NovelToon NovelToon
Sang Raja Mafia -the King Of Mafia

Sang Raja Mafia -the King Of Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Andri Komara

Dunia tidak pernah tahu nama negeri ini. Tapi semua orang di dalamnya tahu satu aturan: jangan pernah percaya siapa pun.
Kenzo Adriel berumur tujuh tahun saat ia bersembunyi di balik semak dan menyaksikan keluarganya dibantai habis — sementara negerinya sendiri berpura-pura hal itu tidak pernah terjadi.
Sepuluh tahun kemudian, ia bukan lagi anak itu.
Ia adalah bayangan yang disewa untuk membunuh orang-orang yang terlalu berbahaya untuk disentuh hukum. Tidak ada yang tahu wajahnya. Tidak ada yang tahu namanya yang sebenarnya. Dan tidak ada yang tahu bahwa setiap kontrak yang ia ambil hanyalah alasan untuk mendekati satu nama — dalang dari malam yang menghancurkan hidupnya.
Pencarian itu membawanya ke dalam rumah Alexander Gunawan, salah satu orang paling berkuasa — dan paling berbahaya — di negeri ini.
Sebagai tamu, bukan pembunuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 9: RUMAH YANG TERLALU SUNYI

Mobil itu melaju tanpa suara di jalan pesisir yang lengang, dan Kenzo duduk di kursi belakang dengan tas kanvas di pangkuan, kedua tangannya menggenggam selembar kertas tua yang sudah sangat lembut di lipatannya. Perempuan di balik kemudi tidak bicara, lelaki di sebelahnya tidak menoleh. Lampu-lampu Sarvenna bergeser di kaca jendela seperti kenangan yang ditarik paksa dari genggaman, dan ketika gapura pelabuhan lewat, tempat Victor dulu menggendongnya di punggung dengan topi lusuh menutupi separuh wajahnya, Kenzo menekan buku jarinya ke mulut sendiri.

Ia tidak mau menangis di depan orang asing. Itu yang ia katakan pada dirinya sendiri. Tapi bahunya sudah bergetar sebelum ia sempat memutuskan, dan air mata jatuh ke atas kertas itu, tepat di atas nama Nadira yang dulu ia coret sampai sobek.

*Kuli bangunan.* Dua kata bodoh itu terus berputar. Ia bisa mendengar nada suaranya sendiri tadi, datar dan rapi, dan ia bisa mendengar Victor menimbangnya tiga detik, lalu menyebut jeda itu dengan lembut seperti menyebut kekurangan seorang murid yang sangat disayang. Papa tahu. Dari awal Papa tahu. Dan tetap membiarkannya pergi dengan satu-satunya hal yang ia punya.

Kalau aku jujur, pikirnya, Papa akan mengikatku di kursi. Betulan. Dia tidak bercanda soal itu.

Jadi ia berbohong. Dan sekarang kebohongan itu terasa seperti batu di tenggorokan yang tidak bisa ia telan maupun ia muntahkan.

---

Di rumah kontrakan itu, Victor masih duduk di lantai ruang makan sampai lututnya yang kiri mati rasa.

Ia tidak tahu sudah berapa lama. Teh di cangkir ketiga sudah sedingin air kolam, jam dinding berdetak seperti orang yang mengetuk-ngetuk meja menunggu sesuatu, dan rumah ini, yang selama bertahun-tahun terlalu sempit untuk tiga lelaki, mendadak terasa luas sekali. Ia mendengar kulkas. Ia mendengar angin menyisip di bawah pintu. Ia mendengar sesuatu yang selama dua puluh tahun tidak pernah ia sadari karena selalu tertutup oleh suara lain: sunyi.

Perlahan ia bangkit dan berjalan ke dapur, dan di sana, di dekat kompor yang gosong di satu sisi, ia berdiri lama sekali.

Di sini dulu ada anak tujuh tahun dengan kaus kaki tidak sepasang. Duduk di lantai sambil menatap mangkuk nasi yang tidak disentuh. Kenzo kecil yang tidak mau bicara tapi mau memegang ujung kemejanya bahkan dalam tidur. Kenzo sepuluh tahun yang pertama kali berhasil jatuh tanpa terbentur, dan menoleh dengan wajah bangga yang berusaha ditahan, dan Victor berpura-pura tidak memperhatikan padahal jantungnya berdebar seperti anak kecil. Kenzo dua belas tahun yang menulis soal hitungan di tembok dengan arang karena kehabisan kertas. Kenzo lima belas yang mulai diam-diam memasak tengah malam karena tahu Victor sering pulang larut dan tidak makan.

