Marco Maverick membenci wanita cantik. Trauma masa lalu membuat CEO jenius yang hobi bertingkah kocak ini lebih memilih melajang, menyawer live TikTok, dan mengasuh anak sahabatnya. Bahkan saat menyelamatkan wanita mempesona di klub malam, Marco menolaknya mentah-mentah.
Penasaran dengan satu-satunya pria yang berani mencampakkannya, Isabel nekat menyusup ke hidup Marco. Putri konglomerat yang sedang buron itu menanggalkan kemewahannya dan menjelma menjadi 'Lia', sekretaris berpenampilan cupu dan kusam.
Ironisnya, Marco justru menolak pesona Isabel dalam wujud aslinya, dan perlahan jatuh hati pada kesederhanaan Lia. Namun, tak ada kebohongan yang abadi. Ketika topeng sang sekretaris terbongkar, luka lama Marco kembali menganga, menghancurkan semua rasa percaya yang baru tumbuh.
"Apakah seru mempermainkan hatiku, Lia?"
Saat bahaya masa lalu kembali mengincar nyawa Isabel, sanggupkah ia meyakinkan pria itu bahwa cinta tak selamanya pahit, Marco!?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Pintu rumah kontrakan sederhana di pinggiran kota itu tertutup rapat dengan bunyi decitan pelan. Begitu kunci ganda diputar, bahu yang sejak pagi melengkung ketakutan itu langsung tegak kembali.
Isabel membuang napas panjang. Ia melepas kacamata tebalnya dan melemparnya ke atas meja ruang tamu. Blazer cokelat kedodorannya menyusul jatuh ke lantai. Dengan langkah cepat, ia masuk ke kamar mandi, menuangkan cleansing balm dalam jumlah banyak ke telapak tangannya, dan mulai menggosok wajahnya kuat-kuat.
Air keran mengalir deras, membilas riasan kusam dan bedak gelap yang menutupi kulitnya. Wig keriting kaku yang membuat kepalanya gatal ditarik lepas.
Ketika Isabel kembali menatap cermin, gadis cupu bernama Lia sudah lenyap tak berbekas. Yang terpantul di sana kini adalah Magnolia Isabella Ramsey yang sesungguhnya.
Wajah oval sempurna, kulit putih bersih yang bersinar, bibir merah alami, dan rambut panjang bergelombang yang kini tergerai bebas. Ia kembali menjadi wanita yang kecantikannya bisa membungkam siapa saja.
Tok! Tok! Tok!
"Ini aku, Hugo. Buka pintunya, Tuan Putri."
Isabel bergegas keluar dari kamar mandi, meraih kaus longgar dan celana piyama, lalu membukakan pintu. Hugo masuk membawa sekantong makanan cepat saji, menatap Isabel dari atas ke bawah, lalu bersiul pelan.
"Syukurlah kau sudah kembali jadi manusia," ledek Hugo sambil meletakkan bungkusan makanannya di meja kecil. "Bagaimana rasanya menjadi babu sang CEO? Apakah kau akhirnya berhasil menemukan kelemahannya?"
Mendengar pertanyaan itu, wajah cantik Isabel langsung berubah sangar. Ia menjatuhkan diri ke atas karpet, melipat kedua tangannya di depan dada, dan mendengus keras.
"Kelemahan? Pria itu sendiri adalah sebuah kelemahan bagi umat manusia!" sungut Isabel emosi. "Dia itu sinting, sok tampan, lebay, dan yang paling parah... dia itu pria brengsek yang tidak tahu diri dan paling tak tahu malu di seluruh dunia!"
Hugo yang baru saja menyedot es kopinya nyaris tersedak. "Tunggu, tunggu. Brengsek bagaimana maksudmu? Dia mencoba melecehkanmu?"
"Lebih parah dari itu!" Isabel mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya berapi-api menceritakan hasil analisis ngawurnya. "Hugo, pria sok suci yang menolakku di kelab malam itu ternyata sudah punya anak! Namanya Leo! Dan kau tahu siapa ibunya? Mantan kekasihnya yang bernama Seraphina!"
"Seraphina?" ulang Hugo, keningnya mulai berkerut heran.
