Sebagai pewaris klan bangsawan sihir terkuat, Kaelen justru membangkitkan kekuatan Anomali berupa energi penelan magis. Dianggap sebagai aib dan dikhianati keluarganya sendiri, ia dilucuti dari gelarnya dan dibuang ke distrik kumuh tanpa hukum. Saat berjuang bertahan hidup dari kejaran pembunuh bayaran, Kaelen menemukan fakta bahwa "kutukannya" adalah satu-satunya senjata rahasia untuk melawan ancaman kuno yang mengintai kekaisaran.
Kini, Kaelen harus memilih: membiarkan kekaisaran hancur demi balas dendam, atau menggunakan kutukannya untuk merebut kembali takhtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rjm10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar Baja di Adiwangsa
Dua minggu telah berlalu sejak insiden di Kawah Hitam. Kastil Adiwangsa, yang selama berabad-abad menjadi simbol keanggunan sihir dan pualam suci, kini telah bermutasi menjadi monster yang sama sekali berbeda.
Balkon-balkon marmer dihancurkan untuk memberi ruang bagi menara meriam anti-udara. Kaca patri yang indah digantikan oleh pelat baja tebal dengan celah bidik untuk penembak runduk. Di pelataran utama, suara derap langkah bot militer berpadu dengan raungan mesin uap dan dentingan pandai besi yang bekerja dua puluh empat jam non-stop. Bau kemenyan dan bunga teratai lenyap, digantikan oleh aroma menyengat dari belerang, oli kotor, dan keringat prajurit.
Di ruang perawatan darurat yang dulunya adalah paviliun tamu kerajaan, Lyra duduk di tepi ranjang. Ia mendesis pelan saat Dokter Silas mengganti perban di bahu dan dadanya—bekas luka bakar akibat Aura Suci Inkuisitor Valerius yang nyaris merenggut nyawanya.
"Jaringan kulitmu sudah mulai menutup, tapi sihir suci itu meninggalkan residu," gumam Silas, membetulkan letak kacamatanya. Pria tua itu tampak sangat kurang tidur; kantung matanya hitam pekat. "Kau tidak boleh menggunakan sihir bayanganmu selama setidaknya sebulan, Lyra. Jika kau memaksa, sisa aura suci di pembuluh darahmu akan bereaksi dan membakarmu dari dalam."
Lyra mendengus kasar, meraih botol minuman keras dari meja di sebelahnya dan menenggaknya langsung. "Mati terbakar kedengarannya lebih baik daripada mati kebosanan di kasur ini. Bagaimana keadaan di luar, Dok? Dan yang lebih penting... bagaimana keadaan dia?"
Tangan Silas terhenti sejenak. Pria itu menelan ludah, menatap keluar jendela ke arah pelataran utama. "Kael dan Rexor telah berhasil merakit lima ribu pasukan hibrida. Mereka menyebutnya Garda Ketiadaan. Dan Kaelen... dia berdiri di balkon utama. Mengawasi mereka."
"Lalu apa masalahnya?"
"Dia sudah berdiri di sana selama tiga hari tiga malam berturut-turut, Lyra," bisik Silas, suaranya bergetar. "Tanpa tidur. Tanpa makan. Tanpa berkedip. Sejak lengan obsidian itu terpasang, ritme biologisnya sepenuhnya diambil alih oleh mesin. Gauntlet itu memompa nutrisi sintetik dan energi langsung ke sel-selnya, sementara otaknya dipaksa terus memproses data tak terbatas dari lingkungan sekitarnya. Dia bukan lagi manusia yang memakai senjata. Dia adalah senjata yang mengenakan kulit manusia."
Lyra terdiam. Ia mengingat tatapan Kaelen di dasar Kawah Hitam—sepasang mata ungu yang menatap puluhan ribu nyawa layaknya sekumpulan debu yang harus dibersihkan. Gadis itu mengusap lengannya yang merinding, lalu bangkit berdiri, meraih jaket kulitnya.
"Aku harus menemuinya," ucap Lyra tegas.
"Kau masih butuh istirahat—"
"Jika aku tidak menemuinya sekarang, aku takut saat aku benar-benar sembuh nanti, aku tidak akan mengenali siapa yang sedang kuikuti."
Di balkon utama yang menghadap langsung ke pelataran, Kaelen berdiri mematung layaknya patung dewa perang. Jubah militer hitam pekat menutupi tubuhnya, namun lengan kanannya dibiarkan terbuka, memperlihatkan gauntlet obsidian yang ukurannya sedikit lebih besar dari lengan manusia normal. Rune-rune biru menyala redup dari celah-celah logamnya, berdetak seirama dengan Inti Leviathan di dadanya.
