Silvana, seorang dokter dengan karir yang sangat bagus, terpaksa di kirim ke Wilayah Konflik karena menolak cinta dari putra salah satu Petinggi di Rumah Sakit tempatnya bekerja.
Tentu saja Silvana menolak, karena Pria itu tak hanya meminta cintanya, namun juga hampir melecehkannya.
Karena tak ingin berada di lingkungan toxic, ia pun sama sekali tak keberatan ketika di kirim ke Wilayah Konflik yang ada di Negaranya.
Disana, ia bekerja di sebuah Klinik Militer. Selain menangani Prajurit yang terluka, ia juga secara rutin datang ke desa-desa sekitar Markas Militer untuk melakukan pemeriksaan pada warga desa.
Siapa sangka, jika di tempat 'pengasingan' itulah ia justru bertemu dengan pria yang berhasil meluluhkan hatinya.
Bagaimana kisah cinta Silvana?
Apakah perjalanan cintanya berjalan dengan mulus?
Siapakah sosok pria yang berhasil meluluhkan hatinya?
Simak kisah dan keseruannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Kelompok Kriminal
"Sudah siap kah, Ndan?" Tanya Miko yang menghampiri Komandan Kaivan.
Namun, ia sedikit terkejut dengan suasana tegang yang terjadi. Komandan Kaivan masih berdiri di depan rumahnya, begitu juga dengan Dokter Sisil.
"Ee kenapa ini tegang sekali?" Tanya Miko.
"Saya mau ikut ke lokasi. Pasti akan ada yang memerlukan pertolongan nakes." Jawab Sisil.
"Terlalu berbahaya kalau kamu ada di sana, Dokter Silvana." Sahut Komandan Kaivan.
"Lalu kenapa? Bukannya itu adalah tugas saya, Komandan? Untuk apa saya di datangkan kesini kalau tidak di perlukan?" Tanya Sisil.
"Aduh! Jangan bertengkar sekarang, Ndan, Dokter. Kita harus segera ke lokasi." Kata Miko.
"Saya ambil peralatan sebentar." Sisil buru-buru masuk untuk mengambil tas darurat yang memang selalu siap sedia. Tak lupa, ia menyambar jas dokternya sebagai identitas.
Komandan Kaivan hanya bisa menghela nafas panjang. Tentu saja ia tak bisa lagi melarang keinginan Sisil meski ia merasa khawatir jika gadisnya itu berada di dekat medan tempur.
Suasana hening dan tegang begitu terasa di dalam mobil yang di tumpangi Miko, Riki, Komandan Kaivan dan juga Sisil.
Sesekali, Riki melihat ke arah Miko, seolah menanyakan tentang ketegangan yang terjadi di bangku belakang.
"Haiih! Kalau begini, bagaimana Dokter Sisil mau dekat dengan Komandan?" Batin Miko sambil melirik ke arah bangku belakang.
Sementara itu, Komandan Kaivan dan Dokter Sisil masih sama-sama terdiam. Keduanya sama-sama larut dalam pikiran masing-masing. Komandan Kaivan sangat mengkhawatirkan Sisil jika ia berada di sana. Namun, disisi lain, apa yang dikatakan oleh Sisil juga ada benarnya. Mereka memang membutuhkan tenaga kesehatan disaat genting seperti ini untuk menyelamatkan nyawa.
"Lebih cepat lagi, Ki." Pinta Komandan Kaivan kala melihat kepulan asap hitam dan api yang membumbung tinggi dari kejauhan.
Melihat itu, Sisil pun terpaku. Ia tak menyangka jika kerusuhan yang terjadi akan sebesar itu. Pantas saja jika Komandan Kaivan tak mengizinkannya tadi. Namun, bagaimanapun ia tetap harus berada di sana, untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang Dokter.
Miko dan Riki segera turun dari mobil ketika Riki memarkirkan mobil mereka di sebelah truk yang mengangkut Anggota Batalyon. Sementara itu, Komandan Kaivan dan Sisil masih berada di dalam mobil.
"Kamu lihat sendiri bagaimana kondisi disini?" Tanya Komandan Kaivan.
"Aku bukan tidak mau membawamu, Dokter. Tetapi di sini sangat berbahaya." Imbuhnya sambil menatap netra gadis di sebelahnya.
"Maaf, Ndan." Ucap Sisil.
"Aku akan membawamu keempat yang aman. Kamu bisa mengobati korban yang memerlukan pertolongan di sana. Kamu juga akan di jaga oleh beberapa anggota." Ujarnya yang di jawab anggukan setuju oleh Sisil.
Komandan kaivan dan Sisil kemudian menyusul turun. Komandan Kaivan terus berkomunikasi dengan Miko yang mencari tempat aman untu Dokter Sisil. Sementara itu, Dokter Sisil berjalan di sebelah Komandan Kaivan. Tangan kokoh pria itu, menggenggam erat tangan Sisil yang hilang dalam genggamannya.
Sisil sampai menahan nafas melihat lokasi keributan yang lebih mirip lokasi pembantaian secara brutal. Darah berceceran dimana-mana, korban yang sudah tak bernyawa pun tergeletak di sana.
"Astaghfirullah." Lirih Sisil. Aroma anyir darah, cukup menusuk indra penciumannya.
Komandan Kaivan kemudian membawa Sisil ke sebuah rumah yang tampak bersih. Di sana, sudah ada Miko dan Riki yang menunggu Komandannya datang.
