Zemima dan Arsyad sudah menikah selama dua tahun. Selama itu pula pernikahan mereka baik-baik saja. Apalagi Arsyad juga selalu bersikap baik dan lembut sebagai suami.
Selama itu pula mereka belum di karuniai anak, dan Arsyad tak mempermasalahkan hal itu. Tapi berbeda dengan sang ibu yang menginginkan cucu dengan alasan Arsyad sudah mapan dan memiliki pekerjaan bagus. dia sudah harus punya keturunan.
Namun beberapa bulan terakhir, suaminya sering sekali ke rumah ibunya tanpa mengajak Zemima. Namun suatu hari, saat Arsyad tengah malam pergi diam-diam, Zemima mengikutinya. ternyata Arsyad pulang ke rumah ibunya dan di sambut wanita hamil.
Apa Zemima akan menghancurkan keluarga Arsyad yang sudah membohonginya? padahal pekerjaan bagus yang di dapat Arsyad tak lepas dari bantuan Zemima. Mereka tidak tahu kalau Zemima adalah pewaris tunggal perusahaan besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zemima 28
Zemima membiarkan ponsel mahal berlogo apel gigit itu berdering hingga getarannya mereda di atas meja marmer. Matanya menatap layar yang menampilkan foto profil Arsyad, pria yang dulunya ia tumpuhi seluruh harapan hidupnya.
20 Panggilan Tak Terjawab.
35 Pesan WhatsApp.
Zemima menggeser layar ponselnya tanpa terburu-buru. Senyum sinis terukir di bibirnya saat membaca rentetan pesan dari sang suami:
'Zemima, kamu di mana?! Jawab telepon Mas!'
'Kamu sebenarnya kerja di mana sih?! Kasih tahu Mas sekarang alamat kantor kamu!'
'Mas mau jemput kamu, kita makan siang bareng! Kita bicarakan masalah ini baik-baik!'
'Balas, Zemima! Jangan bikin Mas emosi! Nggak usah main rahasia-rahasiaan lokasi kantor begini!'
Zemima terkekeh pelan, suara tawa renyah namun sarat dengan cemoohan.
"Makan siang? Baru sekarang kamu peduli dan ingin tahu di mana kantorku, Arsyad? Apa kamu mulai penasaran dan atau kamu mulai tahu sesuatu..."
Selama dua tahun menikah, Arsyad memang tidak pernah sudi bertanya di mana kantor tempat istrinya bekerja. Di pikiran pria itu, Zemima hanyalah pegawai staf biasa di kantor swasta kecil yang gajinya tak seberapa, sama sekali tidak penting untuk ditanyakan.
Tepat saat ia hendak meletakkan kembali ponselnya, panggilan ke-9 masuk. Nama 'Mas Arsyad' kembali berkedip-kedip di layar.
Zemima sengaja membiarkan deringnya terdengar beberapa kali sebelum akhirnya menggeser tombol hijau, memindahkan suara ke mode speakerphone, lalu meletakkannya dengan santai di meja.
'Zemima! Akhirnya diangkat juga!' suara Arsyad terdengar meledak-ledak dari seberang telepon.
'Kamu ini ke mana aja sih dari tadi?! Telepon dari Mas disengaja nggak diangkat, kan?!'
"Ada apa, Mas?" sahut Zemima sangat tenang, bahkan terlalu dingin. Tangannya sibuk mengoleskan kembali lipstik di bibirnya seraya menatap pantulan dirinya di cermin.
"Aku sedang sibuk di kantor. Ada hal penting?"
'Kamu kerja di mana sebenarnya, Zemima?!' cecar Arsyad tanpa basa-basi, suaranya sarat akan rasa penasaran yang membakar dan kekesalan yang ditahan.
'Kirim share location kamu sekarang! Mas mau ke sana, Mas mau jemput kamu buat makan siang! Kita harus bicara! Mas akan menjelaskan semuanya. Semua kesalah pahaman kamu!'
Zemima menghentikan gerakan tangannya, menyunggingkan senyum yang teramat manis namun beracun.
"Makan siang? Tiba-tiba sekali, Mas? Bukankah biasanya kamu makan siang bersama staf-staf kesayanganmu di kantor cabang? Apalagi kamu juga kan sedang sibuk mengurus proyek Surabaya? Selain itu kamu bukannya akan mendapatkan promosi dari kantor untuk menjadi pimpinan di kator cabang perusahaan Altamas Group?'
'Mas punya banyak waktu, Dek. Sebelum memang beberapa hari kedepan akan cukup sibuk... Setidaknya kita harus menghabiskan waktu berdua, sayang... Akhir-akhir ini kamu sepertinya terlalu emosional... Mas tahu salah karena tidak cerita sama kamu kalau ada sepupu yang tinggal bersama dengan ibu...'
'Sebaiknya kita bicara sayang... Sekalian kita konsultasi ke dokter... Kita akan mulai proses untuk memiliki anak... Bukannya kamu sangat ingin memiliki anak sayang...'