Dari pandangan mata Kaelen, dunia tidak lagi terlihat sama. Ia tidak melihat warna atau keindahan. Retinanya kini memproyeksikan aliran data tanpa henti—kepadatan mana di udara, suhu mesin uap di pelataran, lintasan peluru dari latihan menembak, hingga ritme napas dari lima ribu prajurit di bawahnya. Semuanya adalah variabel. Semuanya bisa dikalkulasi. Kemanusiaannya yang tersisa terkurung jauh di sudut pikirannya, teredam oleh selimut es dari logika absolut.
Terdengar suara langkah kaki mendekat dari belakang. Dua orang. Berdasarkan berat langkah dan gesekan sol sepatu, otak Kaelen langsung mengidentifikasi mereka: Jenderal Kael dan Rexor.
"Tuanku," sapa Kael, menunduk hormat. Mantan komandan Ignis itu kini mengenakan seragam militer hitam tanpa lambang api, hanya ada sulaman benang perak berbentuk gerhana di bahunya. "Pasukan hibrida telah siap. Lima batalion infanteri, masing-masing bersenjatakan senapan uap tipe terbaru. Dan Rexor memiliki sesuatu untuk Anda lihat."
Rexor melangkah maju, wajahnya dipenuhi jelaga namun memancarkan kebanggaan buas. "Kami menyebutnya Null-Bringer, Bos. Kau tahu sisa-sisa batu obsidian purba yang kau hancurkan dari Akar Magma tempo hari? Silas menemukan cara untuk menggiling batu mati itu menjadi serbuk, lalu mencampurnya dengan mesiu murni."
Rexor menunjuk ke arah empat meriam raksasa berlaras panjang di tengah pelataran.
"Saat peluru meriam itu meledak, serpihan batu matinya akan menyebar dan menghisap mana di udara sekitarnya secara instan," Rexor menyeringai lebar. "Ini adalah senjata anti-sihir. Jika ada penyihir yang mencoba menahan tembakan kita dengan perisai magis, peluru ini tidak akan memantul. Ia akan memakan perisai itu dan menghancurkan si penyihir menjadi bubur."
Kaelen tidak menoleh. Matanya tetap tertuju pada barisan rapi pasukan di bawah. "Berapa banyak amunisi yang bisa kalian produksi dalam sepekan?"
"Cukup untuk meratakan setengah ibukota, Tuanku," jawab Rexor.
"Tingkatkan produksinya menjadi dua kali lipat. Kekaisaran tidak akan mengirim setengah pasukannya. Mereka akan mengirim semuanya." Kaelen akhirnya berbalik. Pendar ungu di matanya membuat Kael dan Rexor secara refleks mundur setengah langkah.
Tepat saat Kaelen hendak memberikan perintah lanjutan, suara terompet panjang dan melengking bergema dari arah tebing selatan. Lonceng peringatan langsung dibunyikan oleh para pengintai di menara observasi.
"Jenderal!" teriak seorang pengintai dari atas menara. "Ada utusan! Kapal udara tunggal dari selatan, membawa bendera putih dan emas! Mereka meminta izin mendarat!"
Rexor mencabut pistolnya sambil mendecak kasar. "Utusan Kekaisaran? Setelah kau membantai Inkuisitor mereka? Berani sekali. Biar kutembak jatuh kapalnya."
"Jangan," perintah Kaelen, mengangkat tangan kirinya. "Biarkan mereka mendarat di pelataran luar. Aku ingin mendengar apa yang dibawa oleh anjing kaisar."
Kapal udara berukuran sedang, dihiasi ornamen emas murni dan sayap magis berwarna putih, mendarat dengan mulus di pelataran luar kastil yang telah dibersihkan. Pintu lambungnya terbuka, menurunkan anak tangga pualam portabel.
Seorang pria jangkung melangkah turun. Ia tidak memakai zirah, melainkan jubah diplomatik Kekaisaran yang terbuat dari sutra putih. Di lehernya melingkar kalung dengan lambang matahari bersudut delapan. Wajahnya halus, angkuh, dan dipenuhi rasa jijik yang terang-terangan saat melihat asap kotor mesin uap dan para prajurit jalanan yang mengelilingi kapalnya.
Pasukan Ketiadaan membentuk barikade, menodongkan ratusan senapan uap ke arah pria itu. Namun sang utusan tidak tampak gentar. Ia dikelilingi oleh perisai cahaya tipis yang secara otomatis melindunginya dari ancaman fisik.
