Setiap hari aku difitnah mertuaku.
_"Kamu pembawa sial! Perempuan boros!"_
Aku berharap suamiku, Arman, membelaku. Tapi ia hanya diam.
_"Maafkan Ibu, Alya. Aku gak mau jadi anak durhaka."_
Sampai akhirnya aku diusir dan diceraikan di depan anak-anakku.
_"Talak satu aku jatuhkan padamu."_
Kini aku janda dua anak, hidup dari jualan kue sambil menahan gunjingan.
Saat aku mulai bahagia dengan Farhan, mantan suamiku datang ingin rujuk.
Bukan aku yang jahat, Mas. Kenapa semua menyalahkanku?
Note :
Dilarang boom like ❌
Dilarang lompat bab ❌
Jika kalian suka dengan cerita ini,jangan lupa tinggalkan jejak dengan like ,komen dan jangan pelit-pelit untuk kasih vote & kotak hadiahnya 🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 Menjenguk
Malam istikharah ketiga itu menjadi penentu yang paling kuat di hati Alya.
Setelah mendapatkan nasehat kedua dari Ustadzah Munah sore kemarin, Alya melaksanakan sholat istikharah dengan lebih khusyuk dari sebelumnya. Di atas sajadah tipisnya yang sudah usang, ia menangis lama sekali, menceritakan semua kebimbangannya kepada Allah tentang kecelakaan Arman, tentang fitnah Bu Ratna, dan tentang rasa bersalah yang sempat menghantuinya.
Dan ketika ia bangun keesokan paginya, hatinya terasa sangat lapang dan sangat mantap. Tidak ada lagi bimbang, tidak ada lagi ragu. Hatinya semakin mantap untuk berpisah dengan Arman.
Pagi itu, matahari di kebun mangga bersinar sangat cerah. Nisa dan Raffi tertawa riang sambil mengejar kupu-kupu di antara bedengan kangkung yang sudah kembali dirapikan oleh Alya setelah terinjak-injak oleh Bu Ratna.
Ustadzah Munah menghampiri Alya yang sedang menjemur pakaian.
"Bagaimana, Nak Alya? Bagaimana hasil istikharah ketiga kamu semalam?"
Alya menatap Ustadzah Munah dengan senyum yang tegar dan mata yang sudah tidak sembab lagi.
"Bu, hati Alya semakin mantap, Bu. Semakin mantap untuk berpisah, Bu. Alya sudah tidak bimbang lagi, Bu. Alya sudah yakin, Bu, bahwa berpisah adalah jalan terbaik untuk Alya dan untuk anak-anak Alya, Bu."
Ustadzah Munah mengangguk dengan wajah yang penuh dengan kebanggaan.
"Alhamdulillah, Nak. Kalau begitu pertahankan kemantapan hati kamu itu, Nak. Jangan biarkan omongan orang lain menggoyahkan kamu lagi."
Alya mengangguk, lalu terdiam sejenak.
"Tapi Bu, hari ini Alya ingin menjenguk Arman ke puskesmas, Bu. Boleh ya, Bu?"
Ustadzah Munah sedikit terkejut.
"Menjenguk Arman? Bukankah hati kamu sudah mantap ingin berpisah, Nak? Kenapa kamu masih ingin menjenguknya?"
Alya tersenyum dengan bijaksana.
"Justru karena hati Alya sudah mantap ingin berpisah, Bu, makanya Alya ingin menjenguknya, Bu. Alya ingin menjenguk Arman bukan sebagai istri yang ingin kembali, Bu, tapi sebagai ibu dari anak-anaknya, Bu. Alya ingin menunjukkan kepada Nisa dan Raffi bahwa meskipun nanti kami berpisah, ayah mereka tetap harus dihormati. Alya menjenguk karena Arman adalah ayah dari anak-anak Alya, Bu, tidak ada sangkut pautnya dengan perceraian ini, Bu."
Mendengar jawaban Alya yang begitu dewasa dan bijaksana, Ustadzah Munah langsung memeluk Alya dengan erat.
"Masya Allah, Nak Alya, kamu sudah sangat dewasa, Nak. Ibu sangat bangga sama kamu, Nak. Pergilah, Nak, jenguklah dia. Itu adalah akhlak yang mulia, Nak."
Siang itu, Alya berangkat sendirian ke puskesmas. Ia tidak membawa Nisa dan Raffi karena takut anak-anaknya sedih melihat ayahnya terluka. Ia hanya membawa sebungkus pisang rebus hangat dari kebun dan sebotol air putih.
Sesampainya di puskesmas yang masih sepi, Alya melihat Arman sedang duduk sendirian di atas ranjang periksa. Perban di lututnya sudah diganti dengan yang baru, tapi wajahnya masih terlihat sangat pucat dan lesu. Ia menatap kosong ke luar jendela.
"Assalamualaikum, Man."
Suara lembut itu membuat Arman langsung terkejut dan menoleh dengan cepat. Matanya membelalak tidak percaya saat melihat Alya berdiri di depan pintu dengan gamis biru muda dan kerudung putih bersih.
"Ly? Alya? Ya Allah, Ly, kamu datang, Ly?" ucap Arman dengan suara yang bergetar hebat karena terharu. Ia mencoba berdiri tapi lututnya sakit.
Alya berjalan pelan dan duduk di kursi plastik di samping ranjang Arman.
"Waalaikumsalam, Man. Bagaimana keadaan kamu, Man? Lukanya masih sakit?" tanya Alya dengan nada yang sopan, lembut, tapi ada jarak yang jelas di antara mereka.
