Tiga tahun berbakti sebagai istri seolah tak ada artinya bagi Aira ketika Radit diceraikannya secara mendadak tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka.
Demi kehadiran sekretaris cantik, Aira terpaksa melangkah menembus hujan deras membawa kopernya. Kemalangan tak berhenti di situ; di tengah jalan ia diserang sekelompok preman hingga tak berdaya.
Di saat kritis, sosok pria tinggi bertato bernama Lucas datang menyelamatkannya. Namun, pertolongan itu membawa takdir baru. Dalam pengaruh obat akibat dijebak, Lucas membawa Aira ke hotel. Dengan bisikan "Jangan takut, aku mandul," Aira yang hancur akhirnya memejamkan mata dan pasrah.
Esok harinya, Aira pergi memulai hidup baru dari nol—mencari kontrakan dan pekerjaan. Namun beberapa minggu kemudian, garis dua di alat tes kehamilan meruntuhkan dunianya. Jika Radit sudah lama tak menyentuhnya, maka janin itu jelas milik Lucas. Lantas, apakah pengakuan mandul itu hanya kebohongan manis, atau ada rahasia besar yang sengaja Lucas sembunyikan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Tim IT internal hotel yang dipanggil Lucas langsung melangkah maju membawa laptop khusus analisis digital.
Hanya dalam hitungan detik, layar besar di ruang rapat menampilkan struktur berkas foto tersebut.
"Bisa dilihat di sini, mendata foto ini telah diedit menggunakan perangkat lunak tiga hari yang lalu. Pencahayaan pada wajah Chef Aira dan badan pria di foto tidak simetris, pikselnya pecah, dan ini murni hasil rekayasa digital photoshop yang sangat kasar," ucap ketua tim IT menjelaskan secara gamblang di depan semua orang.
Skakmat!
Wajah Mila yang tadinya penuh ejekan seketika pucat pasi.
Tubuhnya mendadak gemetaran.
Lucas melangkah maju, berdiri tegap di samping Aira sembari menatap tajam ke arah Mila, Radit, dan Ibu Radit.
"Saya tegaskan kepada kalian bertiga. Saya adalah pemilik utama hotel ini, dan Chef Aira adalah aset paling berharga di tempat ini yang dilindungi hukum secara penuh oleh manajemen!" tegas Lucas dengan suara bariton menggelegar yang membungkam seluruh ruangan.
Pintu ruang rapat kembali terbuka. Tim pengacara pribadi Lucas masuk bersama empat orang anggota kepolisian berseragam lengkap yang sengaja sudah dihubungi oleh Randy sejak awal keributan.
"Proses laporan sekarang juga. Jerat mereka dengan pasal berlapis: UU ITE terkait penyebaran dokumen elektronik rekayasa, pemalsuan foto, pencemaran nama baik, dan tindakan tidak menyenangkan di area bisnis," perintah Lucas dingin kepada pengacaranya.
Radit dan ibunya langsung panik luar biasa. Lutut Radit lemas hingga ia hampir terjatuh ke lantai, sementara ibunya mulai menangis histeris memohon ampun saat polisi melangkah mendekati mereka untuk memasang borgol.
Lucas lalu menatap Mila yang berdiri mematung bagai patung batu.
Sudut bibir Lucas terangkat membentuk senyuman penuh kemenangan yang amat dingin.
"Jadi, sekarang kamu percaya?" bisik Lucas menusuk ilusi kesombongan Mila.
Mila menelan salivanya dengan susah payah, air mata ketakutan mulai menetes di pipinya.
Lucas menoleh ke arah interkom yang terhubung langsung ke dapur utama.
"Rizal! Apakah, masakannya sudah matang? Aku ingin melihat wanita ular ini menghabiskannya sesuai sumpah mulut besarnya sendiri sebelum dibawa ke kantor polisi!"
Dari interkom dapur, suara Rizal sahut-menyahut penuh semangat.
"Siap, Pak Lucas! Masakan sudah matang semuanya!"
Dua puluh porsi besar ikan kerapu asam manis yang masih berasap ngebul akhirnya ditata berjejer memadati piring-piring di atas meja rapat utama.
Aroma gurih dan asam yang biasanya menggugah selera, kini terasa bagaikan siksaan paling mengerikan bagi Mila.
Di bawah tatapan dingin para anggota kepolisian, jajaran manajemen, serta staf hotel yang bersedekap, Mila dipaksa duduk di kursi tengah.