"Iya! Wanita itu luar biasa cantik dan baik hati. Dan tebak apa yang pria brengsek itu katakan padaku?" Isabel bertepuk tangan sekali dengan gaya ibu-ibu arisan yang sedang bergosip panas. "Dia dengan santainya mengaku kalau dia dan Seraphina tidak pernah menikah! Punya anak tanpa ikatan! Lalu, dia bilang suami Seraphina yang sekarang adalah pria paling jahat di muka bumi ini!"
Hugo menutupi mulutnya dengan sebelah tangan, berusaha menahan sesuatu.
"Kau bisa bayangkan betapa jahatnya Marco?" lanjut Isabel dengan dramatis, tidak menyadari reaksi Hugo. "Pria itu pasti dulu gila kerja, mencampakkan Seraphina yang sedang hamil, lalu Seraphina menikah dengan pria lain. Dan sekarang, setelah melihat Seraphina bahagia, Marco si Brengsek itu malah belum move on! Dia sengaja bersikap baik pada anak mereka agar bisa merusak rumah tangga Seraphina! Cih, tadi aku langsung mengomelinya habis-habisan! Aku suruh dia menghargai suami baru Seraphina dan berhenti jadi perusak rumah tangga orang!"
Mendengar kesimpulan akhir Isabel, pertahanan Hugo akhirnya hancur total.
"Pfffft... HAHAHAHAHA!"
Hugo meledak dalam tawa yang luar biasa keras. Pemuda itu tertawa terbahak-bahak sampai harus memegangi perutnya dan terguling di atas karpet.
Isabel melotot kesal. "Hugo! Kenapa kau malah tertawa?! Apa yang lucu dari cerita pria hidung belang perusak rumah tangga orang seperti dia?!"
Hugo menyeka air mata di sudut matanya, berusaha mengatur napasnya yang putus-putus. Ia duduk bersila dan menatap Isabel dengan tatapan kasihan.
"Isabel... astaga, Bel... otak sinetron itu benar-benar harus dicuci. Sudah ku bilang, kurang-kurangi nonton drama korea," ucap Hugo di sela tawanya yang tersisa. "Kau bilang Marco perusak rumah tangga orang? Punya anak di luar nikah?"
"Lho, memang kenyataannya begitu! Dia sendiri yang bilang!" bantah Isabel tak terima.
"Bel, kau benar-benar tidak membaca profil Wiliam Group yang kuberikan dengan benar, ya?" Hugo menggelengkan kepalanya. "Dengarkan aku baik-baik, Nona Detektif. Wanita cantik yang kau temui tadi, Seraphina, adalah istri sah dari Noah Alexander."
Isabel mengerjap. "Noah... Alexander? Maksudmu bos besarnya Marco?"
"Tepat sekali!" Hugo menjentikkan jarinya. "Noah adalah sahabat baik Marco sejak kecil, sekaligus pemilik Wiliam Group tempatmu bekerja. Dan balita bernama Leo yang kau kira anak haram Marco itu... adalah anak kandung Noah dan Seraphina!"
Keheningan seketika menyelimuti ruang tamu kecil itu. Mata Isabel membulat sempurna, mulutnya sedikit terbuka.
"T-tapi... anak itu memanggilnya Papi..." cicit Isabel, suaranya mulai melemah.
"Marco memang menganggap Leo seperti anaknya sendiri. Dia bucin tingkat dewa pada balita itu," jelas Hugo santai sambil membuka kotak burgernya.
"Lalu, soal Marco yang bilang suami Seraphina adalah pria paling jahat di bumi? Itu karena Noah melempar semua urusan perusahaannya pada Marco! Noah asyik bulan madu dan mengurus istri, sementara Marco harus lembur mengurus dokumen sampai mau muntah. Makanya dia menyebut Noah pria jahat!"
JEDAAAR!
Isabel merasa ada batu besar yang baru saja menghantam kepalanya. Kesalahpahaman ini terlalu fatal. Pantas saja tadi Marco menatapnya seolah ia adalah dukun santet yang baru saja lepas dari rumah sakit jiwa.
Isabel menepuk jidatnya sendiri dengan keras, lalu merangsek maju dan menenggelamkan wajahnya di bantal sofa.
"Mati aku... mati aku, Hugo..." erang Isabel dengan suara teredam bantal. "Aku mengatai CEO-ku perusak rumah tangga orang tepat di depan wajahnya! Dia pasti mengira aku ini orang gila!"
"Kau memang gila, Bel. Kau beruntung dia belum memecatmu hari ini," kekeh Hugo tak punya belas kasihan.
