NovelToon NovelToon
Mata Dewa ; Jalan Sang Pangeran

Mata Dewa ; Jalan Sang Pangeran

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Irhab Hauzan

Mata Dewa: Jalan Sang Pangeran

Zhou Li, pangeran keempat Kerajaan Zhou yang lemah, tewas dicabik binatang buas di hutan terlarang—dan tubuhnya ditempati Zhou Chen, pemuda modern yang mati membaca buku di perpustakaan. Terjebak di istana asing, dikepung delapan saudara haus takhta, tanpa kekuatan atau sekutu, ia hanya ingin hidup tenang. Semua berubah saat Mata Dewa Analisis terbangun dalam dirinya, mampu menembus kelemahan, potensi, dan takdir tersembunyi, berdampingan dengan Kitab Langit Tanpa Akhir yang menyempurnakan setiap ilmu yang ia kuasai.

Dari mereka yang dianggap sampah dunia, ia membangun Pasukan Mata Langit—loyal hingga mati—dan perlahan menyeret Kerajaan Zhou keluar dari bayang-bayang, hingga tersingkap kebenaran: dunia ini hanyalah lapisan terendah dari semesta yang jauh lebih luas. Ia tak pernah mengejar takhta, tapi dunia akan bertekuk lutut di hadapan namanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 — Pengumuman di Aula Utama

Pagi itu, kabut tipis masih menggantung di atas atap-atap istana ketika Zhou Chen melangkah keluar dari kediamannya, mengenakan jubah resmi berwarna biru tua yang jarang ia pakai kecuali untuk pertemuan penting. Ah Fu berjalan setengah langkah di belakangnya, wajahnya tegang meski berusaha menyembunyikannya di balik sikap formal seorang pengawal.

"Yang Mulia yakin ingin menghadiri sendiri?" bisik Ah Fu, saat mereka menyusuri koridor panjang menuju Aula Utama. "Zhou Ming bisa saja hadir mewakili, sementara Yang Mulia—"

"Kalau aku tidak hadir sendiri," potong Zhou Chen tenang, "itu akan terlihat seperti aku menyembunyikan sesuatu. Aku harus berdiri di sana, menatap langsung siapa pun yang berani menuduhku."

Mereka tiba di gerbang Aula Utama tepat saat matahari mulai naik penuh, cahayanya menembus kabut dan jatuh keemasan di atas ubin batu yang dipoles halus. Beberapa pengawal berjaga di kedua sisi gerbang, membungkuk hormat begitu mengenali Zhou Chen, lalu membuka pintu besar berukir naga itu perlahan.

Aula Utama pagi itu belum sepenuhnya tegang—suasananya masih terasa seperti pertemuan bulanan biasa, meski jumlah orang yang hadir jauh lebih banyak dari biasanya. Zhou Chen masuk lebih dulu di antara para pangeran, mengambil posisinya di barisan sesuai urutan kelahiran, seperti kebiasaan lama yang tidak pernah berubah sejak ia pertama kali membuka mata di tubuh ini.

Tidak lama kemudian, Zhou Yun—Pangeran Kedua—memasuki aula dengan langkah tegap khasnya, diikuti dua perwira muda yang selalu setia mengekor di belakangnya. Ia melirik sekilas ke arah Zhou Chen, mengangguk singkat—gestur kecil yang, mengingat sikapnya yang dulu selalu meremehkan, terasa seperti kemajuan tersendiri sejak insiden-insiden bulan terakhir mulai membuka matanya tentang siapa sebenarnya yang pantas diperhitungkan di antara saudara-saudaranya.

Setelah itu, Pangeran Ketiga masuk bersama beberapa murid sekte bela diri yang menjadi pendukungnya, disusul Pangeran Keenam yang selalu tampak acuh tak acuh terhadap segala hal yang terjadi di istana, lalu Zhou Feng—Pangeran Ketujuh—yang kini melangkah dengan punggung tegak, jauh berbeda dari sosok lesu yang dulu selalu menunduk di ujung barisan. Ia sempat menatap Zhou Chen dengan tatapan penuh dukungan sebelum mengambil posisinya sendiri.

Zhou Ming masuk hampir bersamaan dengan Zhou Feng, namun alih-alih menuju barisan pangeran, ia sengaja memperlambat langkahnya sejenak di dekat Zhou Chen. "Semalam tidak ada kabar baru," bisiknya cepat, nyaris tak terdengar. "Tapi bersiaplah—firasatku mengatakan Han tidak akan menunggu lebih lama lagi untuk bergerak."

Suasana di antara para pejabat dan menteri yang berdiri di sisi lain aula masih terasa santai—beberapa di antaranya bertukar sapa ringan, membicarakan cuaca pagi yang cerah setelah semalaman hujan, atau sekadar menggosipkan pesta kecil yang diadakan salah satu bangsawan minggu lalu. Menteri Song berdiri di barisan depan para pejabat, sesekali menyeruput teh hangat yang dibawakan seorang pelayan, wajahnya tenang seperti biasa meski matanya sesekali melirik ke arah pintu masuk dengan kewaspadaan yang samar.

Terakhir, Zhou Han memasuki aula—santai, senyum ramahnya yang biasa terpasang sempurna di wajahnya, seolah tidak ada beban apa pun yang ia bawa pagi itu. Ia menyapa beberapa menteri senior dengan sopan sebelum mengambil posisinya di barisan, bahkan sempat melempar senyum kecil ke arah Zhou Chen—senyum yang, bagi siapa pun yang tidak mengenalnya lebih dalam, akan tampak seperti sapaan biasa antar saudara.

