NovelToon NovelToon
Lima Kakak Valerius

Lima Kakak Valerius

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Mengubah Takdir
Popularitas:604
Nilai: 5
Nama Author: mona28

Di mata masyarakat, keluarga Valerius adalah keluarga pengusaha terpandang dan salah satu keluarga terkaya di kota. Namun di balik kemewahan mansion mereka, keluarga Valerius merupakan salah satu keluarga mafia paling berkuasa dan ditakuti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mona28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENCULIKAN SANG PEWARIS

Kegelapan menelan lorong itu selama beberapa detik sebelum lampu darurat kembali menyala.

Namun, bagi keluarga Valerius, cahaya yang kembali hadir tidak membawa kelegaan sedikit pun.

Aren telah menghilang.

Adik bungsu yang selama ini mereka lindungi dengan segala cara kini berada di tangan seseorang yang telah merencanakan semuanya selama bertahun-tahun. Seseorang yang mengetahui rahasia kelahiran Aren, mengetahui masa lalu keluarga Valerius, dan bahkan mengetahui sesuatu tentang kematian Armand Ravencroft yang belum pernah mereka dengar sebelumnya.

Riven berdiri di depan pintu baja dengan napas memburu. Kedua tangannya mengepal begitu keras hingga buku-buku jarinya memutih.

“Aku akan membunuh mereka.”

Tidak ada yang menjawab.

Riven menoleh dengan mata merah.

“Kalian dengar aku? Aku akan menemukan Aren, dan siapa pun yang berani menyentuhnya akan menyesali hari ketika mereka dilahirkan.”

“Riven.” Suara Raka terdengar dingin. “Kendalikan dirimu.”

“Bagaimana aku bisa mengendalikan diri ketika mereka membawa adikku tepat di depan mata kita?”

Riven menunjuk lorong gelap tempat Aren terakhir terlihat.

“Aku hanya perlu beberapa detik lagi untuk meraih tangannya! Beberapa detik saja!”

Raka tidak membantah. Ia tahu Riven tidak sedang membutuhkan ceramah tentang pengendalian diri. Adiknya itu sedang dihancurkan oleh rasa bersalah karena gagal melindungi orang yang paling disayanginya.

Namun, mereka tidak punya waktu untuk tenggelam dalam perasaan tersebut.

“Aren masih hidup,” kata Raka tegas.

Riven menatapnya.

“Bagaimana kau tahu?”

“Karena orang yang membawanya memberi perintah agar Aren tidak disakiti sebelum mengetahui kebenaran tentang kematian Armand. Mereka membutuhkan Aren untuk membuka Protokol Terakhir. Selama mereka masih membutuhkan sesuatu darinya, kita punya alasan kuat untuk percaya bahwa mereka akan mempertahankan Aren tetap hidup.”

“Itu tidak menjamin keselamatannya!”

“Tidak. Tapi itu berarti kita masih punya waktu untuk menemukannya.”

Raka memegang bahu adiknya.

“Dan kita akan menggunakan waktu itu sebaik mungkin.”

Darren sudah berada di depan terminal portabel Kian. Ia mengamati rekaman yang berhasil dipulihkan dari kamera lorong.

“Putar ulang lima detik sebelum lampu padam.”

Kian segera menggerakkan jemarinya.

Rekaman muncul di layar. Lorong terlihat jelas, dengan Aren berdiri di dekat Elena. Kemudian, tepat sebelum lampu padam, sebuah bayangan bergerak dari balik pintu samping.

“Berhenti!” seru Darren.

Kian membekukan gambar.

Di layar tampak sosok berpakaian hitam dengan topeng yang menutupi sebagian wajahnya. Sosok itu berdiri hanya beberapa meter dari Aren, tetapi keberadaannya tidak terdeteksi oleh siapa pun.

“Perbesar bagian tangan kirinya,” kata Darren.

Kian memperbesar gambar.

Pada pergelangan tangan sosok tersebut terlihat sebuah lambang kecil berbentuk serigala dengan satu garis melintang.

Elena langsung menutup mulutnya.

“Aku mengenal lambang itu.”

Adrian menoleh cepat.

“Lambang apa?”

Elena menunjuk layar.

“Itu bukan lambang resmi Proyek Serigala Hitam. Itu lambang kelompok pengawal pribadi Alistair.”

Raka menatap gambar tersebut dengan tajam.

