Bukan tentang pengkhianatan ataupun perselingkuhan, tapi tentang obsesi cinta yang menjadi luka dan dosa.
Nisa harus menerima hatinya terluka saat suaminya, Rangga secara terang terangan pergi berkencan dengan kekasihnya, Tiwi. Tapi itu adalah harga yang harus diterimanya atas dosa yang dilakukannya sendiri.
Lalu bagaimana kisah selanjutnya saat cahaya lain hadir dalam hidup Nisa. Akankah semuanya berakhir bahagia atau sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farhati fara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenapa harus pria itu?
Dilihat oleh Ali kelima gambar itu, dimana gambar itu adalah gambar frame keluarga mereka yang terdiri dari ayah, adiknya Nita, Ali, dan Nisa. Lembar kedua gambar sebuah mesjid agung nan indah, Ali tahu itu adalah Masjid yang menjadi impian Nisa dulu untuk ijab kabul saat pernikahan, tapi semuanya hancur karena satu kesalahan besarnya. Lembar ketiga adalah gambar hasil USG kandungannya dan dua gambar lainnya adalah gambar diri Nisa sama Rangga saat mereka masih mengenakan seragam SMA. Ali kembali memandang kearah adiknya, dan batinnya bertanya.
Apa hanya ini gambar yang dimiliki adiknya setelah 8 bulan pernikahan? Bahkan foto pernikahan pun tidak ada. Hidup adiknya benar benar hampa dengan cinta.
"Kakak, ayo cepat ambil gambarnya!" suruh Nisa masih dengan penuh semangat
"Iya, iya baik! Dasar cerewet." perlahan tangan Ali mulai menangkap gambar Nisa yang tersenyum di ponselnya. Ali bahkan tidak dapat membayangkan bagaimana kehidupan adiknya delapan bulan terakhir. Dia membayangkan kehidupan adiknya yang hampa dan menjenuhkan. Ali bahkan dapat melihat dengan jelas kesedihan di wajah adiknya walau Nisa berusaha terlihat baik-baik saja dan bahagia.
"Wuah! Kau benar benar cantik adikku" puji Ali tersenyum lebar kearah Nisa.
"Sudah, kakak jangan bohong. Aku tahu aku jelek, apalagi sekarang aku gemukan."
"Makanya jangan banyak makan. Sini kita foto bersama. Smile...!" seru Ali sembari merangkul Nisa dan tersenyum. Ali tersenyum bangga dengan hasil jepretannya yang terlihat bagus.
"Wah, ini gambar yang sangat bagus, akan kakak ambil sebagai album," ujar Ali mengelukan jepretannya. Nisa hanya tersenyum mendengar ujaran sang kakak. Dia kembali menikmati pemandangan danau buatan itu yang dipenuhi oleh wisatawan.
Ali yang sudah selesai dengan hasil tangkapan gambarnya kembali menjatuhkan atensinya kearah Nisa. Perlahan air matanya mulai turun melihat hidup adiknya. Kenapa harus pria itu yang dicintai adiknya? Pria yang bahkan tidak pernah memandang adiknya untuk sekali saja, pria yang selalu membuat hati Nisa terluka. Kenapa? Adiknya yang kini bahkan terlihat rengkih, bagaimana dia menghadapi semua ini?. Ali bahkan tidak tahu harus bagaimana agar Nisa mau menghapus perasaannya pada Rangga.
Lagi- lagi takdir yang mengisahkan cerita, manusia hanya mampu mengubah nasib bukan takdir. Ali lagi- lagi mengeluarkan air mata saat melihat tidak ada barang mewah yang membaluti penampilan sang adik, hanya sebuah cincin perak di jari manisnya, dimana cincin itu adalah cincin pernikahannya Nisa. Sungguh Ali akan merelakan apapun untuk kebahagiaan Nisa dan Nita. Karena bagi Ali hanya dua adiknya , Annisa dan Anita yang menjadi permata hidupnya setelah kedua orang tua mereka pergi.
Setelah puas berkeliling melihat berbagai perayaan festival, akhirnya keduanya memutuskan untuk pulang. Ali sempat mengajak Nisa untuk belanja membeli pakaian ataupun aksesoris baru untuk adiknya itu, tapi Nisa menolaknya dengan alasan sudah sangat bahagia dengan kedatangan kakaknya dan acara jalan-jalan mereka.
"Nisa, aku ingin bertemu Rangga." Ali berkata seolah sedang meminta izin sang adik untuk bertemu dengan suami adiknya itu saat mereka kini sudah berada di pelataran rumah Nisa.
Nisa yang mendengar permintaan sang kakak langsung menggeleng spontan. Nisa harus menolaknya karena dia tahu sifat si kakak, dan tau apa yang akan terjadi jika dia mengizinkan sang kakak bertemu suaminya.
"Jadi, tidak boleh ini?" tanya Ali memastikan sekali lagi.