Tawa itu masih ada, di sudut-sudut yang tidak bisa ia jangkau. Tawa pertama setelah sekian lama, dengan nasi gosong di mulut. Ia ingat betul bagaimana ia memalingkan muka pura-pura membersihkan sendok supaya anak itu tidak melihat matanya basah.

Victor membuka lemari bawah dengan tangan yang gemetar. Di dasarnya, tertutup kain, ada kapal kayu kecil yang catnya sudah lama kering. Ia mengangkatnya, memutar-mutarnya di antara jari, dan akhirnya duduk di lantai dengan benda itu di dada.

"Papa pulang cepat ya, Dimas bilang..." bisiknya pada ruangan kosong. "Papa janji. Papa janji, tapi..."

Ia tidak menyelesaikannya. Kepalanya menunduk, dan lelaki yang pernah menolak membunuh sebuah kampung itu menangis dalam diam di lantai dapur, sampai mendengar bunyi yang membuatnya mengangkat kepala: langkah kecil di lorong. Hanya bayangan. Ingatan. Anak kecil yang berjalan dengan kaus kaki tidak sepasang, memanggil pelan dari ambang pintu.

*Om? Om sudah makan?*

Tidak ada siapa-siapa di sana. Victor menutup wajah dengan kedua tangan dan membiarkan sunyi itu menang.

---

Perjalanan berakhir menjelang tengah malam di sebuah pabrik tekstil terbengkalai di pinggir kota Marenta. Dari luar hanya tampak dinding bata hitam dan jendela pecah, tapi mobil itu masuk lewat gerbang samping yang dibuka tanpa suara, menuruni tanjakan beton ke ruang bawah tanah yang berbau minyak tua dan keringat dingin. Kenzo digiring melewati lorong panjang, disaring dua kali oleh orang yang menggeledahnya sampai ke sol sepatu, dan lencana nomor tujuh itu diambil dari sakunya dengan sopan dan tidak dikembalikan.

Ruangan terakhir tidak punya jendela. Udaranya pengap, dindingnya basah, dan satu-satunya cahaya datang dari lampu minyak di atas meja besar dari kayu hitam. Di baliknya duduk seorang lelaki yang tidak mirip bayangan Kenzo tentang pemimpin mafia mana pun. Kurus, kira-kira enam puluh tahun, rambut perak disisir rapi, mengenakan kemeja putih yang digulung sampai siku dan kacamata bundar tipis. Di mejanya hanya ada satu papan catur dengan bidak yang berhenti di tengah permainan, dan segelas air putih.

"Duduklah, Kenzo Adriel." Suaranya pelan, serak, seperti seseorang yang sudah terlalu lama bicara dengan bisikan. "Mereka bilang kamu mematahkan pergelangan dua anak buah Gandara dalam sepuluh detik. Tapi kamu kelihatan kurang tidur."

Kenzo tidak duduk. "Kartunya bilang Anda tahu siapa yang saya cari."

"Aku tahu banyak hal." Lelaki itu tersenyum tipis dan menunjuk kursi di seberangnya dengan dagu. "Tapi aku tidak membicarakan sesuatu yang penting dengan orang yang berdiri. Itu kebiasaan lamaku. Duduk."

Setelah jeda panjang, Kenzo duduk. Lelaki itu menuang air dari teko ke gelas kedua dan mendorongnya melintasi meja.

"Namaku Raden Wiratama Sanjaya. Di jalanan orang memanggilku Sang Dalang, atau cukup Don. Sudah dua puluh tujuh tahun aku memegang Jari Algozo, dan selama itu hanya ada empat orang di luar lingkaranku yang pernah melihat wajah ini." Ia menyesap air. "Sekarang kamu orang kelima. Aku bukan orang baik, jadi jangan salah paham. Tapi aku punya aturan. Aturan pertama: aku tidak menyuruh orang membunuh orang yang tidak bersalah. Aturan kedua: aku tidak bertanya kenapa kamu ke sini sebelum kamu sendiri yang cerita."