"Informasi." Ujar Komandan Kaivan.
"Anggota sedang melakukan pengejaran, Ndan." Jawab Miko.
"Baik, saya akan segera menyusul masuk." Kata Komandan Kaivan yang membuat Sisil langsung menoleh ke arah pria di sebelahnya.
"Ndan!"
"Ini sudah tugas saya." Jawab Komandan Kaivan yang mengerti dengan tatapan Sisil.
"Kamu jaga di sini, Riki. Ada empat anggota lain yang sudah saya minta berjaga di depan. Saya dan Miko akan ikut pencarian ke dalam hutan. Bawa semua korban terluka yang masih hidup kesini. Dokter Sisil akan mengobati mereka." Komandan Kaivan memberikan instruksi.
"Siap, Ndan." Jawab Riki yang sudah mengerti dengan tugasnya.
Tanpa berkata lagi, Komandan kaivan dan Miko berjalan cepat keluar dari rumah itu. Sementara itu, Sisil masi terus menatap punggung lebar Komandan Kaivan yang berjalan semakin menjauh. Keduanya lalu menghilang di dalam pekatnya malam.
Tak berselang lama, satu persatu korban terluka dibawa masuk ke dalam rumah itu. Melihat korban berdatangan, Dokter Sisil segera mengobati mereka yang terluka.
Tak hanya warga desa, beberapa anggota pun mengalami luka sabetan benda tajam di bagian tubuh mereka. Sisil tampak begitu serius mengobati korban. Ia mulai dengan korban yang mengalami kondisi paling parah lebih dulu.
Entah sudah berapa luka yang ia jahit. Malam itu, akhirnya pekerjaannya pun selesai. Semua korban luka, sudah ia obati. Sesekali, Sisil melihat ke luar, tentu saja ia menunggu kedatangan Komandan Kaivan dengan hati yang resah.
"Ki, tolong bawa jenazah yang luka parah kesini." Pinta Dokter Sisil.
"Untuk apa, Bu Dokter? Bu Dokter tidak taut, kah?" Tanya Riki dengan heran.
"Mereka tetap harus 'dirapihkan', Ki. Kasihan keluarganya jika melihat kondisi mereka yang berantakan seperti itu." Jawab Dokter Sisil.
Riki pun mengangguk. Ia segera membawa jenazah yang sudah di masukkan kedalam kantung jenazah itu ke hadapan Dokter Sisil. Dengan telaten, Dokter Sisil menjahit bagian tubuh jenazah yang rusak.
Mulai dari luka kecil, hingga luka besar yang menyebabkan lengan hampir putus, usus yang terburai juga leher yang hampir terlepas, semua di rapikan oleh Sisil.
Rii yang sedari tadi menemani hanya bisa bergidik ngeri melihat jenazah-jenazah yang sedang di rapikan oleh Dokter Sisil.
"Kenapa bisa seperti ini, Ki?" Tanya Dokter Sisil.
"Mereka memang mencari masalah, Bu Dokter. Mereka tiba-tiba menyabetkan pedang ke seorang anggota polisi hingga membuat luka cukup panjang di lengan." Cerita Riki.
"Anggota Polisi lain yang tak terima pun membalas hingga membuat kelompok kriminal itu meregang nyawa. Dan akhirnya seperti ini, kelompok kriminal itu membalas dengan menghancurkan rumah keluarga anggota Polisi." Kata Riki.
Dokter Silvana menghela nafas panjang. Sungguh ia merasa sedih dan sangat miris melihat kondisi seperti ini. sepertinya, kelompok kriminal itu tak pernah puas melukai orang-orang yang tak bersalah.
Slerrrrttttt.....
Suara resleting yang di tarik, memecah kesunyian malam itu. Sisil sudah menyelesaikan tugasnya untuk merapikan kondisi para jenazah sebagai bentuk penghormatan terakhirnya. Jenazah itu, akan diurus pihak keluarga esok, ketika matahari sudah terbit dan kondisi di sana sudah kembali tenang.
"Bu Dokter, Komandan bilang kalau Bu Dokter harus di antar pulang kalau tugas sudah selesai." Ujar Riki.
"Kita gak tunggu Komandan?" Tanya Dokter Sisil.
"Tidak, Bu Dokter. Komandan bisa berhari-hari melakukan pencarian." Jawab Riki.
Dokter Sisil mengangguk mengerti. Ia segera membereskan peralatannya. Ia bersama Riki dan seorang anggota lain kemudian menuju ke mobil untuk kembali ke Markas Batalyon.
Namun, saat hendak masuk ke dalam mobil, sebuah tangan kasar tiba-tiba menarik lengannya. Dokter Sisil hanya bisa terdiam ketika benda yang terasa dingin menempel di lehernya.
Tubuhnya seketika membeku saat melihat kilatan sebuah pedang yang kini menempel di lehernya. Sementara itu, Riki dan beberapa anggota langsung mengacungkan senjata ke arah lima orang yang masing-masing membawa pedang panjang.
"Turunkan senjata, atau saya bunuh Dokter ini." Ujar pria yang menempelkan pedangnya di leher Sisil.
gemes sama mereka berdua, pengen nyubit bibirnya si miko 😅
Authorny lek update cepet 👍👍👍
lanjutkan keromantisanmu komandan,,,
biar akunya jg ikut sneng 💞💞
up lg kk yg bnyak..
duh penasaran bin penisirin ini