Ratna Wulandari, dokter desa berusia enam puluh tahun, telah mengabdikan 37 tahun hidup untuk suami Bambang dan seluruh keluarga. Namun sebuah paket terlarang membongkar rahasia gelap suaminya: selama puluhan tahun ia berselingkuh dengan cinta pertama Sari, rutin kirim uang, belikan rumah bahkan pesan kavling makam pasangan untuk berdua. Saat Ratna buktikan semua fakta ke anak-anaknya, mereka justru minta dia diam demi nama keluarga dan harta. Dikhianati suami, diabaikan anak, Ratna akhirnya berhenti bersabar dan berjuang merebut hak hidupnya yang sempat terbuang sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26 - Makan Siang Teman Lama
Meja teman-teman SMA Ratna mendadak berubah menjadi ruang sidang kecil.
Semua mata menatap Arman Wibisana.
Harjo, yang tadi baru saja menyebut "orang penting", langsung duduk tegak seperti murid ketahuan menyontek. Nining menutup mulutnya dengan tisu. Wulan memegang lengan Ratna di bawah meja, lalu berbisik, "Rat, ini yang di berita itu, kan?"
Ratna tidak menjawab.
Ia menatap Arman.
"Pak Arman, Bapak tahu saya di sini dari siapa?"
Arman tidak berbohong. "Bu Rini."
Ratna memejamkan mata sebentar.
Tentu saja.
Bu Rini tidak perlu punya perusahaan logistik untuk mengirim informasi lebih cepat dari kurir ekspres.
"Saya minta maaf kalau mengganggu," kata Arman. "Saya tidak akan duduk kalau Ibu tidak mengizinkan."
Semua orang makin diam.
Ratna bisa merasakan rasa penasaran teman-temannya seperti asap dari panci panas. Kalau ia menyuruh Arman pergi, mereka akan bertanya. Kalau ia mempersilakan duduk, mereka akan bertanya lebih banyak.
Wulan, yang tampaknya tidak tahan, langsung berkata, "Duduk saja, Pak. Kursinya kosong. Kami ini teman lama Ratna, bukan dewan pengawas."
Ratna menatap Wulan.
Wulan pura-pura tidak melihat.
Arman menunggu Ratna.
Ratna akhirnya berkata, "Silakan duduk. Tapi jangan membuat acara ini jadi aneh."
Arman duduk di kursi kosong di samping Ratna. "Saya akan berusaha."
Harjo langsung tersedak minumannya.
Pelayan datang, Arman memesan teh tawar hangat. Tidak ada makanan mahal, tidak ada permintaan khusus. Ia duduk seperti tamu biasa, tetapi orang biasa tidak membuat satu meja lupa cara mengunyah.
Wulan yang pertama pulih.
"Pak Arman ini teman Ratna?"
Arman menatap Ratna sejenak. "Saya sedang berusaha menjadi teman yang tidak diusir."
Wulan tertawa keras.
Ratna merasa wajahnya panas. "Pak Arman."
"Saya menjawab jujur."
Nining ikut tersenyum. "Ratna dari dulu memang galak diam-diam. Kalau dia belum mengusir Bapak, berarti peluangnya ada."
"Ning," tegur Ratna.
"Apa? Kita sudah tua, Rat. Kalau masih malu-malu seperti anak tujuh belas tahun, nanti keburu encok."
Meja tertawa.
Ketegangan sedikit mencair.
Arman tidak banyak bicara. Ia lebih sering mendengarkan teman-teman Ratna bercerita tentang sekolah, guru, masa muda. Sesekali ia bertanya, bukan tentang bisnis, bukan tentang siapa punya rumah atau jabatan, melainkan tentang Ratna muda.
"Bu Ratna waktu sekolah seperti apa?"
Wulan langsung antusias. "Pendiam. Pintar. Kalau guru tanya, dia jawab pendek tapi selalu benar. Banyak yang suka, tapi dia pura-pura tidak tahu."
Ratna hampir tersedak.
"Itu tidak benar."
Harjo menyahut, "Benar. Aku dulu juga suka."
Semua tertawa.
Arman menoleh pada Harjo dengan wajah tenang. "Selera Bapak bagus."
