NovelToon NovelToon
Pembalasan CEO Gemuk

Pembalasan CEO Gemuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Time Travel
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

Alya mengira kehidupannya sempurna—menjadi CEO sukses dengan suami penyayang di sisinya. Namun, semua itu hancur dalam semalam ketika suaminya sendiri menghabisi nyawanya secara sadis. Tragisnya, sebelum nafas terakhir berhembus, Alya harus menyaksikan kenyataan pahit, pria yang paling ia cintai berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.

Namun, takdir belum selesai.
Bukannya terbangun di alam baka, Alya justru terbangun lima tahun lalu—sebelum ia diangkat menjadi CEO, dan sebelum kata 'sah' terucap di pelaminan. Berbekal ingatan masa depan dan rasa sakit yang membakar, Alya bersumpah tidak akan menjadi korban untuk kedua kalinya.

Permainan baru saja dimulai, dan kali ini... Alya yang memegang kendali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Rumah yang Tidak Pernah Diceritakan Kai

Mobil hitam yang dikendarai pengawal Kai terus melaju membelah kegelapan malam, meninggalkan hiruk-pikuk dan gemerlap lampu kota Jakarta jauh di belakang. Jalanan beraspal yang mulus perlahan berubah menjadi tanjakan berliku yang dikelilingi pepohonan pinus dan perbukitan sunyi. Air mata haru Alya yang sempat menggenang setelah membaca catatan tangan Kai kini telah mengering, berganti dengan rasa penasaran yang amat dalam.

Di genggamannya, kunci kuningan berukir klasik itu terasa dingin namun membawa kehangatan yang aneh ke dalam dadanya.

Saat mobil berbelok melewati sebuah gerbang kayu jati raksasa yang terbuka otomatis, pemandangan di balik gerbang itu membuat Alya menahan napasnya sejenak.

Di atas bukit kecil yang menghadap langsung ke arah danau alami yang tenang, berdiri sebuah rumah bergaya modern-rustic. Dinding-dindingnya didominasi oleh perpaduan kayu jati gelap, batu alam, dan kaca raksasa yang memperlihatkan interior hangat di dalamnya. Lampu-lampu taman berwarna kuning keemasan menyala lembut di sepanjang jalan setapak yang dipenuhi kelopak bunga dan aroma segar tanah wet sesudah hujan.

Rumah ini tidak memamerkan kemewahan yang mencolok atau pilar-pilar raksasa yang angkuh seperti rumah 150 miliar yang Alya gunakan untuk memancing Rendy. Rumah ini memancarkan ketenangan, kedamaian, dan perlindungan yang sangat nyata.

Mobil berhenti tepat di depan teras kayu yang luas.

Kai turun dari pintu sebelah, melangkah mengitari mobil, lalu membukakan pintu untuk Alya. Pria itu tidak lagi mengenakan jas eksekutif tebalnya. Malam ini, Kai hanya mengenakan sweter rajut berwarna abu-abu kasual dengan lengan yang sedikit digulung hingga memperlihatkan jam tangan kulinya. Wajah tampannya menyunggingkan senyum hangat yang teramat tulus.

"Selamat datang di tempat yang tidak pernah saya ceritakan pada siapa pun, Alya," tutur Kai rendah, suara bass-nya berbaur lembut dengan desir angin malam perbukitan.

Alya melangkah keluar dari mobil, menatap sekelilingnya dengan mata berbinar-binar. "Kai... ini benar-benar luar biasa. Kapan kamu membangun rumah sejauh dan seindah ini dari Jakarta?"

Kai tersenyum tipis, merengkuh jemari Alya yang terasa dingin, lalu menuntunnya menaiki tiga anak tangga menuju teras utama.

"Sekitar dua tahun lalu," jawab Kai santai. Ia mengambil kunci kuningan dari tangan Alya, lalu memasukkannya ke dalam lubang pintu kayu raksasa. Klek. Pintu bergeser terbuka tanpa suara sedikit pun.

Alya melangkah masuk ke dalam seraya menatap sekeliling. Bau wangi kayu cendana dan aromaterapi lavender menyapa inderanya. Di dalam, terdapat sebuah ruang keluarga berkonsep terbuka dengan perapian batu alam yang menyala hangat. Di sisi kiri, terdapat perpustakaan dua lantai dengan rak-rak kayu yang dipenuhi ribuan buku, serta sebuah studio seni dengan kanvas-kanvas kosong yang menghadap langsung ke jendela kaca raksasa dengan pemandangan danau.

"Aku... aku tidak pernah membayangkan ada tempat seindah ini," bisik Alya terkagum-kagum, jemarinya mengusap permukaan meja kayu jati yang halus di ruang tengah. "Kamu bilang di surat tadi... kamu membangun rumah ini untuk jiwa dan cerita baruku?"

