Setelah kehilangan ayah dan melihat ibunya terbaring koma, Karissa justru dikhianati oleh Louis, kekasihnya sendiri, yang berselingkuh dengan sahabatnya.
Dalam amarah dan rasa kecewa, Karissa mengambil keputusan nekat—menikahi ayah Louis.
Kini Karissa bukan lagi kekasih Louis, melainkan ibu tirinya.
Namun tinggal serumah dengan pria yang pernah dicintainya ternyata jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan. Louis membencinya, tetapi di saat yang sama, ia juga tidak rela kehilangan Karissa.
Karissa ingin membalas dendam. Tapi tanpa sadar, ia justru terjebak dalam permainan cinta yang ia mulai sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tusya Ryma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Seseorang Melepas Oksigen Kamila
Di dalam mobil, Karissa duduk di kursi belakang dengan gelisah. Beberapa kali ia menghubungi Karina, tetapi tidak diangkat.
"Karin ke mana? Kenapa tidak menghubungiku?"
"Nona, kita sudah sampai," ucap sopir pada Karissa.
Sopir itu kemudian keluar dari dalam mobil dan membuka pintu untuk majikannya.
"Silakan, Nona!"
Karissa segera tersadar. Ia keluar dari dalam mobil, lalu berjalan masuk ke dalam gedung rumah sakit dengan perasaan berat.
'Bagaimana kalau yang dikatakan pelayan itu benar? Ibu meninggal?'
"Ahh, tidak... tidak! Itu tidak mungkin! Ibu tidak mungkin meninggal!"
Karissa segera naik ke lantai atas. Ia terus berjalan menuju ruang perawatan ibunya dengan harapan besar.
'Ibu tidak meninggal.'
Saat hendak masuk ke dalam ruangan, tiba-tiba terdengar seseorang memanggil.
"Kariss!"
"Eh, Dokter Kevin?" tanya Karissa ketika melihat dokter tampan itu berjalan ke arahnya.
"Kenapa masih di sini?" Dokter Kevin mengerutkan kening. Ia berdiri di depan Karissa dengan tatapan bingung.
"Hemm... masih di sini?" Karissa mengulangi ucapan pria itu. "Memangnya aku harus pergi ke mana?"
"Bukankah tadi pagi ibumu meninggal? Harusnya pergi ke pemakaman, kan?"
"Apa kau bilang?" teriak Karissa tiba-tiba.
"Ibuku meninggal?"
"Kenapa kalian semua mengatakan ibuku sudah meninggal? Tidak kau... tidak pula pelayan di rumah. Apa kalian ingin ibuku benar-benar meninggal?" teriaknya dengan marah.
Karissa menatap pria itu dengan tajam.
Sekarang, ia membenci Dokter Kevin... dokter pria yang dulu sangat baik kepadanya.
Tanpa menunggu jawaban dari Dokter Kevin, Karissa bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Ia tidak ingin mengunjungi ibunya dalam keadaan marah seperti ini.
Karissa terus berjalan menuju bagian belakang rumah sakit. Ia ingin mencari tempat yang sepi untuk menyendiri.
Namun saat melewati kamar mayat, tiba-tiba ia melihat Karina dan Tuan Lee. Mereka sedang berdiskusi dengan beberapa petugas yang berpakaian putih.
"Karin!" lirihnya ketika sudah sampai di sana.
"Tuan Lee, kau juga ada di sini?"
Karissa tidak mengerti kenapa Tuan Lee tidak memberitahunya kalau dia akan pergi ke rumah sakit?
Karina melihat sang adik baru datang. Rasa marah segera muncul di wajahnya.
"Adik tidak berguna! Ibu meninggal, kau malah baru datang!"
"I-Ibu meninggal? Apa itu benar?" tanya Karissa pelan, penuh kesedihan.
'Apa Ibu sungguh meninggal?'
"Kenapa kau tidak memberitahuku? Dari mana aku bisa tahu kalau Ibu meninggal?" lirihnya dengan perasaan terluka.
Ternyata... ibunya benar-benar sudah meninggal.
Tiba-tiba hatinya terasa hancur. Dunianya gelap, tidak ada lagi penyemangat dalam hidupnya.
"Kariss!" ucap Tuan Lee pelan.
Ia segera menghampiri wanita itu, lalu memeluknya.
"Sekarang, ibumu sudah tidak merasakan sakit lagi. Ibumu sudah bisa bertemu dengan ayahmu di Surga. Kau tidak perlu sedih!"
"Uuuaaaaaa..."
Seketika tangisannya pecah.
Ia menangis di dada bidang pria itu.
"Bagaimana bisa kau setega ini terhadapku? Kau pergi ke rumah sakit sendiri tanpa mengajakku! Uuuaaaa... kau jahat!" makinya kepada Tuan Lee.
"Sssttt! Jangan menangis! Nanti Ibu sedih juga melihatmu menangis!"
Tuan Lee memeluknya semakin erat. Ia mengelus rambut panjang wanita itu penuh kasih sayang.
"Sebaiknya kita segera pergi ke pemakaman! Semua orang sudah menunggu di tempat parkir," ucap Tuan Lee lagi.
"Hah ...."
