Dia dipaksa menggantikan sepupunya yang kabur — menikah dengan pria yang ditakuti seluruh kekaisaran.
Lin Meiying hanyalah putri yang dikucilkan. Demi menyelamatkan keluarganya, ia memakai pakaian merah pengantin dan berdiri di tempat yang bukan haknya — di hadapan Wei Chen, Jenderal perkasa yang dijuluki "Dewa Perang Berdarah Dingin".
Dia tahu: suaminya tidak menginginkannya. Pernikahan ini hanya perintah kaisar. Di kediaman yang megah namun beku, Meiying diperlakukan seperti tamu asing, bukan istri.
Namun kesabaran dan kelembutan pelan-pelan meruntuhkan dinding es di hati sang jenderal. Rahasia kelam terungkap, musuh mengintai dari mana saja, dan saat cinta akhirnya tumbuh... takdir justru menguji mereka paling berat.
Akankah Meiying tetap menjadi pengantin bayangan yang terlupakan? Atau dia yang akan menaklukkan hati terkeras di seluruh kekaisaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dede Queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 — Jejak di Tanah Perbatasan
Angin di perbatasan bertiup lebih kencang dan dingin, membawa bau tanah kering dan debu jalanan. Tiga hari telah berlalu sejak mereka menyelinap keluar dari ibu kota. Di kejauhan, di balik bukit-bukit gundul, asap hitam masih mengepul perlahan — tanda bahwa pertikaian di istana belum usai.
Ling Yue menoleh ke belakang sekali lagi, meski ibu kota sudah tak tampak lagi. Wajahnya muram, matanya yang biasanya jernih kini tertutup bayangan gelisah.
"Kau memikirkannya lagi," ucap Li An pelan, memperlambat langkahnya agar sejajar dengan gadis itu. Ia menyerahkan sepotong roti kering yang ia simpan di kantong. "Ibumu."
Ling Yue mengangguk pelan, menerima roti itu namun tak segera memakannya. "Aku tidak tahu apakah dia selamat. Saat kita pergi... aku melihat pasukan Paman Mu mengepung tangga istana. Bagaimana jika..." Ia menelan ludah, menahan rasa sakit yang menyergap dadanya.
"Jika dia bijaksana, dia akan mencari jalan keluar sendiri," jawab Li An tegas namun lembut. "Dan jika dia butuh bantuan, kita akan kembali dengan kekuatan yang cukup untuk melindunginya. Sekarang, kita harus hidup dulu. Agar bisa kembali."
Rouran yang berjalan di depan berbalik, wajahnya tertutup debu namun matanya tetap waspada. "Jalan di depan terbelah. Jalur kiri menuju ke desa-desa terpencil, jalur kanan menuju benteng perbatasan tempat sisa-sisa pasukan ayahku ditempatkan. Tapi..." Ia berhenti sejenak, menatap peta lusuh di tangannya. "Ada tanda larang di sini. Wilayah itu dikepung sejak dua minggu lalu."
"Dikepung oleh siapa?" tanya Ling Yue.
"Pasukan yang setia pada Paman Mu," jawab Rouran. "Mereka menyebut diri mereka 'Pasukan Penegak Kebenaran'. Sudah merebut tiga benteng dalam sebulan terakhir. Jika sisa pasukan ayahku masih bertahan di sana, mereka terjebak."
Li An meremas ujung jubahnya yang sudah kotor. "Itu satu-satunya kekuatan yang bisa kita ajak bersatu. Tanpa mereka, kita hanya bertiga melawan ribuan prajurit."
"Berarti kita pergi ke sana," kata Ling Yue tiba-tiba, suaranya tenang namun mantap. Ia memasukkan giok yang tersimpan di dadanya lebih dalam ke balik pakaian. "Tapi kita tidak bisa masuk secara terang-terangan. Mereka pasti sudah menunggu orang asing."
Mereka memilih jalan yang berliku, menyusuri lembah tersembunyi dan hutan belantara yang jarang dilewati orang. Di sepanjang jalan, pemandangan yang mereka temui membuat hati perih — ladang yang terbengkalai, rumah-rumah yang atapnya roboh, dan sesekali kuburan sederhana yang ditimbun sembarangan di pinggir jalan.
"Perang sudah sampai ke sini," gumam Ling Yue, menyentuh dinding rumah kayu yang hangus. "Rakyat menderita tanpa tahu alasannya."
"Itulah yang Paman Mu sembunyikan," ucap Li An pelan. "Di ibu kota, mereka menampilkan wajah ketertiban. Di sini, kenyataannya telanjang."
