Yurinika tak mengira akan di labrak oleh selingkuhan suaminya. bukan hanya sekali tapi berkali-kali selingkuhannya itu datang dan melabrak dia. memintanya meninggalkan sang Suami Abimana. pria bingung itu justru tak mau meninggalkan keduanya.
hingga akhirnya Yuri benar-benar kecewa kepada Abimana dan saat tahu Sandra adalah anak dari atasannya di kantor membuat Yuri memiliki ide untuk memanfaatkannya.
apa yang akan di lakukan Yuri atas rasa kecewa yang dia dapat dari suami yang sudah dia bersamai dari titik nol sampai mereka menikah dua tahun? ikuti terus ceritanya.
dan jangan lupa baca karya othor lainnya dengan mencari nama pena Yam_zhie.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yurinika 13
Sekitar pukul sembilan malam, suara deru mobil terdengar di depan rumah, disusul bantingan pintu mobil yang cukup keras. Tak lama, pintu depan terdorong terbuka kasar.
Abimana melangkah masuk dengan raut wajah yang luar biasa kusut dan letih. Baju kemeja kerjanya sudah lecek, dasinya miring, dan wajahnya memerah padam. Kepalanya teasa sangat pusing. Banyak sekali cicilan yang harus dia bayar, sedangkan uang dari gajinya juga tidak cukup. Uang bonuspun rasanya tak akan mampu menutupi semua cicilanya.
Dia juga belum mengatakan kepada kedua orang tuanya mengenai hubungannya dengan Sandra. Apalagi minggu ini, Sandra meminta bertemu dengan kedua orang tuanya. Mungkin ibunya masih bisa dia ajak kerjasama, tapi bagaimana dengan ayahnya? Ayahnya pasti akan sangat marah, apalagi dia begitu menyayangi Yuri. Setelah melihat semua pengorbanan Yuri untuk keluarganya.
Melihat suasana rumah yang hening dan lampu dapur yang mati, amarah Abimana seketika menyala. Ia berjalan dengan hentakan kaki sengaja dikeraskan menuju ruang tengah, lalu sengaja melempar tas kerjanya ke atas sofa hingga menimbulkan suara gedebuk yang nyaring.
Pria itu langsung melangkah menuju kamar utama, mendorong pintu kamar hingga terbuka lebar.
Ia melihat Yuri sedang duduk tenang di tepi tempat tidur sambil mengoleskan hand cream di tangannya, seolah-olah tidak terjadi apa-apa seharian ini.
Abimana berdiri di ambang pintu, menyilangkan tangan di dada sambil memasang "mode ngambek" dan raut wajah penuh amarah yang dibuat-buat, menunggu Yuri merasa bersalah, panik, lalu datang merayunya seperti yang biasa wanita itu lakukan jika Abimana pulang dalam keadaan emosi.
Namun, Yuri bahkan tidak mendongak. Ia terus mengusap jemarinya dengan santai, mengabaikan keberadaan pria yang berdiri mematung di pintu itu.
Melihat reaksi dingin yang tak sesuai ekspektasinya, kekesalan Abimana yang sudah membendung dari sore akhirnya meledak seketika.
"Yuri!" panggil Abimana dengan suara berat yang sengaja ditekan.
"Kamu ini beneran nggak punya rasa peduli ya sama suami?!"
Yuri menghentikan usapan tangannya perlahan. Ia menengadah, menatap Abimana dengan tatapan datar tanpa emosi.
"Ada apa, Mas?"
"Kamu masih tanya 'ada apa'?" Abimana melangkah masuk ke kamar dengan napas memburu.
"Aku pulang kerja capek-capek, rumah gelap, makanan nggak ada, dan kamu cuma duduk manis di sini?! Biasanya kamu nyambut aku, nyiapin minum, atau tanyain kabar aku!"
"Biasanya?" Yuri terkekeh pelan, sebuah tawa singkat yang sangat dingin.
"Aku nggak masak, Mas. Kan kamu belum memberikan aku uang belanja... Aku aja tadi makan di toko kebetulan ada yang bagi-bagi nasi box," jawab Yuri santai.
"Ya kan biasanya juga pakai uang kamu dulu, Dek..."
"Uang tabungan aku sudah terkunci rapat dan di gembok, Mas! Lagian tadi ibu dan Zaki bilang kamu sudah Dp motor Zaki kan? Jangan lupa bayar uang rumah, Mas! Bukannya kamu ingin kita punya rumah, walau kita harus nyicil sampai 10 tahun... Setidaknya aku hanya mengingtakan mimpi kita, eh mimpi kamu... Karena aku nggak tahu apakah aku masih ada dalam bagian mimpi kamu itu atau tidak..."
"Maksud kamu apa ngomong begitu, Yuri?" desis Abimana, suaranya gemetar menahan perpaduan antara rasa bersalah, malu, dan kepanikan yang membakar.
"Kamu mau menyudahi rumah tangga ini cuma gara-gara uang KPR dan motor Zaki?!"
Yuri menaruh botol hand cream di atas nakas dengan bunyi klek yang teratur. Ia berdiri perlahan, merapikan piyama tidurnya, lalu menatap lurus ke arah Abimana tanpa mengungkit sedikit pun soal keberadaan Sandra. Yuri memilih menyimpan rapat kartu as itu demi menunggu saat yang paling tepat untuk menghantam suaminya.
"Bukan cuma gara-gara uang, Mas," bisik Yuri dengan suara begitu tenang, namun berdaya tekan luar biasa.
"Tapi gara-gara cara pandang kita yang sudah nggak sejalan. Ke mana perginya suami yang dulu janji mau berjuang bareng dari nol? Kenapa sekarang yang berdiri di depan aku cuma lelaki yang silau sama jabatan dan sibuk obral gengsi?"