“Berarti orang yang menculik Aren adalah orang-orang yang bekerja langsung untuk kakek kami.”

“Ya,” jawab Elena. “Mereka tidak pernah meninggalkan Alistair. Bahkan ketika dunia percaya dia sudah mati, mereka tetap menjalankan perintahnya.”

Kian kembali memeriksa rekaman.

“Ada sesuatu yang lebih aneh.”

“Apa lagi?” tanya Leon.

“Ketika lampu padam, semua kamera di lorong kehilangan gambar selama tepat sebelas detik. Namun, kamera di ujung terowongan tidak mengalami gangguan.”

Ia membuka rekaman dari kamera lain.

Di layar terlihat dua orang membawa seseorang yang tubuhnya tertutup mantel gelap menuju sebuah pintu tersembunyi.

Darren mendekat.

“Apakah itu Aren?”

“Sepertinya.”

Kian memperbesar gambar, tetapi sudut kameranya terlalu jauh untuk memastikan wajah orang yang dibawa.

Kemudian ia menunjukkan pintu yang mereka masuki.

“Pintu ini tidak ada di peta rumah tua.”

Raka menatap Elena.

“Ke mana pintu itu mengarah?”

Elena tampak ragu.

“Aku tidak pernah masuk ke bagian itu.”

Gabriel, yang sejak tadi berdiri diam, akhirnya berbicara.

“Aku tahu ke mana pintu itu mengarah.”

Semua orang menoleh kepadanya.

“Jelaskan,” perintah Raka.

Gabriel menunjuk peta tua yang terpampang di salah satu monitor.

“Rumah ini dibangun di atas jaringan terowongan yang menghubungkan beberapa bangunan lama di Bukit Arvantis. Sebagian terowongan digunakan sebagai jalur evakuasi. Sebagian lainnya dibangun untuk memindahkan dokumen dan orang-orang penting tanpa diketahui pihak luar.”

Ia berhenti sejenak.

“Pintu yang kalian lihat itu mengarah ke stasiun bawah tanah lama. Dari sana, ada jalur menuju fasilitas utama Proyek Serigala Hitam.”

Kian langsung membuka peta digital.

“Kalau begitu, kita bisa melacak jalur tersebut.”

“Tidak semudah itu,” kata Gabriel. “Sebagian besar jalur sudah ditutup bertahun-tahun lalu. Hanya orang-orang tertentu yang mengetahui pintu masuk yang masih bisa digunakan.”

Raka mendekatinya.

“Dan kau salah satunya?”

Gabriel mengangguk.

“Ya.”

“Bagus. Kau akan membawa kami ke sana.”

Viktor segera melangkah maju.

“Aku ikut.”

Gabriel menatap adiknya.

“Viktor, tempat itu berbahaya.”

“Jangan berpura-pura peduli padaku sekarang.”

“Ini bukan soal kepedulian.”

“Benar. Ini soal tujuh belas tahun kebohongan!” Viktor membalas dengan suara bergetar. “Kau menghilang, membiarkan semua orang menganggapmu mati, lalu kembali membawa rahasia yang menghancurkan keluarga kita. Sekarang kau mengatakan mengetahui tempat Aren dibawa, dan kau berharap aku hanya akan berdiri diam?”

Gabriel menunduk.

“Aku tidak berharap kau memaafkanku.”

“Bagus. Karena aku belum berniat melakukannya.”

Raka memotong pertengkaran itu.

“Kita tidak punya waktu untuk menyelesaikan masalah keluarga kalian. Aren membutuhkan kita.”

Ia menoleh kepada Darren.

“Hubungi tim keamanan mansion. Aku ingin semua jalur keluar dari Bukit Arvantis diawasi. Jangan biarkan kendaraan mencurigakan meninggalkan wilayah ini tanpa diperiksa.”

Darren mengangguk dan segera mengeluarkan teleponnya.

“Kian, kau tetap di sini bersama kami. Aku ingin mengetahui apakah sistem keamanan rumah tua ini terhubung dengan fasilitas bawah tanah.”

“Dimengerti.”

“Leon, periksa apakah ada yang terluka.”

Leon mengangguk, lalu menghampiri Elena yang terlihat semakin pucat.

“Ibu Elena, apakah Anda baik-baik saja?”

Elena mencoba tersenyum.

“Aku baik-baik saja.”

Namun, Leon tidak mempercayainya.

“Denyut nadi Anda cepat. Anda harus duduk sebentar.”