Saat senja mulai turun, mereka tiba di sebuah bukit yang menghadap ke lembah luas. Di tengah lembah itu berdiri benteng batu yang kokoh namun terlihat usang — dindingnya retak di beberapa bagian, bendera di atasnya lusuh dan hampir tak terlihat warnanya. Sekelompok pasukan berkuda bergerak mengelilinginya, membentuk lingkaran ketat yang tak ada celah.
"Mereka sudah mengepungnya sejak lama," bisik Rouran, berjongkok di balik semak tinggi. "Benteng itu tidak bisa bertahan tanpa air dan makanan dari luar. Jika belum jatuh, berarti mereka bertahan dengan sisa-sisa persediaan."
"Kita harus masuk ke dalam," kata Ling Yue.
"Mustahil," jawab Rouran cepat. "Tidak ada yang bisa melewati barisan mereka tanpa terlihat."
Li An diam sejenak, menatap benteng itu lekat-lekat. Matanya menyapu setiap sudut dinding, gerakan penjaga, dan aliran sungai kecil yang mengalir di sisi jauh benteng.
"Ada jalan," ucapnya tiba-tiba. "Lihat sungai itu. Mengalir masuk ke bawah dinding utara. Dulu, saluran air itu dirancang agar bisa dilewati orang dalam keadaan darurat."
"Saluran itu sudah ditutup puluhan tahun lalu," bantah Rouran.
"Belum sepenuhnya," potong Li An. "Aku melihat celah di bawah lengkungan batu. Tumbuhan liar menutupinya, tapi air tetap mengalir. Itu berami jalannya masih terbuka."
Malam turun perlahan, membawa kegelapan yang meneduhkan sekaligus mengerikan. Mereka menunggu sampai penjaga berganti jaga, lalu turun menyusuri lereng bukit dengan gerakan senyap. Udara di dekat sungai terasa dingin dan lembap. Airnya setinggi pinggang, mengalir tenang namun cepat.
Hampir sampai di bawah dinding, Rouran tiba-tiba menahan langkah mereka. Ia menunjuk ke permukaan air — bayangan seseorang terlihat di kejauhan, berdiri diam di tepian.
"Penjaga," bisiknya nyaris tak terdengar.
Li An mengisyaratkan agar mereka diam. Sosok itu berjalan perlahan, menatap ke arah sungai, lalu berbalik dan pergi. Namun saat ia berbalik, Ling Yue menahan napas — di lengan baju orang itu terpasang lambang kecil yang sama persis dengan yang dikenakan prajurit yang mengepung istana.
"Mereka sudah memasang pengawasan ketat," bisiknya. "Bahkan di tempat yang tersembunyi sekalipun."
Mereka melanjutkan perjalanan di dalam air, menahan dingin yang menusuk hingga ke tulang. Celah di bawah dinding benteng ternyata sempit dan licin, dipenuhi lumut dan batu-batu tajam. Namun mereka berhasil melewatinya, dan sesaat kemudian, kaki mereka menginjak tanah yang kering di sisi lain.
Mereka berada di halaman belakang benteng yang gelap dan sepi. Tidak ada penjaga, namun keheningan di sana terasa menyesakkan — seolah setiap orang di dalamnya menahan napas.
"Ikut aku," bisik Rouran, memandu mereka menyusuri lorong-lorong gelap yang ia hafal sejak kecil. "Ruang komando ada di menara tengah. Ayahku..." Ia berhenti sejenak, menelan ludah. "Jika dia masih di sana."
Saat mereka mendekati ruang utama, suara percakapan terdengar samar dari balik pintu kayu yang terbuka sedikit.
"...makanan tinggal untuk tiga hari lagi," suara seorang pria terdengar lelah. "Jika bantuan tidak datang, kita harus menyerah."
"Kita tidak menyerah," suara lain — berat, parau, namun tegas — menyahut. "Ayahmu tidak akan mengajarkanmu menyerah sebelum darah terakhir mengalir."
"Jenderal, rakyat di desa di sekitar sini sudah menderita. Jika kita bertahan lebih lama, pasukan pengepung akan melampiaskan kemarahan mereka kepada mereka..."
"Dan jika kita menyerah, mereka akan membunuh semua orang yang setia kepada kaisar," potong suara itu tegas. "Tidak ada pilihan yang mudah. Tapi kita tidak boleh membiarkan kebenaran dikubur."
Ling Yue mendorong pintu itu perlahan.
Di ruangan itu, di bawah cahaya remang lilin, duduk seorang pria paruh baya dengan wajah penuh bekas luka — Jenderal Wen, ayah Rouran. Ia menoleh perlahan, matanya menyipit saat melihat putrinya berdiri di ambang pintu.