Kaelen melangkah keluar dari gerbang utama, diikuti oleh Jenderal Kael, Rexor, dan Lyra yang baru saja bergabung. Langkah Kaelen tenang, namun setiap hentakan sepatu botnya membuat pendar perisai sang utusan berkedip tak stabil.
"Aku adalah Utusan Tinggi Malakor, Suara Langsung dari Singgasana Pusat," deklarasi pria itu dengan suara magis yang diperkuat, menolak untuk menunduk. Matanya menatap Kaelen dengan jijik yang mendalam. "Dan kau pastilah anomali yang disebut Kaelen Adiwangsa. Makhluk kotor yang mencuri artefak suci dari Kawah Hitam."
Kaelen berhenti lima langkah di depan Malakor. "Kaisarmu mengirim seorang birokrat dengan leher kurus untuk mengambil kembali senjatanya?"
Malakor mendengus sinis. "Kaisar Agung tidak merendahkan dirinya untuk bertarung dengan hama. Aku datang membawa Titah Eksekusi Bersyarat. Kekaisaran Pusat telah memanggil Koalisi Lima Klan Bangsawan. Pasukan gabungan berjumlah setengah juta ksatria elemen, lima ratus armada Sky-Galleon, dan tiga Inkuisitor Agung saat ini sedang berbaris menuju Sektor Empat."
Keheningan mencekam menyelimuti pelataran. Jenderal Kael memucat. Setengah juta prajurit elemen adalah kekuatan militer yang mampu menyapu sebuah benua dari peta sejarah.
"Ini adalah kebaikan terakhir dari Sang Kaisar," lanjut Malakor, mengangkat sebuah gulungan perkamen emas. "Serahkan dirimu. Serahkan Mesin Pemakan Dewa itu, dan perintahkan seluruh anjing-anjing kotor ini untuk bersujud menyerahkan wilayah mereka. Jika kau melakukannya, Kaisar berjanji hanya akan memenggal kepalamu, dan membiarkan para pengikutmu hidup sebagai budak tambang. Jika kau menolak... seluruh wilayah ini akan dibakar hingga menjadi kaca."
Malakor menyodorkan gulungan itu dengan tatapan meremehkan. "Pilihlah, Anomali."
Kaelen menatap gulungan emas itu. Wajahnya tidak memancarkan ketakutan, keputusasaan, atau amarah. Ia perlahan mengangkat lengan kanannya. Gauntlet obsidian raksasa itu mendengung keras, memancarkan hawa dingin yang membuat napas Malakor berubah menjadi uap.
"Perisaimu," ucap Kaelen datar, "terbuat dari cahaya murni, bukan?"
Malakor mengernyit. "Perisai ini adalah berkat dari Inkuisisi Tinggi. Tidak ada senjata fisik kotor di tempat pembuangan ini yang bisa—"
Kaelen tidak membiarkan birokrat itu menyelesaikan kalimatnya. Ia merentangkan cakar gauntletnya dan mencengkeram wajah Malakor langsung menembus perisai cahaya itu. Aura Suci yang seharusnya menahan serangan fisik seketika hancur berkeping-keping layaknya kaca tipis yang diremukkan oleh mesin pres baja, diserap tanpa sisa oleh gauntlet obsidian Kaelen.
Malakor menjerit tertahan dari balik cengkeraman cakar baja yang kini mencengkeram tengkoraknya. Gulungan emas di tangannya jatuh ke tanah kotor.
"Kaisarmu salah berhitung," bisik Kaelen, menarik wajah Malakor hingga mata mereka sejajar. Pendar ungu dari gauntlet dan mata Kaelen menyinari wajah utusan yang kini pucat pasi dan gemetar karena teror absolut. "Aku bukan hama yang menunggu untuk dibakar."
Dengan satu sentakan presisi yang tidak mematikan namun melumpuhkan, Kaelen menghancurkan simpul mana di pangkal leher Malakor. Pria angkuh itu menjerit memilukan saat seluruh sihir di dalam tubuhnya dicabut paksa, mengubahnya menjadi manusia biasa yang tak berdaya. Kaelen melempar tubuh Malakor yang lumpuh ke arah tangga kapal udaranya.
"Kembali ke ibukota," perintah Kaelen, suaranya menggema memantul di dinding kastil, terdengar oleh lima ribu pasukannya yang kini menahan napas kagum. "Katakan pada kaisarmu, jangan repot-repot mengirim setengah juta pasukannya kemari."
Kaelen menatap ke arah utara, ke arah langit tempat Ibukota Kekaisaran bersemayam.
"Karena kami yang akan datang untuk menjemput takhtanya."