Di tengah rasa malu yang luar biasa, suasana mendadak berubah tegang saat sebuah getaran keras terdengar dari atas meja.
Drrrtt... Drrrtt...
Ponsel rahasia Isabel menyala. Ponsel itu hanya memiliki satu nomor kontak penting yang tersimpan. Nomor ayahnya.
Isabel langsung mengangkat wajahnya. Ia dan Hugo saling berpandangan. Isabel sudah sengaja memutus semua akses komunikasi dengan ibunya, Carol, tapi ia tetap mengaktifkan nomor ini dengan harapan ayahnya akan menelepon setelah kembali dari Eropa.
Dengan tangan sedikit gemetar, Isabel meraih ponsel itu dan menggeser tombol hijau.
"Halo... Papa?" sapa Isabel pelan.
"Magnolia Isabella Ramsey!"
Suara bentakan keras dari seberang sana membuat Isabel menjauhkan ponselnya dari telinga. Ayahnya terdengar sangat murka. Napas pria paruh baya itu memburu tajam.
"Di mana kau sekarang?! Pulang ke rumah sekarang juga!" perintah ayahnya tanpa basa-basi.
"Papa, dengarkan aku dulu—"
"Tidak ada yang perlu didengarkan!" potong sang ayah dengan suara menggelegar, sarat akan amarah yang tak tertahankan. "Mama-mu sudah menghubungiku dan menceritakan semuanya! Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu, Isabel?! Mama-mu bilang kau bertingkah seperti wanita murahan,kau memukul Bryce tunanganmu sendiri sampai pria malang itu harus dilarikan ke rumah sakit!"
Isabel mengepalkan tangannya kuat-kuat. Darahnya mendidih. "Pria malang? Papa, pria brengsek itu mencoba melecehkanku! Dan, Mama malah membela pria itu brengsek itu."
"Cukup, Isabel! Jangan menuduh Mama-mu yang tidak-tidak!" bentak ayahnya lagi, suaranya mengeras karena tidak terima istrinya disalahkan. "Mama-mu menangis tersedu-sedu semalaman karena mengkhawatirkanmu! Dan apa balasanmu?! Kau bukan hanya mempermalukan keluarga kita di depan keluarga Bryce, tapi kau juga kabur dari rumah dengan membawa seluruh perhiasan dan kartu kredit Mama-mu!"
Jantung Isabel seolah berhenti berdetak sesaat. Matanya terbelalak menatap Hugo yang juga ikut mendengarkan lewat speaker.
"Membawa perhiasan? Kartu kredit?" Suara Isabel bergetar hebat karena rasa tidak percaya. "Papa! Aku pergi hanya dengan baju yang melekat di badanku! Aku tidak mengambil sepeser pun dari rumah itu! Mama berbohong, Pa!"
"Ibu kandungmu tidak mungkin berbohong soal putri yang dilahirkannya sendiri!" tukas sang ayah dengan nada mutlak, benar-benar buta oleh manipulasi Carol. "Pulang sekarang, Isabel. Temui keluarga Bryce dan minta maaf, atau Papa sendiri yang akan mengerahkan seluruh orang untuk menyeretmu pulang dan membekukan semua aksesmu!"
Tut.
Panggilan dimatikan secara sepihak.
Isabel menatap layar ponselnya yang menggelap dengan pandangan kosong. Air mata keputusasaan yang sempat ia tahan akhirnya lolos begitu saja.
Ibunya tidak hanya berniat menjualnya, tapi wanita ular itu kini juga menuduhnya sebagai pencuri agar ayahnya semakin membencinya. Carol telah menutup semua jalan keluar bagi Isabel.
Satu-satunya tameng yang Isabel miliki saat ini, entah pria itu sinting atau tidak, hanyalah Marco Maverick. Ia tidak punya pilihan lain. Besok, ia harus bisa mendapatkan maaf sang CEO agar posisinya di Wiliam Group aman, apa pun risikonya.
oooh tdk bisaaa ,, anda gx liat tuh calon pawang ny udh ngeluarin tanduk dari kening ny🤭🤭🤭🤣🤣🤣
semangat Marco ,,
semangat liaa or Isabella ,,
kejam banget sih itu memang cewek 😡
jgn bermimpi bisa dapetin Marco Alana ,, pawang skarang ganas meski belum resmii ,, tp ttap hati2 ,,