Wajahnya yang semula penuh kesombongan kini merah padam dibanjiri air mata ketakutan dan rasa malu yang tak terhingga.
"M-Mas Radit, Ibu, tolongin Mila." tangis Mila terisak-isak, menoleh ke arah Radit dan ibunya yang sudah lebih dulu berdiri dipasangi borgol di sudut ruangan oleh polisi.
Namun, Radit hanya bisa menunduk pasrah dengan wajah pucat pasi, tak berani berkutik sedikit pun di hadapan wibawa Lucas.
"Ayo, Nona Mila. Silakan dihabiskan sesuai sumpah mulut besar Anda tadi," tegur Randy tegas dengan nada dingin.
Mila mengambil sendok dan garpu dengan tangan yang gemetar hebat.
Dengan air mata yang terus menetes deras, ia menyuapkan potongan daging ikan kerapu pertama ke dalam mulutnya.
Rasa asam dan manis yang pekat langsung memenuhi tenggorokannya.
Baru memasuki porsi pertama, perutnya sudah terasa mual luar biasa akibat tekanan batin dan rasa takut dijebloskan ke dalam penjara.
"Ugh, hoek!"
Mila menahan mualnya setengah mati, menutup mulutnya dengan tangan sambil menangis terungkit-ungkit.
Aira berdiri anggun di samping Lucas, menatap dingin wanita yang selama ini terus-menerus mencoba menghancurkan hidup dan kariernya.
Tidak ada lagi rasa kasihan di hati Aira saat melihat Mila.
Ia tahu jika bukan karena kekuatan dan kecerdasan Lucas, dialah yang akan hancur dan dizalimi oleh mereka.
Lucas merengkuh pinggang Aira dengan protektif, lalu menatap Mila tanpa belas kasihan sedikit pun.
"Habiskan, Mila," ucap Lucas pendek namun penuh penekanan yang menakutkan.
"Setiap porsi yang tidak kamu habiskan akan menambah tuntutan pasal pemerasan dan perbuatan tidak menyenangkan di berkas kepolisianmu."
Mendengar ancaman mutlak dari sang CEO, Mila makin histeris.
Dengan napas memburu dan air mata meluncur deras, ia terpaksa terus menyuap kerapu asam manis itu sambil menahan muntah di bawah pengawasan ketat semua orang—sebuah pembalasan telak dan penderitaan paling memalukan sebelum pintu sel tahanan benar-benar terkunci untuknya.
Baru saja menghabiskan porsi keempat dengan tubuh gemetaran dan napas memburu, tubuh Mila akhirnya tak sanggup lagi menahan rasa mual dan tekanan batin yang begitu hebat.
Matanya mendadak terbalik, dan tubuhnya ambruk pingsan di atas piring-piring ikan kerapu.
"Bawa dia!" perintah petugas kepolisian sigap, langsung memapah tubuh Mila yang tak sadarkan diri.
Melihat Mila pingsan dan polisi bersiap menyeret mereka bertiga ke mobil tahanan, ketakutan Radit membumbung tinggi.
Dengan sisa keberaniannya, Radit merangkak di lantai, menjatuhkan dirinya, lalu memegang erat kaki Aira dengan linangan air mata.
"Aira, tolong, Aira! Ampuni Aku, Aira! Kita mulai lagi dari awal, Aku masih cinta sama kamu!" jerit Radit memohon iba.
Ibu Radit yang biasanya sangat angkuh kini bersujud di dekat kaki Aira, menangis histeris melupakan segala kesombongannya.
"Aira, tolong maafkan Ibu! Cabut laporannya, Nak! Rujuk lah kembali dengan Radit, Ibu janji akan memperlakukanmu dengan baik!"
"HENTIKAN!!"
Teriakan menggelegar dari Lucas menggelegar menyapu seluruh ruangan.
Aura membunuh dari sang CEO membuat Radit dan ibunya terdiam mematung dalam ketakutan.
Polisi dengan cepat menarik paksa Radit dan ibunya berdiri, menjauhkan mereka dari Aira.
"Pak Lucas," bisik Aira pelan, memegang lengan pria itu.
Lucas menatap Aira dengan sorot mata yang penuh gejolak emosi—campuran antara amarah pada para bajingan itu dan rasa protektif yang tak lagi bisa ditahannya.
"Aira, tolong. Aku tidak tahan lagi. Aku tidak bisa menyembunyikan ini semua lebih lama lagi," ucap Lucas dengan suara bergetar, matanya menatap Aira penuh ketulusan dan ketegasan yang tak bertepi.