Beberapa saat kemudian, seorang pelayan istana berteriak lantang dari ambang pintu dalam, "Baginda Raja tiba!"

Seketika, seluruh isi Aula Utama—pangeran, menteri, pengawal, hingga pelayan yang berjaga di sudut ruangan—serentak membungkuk dalam, kepala tertunduk, tangan terlipat rapi di depan dada sesuai tata cara yang telah berlaku turun-temurun. Derap langkah tenang namun berwibawa terdengar mendekat, diiringi gemerincing halus jubah sutra yang menyapu lantai.

Raja Zhou Tian melangkah masuk dengan mahkota sederhana bertahtakan permata biru tua di kepalanya, wajahnya yang mulai dimakan usia tetap memancarkan wibawa yang membuat seisi ruangan menahan napas. Ia berjalan pelan menuju singgasananya, duduk dengan gerakan yang telah terlatih sempurna selama puluhan tahun memimpin, lalu mengangkat tangan kanannya perlahan.

"Bangkitlah," katanya, suaranya tidak terlalu keras namun menggema jelas ke seluruh penjuru aula berkat keheningan sempurna yang menyelimuti ruangan itu.

Seluruh hadirin bangkit serentak, kembali ke posisi masing-masing dengan tertib. Untuk beberapa saat, sidang berjalan seperti pertemuan bulanan biasa—seorang menteri membacakan laporan singkat tentang hasil panen di dua wilayah, disusul laporan ringan tentang perbaikan salah satu jembatan di perbatasan selatan. Beberapa pangeran bahkan sempat saling bertukar senyum tipis atau anggukan kecil, suasana masih terasa longgar, jauh dari ketegangan yang akan segera menyelimuti ruangan itu.

Raja Zhou Tian mendengarkan setiap laporan dengan sabar, sesekali mengangguk atau memberi instruksi singkat, sikapnya tenang seperti pagi-pagi sidang lain yang telah ia jalani ribuan kali sepanjang masa pemerintahannya.

Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.

Begitu menteri terakhir menyelesaikan laporannya dan mengundurkan diri ke barisan, Zhou Han melangkah maju lebih dulu dari siapa pun, membungkuk hormat, lalu berbicara dengan suara yang sengaja dikeraskan agar terdengar seluruh ruangan—suara yang, hanya dalam sepersekian detik, mengubah seluruh suasana santai pagi itu menjadi hening yang mencekam.

"Ayahanda, hamba membawa tuduhan berat yang tidak bisa lagi hamba pendam," katanya. "Kakak Keempat telah menyusup ke wilayah kekuasaan hamba, menyerang orang-orang hamba, dan mencoba mencuri seorang tahanan yang sedang diselidiki atas kasus penyelundupan."

Gumaman kaget menyebar di antara para pejabat. Zhou Chen berdiri tegak, tidak menunjukkan gejolak apa pun di wajahnya meski jantungnya berdegup kencang.

"Tahanan yang dimaksud," jawab Zhou Chen tenang, "adalah orangku sendiri, yang ditangkap secara ilegal tanpa proses resmi apa pun, disiksa selama berhari-hari tanpa pengadilan. Kalau Adik Kedelapan ingin bicara soal 'penyelidikan', mungkin ia harus menjelaskan dulu mengapa seorang tahanan diperlakukan seperti itu tanpa sepengetahuan Ayahanda."

Zhou Han tersenyum tipis, tidak terguncang. "Tuduhan berat butuh bukti, Kakak. Dan kebetulan, hamba punya bukti bahwa Kakak Keempat telah lama membangun kekuatan pribadi tanpa izin—pasukan bayaran, penyelidikan liar terhadap pejabat kerajaan, bahkan kematian mencurigakan seorang pejabat pengawasan jalur dagang yang terjadi tepat setelah Kakak mulai menyelidikinya."

Ia memberi isyarat, dan seorang pengawal membawa maju sebuah kotak berisi dokumen—sebagian asli, Zhou Chen menyadari dengan getir, dicampur dengan detail-detail yang dipelintir agar terlihat seperti bukti pengkhianatan alih-alih penyelidikan yang sah.

Raja Zhou Tian mengangkat tangan, menghentikan perdebatan yang mulai memanas. "Cukup." Suaranya berat, menggema di seluruh aula. "Aku tidak akan memutuskan apa pun berdasarkan tuduhan sepihak di depan umum seperti ini. Li, Han—kalian berdua akan diperiksa secara resmi oleh dewan menteri dalam tiga hari. Sampai saat itu, seluruh aktivitas 'penyelidikan pribadi' kalian dihentikan."

Zhou Chen membungkuk, menerima keputusan itu dengan tenang di permukaan meski di dalam hatinya, ia tahu tiga hari adalah waktu yang cukup bagi Zhou Han dan orang di balik bayangannya untuk menghilangkan jejak terakhir yang tersisa—atau menyerang lebih dulu sebelum pemeriksaan resmi dimulai.

Saat rombongan mulai membubarkan diri, Zhou Han melewati Zhou Chen dengan langkah pelan, berbisik cukup pelan agar hanya terdengar olehnya. "Tiga hari, Kakak. Cukup waktu bagi siapa pun untuk menghilang selamanya.

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
semangat ya . semoga gif mawar ini menjadi semangat baru klo km . butuh temn masuk grup aku kita saling dukung
Irhab Hauzan: siap mampir 🙏
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!