Ardina harus menerima kenyataan pahit saat mengetahui bahwa bayi dalam kandungannya akan terlahir cacat.
Derita seolah tak berhenti sampai disitu saja, setelah kakak kandung suaminya meninggal, Farhan diberi amanah untuk menikahi mantan kakak iparnya yang sedang dalam kondisi baru saja melahirkan bayi.
Ardina merasa semakin asing di rumah mertuanya, sebab Sarah, istri baru Farhan bersikap egois dengan menguasai Farhan untuk dirinya sendiri serta mengabaikan Ardina.
Bagaimanakah nasib Ardina selanjutnya?
Apakah ia akan tetap bertahan, atau memilih berpisah dengan berbagai resiko?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mas, Ayo Kita Cerai
#5
Akhirnya, tak ada gunanya lagi bertahan, semakin lama diam, ia akan semakin diinjak seperti sampah tak berguna.
Dina mengemasi barang-barang nya, dokumen-dokumen yang ia perlukan untuk mengajukan gugatan perceraian, serta dokumen pendukung sementara yang ia miliki perihal perjanjian dua perusahaan. San Apparel dan Permana Group.
Tak banyak barang yang ingin Dina bawa, sadar diri akan kemampuannya. Lagi pula ia baru pergi besok pagi dengan alasan ke dokter untuk memeriksakan kandungannya.
Setelah membereskan dokumen yang dibutuhkannya ke dalam tas, Dina duduk lemas bersimpuh di depan lemari pakaian. Ia hancur, sehancur-hancurnya, Dina sudah rela dimadu, namun, masih juga dibandingkan dengan adik madunya dalam hal ranjang. Bukankah itu sangat keterlaluan?
Tangisnya terdengar di kesunyian malam, tak ada teriakan atau amukan, meski hatinya sungguh sakit seperti diremas sampai habis tak bersisa. Sejak Farhan memutuskan menikah kembali, Dina sudah bersiap untuk situasi ini, meski begitu tetap saja rasanya belum siap.
Hanya bayi dalam kandungannya yang bisa ia peluk untuk meluapkan kesedihannya, “Maafkan Mama, Nak. Kita mungkin harus belajar untuk hidup berdua saja tanpa ayahmu.”
•••
Pagi hari, Dina sudah rapi hendak pergi ke rumah sakit sesuai jadwal reservasi beberapa hari sebelumnya.
Tiba-tiba Farhan masuk ke kamar, kondisi rambutnya yang basah, serta handuk yang melilit pinggangnya, kembali membuat hati Dina serasa diremas-remas dengan kuat. Tak perlu bertanya lebih lanjut apa penyebab penampilan Farhan pagi ini, tentu karena suatu kewajiban setelah semalam menyentuh salah satu istrinya.
“Din, mana kemeja warna putih tulang? Di kamar Sarah tak ada.”
“Mungkin di lemari, Mas. Cari saja.” Setelah mendengar peristiwa semalam, kini Dina sudah malas melakukannya, biar saja Farhan mencari barang yang dibutuhkannya sendiri.
“Mana, Din, di sini juga tak ada.”
“Kalau begitu di kamar Sarah, Mas. Lagian Mbok tak pernah lagi meletakkan barang-barang Mas di kamar ini. Mungkin Sarah lupa meletakkannya dimana.”
Farhan akhirnya menyerah, ia kembali ke luar guna mencari kemeja yang dimaksudkannya. Tapi, di depan pintu ada Sarah yang juga masih berbalut handuk yang menutupi dada hingga pertengahan pahanya. Hingga Dina bisa melihat bercak merah di sekitar leher dan tulang selangka wanita itu, pasti itu hasil karya Farhan.
“Mas, maaf, rupanya kemejanya terselip di belakang. Sepertinya aku masih lemas, jadi tak fokus mencarinya.”
Farhan tersenyum, “Maaf,” katanya. Membuat Dina muak melihat pemandangan tersebut. Entah sengaja ataukah tidak, tapi sikap mereka sungguh tak beretika.
Setelah menyerahkan kemeja tersebut, Sarah kembali ke kamarnya, diam-diam tersenyum puas setelah memamerkan aktivitas paginya yang kembali digempur Farhan di kamar mandi pagi ini.
Farhan pun mengenakan pakaian, tapi ia menyerahkan dasinya pada Dina, itu adalah bahasa isyarat bahwa Farhan meminta bantuannya.
“Semalam kamu bilang mau bicara?” ditengah aktivitas Dina, Farhan mula bicara.
“Semalam aku menunggumu, Mas. Tapi kamu tak datang.”
Farhan mengusap tengkuknya, menutupi kegugupannya, semalam Farhan sudah berniat mendatangi Dina, tapi karena tergoda rayuan istri mudanya, niat itu pun batal.
“Tadinya aku mau minta ditemani ke rumah sakit, tapi—”
“Kok, sudah ke rumah sakit lagi? Baru seminggu yang lalu, kan?” Farhan menyela ucapan Dina.
“Karena kehamilanku spesial, Mas. Perlu pengawasan ekstra, jadi dokter memintaku datang seminggu sekali.”
“Maaf, aku tak bisa, pagi ini ada pekerjaan yang tak bisa kutinggalkan.”
“Ya, sudah.” Dina tak meminta atau memohon seperti biasa, hingga membuat Farhan heran.
“Maksudmu?” tanya Farhan penasaran.
“Tidak ada maksud apa-apa, kan Mas Farhan bilang tak bisa meninggalkan pekerjaan. Jadi aku akan pergi sendiri, diantar Pak Fikar.”