Mendengar Yuri sama sekali tidak menyinggung soal wanita lain, Abimana justru merasa tertohok hebat oleh rasa bersalah yang teramat dalam. Di tengah kepanikannya soal keuangan, ketulusan Yuri selama ini mendadak menghantam nuraninya. Abimana melangkah tergesa mendekati Yuri, lalu mencengkeram kedua lengan istrinya dengan erat seolah takut wanita itu akan pergi.
"Yuri... dengarin aku, Dek," ucap Abimana penuh permohonan, suaranya bergetar hebat.
"Sumpah... demi Allah, aku nggak ada niat apa-apa sama sekali selain pengen hidupin kamu dan keluarga kita dengan layak! Aku capek hidup susah, Yur. Aku cuma mau kita dipandang hormat sama orang lain."
Yuri hanya menatap tangan Abimana yang mencengkeram lengannya dengan pandangan datar.
"Dengan cara berutang sana-sini dan mengorbankan rumah kita?"
"Aku salah! Aku khilaf!" erang Abimana, matanya mulai berkaca-kaca menatap manik mata istrinya.
"Tapi kumohon, jangan ngomong seolah-olah aku mau ninggalin kamu. Aku sayang sama kamu, Yuri. Kamu satu-satunya istri yang nemenin aku dari bawah. Soal tabungan kamu, kamu nggak usah khawatir, aku nggak akan ganggu uang kamu, Dek..."
"Jangan bicara seolah kamu akan pergi dari Mas, Yuri. Kalau kamu pergi, kamu mau kemana? Kamu tidak punya siapa-siapa selain Mas dan keluarga Mas! Mas nggak sangup hidup tanpa kamu, Dek..."
Di dalam hatinya, gelombang amarah bergemuruh hebat, namun di permukaan wajahnya, Yuri mendadak melunak. Ia memasang topeng kepolosan, menampilkan kembali tatapan wanita lembut yang selama tiga tahun ini selalu mudah dibohongi dan diperdaya oleh suaminya.
Yuri menarik napas pelan, lalu berjongkok sedikit untuk mensejajarkan posisinya dengan Abimana yang masih terduduk lemas di lantai. Ia mengulurkan tangan, menyentuh lembut bahu suaminya.
"Mas..." panggil Yuri dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, terdengar begitu sarat akan ketulusan palsu.
Abimana mendongak cepat, matanya yang basah oleh air mata menatap Yuri penuh pengharapan seolah menemukan secercah cahaya di ujung lorong gelap.
"Dek... kamu percaya sama Mas, kan? Kamu nggak akan ninggalin Mas, kan?"
Yuri mengulas senyum tipis—senyum penuh pengertian yang amat menenangkan di mata Abimana, meski di dalam hatinya ia tengah menikmati detik-detik kebodohan pria itu.
"Iya, Mas... aku percaya sama kamu," ucap Yuri lembut, memainkan peran istri yang setia dengan sempurna.
"Aku tahu kamu cuma khilaf dan kalap karena baru pegang jabatan baru. Namanya juga proses penyesuaian, wajar kalau kamu sempat salah arah. Tapi asal kamu janji mau berubah dan fokus benerin keuangan kita lagi, aku pasti bakal temenin kamu terus dari nol."
Mendengar jawaban itu, Abimana merasa beban seberat gunung mendadak terangkat dari pundaknya. Ia langsung menerjang maju, menarik Yuri ke dalam pelukannya erat-erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang istri sambil terisak lega.
"Makasih, Dek... makasih banyak, Yuri!" ucap Abimana berulang-ulang, merasa bahwa ia baru saja selamat dari jurang kehancuran berkat keluguan istrinya.
"Kamu emang istri terbaik... Mas janji, Mas bakal benerin semuanya. Mas bakal urus semuanya, dan besok... besok pulangt kantor, Mas bakal jemput kamu di tempat kerja!"
Yuri diam dalam pelukan itu, matanya menatap kosong ke dinding kamar dengan binar dingin yang tajam, sementara tangannya menepuk-nepuk pelan punggung Abimana.
"Jemput aku? Buat apa, Mas?" tanya Yuri pura-pura bingung.
Abimana melepaskan pelukannya, menatap Yuri dengan senyum penuh semangat yang dipaksakan. Wajahnya yang tadi pucat kini berangsur-angsur kembali cerah karena mengira ancaman telah berlalu.
"Besok Mas jemput kamu, kita langsung ke supermarket besar buat belanja bulanan sepuasnya," janji Abimana dengan nada meyakinkan, mencoba membuktikan bahwa ia suami yang bertanggung jawab.
"Biar kulkas kita nggak kosong lagi, biar kamu nggak perlu susah payah nyari nasi box di toko. Semua kebutuhan rumah kita penuhin lagi, Dek!"
Yuri mengangguk patuh, menyembunyikan seringai sinis di balik senyum manisnya.
"Iya, Mas," jawab Yuri penurut. "Kalau gitu, sekarang Mas bersih-bersih dulu ya, terus istirahat di kamar. Besok kita bicarakan semuanya lagi."
Abimana mengangguk patuh, merasa dunianya kembali aman. Dia belum siap kehilangan Yuri, apapun yang terjadi dia harus tetap bersama dengan Yuri. Namun dia juga tak tahu apa yang akan dia katakan kepada Sandra.
km udh gx bisa keluar dr cengkraman nenek lampir berkedok malaikat mu😏
knp km nekat ,, gila gilaan bersama nenek lampir ,, gila gilaan ,, gila gilaan ,,
lama2 km jd gila beneran Abimana😏😏😏