“Aku tidak bisa duduk ketika anakku dibawa pergi.”

Leon menatapnya dengan lembut.

“Saya mengerti. Tapi Aren membutuhkan Anda tetap kuat ketika kita menemukannya nanti.”

Elena akhirnya mengangguk. Leon membantunya duduk di kursi dekat dinding, lalu memberikan air minum.

Sementara itu, Riven berjalan mondar-mandir di lorong. Ia tidak sanggup berdiri diam.

Setiap kali memejamkan mata, ia kembali melihat tangan Aren yang hampir berhasil diraihnya. Ia masih bisa mengingat bagaimana adiknya meronta dalam kegelapan, bagaimana suara Aren memanggil mereka, dan bagaimana ia gagal melakukan satu-satunya hal yang paling penting.

Melindungi Aren.

“Riven.”

Suara Darren terdengar dari belakang.

Riven tidak menoleh.

“Kalau kau datang untuk menyuruhku tenang, lebih baik jangan bicara.”

“Aku tidak akan menyuruhmu tenang.”

Darren berdiri di sampingnya.

“Aku hanya ingin mengingatkanmu bahwa Aren membutuhkan kita semua dalam keadaan berpikir jernih.”

Riven tertawa getir.

“Berpikir jernih? Aku bahkan tidak bisa memikirkan hal lain selain wajahnya.”

“Aku juga.”

Riven akhirnya menoleh.

Darren menatap lorong dengan rahang mengeras.

“Dia adik kita. Aku tahu bagaimana rasanya melihatnya ketakutan. Aku tahu bagaimana rasanya ketika dia berusaha tersenyum meskipun sebenarnya sedang menyimpan banyak pertanyaan. Dan aku tahu bahwa jika kita kehilangan dia, tidak ada satu pun dari kita yang akan kembali menjadi orang yang sama.”

Darren menepuk bahu Riven.

“Jadi, jangan biarkan rasa bersalah membuatmu bertindak gegabah. Kita harus membawanya pulang.”

Riven menunduk.

Beberapa detik kemudian, ia mengangguk.

“Kalau kita menemukannya, aku tidak akan membiarkan dia berjalan sendirian bahkan untuk mengambil air.”

Darren menghela napas.

“Kau akan membuatnya kesal.”

“Biar saja. Dia boleh kesal kepadaku seumur hidupnya, asalkan dia tetap hidup dan berada di rumah.”

Darren tidak menjawab, tetapi ia memahami perasaan adiknya.

Di tempat lain, jauh di bawah tanah Bukit Arvantis, Aren perlahan membuka matanya.

Kepalanya terasa berat. Cahaya putih dari lampu di langit-langit membuat matanya perih, sehingga ia membutuhkan beberapa detik untuk menyesuaikan diri.

Ia mencoba menggerakkan tangan.

Pergelangan tangannya terikat pada sandaran kursi logam.

Aren segera menarik tangannya, tetapi ikatan itu tidak bergerak.

Ia berada di sebuah ruangan besar dengan dinding abu-abu, beberapa monitor, dan meja panjang yang dipenuhi dokumen. Udara terasa dingin, sementara suara mesin berdengung dari balik dinding.

Ia tidak melihat siapa pun.

“Ada orang?”

Suaranya terdengar kecil di ruangan yang luas.

Tidak ada jawaban.

Aren menarik napas panjang, mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum ia kehilangan kesadaran.

Ia ingat lampu padam.

Ia ingat seseorang membekap mulutnya.

Ia ingat suara Riven memanggil namanya.

Dan ia ingat suara Alistair yang memerintahkan agar dirinya dibawa ke ruang kendali.

Rasa takut perlahan menyusup ke dalam dadanya.

Namun, Aren menolak membiarkan kepanikan mengambil alih pikirannya.

Ia telah melihat bagaimana kelima kakaknya menghadapi ancaman. Raka selalu mencari jalan keluar, Darren memperhatikan setiap detail, Leon menjaga semua orang tetap tenang, Kian mencari celah melalui sistem, dan Riven tidak pernah berhenti melindungi dirinya.

Aren mencoba melakukan hal yang sama.

Ia mengamati ikatan di tangannya, posisi kursi, letak pintu, dan kamera kecil yang terpasang di sudut ruangan.

Kamera itu bergerak mengikuti setiap gerakannya.

Aren mengangkat wajah.