Kai berjalan mendekati Alya dari belakang. Pria itu menyandarkan bahunya di tepi meja, menatap Alya dengan mata yang dipenuhi pendar kehangatan dan rasa hormat yang mendalam.

"Saya tidak pernah percaya pada kesempurnaan, Alya," kata Kai pelan, suaranya dipenuhi ketulusan yang menggetarkan dada. "Ketika saya memutuskan untuk mendesain tempat ini dua tahun lalu, saya tidak membayangkan membangunnya untuk seorang wanita yang sempurna atau tanpa cela."

Alya memutar tubuhnya, menatap mata Kai yang mengunci pandangannya rapat-rapat.

"Lalu... untuk siapa kamu membangun tempat ini, Kai?" tanya Alya berbisik.

Kai menunduk sedikit, mengulurkan tangannya untuk mengusap lembut pipi Alya dengan punggung jarinya.

"Saya membangun tempat ini untuk seorang wanita yang pernah jatuh, pernah terluka amat dalam, lalu memilih untuk berdiri lagi dengan kakinya sendiri," tutur Kai tegas namun begitu lembut. "Tempat ini diciptakan untuk menjadi tempat berlindungmu ketika dunia di luar sana terlalu bising. Di sini, kamu tidak perlu menjadi Direktur Operasional yang dingin. Kamu tidak perlu berpura-pura kuat. Di sini... kamu cuma Alya. Wanita yang sangat saya cintai."

Dada Alya bergetar hebat. Kalimat tulus yang keluar dari bibir Kai menghantam sudut hati Alya yang paling dalam—sudut hati yang selama ini terluka oleh hinaan masa lalu, rasa dikhianati oleh Rendy, dan kesepian bertahun-tahun. Air mata haru menetes perlahan menembus pipi Alya.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Alya memajukan tubuhnya dan memeluk pinggang Kai dengan erat. Ia menyandarkan wajahnya di dada bidang pria itu, mendengarkan detak jantung Kai yang tenang dan teratur.

"Terima kasih, Kai..." bisik Alya dengan suara serak oleh rasa haru. "Terima kasih sudah memahamiku lebih dari aku memahami diriku sendiri."

Kai melingkarkan kedua tangan kekatnya di sekeliling tubuh Alya, mengecup puncak kepala wanita itu dengan penuh rasa protektif. "Sama-sama, Sayang. Rumah ini milikmu sepenuhnya mulai malam ini."

Beberapa saat kemudian, Kai pamit menuju area dapur bersih di sebelah ruang tengah untuk menyeduh teh herbal hangat untuk mereka berdua.

"Kamu eksplorasi saja rumah ini, Alya," seru Kai dari arah dapur. "Semua ruangan terbuka untukmu."

Alya tersenyum hangat. Ia melangkah perlahan mengitari lantai dasar, menyusuri lorong berlantai kayu yang dihiasi lampu-lampu sorot kecil bernuansa hangat. Di ujung lorong sebelah kanan, terdapat sebuah pintu kayu tebal yang sedikit terbuka, membiarkan pendar cahaya kuning keemasan membias ke luar.

Rasa penasaran membawa langkah Alya mendekati pintu tersebut. Ia mendorong pintu itu secara perlahan.

Ruangan itu ternyata adalah ruang kerja pribadi Kai.

Berbeda dengan ruang kerja Kai yang megah dan kaku di kantor pusat Aditya Group di Jakarta, ruang kerja di rumah perbukitan ini terasa sangat personal dan hangat. Dindingnya terbuat dari bata ekspos berwarna cokelat tua, dilengkapi meja kerja kayu besar yang tertata rapi, puluhan miniatur arsitektur, dan rak-rak dokumen pribadi.

Alya melangkah masuk dengan hati-hati. Di dinding sebelah kiri meja kerja Kai, terdapat sebuah papan kayu besar yang difungsikan sebagai papan memori (memory board). Di sana tergantung beberapa foto cetak, draf rancangan bangunan, dan sertifikat.

Namun, perhatian Alya seketika terkunci pada sebuah bingkai foto kayu berukuran sedang yang tersandar di sudut meja kerja Kai, persis di samping lampu meja.

Alya melangkah mendekat, mengerutkan dahinya bingung. Ia mengulurkan tangannya dan mengambil bingkai foto tersebut.

Saat mata Alya menatap lembaran foto di dalam bingkai kayu itu, tubuhnya mendadak membeku seketika. Jantungnya melompat serasa berhenti berdetak.

Foto itu adalah sebuah foto cetak bergaya agak lama. Di dalam foto itu, tampak seorang anak perempuan berusia sekitar dua belas tahun sedang duduk di sebuah kursi taman di bawah pohon rindang. Anak perempuan itu mengenakan seragam sekolah dasar yang sedikit kebesaran, rambutnya dikuncir dua, dan tangannya sedang sibuk memegang sebuah buku gambar besar dengan pensil warna di jarinya.