Farhan menelan ucapan Dina begitu saja, tapi sepanjang hari ia terus kepikiran dengan perubahan sikap istrinya.
•••
“Mau kemana lagi kamu?” tanya Bu Sintia.
“Periksa, Bu.”
“Nggak perlu sering-sering periksa, lebih baik uangnya ditabung untuk biaya persalinan dan setelahnya.” Pak Jatmiko ikut menimpali.
“Dokter perlu melakukan pengawasan, Yah,” sahut Dina jujur.
“Apalagi yang harus diawasi, toh sudah jelas setelah lahir nanti dia hanyalah bayi cacat?” sindir Pak Jatmiko.
“Ayah—” Dan untuk pertama kalinya Farhan menegur ayahnya karena mengatakan hal yang sensitif pada istrinya.
“Ayahmu benar, kok, kenapa kamu ikut sewot?”
“Tapi bayi ini kan—”
“Mas, aku pergi duluan.” Dina tak mau mendengar lebih banyak lagi, lebih baik ia pergi secepatnya dari rumah yang kini panas seperti neraka ini.
“Kamu belum makan,” ujar Farhan, sedikit khawatir melihat wajah pucat Dina.
“Mau cek lab sebelum dan sesudah makan, jadi sarapannya nanti di cafe rumah sakit saja.”
Dina membawa tas besar yang pagi ini sengaja ia pilih, agar bisa menampung semua dokumen yang ia bawa. “Apa yang kamu bawa, kenapa besar sekali tasmu?” tanya Bu Sintia.
“Ini— hasil cek lab minggu sebelumnya, Bu. Aku bawa supaya dokter bisa membandingkan dengan hasil hari ini. Dan juga sedikit cemilan buat nanti setelah sarapan.” Dina mengurai alasan yang cukup masuk akal, karena malas juga memberikan bantahan.
Tak ada yang mencurigai kepergian Dina, selain Farhan yang merasakan ada keanehan.
•••
“Nyonya, kenapa kesini?” tanya Pak Fikar, ketika mobil berhenti di rumah orang tua Ardina malam itu.
Bu Rara bahkan sudah keluar dari rumah karena mendengar suara mobil memasuki halaman rumahnya.
“Aku tak akan kembali ke rumah mereka, Pak.”
“Kalau Tuan Farhan tanya, nanti saya harus jawab apa?”
“Jawab saja apa adanya, bila perlu katakan pada Mas Farhan menghubungiku secara langsung.”
Pria paruh baya itu hanya mengangguk, nafasnya terdengar berat, sekaligus iba melihat sang nyonya muda yang tersia-sia oleh keegoisan suaminya.
“Selamat istirahat, Nyonya.”
“Pak Fikar juga, hati-hati di jalan.”
•••
“Assalamualaikum, Ma.”
“Waalaikumsalam. Kok sendirian, Nak?”
Ardina mengangguk, ia mencium punggung tangan Bu Rara. “Mas Farhan sibuk, Ma.”
“Sesibuk apa? Sampai dia tak punya waktu mengantar istrinya yang sedang hamil tua.” Bu Rara menggerutu, menyesalkan sikap Farhan.
“Ayo masuk, Papamu sedang ada urusan ke luar kota, katanya, sih, diminta temannya untuk jadi penyuluh pertanian.”
“Bu, aku lapar,” kata Dina. Tiba di rumah orang tuanya ia langsung merasa ingin makan, padahal di rumah mertuanya ia tak berselera.
“Lapar? Ayo masuk, Mama buatkan makanan enak dan juga sehat untuk nutrisi janin kamu.”
Ingin menangis rasanya, sudah sejauh ini Dina belum bercerita tentang kondisi janin dalam kandungannya yang didiagnosis menderita hydrocephalus. Padahal Dina yakin orang tuanya akan menerima dengan ikhlas bagaimanapun kondisi cucunya. Tak seperti Farhan dan keluarganya.
“Kenapa sedih? Hamil bukannya banyak tersenyum, ini malah wajah dan tubuhmu semakin kelihatan kurus.”
“Karena aku masih sulit menelan makanan, Ma. Gimana dong?”
Bu Rara mengusap kepala putrinya penuh kasih, “Semoga masakan Mama bisa diterima janin kamu, ya?”
“Sepertinya di terima, Ma. Buktinya, baru juga masuk ke rumah, aku langsung merasa lapar.”
Mereka masih berbincang ringan di tengah aktivitas menanti ayam kukus jahe matang. Itu adalah menu favorit Dina, simpel, dan nggak banyak effort untuk membuatnya, tapi rasanya bikin ketagihan.
Benar saja, karena Dina langsung menghabiskan dua porsi besar nasi hangat, beserta ayam kukus favorit nya, tanpa ada mual, atau penolakan.
Bu Rara ikut bahagia melihat putrinya makan dengan lahap, dalam porsi besar.
Tapi suara ponsel merusak kebahagiaan Dina, tanpa melihat Dina langsung tahu siapa pelakunya. Farhan.
“Assa—”
“Kenapa belum pulang?” tanya Farhan tanpa menunggu Dina selesai berucap.
“Di rumah Mama, Mas. Dan aku akan melahirkan di rumah orang tuaku.”
“Apa? Kamu tak izin padaku sebelumnya!” bentak Farhan.
“Mulai sekarang aku tak perlu izinmu, Mas. Ayo kita cerai.”
Prang!
Pyar!