NovelToon NovelToon
L.S. Underworld

L.S. Underworld

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Bad Boy / Mafia
Popularitas:295
Nilai: 5
Nama Author: ANDIKA,312

Andika pria miskin asal Makassar yg mencoba mengadu nasib di negara Amerika,tepatnya di los Santos,dia berharap menjadi kaya raya dan dapat hidup dengan layak setelah merantau di sana,akan tetapi dia justru terjerumus ke dalam dunia gelap los Santos

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANDIKA,312, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 13

BRAK!

Pintu kayu tebal ruangan VIP jebol diterjang tendangan kuat Franklin dan Lamar secara serempak!

Tuu Lee yang sedang asyik bergoyang sambil memeluk mesra Citra tepat di dekat pintu langsung terperanjat kaget. Belum sempat anak manja itu memahami apa yang terjadi, kepalan tangan Lamar sudah melayang keras menghantam mukanya!

BUKK!

"Aaghh! Hidungku!" jerit Tuu Lee histeris. Tubuhnya terhempas ke lantai, tersengkur sambil menangis sesenggukan memegangi hidungnya yang mengucurkan darah segar.

Melihat hal itu, tujuh kawan pria Tuu Lee yang sedang mabuk mencoba pasang badan dan melompat maju untuk menyerang. Namun, di hadapan dua veteran jalanan Los Santos, mereka bukan tandingan sama sekali. Franklin menyapu kaki dua orang pertama hingga roboh menghantam meja kaca, sementara Lamar memuntahkan pukulan kombinasi ke rahang dan perut lima orang sisanya hingga mereka terkapar mengerang kesakitan di atas sofa.

"Diam kalian semua kalau masih mau bernapas!" bentak Franklin dingin, mengacungkan senjatanya ke arah kawan-kawan Tuu Lee yang kini gemetar ketakutan.

Tanpa membuang waktu, Lamar mencengkeram kerah jas sutra Tuu Lee dan menyeretnya keluar ruangan bagaikan menyeret karung sampah. "Ikut kami, Bocah!"

"Papi! Tolong aku! Papi!" ratap Tuu Lee menangis histeris dengan wajah penuh darah dan air mata.

Lamar dan Franklin bergerak cepat menyusuri lorong sepi menuju pintu keluar belakang kelab. Begitu pintu besi belakang terdorong terbuka, mobil sedan milik Franklin sudah standby dalam keadaan mesin menyala dengan Andika di balik kemudi.

"Buka bagasi, Frank!" seru Lamar.

Brak!

Lamar melempar tubuh Tuu Lee dengan kasar ke dalam bagasi mobil. Saat Lamar hendak membanting tutup bagasi, tiba-tiba Citra berlari keluar dari pintu belakang dengan napas tersengal, berteriak histeris berusaha menyelamatkan kekasih mewahnya.

"Lepaskan Tuu Lee! Dasar penjahat sialan!" teriak Citra penuh emosi.

Gadis berpakaian mahal itu langsung memukuli dada Franklin dan Lamar bertubi-tubi. Namun, pukulan dari jemari lentiknya sama sekali tak terasa apa-apa bagi kulit tebal dua gangster tersebut.

Melihat situasi mulai memancing perhatian dan bisa berantakan jika ada yang mendengar jeritan Citra, Andika yang duduk di kursi kemudi langsung melompat keluar dari mobil. Dengan gerakan kilat dan tanpa kompromi, Andika mendaratkan satu hantaman keras tepat di rahang Citra!

BUK!

Citra terhenyak, matanya memutar, dan tubuh indahnya langsung ambruk pingsan tak berdaya di atas lantai beton parkiran.

Lamar langsung membanting tutup bagasi—Brak!—mengunci Tuu Lee yang teriak-teriak ketakutan di dalam kegelapan bagasi.

"Bagus, Andika!" kata Franklin cepat sambil menyambar kunci mobilnya dari tangan Andika. "Kalian berdua cepat ambil kendaraan masing-masing! Kita tidak bisa lama-lama di sini sebelum polisi atau anak buah Lee Dong datang."

Franklin menginjak pedal gas, "Kita bertemu di gurun sepi kawasan Grand Senora Desert. Di sana tempat paling pas untuk memberi pelajaran terakhir buat keluarga Lee Dong!"

"Siap, Frank!" balas Andika dan Lamar serempak.