Harjo langsung salah tingkah. "Dulu, Pak. Dulu."
Ratna menatap Arman. "Bapak datang untuk membuat saya malu?"
"Tidak. Untuk mendengar hal-hal baik tentang Ibu."
Kalimat itu membuat tawa di meja melembut.
Ratna menunduk, mengambil sendok, padahal piringnya hampir kosong.
Wulan memperhatikan perubahan itu. Ia tidak lagi bercanda. "Rat, kamu pantas didengar baik-baiknya."
Ratna tidak menjawab.
Makan siang berjalan lebih ramai setelah itu. Arman tidak mengambil alih pembicaraan. Bahkan ketika Harjo mulai bertanya soal perusahaan Wibisana Group, Arman menjawab singkat lalu mengembalikan topik pada reuni.
Menjelang akhir, pelayan datang membawa tagihan.
Harjo langsung mengambil dompet. "Kita patungan seperti biasa."
Arman berkata, "Biar saya."
Ratna langsung menatapnya.
Arman berhenti, lalu mengoreksi, "Kalau semua setuju. Kalau tidak, saya ikut patungan."
Wulan tertawa sampai menepuk meja. "Pak, saya suka Bapak. Orang kaya yang bisa takut pada tatapan Ratna itu langka."
Ratna ingin menghilang.
Akhirnya mereka tetap patungan. Arman membayar bagiannya sendiri. Hal kecil itu justru membuat teman-teman Ratna lebih menghormatinya.
Setelah makan, Wulan menarik Ratna ke samping dekat wastafel.
"Rat."
"Apa?"
"Dia serius."
"Kamu baru bertemu satu jam."
"Aku pernah jadi guru BK tiga puluh tahun. Aku tahu laki-laki yang cuma main-main dan laki-laki yang sedang menahan diri supaya tidak membuat perempuan takut."
Ratna mengeringkan tangan. "Aku sedang proses cerai."
"Aku tahu."
"Keluargaku sudah mulai meminta macam-macam."
"Tentu. Kalau ada gula, semut datang. Bukan salah gulanya."
"Aku bukan gula."
"Kamu paham maksudku."
Ratna menghela napas.
Wulan menyentuh bahunya. "Jangan jadikan luka dari Bambang sebagai pagar terlalu tinggi sampai orang baik tidak bisa lewat."
"Aku belum tahu dia orang baik."
"Maka kenali. Bukan langsung menikah."
Ratna tidak menjawab.
Di luar restoran, teman-teman berpamitan satu per satu. Arman berdiri agak jauh, memberi ruang. Setelah semua pergi, tinggal Ratna dan Arman di depan pintu.
"Bu Rini tidak seharusnya memberi tahu Bapak."
"Saya yang bertanya."
"Kenapa?"
Arman menatapnya. "Karena tiga hari tidak menghubungi Ibu ternyata lebih sulit dari perkiraan saya."
Ratna diam.
"Saya tahu Ibu meminta jarak. Saya mencoba menghormati. Tapi saya juga tidak ingin Ibu mengira saya menjauh karena keluarga Ibu, gosip kampung, atau proses cerai."
"Pak Arman, hidup saya berantakan."
"Saya melihat."
"Saya tidak sedang mencari hubungan."
"Saya tidak meminta hubungan hari ini."
"Lalu Bapak meminta apa?"
Arman berpikir sebentar.
"Izin untuk tetap hadir, dengan batas yang Ibu tentukan."
Ratna menatap jalan. Motor lewat, anak kecil membawa balon, seseorang memanggil ojek online. Hidup di sekeliling mereka sangat biasa. Kalimat Arman tidak biasa.
"Kalau saya bilang hanya sebagai teman?"
"Saya mulai dari sana."
"Kalau saya bilang jangan datang ke klinik setiap hari?"
"Saya tidak datang setiap hari."
"Kalau saya bilang jangan memberi hadiah mahal?"
"Saya belajar membawa diri."
"Kalau keluarga saya meminta bantuan, jangan langsung beri."
"Saya tidak akan memberi tanpa bicara dengan Ibu."
Ratna menoleh padanya.
"Bapak terlalu mudah setuju."
"Karena yang Ibu minta masuk akal."
Ratna tidak tahu lagi harus membantah apa.
