Laras, ibu rumah tangga yang setia, tak sengaja membaca pesan mesra di ponsel suaminya, Dimas. Perempuan di balik pesan itu ternyata Vania, tetangga baru yang selama ini bersikap ramah padanya.
Laras hancur, tapi ia memilih diam dan mengumpulkan bukti. Saat melihat Reza, suami Vania, yang tulus mencintai istrinya, ia memutuskan membalas dengan cara yang sama: merebut apa yang paling Vania sayangi.
Namun semakin dalam Laras bermain, semakin kabur batas antara dendam dan perasaan. Rahasia masa lalu Vania dan Reza mulai terbuka, dan Laras harus memilih antara menuntaskan pembalasan atau menyelamatkan dirinya dan Kenzo, anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KOTAK BESI KECIL
Mobil Mira berhenti di rumah susun kosong di belakang pasar ikan, tempat yang bahkan Google Maps salah menandai sebagai gudang es.
Mira mematikan mesin. Tidak ada yang turun langsung. Napas mereka masih berat, bercampur bau amis dari selokan pasar.
Bu Tuti membuka tas kain itu di atas pahanya. Map cokelat ia geser ke samping. Kotak besi kecil itu kini terlihat jelas di bawah lampu kabin yang redup.
Kotak persegi, sebesar kotak perhiasan, cat hitamnya mengelupas di sudut. Gembok kecilnya berkarat, tapi bukan gembok biasa — lubang kuncinya berbentuk bulat, seperti kunci lemari arsip tua.
Laras mengambilnya. Dingin.
"Ini dari loker 27," bisiknya. "Dimas simpan. Dia bilang kuncinya ada di rumah Ibu."
Sumi tidak ada di sini. Sumi masih berdiri di teras rumah kayu, menghadang tiga mobil hitam dengan kedua tangan disilangkan. Laras menahan dorongan untuk kembali.
Vania yang duduk di belakang dengan Kenzo di pangkuan memiringkan kepala. "Mbak, itu kayak kotak tempat Bapak saya dulu simpan surat-surat tanah."
Bu Tuti mengulurkan tangan. Jemari keriputnya menyentuh gembok itu, tidak mencoba membukanya.
"Dimas dapat kotak ini dariku. Delapan tahun lalu, di rumah sakit, waktu dia menangis di samping ranjangku." Suaranya pelan. "Aku bilang: kalau kamu benar sayang istri kamu, simpan ini. Jangan buka. Jangan kasih ke Rudi. Tunggu sampai anak Pak Hendra kembali."
Reza.
Laras menatap kotak itu. "Jadi kuncinya Reza?"
"Bukan kunci besi." Bu Tuti menatap Laras. "Sidik jarinya."
Mira mengernyit. "Sidik jari? Kotak tahun berapa ini bisa pakai sidik jari?"
"Bukan teknologi. Kebiasaan." Bu Tuti membalik kotak itu. Di bagian bawah, ada goresan halus, seperti tulisan yang sengaja dihapus. Laras menyorotkan senter ponsel.
Tiga huruf terukir tipis: R W H.
Reza Wijaya Hendra? Hendra Wijaya? Inisial.
"Pak Hendra punya kebiasaan," lanjut Bu Tuti. "Setiap dokumen penting, dia tidak pernah kunci dengan gembok. Dia kunci dengan nama anaknya. Dia ukir inisial Reza di semua kotak pribadinya. Kuncinya bukan di toko. Kuncinya ada di dalam dompet Reza. Sejak kecil."
Mira langsung menelepon. "Reza, kamu di mana? Masih di RS?"
Suara Reza serak di seberang. "Masih. Dimas demam, tapi stabil. Ada apa?"
"Kamu punya kunci kecil? Warisan Bapakmu? Bentuknya bulat? Atau kalung? Atau di dompet?"
Hening di seberang. Lalu suara gesekan ritsleting.