"Kenapa?"

"Karena orang yang bercerita dengan sukarela jarang berbohong." Ia menyandarkan punggung. "Ceritakan padaku, Nak. Dari awal. Aku punya malam yang panjang."

Kenzo menatap papan catur itu lama. Tangannya yang tadi di pangkuan mengepal, lalu terbuka, lalu mengepal lagi. Ia sudah berlatih kalimat pertama sepanjang perjalanan, dan ketika akhirnya ia membuka mulut, kalimat itu hilang sama sekali.

"Aku... aku tujuh tahun waktu itu."

Dan ia bercerita.

Ia bercerita tentang tempe goreng yang dibelah Ayah menjadi dua dengan tangan kosong. Tentang mesin ketik yang berhenti di tengah kata seperti orang tersedak. Tentang main petak umpet yang dikatakan Ibu dengan senyum paling jelek yang pernah ia lihat. Suaranya naik turun, kadang terlalu cepat, kadang berhenti begitu lama sampai ia menunduk menatap lantai, lalu melanjutkan dengan gemetar. Ia bercerita tentang boneka kelinci dengan satu telinga terlipat, dan di bagian itu ia berhenti total, rahangnya bergerak tanpa suara, dan lelaki di seberang meja tidak memotong sedikit pun.

"Tiga jasad kata mereka," kata Kenzo, serak. "Padahal kami berempat. Aku... aku masih hidup, tapi aku nggak ada di daftar. Dan sampai sekarang..." Ia menarik napas yang patah. "Sampai sekarang rasanya aku memang nggak ada. Aku cuma... cuma bayangan yang nungguin balas dendam."

"Siapa yang kamu kejar?"

"Cincin batu hijau. Seorang jenderal yang tanda tangannya ada di manifest. Dan seseorang yang disebut 'Bapak' di radio malam itu." Kenzo mengangkat wajah, dan matanya merah tapi kering. "Dan sebulan lalu Axel, teman saya, akhirnya menemukan satu nama di arsip tua pelabuhan, di catatan pembayaran untuk operasi malam itu. Alexander Gunawan."

Don itu tidak bergerak. Tapi jari-jarinya yang memegang gelas berhenti, dan Kenzo, yang selama sepuluh tahun belajar membaca jeda dari orang yang paling pandai menyembunyikannya, melihat sesuatu mengeras di rahang lelaki itu. Bukan terkejut. Sesuatu yang jauh lebih tua dan lebih dingin.

"Alexander Gunawan." Raden mengulang nama itu pelan sekali, seperti orang yang mengucapkan nama penyakit. "Pengusaha pelayaran. Pemilik tiga puluh persen pelabuhan Sarvenna. Ketua yayasan yang namanya ada di sepuluh sekolah dan dua rumah sakit. Orang yang foto-fotonya tersenyum di baliho-baliho jalan itu."

"Anda kenal dia."

Lelaki itu terdiam sangat lama. Lalu ia meraih satu bidak putih dari papan catur, raja yang sudah terkepung, dan memutarnya perlahan di antara ibu jari dan telunjuk.

"Tiga puluh tahun lalu aku punya seorang adik perempuan," katanya, datar. "Namanya Ratri. Dia bekerja di salah satu yayasan Alexander sebagai guru. Suatu hari dia menemukan sesuatu di gudang belakang sekolah itu, sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana, dan dia melaporkannya, dengan polos, kepada orang yang menurutnya bisa dipercaya." Bidak itu berhenti berputar. "Pihak berwenang menemukan dia tiga hari kemudian di dalam sumur kering. Hasil otopsi bilang bunuh diri. Orang yang menandatangani laporan itu kemudian mendapat promosi."

Kenzo menahan napas.