“Kalau kau sedang mengawasiku, setidaknya tunjukkan dirimu.”

Beberapa detik kemudian, salah satu monitor menyala.

Wajah seorang pria tua muncul di layar.

Rambutnya putih, wajahnya dipenuhi garis usia, dan matanya memiliki tatapan tajam yang membuat Aren segera memahami mengapa seluruh keluarga Valerius begitu terguncang ketika mendengar namanya.

Alistair Valerius.

Pria itu tersenyum tipis.

“Akhirnya kita bertemu, Aren.”

Aren menatapnya tanpa menjawab.

Alistair mengamati wajahnya dengan saksama.

“Kau sangat mirip dengan Armand ketika dia masih muda.”

“Kalau kau ingin membicarakan ayahku, lepaskan aku terlebih dahulu.”

Alistair tertawa kecil.

“Keberanian yang menarik.”

“Aku tidak datang ke sini atas kemauanku sendiri.”

“Tidak. Kau dibawa ke sini karena keluargamu terlalu sibuk melindungimu untuk memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.”

Aren mengerutkan kening.

“Kau menculikku.”

“Aku memindahkanmu dari tempat yang tidak aman.”

“Dengan mengikatku pada kursi?”

Alistair memandangnya beberapa detik, kemudian mengangkat satu tangan. Seorang pria berpakaian hitam memasuki ruangan, membuka ikatan di pergelangan tangan Aren, lalu mundur tanpa bicara.

Aren segera menarik tangannya ke dada.

“Kalau kau benar-benar ingin berbicara denganku, kau tidak perlu mengikatku.”

“Benar.”

Alistair tersenyum.

“Tapi kau harus memahami bahwa aku tidak bisa membiarkanmu pergi sebelum kita menyelesaikan urusan keluarga.”

Aren berdiri, meskipun kakinya terasa sedikit lemas.

“Aku tidak punya urusan denganmu.”

“Kau memiliki lebih banyak urusan denganku daripada yang kau ketahui.”

“Kalau begitu, jelaskan.”

Alistair menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.

“Aku adalah kakekmu.”

“Aku tidak pernah mengenalmu.”

“Tetapi darahku mengalir dalam dirimu.”

“Darah tidak membuat seseorang otomatis menjadi keluarga.”

Untuk pertama kalinya, senyum Alistair menghilang.

Aren melanjutkan.

“Keluarga adalah orang-orang yang merawatku, yang berdiri di sampingku, yang mengkhawatirkanku ketika aku terluka. Mereka yang sekarang mungkin sedang mencari cara untuk membawaku pulang.”

Alistair menyandarkan punggungnya pada kursi.

“Adrian mengajarimu berbicara seperti itu?”

“Tidak. Aku mempelajarinya dari hidupku sendiri.”

Alistair terdiam cukup lama.

Kemudian ia mengangguk pelan.

“Menarik. Armand juga pernah mengatakan hal yang sama kepadaku.”

Aren segera mendekat ke monitor.

“Kau mengenal ayahku?”

“Aku mengenalnya lebih baik daripada Adrian.”

“Kalau begitu, katakan bagaimana dia meninggal.”

Alistair menatap Aren.

“Ayahmu dibunuh pada malam keluargamu dihancurkan.”

“Aku sudah mendengarnya. Aku ingin tahu siapa yang membunuhnya.”

“Apakah kau siap menerima jawabannya?”

Aren mengepalkan tangannya.

“Aku sudah lelah mendengar orang-orang mengatakan bahwa aku belum siap mengetahui kebenaran.”

Alistair mengamatinya beberapa detik, kemudian menekan sebuah tombol di meja.

Monitor lain menyala.

Rekaman lama muncul di layar. Gambar itu buram, tetapi cukup jelas untuk memperlihatkan sebuah ruangan dengan meja kayu besar. Di sana berdiri Armand Ravencroft, mengenakan kemeja putih dengan lengan tergulung.

Di hadapannya berdiri Adrian Valerius yang tampak jauh lebih muda.

Aren menahan napas.

Ia belum pernah melihat rekaman bergerak ayah kandungnya.

Armand berbicara dengan nada marah.

“Kau berjanji akan melindungi Elena dan anakku!”

Adrian menjawab dengan suara tegang.

“Aku sudah melakukan semuanya untuk menjaga mereka tetap aman.”

“Lalu mengapa orang-orangmu berada di luar rumahku?”

