NovelToon NovelToon
KEKASIH DARI KEGELAPAN

KEKASIH DARI KEGELAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: LailaHaidar

Di antara cahaya yang tak pernah cukup dan bayangan yang tak pernah padam, namanya terucap hanya dalam hening: Orion.

Ia bukan milik dunia yang kau kenal. Pangeran dari kedalaman kegelapan, sosok yang dikabarkan tak pernah menyentuh sinar matahari, yang berjalan di tempat di mana cahaya tak mampu menjangkau. Banyak yang gemetar menyebut namanya; banyak yang menganggapnya kutukan. Namun bagi Aruna—ia adalah satu-satunya keberkahan yang menyelamatkannya dari jurang.

Aruna, gadis yang hidup di antara keraguan dan bahaya yang datang tanpa peringatan, selalu menemukan dirinya ditarik ke tepi jurang—sampai sepasang tangan yang kuat, hangat meski berasal dari kegelapan, menariknya kembali. Orion selalu hadir tepat saat dunia tampak membelakanginya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalan Menuju Istana Bayangan

Jubah yang Mara berikan terasa aneh di kulitku. Bukan kasar, justru halus seperti sutra, tapi terasa dingin — seolah kain itu sendiri menyerap sedikit kehangatan tubuhku. Saat aku memakainya, aku melirik ke arah tangan yang tadi terang benderang di cahaya bintang. Sekarang tersembunyi, samar, seolah aku bukan lagi sumber cahaya, tapi bagian dari bayangan itu sendiri.

"Rasanya seperti menghilang," gumamku, merapikan kerah jubah yang menutupi sebagian leherku.

Orion menoleh, dan untuk sesaat aku nyaris tidak mengenalinya. Dengan jubah kelabu yang menutupi sebagian wajahnya, dia terlihat seperti bayangan yang hidup — gelap, misterius, dan entah ke mana. Tapi saat dia menatapku, matanya yang keemasan itu tetap sama. Hangat. Milikku.

"Bagaimana penampilanku?" tanyanya setengah bercanda, suaranya pelan. "Terlihat seperti pemberontak yang buronan?"

"Terlihat seperti seseorang yang akan mengubah dunia," jawabku, merapikan lipatan jubah di bahunya. "Tapi kalau boleh jujur... aku lebih suka melihatmu tanpa ini. Aku rindu melihatmu terang."

Dia tersenyum, lalu menyentuh pipiku dengan ujung jari yang terlihat sedikit dari balik sarung jubahnya. "Tak lama lagi. Semoga setelah ini selesai, kita tidak perlu lagi bersembunyi dari siapa pun."

Mara berdiri di depan pintu, menatap kami berdua seolah sedang menilai apakah kami cukup waras untuk pergi atau tidak. Dia menghela napas panjang, lalu menyerahkan sebilah pisau yang gagangnya terbuat dari akar pohon tua.

"Simpan ini," katanya padaku, suaranya serius sekali. "Bukan untuk menyerang. Tapi jika terdesak... itu lebih baik daripada tidak punya apa-apa. Ingat: di kota bayangan, jangan percaya siapa pun. Jangan jawab panggilan orang asing. Dan kalau ada yang menawarkanmu minuman, tolak dengan sopan tapi tegas. Mereka suka menguji orang asing dengan ramuan yang membuatmu lupa siapa dirimu."

"Kau tidak ikut?" tanyaku, menyelipkan pisau itu ke ikat pinggang di bawah jubahku.

Dia menggeleng. "Aku sudah terlalu lama hidup di pinggiran. Kalau aku terlihat di istana, Valdris akan tahu ada yang tidak beres. Aku akan menunggu di gerbang luar. Kalau kalian tidak kembali sebelum bulan purnama terbenam... aku akan tahu artinya apa."

Kalimat itu terasa berat. Tapi aku tidak mau membiarkan ketakutan menguasai. Aku menggenggam tangan Orion di balik jubah kami, tersembunyi dari pandangan siapa pun.

"Kita akan kembali," kataku lebih kepada diriku sendiri.

"Semoga begitu," jawab Mara pelan, lalu membukakan pintu. "Hati-hati, Pangeran. Dan jaga cahayamu. Dia lebih berharga dari yang kau tahu."

Kami melangkah keluar. Udara pagi di hutan purba terasa lebih dingin dari biasanya. Kabut tipis masih menutupi tanah, membuat langkah kami nyaris tak bersuara.