Arman berkata, "Saya antar pulang?"
"Saya bawa motor."
"Kalau begitu saya ikuti dari belakang?"
"Tidak."
"Baik."
Ratna hampir tertawa.
"Pak Arman."
"Ya?"
"Bapak boleh mengirim pesan. Tidak setiap jam."
Senyum Arman muncul perlahan.
"Berapa jam sekali?"
"Jangan tawar-menawar."
"Baik, Bu Ratna."
Ratna naik motor dengan wajah yang ia harap terlihat tenang.
Namun ketika ia sampai di lampu merah pertama, ponselnya bergetar di tas. Ia tidak membuka sampai berhenti di pinggir jalan.
Pesan dari Arman.
Arman: Saya senang bertemu teman-teman Ibu. Mereka menyimpan versi Ibu yang belum saya kenal.
Ratna membaca pesan itu dua kali.
Lalu membalas:
Ratna: Jangan terlalu ingin tahu. Nanti kecewa.
Arman: Terlambat. Saya sudah ingin tahu.
Ratna menatap layar, lalu tertawa pelan sendirian di pinggir jalan.
Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa tertawa itu salah.
Saat tiba di rumah, Ratna menemukan Melati sudah menunggu di teras dengan kantong belanja.
"Bu, dari reuni?"
"Iya."
Melati menatap wajah ibunya terlalu lama.
"Kenapa?"
"Ibu kelihatan senang."
Ratna membuka pagar. "Apa itu masalah?"
"Bukan." Melati tersenyum kecil. "Aku cuma jarang lihat."
Kalimat itu membuat Ratna diam.
Melati masuk dan meletakkan belanjaan di dapur. Ia tidak langsung bertanya tentang Arman, padahal Ratna yakin kabar itu sudah sampai ke telinganya. Mungkin dari Bu Rini, mungkin dari Wulan yang ternyata punya sepupu di kampung sebelah, mungkin dari jalan gaib gosip perempuan.
Akhirnya Ratna sendiri berkata, "Pak Arman datang ke restoran."
Melati menoleh. "Aku tahu."
"Bu Rini?"
"Bu Rini mengirim pesan ke grup keluarga. Katanya, 'Tenang, Bu Ratna tidak diculik, cuma didatangi pengusaha.'"
Ratna memijit kening.
Melati tertawa pelan.
"Bu, aku tidak akan melarang. Aku cuma minta Ibu hati-hati."
"Ibu juga minta itu pada diri sendiri."
Melati mengangguk. "Tapi kalau dia membuat Ibu tertawa seperti tadi, mungkin... tidak semuanya buruk."
Ratna menatap anaknya.
Untuk pertama kalinya, Melati tidak berdiri sebagai penjaga nama keluarga.
Ia berdiri sebagai anak yang ingin ibunya sedikit bahagia.
Malam itu Melati membantu mencuci piring sebelum pulang. Gerakannya canggung, karena selama ini kalau datang ke rumah ibunya, ia lebih sering duduk dan menunggu dilayani.
Ratna tidak menegur.
Ia hanya berdiri di samping, mengeringkan piring dengan lap.
"Bu," kata Melati pelan, "kalau nanti Ibu benar-benar suka pada Pak Arman, aku mungkin butuh waktu untuk terbiasa."
"Ibu juga."
Melati tersenyum sedih. "Berarti kita belajar sama-sama."
Ratna mengangguk.
Untuk pertama kalinya, pembicaraan tentang laki-laki lain tidak terasa seperti pengkhianatan pada keluarga, melainkan seperti pintu kecil yang dibuka dengan hati-hati.
keren bued...
Bu Rini bukan nya punya warung dkt klinik Bu Ratna dl?
Iki sing bener sing mana?
koq ga ada mediasi dan sidang?
ato pas crita ini di skip?
ini td melati di awal katanya hamil anak ke2
koq ini bilang blm PNY anak
ini Bu Ratna pindah ke kontrakan dkt ma rmh pak RT? Bu Rini juga? ato ak yg gagal paham nich?
emosiiii akuuuuu
Sayang ya Melati kaya bikin ibunya jd pelacur dg meminta pd lelaki lain yg masih bs dibilang bukan siapa²nya, cuma kenalan