“Itu bukan perintahku!”

Rekaman tiba-tiba terganggu. Gambar berkedip beberapa kali sebelum kembali menampilkan Armand yang sedang mengeluarkan sesuatu dari laci meja.

Sebuah pistol.

Aren tersentak.

Namun, sebelum rekaman berlanjut, Alistair mematikan layar.

“Cukup untuk sekarang.”

Aren berbalik dengan marah.

“Kenapa kau menghentikannya?”

“Karena aku ingin kau memahami bahwa tidak semua hal sesederhana yang diceritakan kepadamu.”

“Kau menunjukkan potongan rekaman lalu memintaku mempercayaimu?”

“Tidak. Aku ingin kau mempertanyakan semua yang selama ini kau percayai.”

Aren menggeleng.

“Kalau kau benar-benar ingin aku mengetahui kebenaran, tunjukkan rekaman lengkapnya.”

Alistair tersenyum samar.

“Kau akan melihatnya. Namun, ada satu hal yang harus kau lakukan terlebih dahulu.”

“Apa?”

Alistair menunjuk gelang hitam yang masih melingkari pergelangan tangan Aren.

“Berikan gelang itu kepadaku.”

Aren langsung menutupi gelangnya dengan tangan yang lain.

“Tidak.”

Senyum Alistair menghilang.

“Gelang itu bukan milikmu sepenuhnya.”

“Ibu memberikannya kepadaku.”

“Ibumu hanya menyimpannya untukmu.”

“Kalau begitu, aku tetap tidak akan memberikannya.”

Alistair berdiri dari kursinya. Meskipun hanya muncul melalui layar, kehadirannya terasa mengintimidasi.

“Gelang itu adalah kunci terakhir menuju arsip yang selama ini kucari. Tanpa benda itu, aku tidak bisa menyelesaikan apa yang dimulai tujuh belas tahun lalu.”

Aren menatapnya dengan tajam.

“Kalau kau membutuhkan gelangku, berarti kau tidak bisa mengambilnya begitu saja.”

Alistair tersenyum kembali.

“Sekarang kau mulai memahami keadaan.”

“Aku memahami bahwa kau membutuhkan sesuatu dariku. Dan selama kau belum mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada ayahku dan ibuku, aku tidak akan membantumu.”

Alistair tidak segera menjawab.

Kemudian ia mematikan monitor.

Ruangan kembali sunyi.

Aren berdiri sendirian, mencoba menenangkan napasnya.

Ia tidak tahu berapa lama ia telah berada di sana. Ia tidak tahu apakah kakak-kakaknya sudah menemukan jejaknya. Ia bahkan tidak tahu apakah Elena berhasil keluar dari rumah tua dengan selamat.

Namun, satu hal ia yakini.

Ia tidak akan menyerahkan gelang itu.

Bukan karena ia memahami seluruh maknanya, melainkan karena benda itu merupakan satu-satunya peninggalan yang selalu menghubungkannya dengan ibunya.

Dan selama Elena masih hidup, Aren tidak akan membiarkan siapa pun mengambil bagian dari dirinya yang tersisa.

Di ruang kendali utama, Alistair mematikan layar komunikasi lalu menoleh kepada seorang pria yang berdiri di balik pintu.

Pria itu mengenakan setelan hitam dan sarung tangan kulit. Wajahnya tidak asing bagi siapa pun yang pernah melihat foto keluarga Valerius pada masa lalu.

Namun, ada sesuatu yang berubah pada penampilannya.

Bekas luka di sisi dagunya tampak lebih jelas, dan rambutnya telah memutih hampir seluruhnya.

“Bagaimana keadaan pewaris?” tanyanya.

“Dia menolak menyerahkan gelangnya.”

Alistair tersenyum tipis.

“Tentu saja. Armand selalu mengajarkan anaknya untuk tidak mudah menyerah.”

“Apakah kita harus menggunakan cara lain?”

“Belum.”

Alistair mengambil sebuah foto tua dari laci.

Foto itu memperlihatkan dirinya berdiri bersama Armand, Adrian, dan seorang perempuan muda yang menggendong bayi.

Elena Ravencroft.

Alistair menatap foto tersebut cukup lama.

“Dia harus mengetahui kebenaran tentang malam itu.”

Pria bersetelan hitam menundukkan kepala.

“Dan jika dia menolak bekerja sama?”

Alistair meletakkan foto itu kembali.