Karissa mendongak, menatap pria jangkung itu dengan heran.
"Bahkan, kau sudah mempersiapkan semuanya! Sedangkan aku... sama sekali tidak tahu apa-apa!"
Karissa kembali terisak.
"Ini terlalu kejam..."
"Uuaaaa..."
Karissa terus memukul dada Tuan Lee dengan tangisan yang semakin keras. Ia melampiaskan rasa sedih dan kecewanya pada Tuan Lee.
"Iya, aku yang salah! Kau boleh terus memarahiku. Tapi sekarang... ayo kita antar ibumu ke pemakaman!" ucap Tuan Lee masih dengan lembut.
"Kalau bersedih terus, kasihan juga ibumu!"
"Aku ingin melihat wajah Ibu untuk yang terakhir kali!"
Karissa melepaskan diri dari pelukan Tuan Lee. Ia berjalan menghampiri peti mati berwarna putih yang bertuliskan nama Kamila di atasnya.
Karissa berusaha membuka penutupnya. Namun peti itu tertutup rapat.
"Buka penutupnya!" teriak Karissa pada petugas yang ada di sana.
Tangannya menarik-narik peti mati, berharap ia bisa membukanya dan melihat wajah sang ibu.
"Maaf, Nona! Ini sudah dikunci! Tidak bisa dibuka lagi," jawab salah satu petugas.
"Kenapa tidak boleh dibuka? Aku adalah anaknya! Aku ingin melihat wajah ibuku untuk terakhir kali! Apa tidak boleh?"
Karissa menyeka air mata di wajahnya. Rasa sedihnya kini mulai berubah menjadi kemarahan.
"Bisa saja mayat ibuku tertukar, kan? Aku harus melihat dan memastikannya sendiri!"
Ia menatap semua orang yang ada di sana dengan sinis.
Karina yang sedari tadi juga ingin melihat jenazah ibunya, terus dilarang oleh para petugas.
Dia pun mulai curiga.
'Apa bisa mayat Ibu tertukar?'
Tiba-tiba Tuan Lee merangkul bahu Karissa. Ia ingin memberikan ketenangan kepada wanita itu.
"Jenazah ibumu tidak tertukar! Tadi aku sudah melihatnya sendiri!"
"Tapi... bagaimana bisa aku tidak boleh melihatnya?"
"Itu karena..."
Tuan Lee diam sejenak.
"Para petugas sudah terlanjur mengunci peti matinya. Kalau dibongkar lagi akan memakan waktu lama. Kasihan juga dengan ibumu!"
Walau masih terasa janggal, Karissa tidak memaksa lagi.
Ia lebih kasihan kepada jenazah ibunya yang harus segera dikebumikan.
Akhirnya, peti mati itu segera dibawa ke pemakaman umum yang ada di pinggiran kota.
Karissa melihat proses pemakaman ibunya dari awal hingga akhir. Tubuhnya terasa lemas dan tidak bertenaga. Air matanya tidak berhenti mengalir. Rasa sakit dan pedih di hatinya terus hadir silih berganti.
Hingga sore hari, Karissa masih berada di kuburan. Ia duduk di samping batu nisan sambil terus mengelus wajah ibunya yang ada di dalam foto.
Semua orang sudah pergi meninggalkan pemakaman, termasuk Karina.
Tuan Lee pun pergi. Ia membiarkan Karissa melepas semua rasa sedihnya tanpa diganggu.
Langit mulai gelap. Rintik hujan mulai turun membasahi semua yang ada di muka bumi.
Karissa masih bertahan. Ia duduk di samping makam ibunya meskipun seluruh tubuhnya sudah basah kuyup karena air hujan.
Dari kejauhan, sebuah mobil hitam terparkir di pinggir jalan.
Orang yang duduk di dalamnya terus memperhatikan Karissa dengan perasaan gelisah.
"Tuan! Nona—"
Ucapan sang asisten tiba-tiba terhenti karena tuannya memotong.
"Biarkan saja! Nanti juga akan lelah sendiri!"
"O, iya! Bagaimana dengan Louis?" tanya Tuan Lee, mengalihkan pembicaraan.
"Apa semuanya berjalan dengan baik?"
"Kata Tuan Muda, ibunya Nona sudah dirawat di rumah sakit terbaik di Amerika! Minggu depan Tuan Muda baru akan kembali setelah kondisi ibunya membaik," jawab Asisten Fans.
"Bagaimana dengan orang yang berniat membunuh Kamila?" tanya Tuan Lee lagi.
Tatapannya terlihat dingin.
"Orangku sudah membereskannya!" jawab Asisten Fans.
"Tapi orang itu tetap tidak bilang siapa yang menyuruhnya melepaskan oksigen Bu Kamila!"
"Baiklah! Jangan biarkan dia mati! Nanti kalian desak lagi sampai dia mengaku!"
"Baik, Tuan!" Fans pun mengerti.
Lalu ia bertanya, "Apa kita akan pergi sekarang atau tetap menunggu Nona?"
"Tunggu sebentar lagi!"
Tuan Lee masih duduk bersandar di kursi belakang. Kedua tangannya terlipat di dada, sementara tatapannya terus tertuju kepada wanita yang masih meringkuk di pemakaman.