"Rouran..." gumamnya, seolah tak percaya.
"Ayah!" Rouran berlari memeluknya, air matanya jatuh membasahi bahu pria itu.
Jenderal Wen mengusap rambut putrinya dengan tangan gemetar, lalu menatap Li An dan Ling Yue. Matanya terhenti pada giok yang terlihat samar di dada Ling Yue.
"Kau..." suaranya bergetar. "Kau putri dari Pangeran Ling."
Ling Yue mengangguk pelan. "Benar, Jenderal. Dan kami datang bukan untuk meminta perlindungan. Kami datang untuk bergabung."
Jenderal Wen bangkit berdiri, meski tubuhnya tampak lemah. "Kalau begitu kalian tahu betapa berbahayanya tempat ini. Pasukan di luar dikomandoi oleh orang yang tidak segan membunuh siapa pun — bahkan kerabatnya sendiri."
"Kami tahu," kata Li An. "Kami baru saja melarikan diri dari ibu kota. Paman Mu telah mengambil alih kekuasaan. Dan ibunya Ling Yue..." Ia melirik gadis itu sejenak. "Dia masih di sana, terjebak di antara ambisi dan perasaannya sendiri."
Jenderal Wen terdiam lama, menatap api lilin yang menari-nari. "Aku kenal Paman Mu sejak ia masih kecil. Ia pendendam, cerdas, dan tak pernah memaafkan siapa pun yang menginjakkan kakinya di atas harga dirinya. Sekarang ia memegang kekuasaan penuh, tidak akan ada yang bisa menghentikannya dengan mudah."
"Itulah sebabnya kami butuhmu," kata Ling Yue. Ia melangkah maju, mengeluarkan giok dari balik pakaiannya. Batu itu memancarkan cahaya lembut yang menerangi seluruh ruangan. "Giok ini bukan jimat kemenangan. Ia adalah bukti — bukti bahwa kekuasaan yang dipegang Paman Mu tidak sah. Jika rakyat melihatnya, mereka akan tahu bahwa ada harapan lain."
Jenderal Wen menatap batu itu lekat-lekat, lalu menghela napas panjang. "Kau tahu apa risikonya? Menjadikannya lambang berarti menempatkanmu di posisi paling depan. Setiap pedang akan diarahkan kepadamu."
"Aku tahu," jawab Ling Yue tenang. "Tapi lebih baik berdiri tegak meski sebentar, daripada hidup bersembunyi selamanya sambil melihat negeri hancur."
Di luar, angin bertiup kencang, mengguncang dinding benteng. Suara terompet panjang tiba-tiba terdengar dari kejauhan — suara yang membuat semua orang di ruangan itu menegang.
"Mereka akan menyerang," ucap salah satu prajurit yang berdiri di dekat jendela, suaranya gemetar. "Pasukan mereka bergerak."
Jenderal Wen menoleh ke arah mereka, matanya tajam kembali. "Kalian mendengar itu? Pilihan ada di tangan kalian sekarang. Tetap di sini dan bertarung bersama kami, atau pergi sekarang sebelum gerbang tertutup rapat."
Li An menggenggam tangan Ling Yue erat. "Kami tidak pergi ke mana-mana."
Ling Yue menatap Jenderal Wen dengan mata berbinar. "Kami bertarung."
Jenderal Wen tersenyum tipis — senyum yang pertama kali terlihat di wajahnya sejak lama. "Baiklah. Kalau begitu mari kita siapkan pertahanan. Tapi ingat — pertarungan ini bukan tentang membalas dendam. Ini tentang melindungi mereka yang tidak bisa melindungi diri sendiri."
Ia memberi perintah singkat. Prajurit-prajurit bergegas ke posisi masing-masing. Di atas menara, obor-obor dinyalakan satu per satu, membentuk garis cahaya di tengah kegelapan malam.
Ling Yue berdiri di samping Li An, menatap ke arah lautan pasukan yang bergerak mendekat. Napasnya teratur, jantungnya berdetak kencang namun bukan karena takut.
"Kita akan baik-baik saja?" tanyanya pelan.
Li An meremas tangannya. "Selama kita berdiri bersama, tidak ada yang mustahil."
Di kejauhan, di bawah cahaya bulan yang pucat, ribuan prajurit bergerak mendekat bagai gelombang hitam yang tak terhentikan. Namun di balik dinding batu itu, tiga orang dan sekelompok kecil prajurit yang setia berdiri tegak — siap mempertahankan sisa harapan yang masih ada.