"Bukan tidak boleh kak. Aku takutnya Mas Rangga akan pulang kemalaman dan kak Ali tidak mungkin kan menunggunya semalaman," alasan Nisa yang dirasanya paling logis
"Oh, baiklah. Kalau begitu kakak pamit pulang ya" pamit Ali seraya mendekati sang adik dan mengecupi pucuk kepalanya yang berkerudung. Itu adalah bentuk kasih sayangnya yang paling tulus. Bagi Ali seberapa pun besarnya kedua adiknya, mereka tetap adik adik kecilnya yang menggemaskan dan akan selalu dilindunginya dengan sepenuh hati.
"Assalamu'alaikum" salam Ali yang akhirnya menuruti keinginan sang adik untuk tidak bertemu Rangga.
"Wa'alaikum salam" sahut Nisa yang hanya bisa melambaikan tangan setelah mobil sang kakak mulai melaju dan pergi menjauh.
Nisa memandang kearah rumah yang sudah dihuninya selama delapan bulan ini. Rumah dimana menjadi saksi bagaimana tangisnya terus menghiasi hari dan malamnya. Rumah sunyi yang sebenarnya sangat menjenuhkan baginya. Setelah kakaknya pergi, Nisa kembali lagi pada kebiasaan hariannya yang terasa hampa dan menjenuhkan.
Sekali lagi, Nisa melihat kearah mobil kakaknya yang sudah menghilang di balik tikungan jalan rumahnya. Dia sangat bahagia hari ini walau awalnya rasa sakit itu sudah menghantamnya
"Terima kasih kak Ali," gumamnya tulus lalu mulai melangkah masuk kembali ke rumah yang sudah menjadi tempat tinggalnya dengan Rangga.
🍀🍀🍀
Nisa merasa aneh dengan dirinya akhir-akhir ini, apalagi saat malam tiba. Dia selalu ingin pergi jalan-jalan dengan kaki di malam hari, suatu kebiasaan yang tidak biasa dengan dirinya. Dia merasa itu adalah kemauan anak yang dikandungnya. Padahal kalau bisa dibilang itu adalah efek dari rasa jenuhnya yang hari-harinya selalu di rumah tanpa kegiatan yang berarti selain dari mengurusi rumah, pakaian, dan dapur.
Ini masih awal bulan, Nisa tak henti- hentinya tersenyum membayangkan anaknya yang mungkin akan lahir di akhir bulan nanti. Namun, lagi- lagi kesedihan menyelimutinya saat mengingat janji Rangga pada Tiwi yang akan menonton pertunjukan teater wanita itu walau apapun yang terjadi. Itu bisa berarti kalau dia melahirkan hari itu, Rangga tetap harus menunaikan janjinya untuk menonton pertunjukan Tiwi walau nantinya Nisa sedang mempertaruhkan nyawa melahirkan anak mereka. Mengingat itu, rasanya hati Nisa seakan tercubit oleh tangan tak kasat mata. Sangat menyakitkan. Dia juga tahu kalau suaminya itu pantang dalam melanggar janji. Rangga sudah pasti akan menepati setiap janjinya, karena bagaimana pun dia sudah cukup mengenal rangga hampir tujuh tahun dari sejak mereka SMP.
"Mau kemana kamu?" tanya Rangga saat melihat Nisa mengambil mantel dan mengendap-endap ingin keluar.
"Eh, mas Rangga. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa ingin jalan-jalan" Nisa berucap jujur tanpa ada niat membohongi suaminya.
"Baiklah, akan ku temani," ujar Rangga yang juga segera mengambil mantelnya setelah melihat jam yang menunjukkan pukul 20:17. Diluar cukup dingin saat malam hari, dia jelas tidak ingin terjadi apa- apa pada Nisa jika wanita itu pergi sendiri. Dan Rangga juga masih merasa bersalah pada kejadian tadi siang dimana dia dengan jelas melihat pandangan penuh luka dari Nisa. Tapi, saat wanita itu kembali tidak sedikit pun Nisa mengungkit tentangnya yang telah membohongi istrinya itu. Wanita itu hanya tersenyum memandangnya dan mengatakan maaf karena tidak meminta izin padanya saat pergi dengan kakaknya.
"Mas Rangga serius mau temenin?" tanya Nisa tidak percaya
"Iya, tentu saja. Ayo kita pergi" jawab Rangga pasti.
"Tapi aku pengen jalan-jalannya dengan kaki"
"Oke. Ayo lakukan!" Nisa hanya bisa melongo mendengar jawaban suaminya yang begitu serius. Tanpa menunggu jawaban, Rangga sudah menggandeng tangan Nisa untuk keluar rumah.
.
.
.
dasar Tiwi ulet bulu
ah couple baru dong😍
semangat kak fara💪lanjut LG yg byk ya😄
apakah Nita punya peran besar jg di novel ini JD penasaran
ngebayangin JD Nisa psti sakit bgt deh/Cry/
cerai aja GX sih klean