Perjalanan ke kota bayangan memakan waktu lebih lama dari yang kubayangkan. Sepanjang jalan, Orion bercerita dengan suara yang nyaris berbisik, menunjuk ke arah ini dan itu — sisa-sisa peradaban lama, pohon yang dulu pernah berbicara, sungai yang airnya tak pernah memantulkan bayangan siapa pun. Semakin jauh kami berjalan, semakin aku merasa kecil. Dunia ini begitu luas, begitu tua, dan kami berdua terasa seperti dua titik kecil yang berani menantang takdirnya sendiri.

"Orion..." panggilku pelan saat kami berhenti sejenak di tepi sungai yang airnya hitam pekat namun jernih. "Apakah kau pernah membayangkan hidup yang berbeda? Seandainya... seandainya kau lahir di duniku, bukan di sini?"

Dia duduk di batu besar, memandang ke arah air yang tenang. "Sering. Dulu aku membayangkan punya rumah kecil, pekerjaan biasa, pulang sore hari dengan langit yang berwarna jingga. Bukan takhta, bukan perang, bukan ramalan. Cuma... hidup sederhana."

Dia menoleh padaku, senyumnya lembut namun sedih. "Tapi kalau begitu, aku tidak akan pernah bertemu denganmu. Dan untuk itu... aku rela melewati apa pun. Bahkan tempat paling mengerikan sekalipun."

Aku duduk di sampingnya, menyandarkan kepala di bahunya. "Kita akan dapatkan hidup itu, Orion. Aku janji. Setelah ini selesai, kita akan cari tempat yang tenang. Tidak ada raja, tidak ada takdir. Hanya kita berdua."

Dia mencium keningku pelan. "Itulah satu-satunya harapan yang membuatku terus melangkah maju."

Saat kami melanjutkan perjalanan, pemandangan di depan kami perlahan berubah. Pepohonan raksasa mulai menipis, digantikan oleh dataran luas yang dipenuhi bangunan-bangunan tinggi dari batu hitam. Tidak ada lampu jalan, tapi setiap dinding memancarkan cahaya redup yang berasal dari dalam batu itu sendiri. Semakin kami mendekat, semakin aku merasa tertekan — bukan karena takut, tapi karena kesan agung yang menyelimuti tempat ini. Bangunan-bangunannya begitu tua, begitu megah, seolah telah berdiri sejak dunia ini diciptakan.

"Ini kota Lembah Malam," bisik Orion, suaranya berubah lebih waspada. "Jangan lepas tanganku. Di sini jalanan bisa berubah arah jika kau tidak memperhatikannya dengan benar."

Kami berjalan masuk lewat gerbang samping yang kecil, tersembunyi di antara dua menara batu. Tidak ada penjaga yang terlihat, tapi aku merasakannya — ada mata-mata di mana-mana. Di celah-celah dinding, di jendela-jendela gelap, di bayangan di bawah kaki kami. Mereka tahu kami datang. Mereka hanya menunggu apa yang akan kami lakukan.

Jalanan di dalam kota terbuat dari batu halus yang berkilauan samar. Beberapa sosok melintas di kejauhan — berjalan cepat, menunduk, tak berhenti mengobrol. Tidak ada yang tertawa. Tidak ada yang bersuara keras. Semuanya terasa tertahan, seolah siapa pun yang berani terlalu berisik akan lenyap begitu saja.

"Apakah mereka selalu seperti ini?" bisikku, menekan langkahku agar tetap sejajar dengannya.

"Mereka takut," jawabnya pelan. "Raja Valdris tidak suka keramaian. Dia percaya ketenangan adalah tanda kepatuhan. Jadi mereka diam, berjalan cepat, dan pulang sebelum cahaya bintang memudar."

Kami berbelok di sebuah lorong sempit, lalu Orion berhenti di depan sebuah pintu kecil yang tersembunyi di balik tirai batu. Dia melirik ke kiri dan kanan, lalu membukanya perlahan.

"Masuk. Cepat."

Di dalamnya gelap sekali, tapi pintu di belakang kami tertutup rapat, dan seketika itu juga suasana berubah. Cahaya kecil menyala di sudut ruangan, memperlihatkan sebuah ruangan sempit dengan rak-rak yang penuh gulungan kuno. Di tengah ruangan ada meja batu bundar, dan di sana duduk seseorang — menunduk, sibuk membaca selembar kulit yang tertulis tulisan aneh.

Saat dia menoleh, aku nyaris berteriak. Wajahnya bukan menakutkan, tapi aneh — satu sisi terlihat seperti orang muda, sisi lain seperti orang yang sangat tua. Matanya berwarna abu-abu pucat, dan saat dia menatapku, rasanya seolah dia sedang membaca seluruh isi kepalaku.