Andika dan Lamar segera berbalik, berlari kencang menembus kegelapan gang untuk menyambar kendaraan mereka—Lamar menuju mobilnya, sementara Andika melompat ke atas Chopper Scorpio hitam mengkilat miliknya—siap meluncur kencang menuju gurun untuk mengeksekusi rencana pembalasan dendam puncak mereka.

Suara raungan mesin V6 milik Lamar dan dentuman gahar dari knalpot blar-blar Chopper Scorpio hitam milik Andika memecah kegelapan malam Los Santos. Setelah menyambar kendaraan masing-masing di sudut jalan sepi, keduanya langsung menancap gas penuh, memotong jalur utama menuju jalan bebas hambatan yang mengarah ke utara.

Di sepanjang perjalanan menembus angin malam, Lamar menyejajarkan mobilnya dengan Chopper Andika di lampu merah sepi. Lamar membuka jendela, memegang kemudi dengan satu tangan, lalu tertawa terbahak-bahak.

"Ayy, Andika! Kau lihat mukanya waktu saya pukul tadi?! 'Aaghh hidungku!' Hahaha! Bocah manja itu menangis seperti bayi yang kehilangan dotnya, cok!" jerit Lamar tertawa histeris dari balik jendela.

Andika di atas Chopper-nya ikut tertawa lepas dari balik helm, geleng-geleng kepala mengingat betapa menyenaskannya anak tunggal bos Ying Long tersebut saat dilempar ke bagasi. "Sok keras di kelab malam, begitu kena jotos langsung panggil papinya! Hahaha!"

Satu jam perjalanan melintasi kegelapan malam Grand Senora Desert, pemandangan bukit batu yang gersang dan sepi mulai menyambut mereka. Di sebuah area lapang gurun yang sangat jauh dari pemukiman dan lampu jalan, mobil Franklin sudah terparkir membisu di bawah pekatnya langit malam.

Franklin tampak berdiri bersandar di pintu mobilnya. Ia sudah melepas kemeja penyamaran pelayannya dan kembali mengenakan pakaian andalannya—kaus dan jaket kasual favoritnya.

Sreeech! BLEGAR-BLEGAR!

Lamar memarkirkan mobilnya, disusul Andika yang mematikan mesin Chopper kustomnya. Ketiganya melangkah bersamaan mendekati bagian belakang mobil Franklin.

Brak!

Franklin membuka pintu bagasi. Di dalam sana, Tuu Lee meringkuk gemetar dengan wajah yang penuh noda darah kering dan air mata. Ponsel mahal milik anak manja itu sudah diamankan di dalam genggaman Franklin.

"Kasi saya ponselnya, Frank," ujar Andika dingin.

Franklin menyerahkan ponsel pintar milik Tuu Lee. Dengan senyum tipis di wajahnya, Andika menyalakan ponsel tersebut, mencari kontak bertuliskan 'Papi', lalu menekan tombol video call.

Hanya butuh tiga kali dering, panggilan video langsung diangkat. Wajah Lee Dong muncul di layar dengan raut panik dan tegang. Namun, saat kamera Andika diarahkan tepat ke wajah Tuu Lee yang terkapar tak berdaya di bagasi, napas Lee Dong mendadak tertahan.

"TUU LEE!" jerit Lee Dong dari seberang telepon.

"Papi! Papi tolong aku, Papi! Mereka mau bunuh aku!" jerit Tuu Lee histeris saat melihat wajah ayahnya di layar.

"ANJING KALIAN! BANGSAT!" raung Lee Dong di telepon, mukanya merah padam dipenuhi murka yang tak tertahan. "Lepaskan anakku, bajingan! Kalau ada satu lecet saja di tubuhnya, saya ratakan seluruh garis keturunan kalian di Los Santos!"

Andika bukannya takut, ia justru menyunggingkan senyuman lebar yang sangat mengerikan. Tatapan matanya berkilat dingin, lalu tawa renyah yang terdengar sangat gila—seperti tawa seorang psikopat—keluar dari tenggorokannya.

"Hahaha... kau pikir kami takut, Tua Bangkai?" bisik Andika santai.

BUKK! BUKK!