“Kalau begitu, kita akan memberikan alasan agar dia ingin mengetahui jawabannya.”

Pria itu tampak ragu.

“Apakah Anda yakin ingin melibatkan keluarga Valerius?”

Alistair menatapnya tajam.

“Sudah terlambat untuk menghindari mereka. Raka akan datang. Darren akan mencoba membeli jalan masuk. Kian akan meretas sistem. Leon akan menjaga semua orang tetap hidup, dan Riven akan mencoba menghancurkan pintu dengan tangannya sendiri.”

Ia tersenyum dingin.

“Aku membesarkan Adrian. Aku mengenal anak-anaknya. Mereka akan melakukan apa pun untuk membawa Aren pulang.”

“Lalu apa yang akan kita lakukan?”

Alistair memandang layar yang menampilkan gambar Aren di ruang tahanan.

“Kita biarkan mereka datang.”

Ia berhenti sejenak.

“Namun, sebelum mereka tiba, pastikan satu hal.”

“Apa itu?”

Alistair menatap foto Armand sekali lagi.

“Cari tahu apakah Adrian masih menyimpan surat terakhir Armand.”

Pria itu mengangguk.

“Jika surat itu ditemukan?”

Alistair memejamkan mata sebentar.

“Bakar.”

Di rumah tua Bukit Arvantis, Raka berdiri di hadapan peta terowongan yang terbentang di atas meja.

Kian berhasil menemukan satu jalur yang masih aktif. Jalur tersebut mengarah ke sebuah fasilitas bawah tanah di sisi timur bukit, jauh dari jalan utama dan tidak tercatat dalam peta modern.

“Ini tempatnya,” kata Kian. “Aku menemukan sinyal dari salah satu kamera internal. Perangkat itu menggunakan kode jaringan yang sama dengan sistem di ruang kendali.”

Raka menatap peta.

“Berapa lama perjalanan ke sana?”

“Sekitar dua puluh menit melalui terowongan, jika jalurnya masih terbuka.”

Darren memasukkan telepon ke saku.

“Tim keamanan kita sedang bergerak menuju titik keluar. Mereka akan menunggu di luar fasilitas.”

“Jangan beri tahu mereka untuk menyerbu,” kata Raka. “Kita tidak tahu berapa banyak orang yang menjaga Aren.”

Riven berdiri di samping meja, memandangi gambar terakhir adiknya di layar.

“Kalau mereka menyentuh Aren sedikit saja…”

Raka menatapnya.

“Kita akan membawa Aren pulang.”

“Aku tidak peduli berapa banyak orang yang menghalangi kita.”

“Aku juga tidak.”

Raka mendekati adiknya dan menepuk bahunya.

“Tapi kita akan melakukannya dengan kepala dingin. Aren membutuhkan kakak-kakaknya, bukan lima orang yang kehilangan kendali.”

Riven menarik napas panjang.

“Baik.”

Leon berdiri di dekat Elena. Perempuan itu telah kembali berdiri meskipun masih terlihat lemah.

“Aku ikut,” katanya.

Adrian segera menggeleng.

“Tidak. Kau harus tetap di sini.”

Elena menatapnya tajam.

“Aku sudah kehilangan tujuh belas tahun bersama anakku. Jangan memintaku menunggu lagi.”

“Aku tidak ingin kau terluka.”

“Aren adalah anakku.”

“Aku tahu!”

Suara Adrian menggema.

Ia terdiam sesaat, lalu menundukkan kepala.

“Aku tahu, Elena. Dan aku tidak ingin kehilangan kalian berdua.”

Untuk pertama kalinya, kemarahan Elena sedikit melunak.

Namun, sebelum ia sempat menjawab, Kian menemukan sebuah berkas baru pada terminalnya.

“Raka, kau harus melihat ini.”

Raka mendekat.

“Apa?”

“Ada pesan yang baru saja dikirim dari fasilitas bawah tanah. Pesan itu tidak ditujukan kepada sistem keamanan. Pesan ini ditujukan kepada kita.”

Kian membuka berkas tersebut.

Di layar muncul gambar Aren yang duduk di ruang tahanan. Ia terlihat lelah, tetapi masih sadar dan tidak tampak mengalami luka serius.

Di bawah gambar terdapat sebuah pesan.

KEPADA KELUARGA VALERIUS:

JIKA KALIAN INGIN MEMBAWA AREN PULANG, BAWA SURAT TERAKHIR ARMAND RAVENCROFT.