"Aku membangun Jari Algozo bukan untuk uang, Nak. Aku membangunnya karena aku ingin satu hari menyeret orang itu keluar dari rumah emasnya dan membuatnya menjawab satu pertanyaan sederhana." Ia menaruh bidak itu kembali, dengan pelan, di tempat yang sama. "Dan tiga puluh tahun, tiga ratus orang terbaik, dua kali percobaan yang menewaskan dua puluh dua anak buahku, tidak satu pun mendekati dia. Alexander tidak pernah sendirian. Ada Lingkar Hitam. Ada orang-orang di Kementerian yang berutang nyawa padanya. Ada seseorang di atasnya yang bahkan aku tidak tahu namanya. Dia bukan mangsa. Dia hampir semacam cuaca."

"Jadi Anda juga tidak bisa," kata Kenzo, dan nadanya jatuh seperti orang yang baru dilepas dari ujung tali.

"Belum." Don itu menatapnya, dan untuk pertama kalinya Kenzo melihat kilat di balik kacamata bundar itu, kilat orang yang sudah menunggu sangat lama. "Aku tidak bilang tidak bisa. Aku bilang belum. Aku sudah lama mencari satu hal yang tidak kumiliki: seseorang yang punya alasan sekuat aku, tapi lebih muda, lebih cepat, dan bisa masuk ke tempat yang tidak mungkin kumasuki. Kamu, Kenzo. Dan teman hacker-mu yang tidak bicara itu, yang diam-diam sudah dua kali membobol server kami tanpa ketahuan. Ya, aku tahu. Jangan kaget."

Kenzo tertegun. "Axel..."

"Dia sangat bagus. Tapi anak yang bagus masih anak. Kamu juga." Raden berdiri perlahan, memutar kursi, dan menatap dinding kosong di belakangnya. "Kalau kamu masuk ke rumah Alexander sekarang, kamu mati sebelum sampai ruang tamu. Jadi kita latih ulang kalian. Kamu belajar cara membunuh yang bukan hanya otot: menyamar, merayu, membaca orang, jadi tamu yang tidak dicurigai. Temanmu belajar apa yang tidak diajarkan siapa pun di dunia atas. Dua tahun, mungkin tiga. Kamu tidak akan bertemu keluargamu selama itu."

"Keluarga saya sudah mati."

"Bukan yang itu."

Kenzo terdiam. Dadanya sesak. Wajah Victor di ruang makan itu, uban yang tak lagi ada hitamnya, tangan yang gemetar mencengkeram kausnya.

"...Saya akan pulang," katanya pelan. "Suatu hari. Saya sudah janji."

"Orang selalu janji gitu," kata Raden, dengan nada yang begitu mirip kata-kata Victor tadi sampai Kenzo tersentak. Lalu lelaki itu menoleh sedikit, dan senyum tipis di wajahnya padam. "Ada satu hal lagi yang harus kamu tahu sebelum kamu menandatangani apa pun malam ini."

"Apa?"

"Lencana nomor tujuh yang dibawa kartu undangan itu. Aku tidak mengirimnya sebagai ancaman." Ia berjalan ke laci meja, membukanya, dan mengeluarkan sebuah map cokelat lusuh. Di sampulnya ada tulisan tangan yang sama dengan tulisan di kartu: rapi, tenang. "Pradana tidak pernah keluar dari Jari Algozo, Nak. Dia hanya aku biarkan pergi. Karena dia datang padaku dua puluh tahun lalu, dalam keadaan hampir mati, dengan satu permintaan yang aneh sekali."

Map itu ia letakkan di atas papan catur, tepat di tengah bidak-bidak yang terhenti.

"Dia memintaku menjagamu. Bukan sekarang. Nanti. Kalau suatu hari kamu datang sendiri ke pintuku."

Kenzo menatap map itu, lalu Raden. "Papa... Victor yang minta?"

"Victor memang meminta. Tapi bukan dia satu-satunya." Raden membuka map itu perlahan, dan selembar foto meluncur keluar ke atas meja, menghadap ke atas di bawah cahaya lampu minyak. Foto lama, hitam putih, sudut-sudutnya sudah menguning. Seorang lelaki muda berjas, berdiri di antara dua orang yang tertawa, dan salah satunya adalah Ayah Kenzo, Adriel Wicaksana, bahunya dirangkul akrab oleh lelaki berjas itu, kamera menggantung di lehernya.

Lelaki berjas itu memakai cincin di jari manis. Batu hijau.