Anak perempuan di dalam foto itu... adalah Alya sendiri.

Itu adalah foto Alya semasa kecil—jauh sebelum ia beranjak dewasa, jauh sebelum ia mengenal Rendy, dan jauh sebelum ia masuk ke dunia bisnis serta bertemu dengan Kai Aditya!

Alya menatap foto itu dengan napas tertahan dan mata membelalak tak percaya. Wajah anak kecil di foto itu memang wajahnya dulu, saat ia masih hidup tenang bersama almarhum ayahnya sebelum masa-masa sulit menghantam keluarganya.

Bagaimana bisa?! jerit Alya dalam hatinya dengan otak yang mendadak liar memikirkan ribuan kemungkinan. Dari mana Kai bisa punya foto masa kecilku ini? Kami kan baru saling mengenal dua tahun lalu saat kerja sama bisnis pertama antara perusahaan kami?!

Perasaan guncangan antara bingung, misteri, dan tanda tanya besar menyergap dada Alya. Suara langkah kaki lembut yang mendekat dari arah lorong membuat Alya refleks membalikkan badannya.

Kai berdiri di ambang pintu ruang kerja. Pria itu memegang nampan berisi dua cangkir teh hangat.

Namun, ketika mata Kai menangkap bingkai foto di tangan Alya dan melihat raut wajah wanita itu yang pucat serta dipenuhi tanda tanya besar, senyum di bibir Kai perlahan memudar. Pria itu membeku di tempatnya berdiri.

Suasana di dalam ruang kerja yang hangat itu seketika berubah menjadi sangat hening dan penuh ketegangan misterius. Hanya suara desir angin malam dari luar jendela yang terdengar pelan.

Alya mengangkat bingkai foto kayu itu sedikit tinggi, menatap Kai dengan pandangan menuntut yang teramat dalam.

"Kai..." panggil Alya dengan suara yang bergetar pelan. "...dari mana kamu mendapatkan foto ini?"

Kai tidak langsung menjawab. Pria itu menarik napas panjang, lalu berjalan pelan memasuki ruangan dan meletakkan nampan teh di atas meja kecil di dekat sofa.

"Alya..." bisik Kai pelan.

"Jawab aku jujur, Kai!" potong Alya dengan suara yang kian menajam, melangkah satu tapak mendekati Kai. "Ini foto masa kecilku saat aku masih umur belas tahun di Bandung! Aku bahkan tidak pernah menyimpan foto ini di kantor atau di mana pun! Kamu dapat foto ini dari mana? Kenapa foto ini ada di meja kerja pribadi di rumah rahasiamu?!"

Kai terdiam. Pria bertubuh tegap itu berdiri mematung di hadapan Alya. Tatapan matanya yang biasanya selalu tajam, penuh kendali, dan dingin kini berubah menjadi tatapan penuh kelembutan yang dalam, rumit, dan menyimpan rahasia besar yang telah dipendamnya bertahun-tahun.

Kai menghembuskan napas panjang, menatap foto kecil di tangan Alya, lalu menatap langsung ke dalam manik mata wanita yang teramat dicintainya itu.

"Karena pertemuan kita dua tahun lalu di ruang rapat itu..." ujar Kai dengan suara yang teramat rendah dan dalam, "...bukanlah pertama kalinya saya melihatmu, Alya."

Alya tersentak kaget. "Apa maksudmu?!"

Kai melangkah mendekat secara perlahan, mengulurkan tangannya yang hangat untuk mengambil bingkai foto itu secara lembut dari genggaman Alya yang gemetaran, lalu meletakkannya kembali ke atas meja.

"Empat belas tahun yang lalu..." tutur Kai pelan, matanya menerawang kembali ke masa lalu yang jauh. "...di taman perpustakaan daerah kota Bandung. Ada seorang anak laki-laki berusia enam belas tahun yang sedang melarikan diri dari tekanan keras ayahnya. Pria muda itu duduk di bangku taman dengan perasaan putus asa, merasa hidupnya tidak berharga dan ingin menyerah."

Alya mendengarkan setiap kata yang diucapkan Kai dengan dada berdebar-debar kencang. Memory masa kecilnya yang samar perlahan-lahan tercungkil kembali dari dasar ingatannya.

"Lalu..." sambung Kai seraya menatap Alya dengan binar mata yang amat emosional, "...seorang anak perempuan kecil yang sedang menggambar di bawah pohon menghampirinya. Anak perempuan itu tidak kenal siapa pria muda itu, tapi dia memberikan separuh roti cokelatnya dan sebuah gambar bunga matahari yang digambarnya sendiri."

Mata Alya membelalak lebar. Roti cokelat... gambar bunga matahari?!