"Ibu kamu yang ingin punya anak, Mas! Aku kan mengikuti keiginan kamu yang selalu menunda ingin punya anak dengan berbagai alasan. Mungkin memang kamu tak ingin punya anak dariku, atau mungkun kamu lebih mau memiliki anak dari perempuan lain?"
'Sayang! Kenapa kamu malah ngomong gitu sih? Mana mungkin Mas berfikiran seperti itu! Mas hanya sayang dan mencintai kamu... Kamu tahu alasan Mas menunda momongan sayang..."
"Iya aku sangat tahu! Selain mengejar karir, Mas juga memanjakan keluarga Mas itu. Sehingga mereka juga takut kalau jatah mereka akan di pangkas untuk kebutuhan anak kita kan? Ah rasanya sekarang malah aku yang tak berniat memiliki anak, Mas! Apalagi selama empat bulan kesepian rasanya aku sudah terbiasa sih... Lebih enak hidup sendiri dih..."
'Dek! Kenapa kamu malah bicara seperti itu? Sekarang katakan pada Mas, dimana kamu bekerja? Kita bertemu dan makan siang bersama agar semuanya lebih jelas kuta bicara secara langsung...'
"Kalau kamu memang begitu penasaran dan ingin makan siang bersamaku, jemput aku di gedung Altamas Group Pusat jam satu siang ini," sahut Zemima datar, nada suaranya mengayun tenang tanpa beban.
Hening seketika menyapu sambungan telepon. Di seberang sana, deru napas Arsyad terdengar memburu kasar, bercampur dengan bunyi klakson kendaraan yang samar-samar bersahutan.
'Kamu... ngomong apa tadi?' cicit Arsyad gagap, meragukan pendengarannya sendiri.
'Altamas Group Pusat?! Zemima, kamu jangan gila ya! Mau ngapain kamu di sana?! Jangan bilang kamu sengaja main-main ke gedung pusat cuma buat bikin Mas pusing!'
Zemima tersenyum tipis seraya menatap pantulan dirinya di cermin.
"Kenapa, Mas? Kenapa kamu sekaget itu? Bukankah kamu yang memaksa ingin jemput aku? Jemput aku di lobi utama Altamas Tower. Tapi ingat, aku tak suka menunggu. Kalau kamu terlambat, aku batalkan makan siangnya."
'Tapi, Dek... Altamas Tower itu gedung utama holding! Akses masuk ke sana itu sangat ketat! Mas yang calon pimpinan cabang saja harus pakai izin resmi kalau mau ke sana! Kamu... kamu staf divisi apa di sana?! Kok dari dulu nggak pernah cerita kalau kantor kamu di Altamas Pusat?!' cecar Arsyad bertubi-tubi. Rasa panik, bingung, dan minder mendadak membakar kepalanya.
"Nanti kita bicarakan di kafe, Mas. Kita makan siang di Kopi Sapa Cafe di seberang kompleks Altamas Tower saja supaya lebih santai," potong Zemima dingin, tak memberi ruang untuk Arsyad menginterogasi lebih jauh.
"Datang tepat waktu kalau kamu benar-benar bermaksud menjelaskan semuanya."
'Dek! Tunggu dulu, Zemi...!'
Bip.
Zemima mematikan sambungan telepon secara sepihak. Ia meletakkan ponselnya di atas meja marmer, lalu menghenbuskan napas pelan. Jemari lentiknya menekan tombol interkom.
"Maya," panggil Zemima dengan suara penuh otoritas.
"Ya, Bu Zemima?" sahut suara Maya cepat.
"Pukul satu siang nanti suamiku akan datang menjemput ke lobi utama. Instruksikan tim keamanan lobi bawah... jika pria bernama Arsyad datang, biarkan dia menunggu di lobi tanpa perlu membuat keributan. Dan siapkan mobil, kita berangkat ke Kopi Sapa Cafe beberapa menit setelah dia tiba."
"Baik, Bu Zemima. Apakah dokumen bukti penggelapan dana dan fasilitas perusahaan untuk Pak Arsyad dan Dina perlu dibawakan?"
Zemima menyunggingkan senyum misterius yang sarat akan intrik.
"Simpan dulu dokumen itu, Maya. Belum waktunya panggung pertunjukan ini ditutup. Aku hanya ingin menikmati setiap baris kebohongan yang keluar dari mulutnya siang ini."
"Baik, Bu Zemima..."
'Baiklah, Mas Arsyad sekarang apa lagi kebohongan yang akan kamu rangkai? Aku yakin teman kamu itu mengatakan sesuatu tentang pemimpin perusahaan Altamas. Makanya kamu buru-buru bertemu denganku... Tapi sayangnya semua sudah terlambat, Arsyad... Cintaku sudah terkikis bersama dengan semua kebohongan dan juga pengkhianatan kamu..."