"Dan orang yang memberiku uang untuk menjaga Victor, dan menjagamu, selama dua puluh tahun terakhir," ujar Raden pelan, menekan setiap kata seperti memasang peluru satu per satu, "adalah lelaki yang sedang tersenyum di sebelah ayahmu di foto itu."

Lampu minyak berkedip. Di suatu tempat di atas, di lantai pabrik yang berkarat, seseorang menjatuhkan sesuatu yang berat, dan Kenzo tidak mendengarnya sama sekali. Ia hanya menatap wajah di foto itu, wajah yang tertawa, wajah yang rambutnya disisir rapi dengan satu helai tegak melawan di bagian belakang, persis seperti rambutnya sendiri.

---

*Bersambung ke Bab 10*

1
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
iih jadi inget.. 🤭🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: yang baca ini.. 🤭🤭
total 4 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kamu harunya ingat saat pas kalian masih bersama, melewatkan segala susah senang bersama, bahkan saat tersulit pun kalian bisa menghadapinya.. jangan hanya kesalahan yang bahkan membuat Kenzo menyesal seumur hidupnya pun kamu meninggalkan dia, dan juga karena seorang cewek yang sudah memberikan hati ya padanya.. padahal Kenzo sendiri cuek sama dia kan.. dia tidak membalas perasaan Silva...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waaahh cinta segitiga gak tuh nantinya... terus Silva gimana dong Ken... kamu jangan memberi harapan palsu ke Silva.. kasihan kan dia.. mana si Axel juga jadi ninggalin kamu kan karena Silva suka sama kamu.. eh kamunya malah suka sama anak musuh mu sendiri.. emang enak ditinggalin sama orang yang pernah kita sayangi dan kita percayai dalam hidup kita....
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waaah Kenzo dong... super hero datang juga akhirnya... kak authornya pinter banget sih, lagi tegangan tinggi langsung datengin hero nya...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waahh siapa tuh yang pakee motor🤔🤔🤔
tania Weh
kalau kekasih lama. suka gak😍?
tania Weh
dangdut ya 🤭🤭, yang dak dik duk gitu deh, kayak hatiku padamu loh 🤣
tania Weh
mungkin author nya pernah deh
tania Weh
iiiiihhhn jadi flashback deh saat aku di suapin seseorang 😍😍😍😍
tania Weh
peran jahat lagi ini
tania Weh
romantis bangeeeeett 😍😍, jadi pengen deh di peluk kak author nya 🤭
tania Weh
diskusi apa sih, 😍😍😍😍😍 , apaa jangan jangan aku ya 😄😄
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waah kak authornya mau berdiskusi dulu ternyata.. silahkan kak.. nyantai aja...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
aaaahh Axel kenapa kamu begitu... ahh tidaaakk.. 😥😥😥
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
wah apa maksudnya si lord ini.. dia mau memecah Axel sama Kenzo... dan siapa 2 orang yang bertopeng dengan tongkat itu.. apakah dia yang tadinya duduk di kursi roda itu kah? 😱😱😱
EVandri Beloved❤❤: yang jelas bukan penjahat waspadalah... waspadalah.. waspadalah
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
aaahh Axel hubungan kamu sama kenzo jangan jadi rusak gara² hal ini dong... hati tidak bisa berpindah begitu saja kan.. hati yang memilih.. kamu juga pasti tahu hati tidak bisa ditebak kita akan menyukai siapa didunia ini.. karena kalau jati sudah memilih maka kita tidak bisa menolak... pliisssss jangan jadi renggang sama Kenzo...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
siapa lagi mereka???
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
lah kamu Kenzo... kenapa kamu tembak mati dulu... harusnya walaupun kamu tembak, tapi jangan di tempat yang fatal duku biar kamu bisa ngorek. informasi yang kamu cari dari dia...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
apakah itu adalah ayahnya si Kenzo itu? 🤔🤔🤔
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waaah cinta segitiga nih.. Axel kamu jangan jadi begitu dong sama Kenzo.. hati tidak bisa dipaksakan untuk mencintai... kita tidak bisa memilih atau menolak haal itu... semoga kamu bisa legowo Axel... ingat kalian sudah tumbuh bersama selama ini, jangan hanya karena hal itu hubungan kalian jadi retak...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!