"Anak perempuan itu tersenyum manis lalu berkata," bisik Kai, menirukan nada suara yang pernah mengubah jalan hidupnya bertahun-tahun lalu: 'Jangan sedih ya, Kak. Kalau Kakak capek, Kakak harus tetap tumbuh seperti bunga matahari ini. Dia selalu cari cahaya meskipun harinya mendung.'

Alya menutupi mulutnya dengan kedua tangan, air mata kaget dan haru seketika menetes deras dari pelupuk matanya. Memory masa kecil yang sempat terlupakan itu mendadak pecah dan terang benderang di dalam ingatannya!

"Kamu... anak laki-laki yang menangis di taman waktu itu?!" seru Alya tak percaya, suaranya tercekat di tenggorokan.

Kai menyunggingkan senyum tipis yang teramat lembut, menatap Alya dengan seluruh jiwa dan cintanya.

"Gambar bunga matahari itu..." lanjut Kai seraya merogoh dompet kulit di saku celananya, lalu mengeluarkan selembar kertas tua yang dilaminating rapi namun sudah agak menguning. Kertas itu berisi gambar sketsa sederhana bunga matahari buatan tangan anak kecil.

"...gambar inilah yang membuat saya bertahan hidup sampai detik ini, Alya," tutur Kai dengan suara bergetar oleh rasa emosional yang amat kuat. "Anak perempuan kecil itu adalah kamu. Dan sejak hari itu, saya berjanji pada diri saya sendiri... suatu hari nanti, ketika saya sudah cukup kuat dan sukses, saya akan mencari anak perempuan itu dan melindunginya seumur hidup saya."

Alya mematung. Tubuhnya bergetar hebat.

Selama ini, Alya mengira bahwa takdir membawanya bertemu dengan Kai Aditya secara kebetulan saat mereka menjalin kerja sama bisnis dua tahun lalu. Alya mengira Kai membantunya menumpas Rendy dan Siska semata-mata karena rasa iba atau ketertarikan profesional.

Namun ternyata... ikatan mereka sudah terjalin jauh sebelum perangkap dendam itu ada. Kai Aditya telah menjaga nama dan bayangan Alya di dalam hatinya selama belasan tahun!

"Saat saya kembali menemukanmu dua tahun lalu..." kata Kai lagi seraya melangkah rapat dan menggenggam kedua tangan Alya yang bergetar, "...saya melihat anak perempuan yang dulu memberi saya harapan... sedang disakiti dan dimanfaatkan oleh pria tidak berharga seperti Rendy. Hati saya hancur melihatmu menangis, Alya. Makanya saya bersumpah... saya akan jadi perisaimu. Saya akan bantu kamu menghancurkan semua orang yang pernah membuatmu terluka."

Kai menunduk, meletakkan dahi hangatnya di atas dahi Alya, membiarkan napas mereka menyatu dalam keheningan malam yang sunyi.

"Rumah ini..." bisik Kai lembut di depan bibir Alya, "...saya bangun di tempat yang sama dekat perbukitan Bandung ini... agar kamu bisa mengingat siapa dirimu yang sebenarnya. Kamu adalah bunga matahari saya, Alya. Kamu bukan cuma wanita yang saya lindungi... tapi kamu adalah alasan saya berdiri tegap sampai hari ini."

Air mata Alya mengalir deras membasahi pipinya, namun kali ini bukan air mata penderitaan atau dendam. Itu adalah air mata kebahagiaan mutlak yang membasuh seluruh luka di jiwanya.

"Kai..." bisik Alya pasrah dalam tangis bahagianya, melingkarkan lengannya di leher Kai dan menarik pria itu ke dalam pelukan yang teramat erat. "Kenapa kamu tidak pernah bilang padaku dari dulu...?"

"Karena saya mau kamu menyelesaikan urusan masa lalumu lebih dulu," balas Kai terkekeh pelan di balik pelukan Alya, mengusap punggung wanita itu dengan penuh kehangatan. "Saya mau kamu menang atas dendammu sendiri, baru setelah itu saya membawa kamu pulang ke rumah kita."

Di dalam ruang kerja beraroma kayu cendana itu, di bawah pendar lampu hangat dan di depan sketsa bunga matahari tua yang menjadi saksi takdir mereka, Kai mendekatkan wajahnya lalu mengecup bibir Alya secara lembut, dalam, dan penuh kepastian cinta abadi.

Malam itu, di rumah rahasia yang tak pernah diceritakan Kai, Alya tidak hanya menemukan sebuah tempat tinggal mewah di atas bukit—ia telah menemukan rumah sejati bagi jiwanya, dan sebuah takdir cinta yang telah dijaga dengan sangat indah selama belasan tahun.

1
Ayu Ara12
next
Ayu Ara12
next dong kak cerita
NinLugas: ok kk d tnggu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!