan berkarat menekan jakun serta kedua urat nadi lehernya dengan kekuatan penjepit yang luar biasa. Kedua tangan Luo Biao yang kekar segera terangkat mencakar rantai di lehernya, berusaha sekuat tenaga melepaskan lilitan mematikan tersebut sambil meronta-ronta liar seperti banteng liar yang terjerat perangkap.

Kekuatan tenaga raga lapis kesembilan Luo Biao memang sangat mengerikan; otot-otot lengannya mengembang tegang hingga urat-urat darahnya menonjol kebiruan, menarik rantai besi dengan kekuatan ratusan kati hingga jemari tangan Gu Yuan terasa hampir remuk terjepit di antara mata rantai.

Namun Gu Yuan tidak bertarung mengandalkan kekuatan otot fana semata; ia bertarung mengandalkan hukum fisika, momentum gerak, dan keunggulan struktur tumpuan tulang.

Gu Yuan membenamkan kedua tumit sandal jeraminya ke dalam celah retakan marmer lantai, memusatkan seluruh daya tahan Tulang Besi dari Ranah Pemurnian Raga lapis ketiganya ke tulang punggung, pinggul, dan kedua bahunya yang kokoh. Sambil mengunci lilitan rantai di tangannya dengan kaitan silang yang mengunci gerak leher lawan, Gu Yuan memutar seluruh bobot tubuhnya ke arah samping, lalu menyentakkan lilitan rantai itu dengan tarikan eksplosif ke arah tiang keenam di samping kolam darah.

Sentakan mendadak itu menarik tubuh jangkung Luo Biao yang sedang limbung ke depan. Bobot tubuh pria itu yang mencapai hampir dua ratus kati meluncur deras tanpa kendali ke arah pilar batu obsidian hitam yang berdiri kokoh setinggi dua depa.

DANGGG!

Suara benturan kepala manusia dengan pilar batu obsidian bergema sangat keras dan mengerikan di seluruh aula gua altar air terjun, menyerupai bunyi lonceng perunggu raksasa yang dihantam godam besi sekuat tenaga.

Dinding tengkorak Luo Biao seketika retak berderak saat kening dan pelipis kirinya menghantam sudut pilar batu obsidian dengan kecepatan penuh. Gelombang benturan yang menghancurkan itu meremukkan tulang dahinya menjadi cekungan berdarah yang mengerikan, memadamkan seluruh kilatan amarah buas di matanya dalam hitungan detik.

Cengkeraman tangan Luo Biao pada rantai di lehernya mendadak terkulai lemas tanpa tenaga. Matanya yang merah mendelik kaku ke arah stalaktit langit-langit gua, pupil matanya membesar dan kehilangan seluruh sisa cahaya kehidupan.

Gu Yuan melepaskan lilitan rantai besi dari tangannya sambil melangkah mundur selangkah untuk mengatur napasnya yang memburu.

Tubuh kekar Luo Biao meluncur lambat menuruni dinding pilar tiang keenam, lalu ambruk terjerembap tak bernyawa di samping bibir kolam darah dengan posisi telungkup di lantai marmer. Cairan merah kental yang mengalir dari kepalanya yang remuk perlahan menyatu dengan genangan darah kolam, menyisakan keheningan yang dingin dan mencekam di dalam aula gua altar air terjun.

1
Shiro Hoshinova
jir jadi kiko
Shiro Hoshinova
Apalagi ini woy
Helios
Hahaha lolos gara-gara botol arak
Ryo Hamada
Misah jalan sendirian mungkin pilihan paling cerdas buat hindarin kejaran sekte
Ryo Hamada
Mo Cheng kuat bgt ya berarti, udh turun ranah tapi masih bisa ancurin lantai
Ryo Hamada
Gas mumpung ada kesempatan
Ryo Hamada
Beneran dingin banget sikap MC kalau udh masalah keselamatannya. Realistis & gak naif, suka aku model MC yg kaya gini
Ryo Hamada
Xiao Wu mungkin ceroboh micu bel alarm, tapi kekacauan sekte justru nutupin langkah Gu Yuan menuju gua air terjun. Momentum pas jir
Ryo Hamada
Mungkin langsung masuk ke aula Mo Cheng itu langkah bunuh diri, tapi jalan mundur udah ketutup total. Harus main peran sampe tuntas.
Helios
Woy tahanan di bilik jangan teriak napa
Shiro Hoshinova: Fix inimah
total 1 replies
Shiro Hoshinova
Hawanya horor kerasa banget, keren thor!
Helios
Hoki seumur hidup kepake tuh pas kuncinya jatuh deket sepatu wkwkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!