"Ada," kata Reza pelan. "Di dompetku. Kunci kecil bulat, aku kira gantungan. Ibu saya — maksud saya, Bu Sari pernah bilang jangan hilangin. Aku simpan dari SD."
"Jangan kasih ke siapa pun. Kami ke sana sekarang."
---
Dua puluh menit kemudian, di ruang tunggu ICU yang sepi, Reza berdiri dengan wasiat asli di tangan dan dompet terbuka.
Laras meletakkan kotak besi kecil di atas meja perawat yang kosong.
Semua mata tertuju ke sana.
Reza mengeluarkan kunci kecil bulat, berkarat di ujung, tapi bentuknya pas.
Ia memasukkan, memutar.
Klik.
Tutup kotak terbuka dengan bunyi per yang lama tidak dipakai.
Di dalamnya tidak ada uang. Tidak ada emas.
Hanya tiga benda.
Pertama, sebuah kaset pita kecil, jenis yang dipakai perekam suara wartawan tahun 2000-an, dengan label tulisan tangan: 15/08/2015 - Puncak - 22.14
Tanggal kecelakaan.
Kedua, selembar foto polaroid yang sudah menguning. Foto di dalam mobil. Dari jok belakang. Terlihat Pak Hendra di jok depan, Bu Sari di sampingnya, dan di kaca spion, terpantul wajah sopir.
Bapak Laras. Dan di sampingnya, duduk di jok penumpang depan, bukan kosong — ada seorang pria berjas, tersenyum ke arah kamera, tangan memegang sesuatu di dekat tuas rem.
Wajah itu tidak asing bagi Laras. Ia pernah melihatnya di bingkai foto di kantor kelurahan, waktu mengurus KTP Kenzo.
Wajah atasan Jaksa Hendarto.
Ketiga, secarik kertas kecil, tulisan Bu Tuti yang rapi miring:
Kalau kotak ini dibuka Reza, berarti Sumi akhirnya bicara. Laras, maafkan Ibu. Maafkan Tuti yang harus meminjam sepuluh tahun hidupmu untuk menjaga bukti ini tetap hidup. Putar kasetnya. Jangan sendirian.
Mira mengambil kaset itu dengan tangan gemetar.
Dari koridor, langkah sepatu terdengar. Cepat. Bukan langkah perawat.
Pintu ruang tunggu terbuka.
Jaksa Hendarto berdiri di sana, napasnya terengah, jasnya basah oleh hujan yang baru turun.
Di belakangnya, dua petugas yang tadi ditarik pulang.
Dan di belakang mereka lagi, seorang pria tua berjas abu-abu, rambut disisir rapi, senyum tenang.
Pria dari foto polaroid.
"Maaf, Bu Laras," kata Hendarto, suaranya tegang, matanya tidak lepas dari kotak besi kecil yang terbuka itu. "Saya terlambat. Beliau... beliau datang lebih dulu ke rumah Ibu."
Pria tua itu melangkah maju, menatap kotak itu, lalu menatap Bu Tuti yang duduk di kursi roda yang didorong Vania — Bu Tuti yang seharusnya mati.
"Tuti," katanya pelan, seperti menyapa teman lama. "Kamu keras kepala sekali ya."
Bu Tuti tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tongkatnya lebih erat, dan menatap balik dengan mata yang sama tajamnya dengan foto hitam putih 1978.
Laras berdiri di antara kotak yang terbuka dan Kenzo yang tertidur di bahu Vania.
Kaset di tangan Mira terasa panas.
"Jangan," kata Laras pelan, bukan pada siapa-siapa, tapi pada semua orang di ruangan itu. "Jangan ada yang sentuh kaset ini dulu."
Pria tua itu tersenyum, menatap Laras seperti menatap anak kecil yang baru belajar mengeja.
"Bu Laras," katanya ramah, "saya Kajati. Atasan Pak Hendarto. Saya di sini untuk melindungi kalian."