Sambil tetap memegang ponsel, Andika mendaratkan dua pukulan mentah tepat ke rahang Tuu Lee! Anak itu menjerit-jerit kesakitan. Tidak berhenti di situ, Andika menarik tangan kanan Tuu Lee, mencengkeram jari telunjuknya, lalu memutarnya dengan sekali sentakan keras!

KLEK!

"AARGHHHH! PAPIII!" jerit Tuu Lee melengking tinggi, menangis sampai sesenggukan saat jarinya dipatahkan.

KLEK! KLEK!

Andika mematahkan jari tengah dan jari manis Tuu Lee satu per satu sambil terus tertawa lepas bak Joker yang menikmati setiap rintihan korbannya.

"TIDAK! BERHENTI, BAJINGAN! BERHENTI!" teriak Lee Dong di layar telepon, suaranya gemetar antara murka dan rasa frustrasi yang luar biasa melihat anak tunggalnya disiksa di depan matanya sendiri.

Andika menyandarkan ponsel yang masih terhubung video call itu di atas kap bagasi mobil, mengarahkan kameranya agar Lee Dong bisa melihat pemandangan gurun secara penuh.

Andika, Franklin, dan Lamar berdiri berjejer secara simetris di depan bagasi. Tanpa kata-kata lagi, ketiganya secara bersamaan mencabut pistol dari balik pinggang masing-masing dan mengokangnya serentak.

CKLAK!

Melihat tiga moncong senjata mengarah tepat ke kepala anaknya, kesombongan Lee Dong runtuh seketika. Tangis pria tua penguasa Chinatown itu pecah di seberang panggilan.

"Jangan... saya mohon, jangan bunuh anakku!" ratap Lee Dong dengan suara pecah dan terbata-bata dari ponsel. "Saya beri kalian uang! Berapa? Seratus miliar? Dua ratus miliar?! Saya serahkan seluruh jalur amunisi di Los Santos buat kalian! Ambil semuanya! Asal jangan bunuh Tuu Lee! Saya mohon...!"

Lamar menatap layar ponsel itu dengan mata merah dipenuhi api dendam. "Uangmu tidak bisa menghidupkan L.J. kembali, bajingan."

Franklin menggeleng dingin. "Perang ini kau yang mulai, Lee Dong."

Andika memiringkan kepalanya sedikit, mengunci bidikan pistolnya tepat di dada Tuu Lee.

"TIDAAAAKKK!" jerit Lee Dong.

BANG! BANG! BANG! BANG! BANG! BANG!

Hujan peluru bertubi-tubi dari tiga pistol meletus bersamaan menghantam tubuh Tuu Lee di dalam bagasi! Tubuh anak manja itu tersentak-sentak beberapa kali sebelum akhirnya terkulai kaku tak bernyawa.

Di seberang panggilan, Lee Dong histeris, meraung-raung menangisi kematian anak tunggalnya yang disaksikan secara langsung.

Franklin melangkah mendekati ponsel di kap bagasi, menatap layar yang menampilkan wajah hancur Lee Dong, lalu tersenyum dingin.

"Goodbye, bitch."

Klik.

Franklin mematikan sambungan video call tersebut, lalu membanting ponsel mahal itu ke tanah dan memijaknya hingga hancur berkeping-keping.

Lamar membanting pintu bagasi mobil Franklin hingga terkunci rapat kembali. Suasana gurun Grand Senora kembali disergap hening yang dingin. Api dendam atas kematian Little Jacob malam ini telah terbayar tuntas dengan harga yang sangat mahal bagi geng Ying Long.

"Mari kita pulang ke gudang," kata Franklin sambil merapikan jaketnya.

"Sabar dulu, Frank," potong Lamar sambil menyeringai tipis, mencoba mencairkan suasana tegang. "Saya mau mampir ke rumah saya di Davis sebentar. Ada paket ganja kualitas super yang saya sembunyikan di bawah papan lantai rumah, mau saya ambil buat kita pakai bersantai di gudang malam ini."

"Hahaha, dasar kau Lamar! Ya sudah, ayo kita jalan!" balas Andika terkekeh pelan.

Franklin melompat ke dalam mobilnya, Lamar masuk ke kendaraan miliknya, dan Andika menyalakan mesin Chopper Scorpio hitam mengkilatnya. Tiga kendaraan itu berputar balik, menancap gas kencang meninggalkan area gurun yang sepi, meninggalkan jasad Tuu Lee di balik kegelapan malam Grand Senora Desert.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!