Air mata Arman langsung jatuh deras tanpa bisa ditahan. Ia langsung meraih tangan Alya dan menggenggamnya dengan erat.
"Ly, Mas tidak apa-apa, Ly. Lutut Mas sudah mendingan, Ly. Mas senang sekali kamu mau datang, Ly. Mas kira kamu sudah benci sama Mas, Ly, Mas kira kamu tidak peduli lagi sama Mas setelah Mas tidak datang ke mediasi kemarin, Ly."
Alya menarik tangannya dengan pelan dan lembut, lalu meletakkan bungkusan pisang rebus di atas meja.
"Mas makan ini ya, Mas, biar ada tenaga. Alya rebus tadi pagi."
"Ly, Mas minta maaf ya, Ly. Mas benar-benar minta maaf, Ly," ucap Arman sambil menangis sejadi-jadinya, tidak peduli ada perawat yang melihat dari luar. "Mas minta maaf karena kemarin Mas tidak datang ke mediasi, Ly. Bukan Mas sengaja, Ly. Ban motor Mas dikempesin sama Ibu, Ly. Mas kecelakaan di jalan, Ly. Mas sudah niat mau datang dan mau mempertahankan kamu di depan hakim, Ly. Mas mohon, Ly, beri Mas kesempatan terakhir ya, Ly. Mas janji Mas akan berubah, Ly. Mas akan lindungi kamu, Mas akan ajak kamu ngontrak jauh dari Ibu, Ly. Tolong batalkan gugatan cerai itu ya, Ly. Mas tidak bisa hidup tanpa kamu dan anak-anak, Ly."
Arman memohon dengan wajah yang penuh dengan penyesalan dan air mata yang mengalir ke perbannya. Ia berharap dengan melihat keadaannya yang terluka seperti ini, hati Alya akan luluh.
Tapi Alya yang sekarang sudah bukan Alya yang dulu yang mudah luluh karena rasa kasihan.
Alya menatap Arman dengan tatapan yang teduh, tenang, tapi sangat tegas.
"Man, Alya sudah memaafkan semua kesalahan kamu, Man. Demi Allah, Alya sudah memaafkan semuanya dengan ikhlas, Man. Alya juga tidak pernah menaruh rasa benci dihati Alya man.
Arman tersenyum dengan harapan.
"Tapi, Man, memaafkan bukan berarti harus kembali bersama, Man," lanjut Alya dengan suara yang pelan tapi menghujam tepat di jantung Arman.
"Alya datang kesini hari ini bukan karena Alya ingin kembali, Man. Alya datang kesini karena kamu adalah ayah dari Nisa dan Raffi, Man. Alya datang karena Nisa dan Raffi adalah darah daging kamu, Man. Semalam Raffi dalam tidurnya memanggil nama kamu, Man. Jadi Alya datang sebagai ibu dari anak-anak kamu, Man."
Setiap kata yang keluar dari mulut Alya terdengar sangat santun, sangat lembut, tapi sangat tegas dan tidak bisa diganggu gugat.
"Alya sudah istikharah tiga kali, Man. Tiga malam Alya minta petunjuk sama Allah. Dan hati Alya semakin mantap untuk berpisah, Man. Bukan karena Alya benci, Man, tapi karena Alya sudah terlalu lelah, Man. Lima tahun Alya bertahan karena kasihan sama kamu, Man, tapi Alya terus terluka. Alya ingin hidup tenang, Man. Alya ingin Nisa dan Raffi hidup tenang tanpa harus mendengar makian setiap hari, Man."
"Jadi Alya tetap ingin pisah, Ly?" tanya Arman dengan suara yang hancur.
"Iya, Man. Alya tetap ingin pisah, Man. Keputusan Alya sudah bulat, Man. Alya menjenguk kamu disini karena kamu adalah ayah dari anak-anak Alya, Man, tidak ada sangkut pautnya dengan perceraian kita, Man. Perceraian kita tetap berjalan, Man. Tolong hargai keputusan Alya ya, Man. Anggap ini yang terbaik untuk kita semua, Man."
Setelah berkata begitu dengan air mata yang jatuh pelan di pipinya, Alya berdiri dan merapikan kerudungnya.
"Jaga diri kamu baik-baik ya, Man. Cepat sembuh ya, Man. Nanti kalau sidang putusan sudah sehat, datang ya, Man, biar semuanya bisa selesai dengan baik-baik. Alya pamit dulu ya, Man."
Alya berjalan keluar dari ruang puskesmas dengan langkah yang mantap dan ringan. Ia tidak menoleh ke belakang lagi. Hatinya terasa sangat lega karena ia berhasil menyampaikan apa yang ada di dalam hatinya dengan cara yang baik dan santun tanpa harus menyakiti.
Di dalam ruang puskesmas, Arman hanya bisa menatap punggung Alya yang semakin menjauh dengan tangisan yang pecah. Ia memukul ranjang dengan tangannya yang lecet karena frustasi.
Ia sadar, ia sudah benar-benar kehilangan Alya. Alya datang bukan sebagai istrinya yang ingin kembali, tapi hanya sebagai ibu dari anak-anaknya yang menunjukkan akhlak mulia. Alya menjenguknya karena Arman adalah ayah dari anak-anaknya, tidak ada sangkut pautnya dengan perceraian.
Dan itu jauh lebih menyakitkan daripada luka di lututnya.
Bersambung...