Aira menatap mata Lucas yang jujur dan dalam, lalu tersenyum lembut.
Ia menganggukkan kepalanya pelan, memberikan restu sepenuhnya.
"Panggilkan semua orang!" panggil Lucas dengan suara baritonnya yang lantang ke arah Randy.
Hanya dalam hitungan menit, seluruh karyawan hotel—mulai dari jajaran manajemen, para koki dari dapur utama termasuk Rizal dan Arum, para staf pelayan, hingga jajaran satpam—berkumpul memadati hall dan ruang utama.
Suasana hening dan tegang menyelimuti seluruh ruangan.
Lucas melangkah maju ke tengah ruangan, menggandeng erat jemari Aira di hadapan ratusan pasang mata yang menatap mereka takjub.
"Dengar semuanya!" seru Lucas tegas, suaranya menggema penuh wibawa.
"Hari ini, di hadapan kalian semua, saya mengumumkan secara resmi bahwa wanita luar biasa di samping saya ini, Aira, bukan sekadar Head Chef di hotel ini. Dia adalah calon istri saya, wanita satu-satunya yang akan saya nikahi! Dan, saat ini, dia sedang mengandung tiga bayi kembar—calon penerus tunggal dari seluruh takdir dan kekayaan saya!"
Gasp!!
Seluruh ruangan heboh seketika! Rizal ternganga lebar sampai memegangi kepalanya, sementara Arum menutupi mulutnya dengan mata berbinar terharu.
Para staf berbisik-bisik takjub dan penuh rasa hormat.
Radit yang berada dalam cengkeraman polisi melotot tidak percaya.
Mukanya merah padam menahan rasa malu dan kegilaan yang membakar dadanya.
"BOHONG! Tidak mungkin! Kamu mandul, Aira!! Kamu wanita mandul yang tidak bisa punya anak!" bentak Radit histeris, menolak kenyataan pahit bahwa mantan istrinya kini dipuja dan mengandung tiga anak kembar dari pria terkaya di kota itu.
Aira melangkah satu titik ke depan, menatap Radit dengan pandangan dingin dan penuh ketenangan.
"Bukan aku yang mandul, Mas. Tapi kamu yang mandul," sahut Aira lugas dan tenang, menyapu bersih harga diri Radit hingga ke dasar.
Aira merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop medis resmi dari rumah sakit yang selama ini ia simpan rapat-rapat.
"Ini, bukti surat pemeriksaan kesuburan dokter milikmu dari dua tahun lalu," ucap Aira sambil menunjukkan berkas tersebut di hadapan semua orang.
"Selama kita menikah, aku sengaja menyimpan dan menutup-nutupi kenyataan pahit ini rapat-rapat sendirian. Aku rela dihina dan dicap mandul oleh ibumu dan keluargamu demi menjaga harga dirimu sebagai seorang suami di depan keluargamu sendiri!"
Radit membelalak shock, tubuhnya lemas seketika bagai tak bertulang.
Ibu Radit ternganga mematung, seolah disambar petir di siang bolong.
Aira menatap Radit untuk terakhir kalinya dengan senyum sinis yang sarat akan rasa prihatin.
"Dan, satu hal lagi, Mas. Kalau kamu sendiri yang mandul, aku benar-benar tidak yakin apakah anak yang dikandung Mila sekarang itu benar-benar anakmu."
Sumpah dan kenyataan telak dari Aira menjadi pukulan paling mematikan bagi Radit dan ibunya.
Tanpa menunggu sepatah kata pun lagi, polisi langsung menyeret Radit, ibunya, dan Mila yang masih tak sadarkan diri keluar menuju mobil tahanan diiringi sorakan dan tatapan jijik dari seluruh karyawan hotel.
"Aira, aku masih mencintaimu!! Aku tidak mandul, Aira!" teriak Radit yang masih tidak terima jika selama ini dirinyalah yang mandul.
gimana Radit, ternyata kamu yang mandul 🤣🤣 jadi anak siapa yang dalam kandungan Mila? kan pelacur murahan yah 🤣🤣
niat hati menjatuhkan chef Aira, kamu yang akan menghadapi kekuasaan Lucas
mama kandung yang waras pasti ga akan mau punya menantu pelacur murahan seperti kamu, jadi jelas sekali chef Aira kelasnya jauh di atas kamu