Raka menoleh kepada Adrian.

“Surat apa yang mereka maksud?”

Adrian tidak menjawab.

Wajahnya berubah pucat, dan tangannya perlahan mengepal.

Darren memperhatikan perubahan itu.

“Ayah mengenal surat tersebut.”

Adrian memejamkan mata.

“Aku memilikinya.”

Elena menatapnya dengan keterkejutan yang berubah menjadi kemarahan.

“Kau menyimpan surat terakhir Armand selama ini?”

“Aku berjanji kepadanya bahwa aku akan menyimpannya sampai waktunya tiba.”

“Waktunya tiba?” Elena mengulang dengan suara bergetar. “Adrian, anakku baru saja diculik oleh orang yang menghancurkan keluargaku, dan kau masih berbicara tentang waktu yang tepat?”

“Aku tidak tahu bahwa surat itu akan menjadi syarat untuk membawa Aren pulang!”

“Lalu apa isi surat itu?”

Adrian menatap layar, tempat Aren masih duduk sendirian di ruang tahanan.

Kemudian ia menjawab dengan suara rendah.

“Armand menuliskan nama orang yang dia percaya akan mengkhianatinya.”

Raka mengerutkan kening.

“Siapa nama itu?”

Adrian menatap kelima putranya, kemudian Elena.

“Nama itu adalah nama seseorang yang masih menjadi bagian dari keluarga kita.”

Ruangan mendadak sunyi.

Kian menatap layar. Darren tidak bergerak. Leon menutup mata sebentar, sementara Riven memandang Adrian seolah berusaha menebak apakah ada rahasia lain yang belum mereka ketahui.

Raka akhirnya berkata, “Kita akan mengambil surat itu. Setelah itu, kita membawa Aren pulang.”

Adrian mengangguk.

Namun, sebelum mereka bergerak, terminal Kian berbunyi sekali lagi.

Sebuah pesan baru muncul dari sumber yang sama.

JANGAN DATANG TERLALU LAMBAT. ALISTAIR SUDAH MEMUTUSKAN SIAPA YANG AKAN MENJADI KORBAN BERIKUTNYA.

Di bawahnya terdapat sebuah foto.

Foto seorang perempuan yang sedang duduk di ruang berbeda, dengan kedua tangan terikat.

Elena menatap gambar itu dan langsung menjerit.

“Itu bukan aku!”

Adrian mendekati layar.

Perempuan dalam foto itu memiliki wajah yang sangat mirip dengan Elena, tetapi rambutnya lebih pendek dan terdapat bekas luka kecil di dekat alis.

Gabriel menatap foto tersebut dengan wajah pucat.

“Tidak…”

Viktor segera menoleh kepadanya.

“Kau mengenalnya?”

Gabriel menelan ludah.

“Namanya Mara Soren.”

Viktor membeku.

“Kakak perempuan kita?”

Gabriel mengangguk perlahan.

“Dia seharusnya sudah meninggal tujuh belas tahun lalu.”

Raka menatap layar dengan mata menyipit.

“Sepertinya keluarga kita belum selesai menemukan orang-orang yang seharusnya sudah mati.”

Dan di tempat yang jauh di bawah tanah, Aren menatap pintu ruang tahanannya yang baru saja terbuka.

Seorang pria masuk membawa sebuah kotak kayu kecil.

Ia meletakkannya di atas meja, lalu mundur.

Di atas kotak itu tertulis sebuah nama.

ARMAND RAVENCROFT.

Aren berdiri perlahan.

Untuk pertama kalinya sejak diculik, ia merasa mungkin akan menemukan sesuatu yang benar-benar mengarah kepada ayah kandungnya.

Namun, ketika ia membuka kotak tersebut, yang ditemukannya bukan surat.

Melainkan sebuah foto lama dirinya saat masih bayi, sedang berada dalam pelukan seorang pria yang wajahnya telah dicoret dengan tinta hitam.

Di bagian belakang foto tertulis sebuah kalimat.

AYAHMU TIDAK MATI UNTUK MENYELAMATKANMU. DIA MATI KARENA MENCOBA MEMBUNUHMU.

Aren menatap tulisan itu tanpa berkedip.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia mulai bertanya-tanya apakah seluruh cerita tentang cinta kedua orang tuanya hanyalah kebohongan terbesar yang pernah ia percayai.

1
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!