"Jadi kau akhirnya datang," suaranya — dua suara sekaligus, satu muda satu tua, berbicara bersamaan. "Aku sudah menunggu sejak cahaya pertamamu menyentuh perbatasan, gadis kecil."

Orion melangkah ke depan, berdiri di antara kami. "Tenang saja, Aruna. Dia tidak berbahaya. Namanya Orakel. Dia penjaga catatan kota ini."

Orakel tersenyum, tapi senyumnya tidak sampai ke matanya.

"Berbahaya atau tidak... itu tergantung apa yang kalian cari. Kalian datang untuk Kitab Keseimbangan, bukan? Banyak yang datang memintanya. Banyak yang pergi dengan kecewa. Atau tidak pergi sama sekali."

Dia berdiri perlahan, menunjuk ke arah rak tertinggi di dinding belakangnya.

"Kitab itu ada di sana. Tapi tidak ada yang boleh membukanya tanpa membayar harganya terlebih dahulu. Dan harganya... bukan emas, bukan nyawa. Tapi kejujuran."

Dia menatapku tajam sekali.

"Pertanyaan pertamaku padamu, cahaya kecil: Jika kau membuka kitab itu dan menemukan bahwa untuk menyelamatkan Orion, kau harus meninggalkannya selamanya... apakah kau akan melakukannya?"

Hening. Hanya suara napas kami yang terdengar di ruangan kecil itu.

Aku menatap Orion dulu, lalu menatap Orakel lurus-lurus.

"Aku tidak tahu apakah aku kuat untuk itu," jawabku jujur. "Tapi aku tahu satu hal: aku tidak akan memutuskan nasib kami berdua sendirian. Kalau harus berpisah, kita akan putuskan bersama. Kalau harus berkorban... kita akan cari cara agar tidak ada yang harus kehilangan siapa pun."

Orakel diam cukup lama, lalu perlahan tersenyum — kali ini senyumnya terasa tulus, meski masih penuh misteri.

"Jawaban yang berbeda dari yang kuduga. Kebanyakan orang bilang mereka rela mati demi cinta. Padahal yang lebih sulit adalah hidup tanpa orang yang dicintainya. Kau pikir dulu, gadis. Sebab kitab itu tidak hanya menunjuk ke arah akhir cerita. Ia juga akan menunjukkan semua jalan yang tidak kau ambil. Semua penyesalan yang mungkin kau rasakan."

Dia berjalan ke rak itu, mengulurkan tangannya yang keriput namun kokoh, dan mengambil sebuah bungkusan kain tua yang berwarna abu-abu pudar. Di atasnya tidak ada tulisan, tapi terasa berat — bukan karena fisiknya, tapi karena apa yang tersimpan di dalamnya.

"Ini dia. Bawa ke Puncak Cahaya. Hanya di sana tulisan-tulisannya akan terbaca. Tapi ingat satu hal: kitab itu tidak menentukan takdir. Ia hanya memerlihatkan apa yang mungkin terjadi. Kalianlah yang akan memilih jalan mana yang akan dijalani."

Dia menyerahkan kitab itu kepada Orion. Saat jubah Orion menyentuh kain pembungkusnya, cahaya samar berkilau sejenak. Orakel menatap mereka berdua dengan tatapan yang sedih namun penuh harap.

"Semoga kalian lebih bijaksana daripada mereka yang datang sebelum kalian. Dan semoga... kalian tidak menyesali pilihan yang diambil."

Saat kami melangkah keluar dari ruangan itu, beban di tangan Orion terasa nyata. Di luar, langit kota bayangan mulai berubah — cahaya bintang perlahan meredup, dan di kejauhan, menara tertinggi istana mulai memancarkan cahaya gelap yang kuat, seolah menyadari ada sesuatu yang bergerak menuju ke sana.

"Kita tidak punya banyak waktu," bisik Orion, menggenggam tanganku lebih erat dari sebelumnya. "Malam akan segera tiba di sini. Dan saat malam turun sepenuhnya... pintu istana hanya terbuka sekali."

Aku menatap ke arah menara yang menjulang tinggi itu, lalu menatap Orion. Wajahnya teguh, tapi aku tahu di dalam hatinya dia sedang berdebar — sama sepertiku.

"Ayo kita pergi," kataku pelan, menyemangati diriku sendiri sekaligus dia. "Akhir cerita kita sedang menunggu. Dan aku ingin menulisnya sendiri."

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!