Pout for Me, Little Mouse.
Keylana Reinhardt, Putri seorang raja perbankan lokal Jerman, diatur ke dalam pertunangan dengan Julian Donnersmarck -- Seorang Miliarder muda dari Berlin yang arogan, pragmatis dan bergaul dengan bebas.
Setelah disatukan, mereka tinggal bersama di Berlin, Kota kelahiran Julian. Tidak ada satu hari pun tanpa perdebatan. Julian tidak meninggalkan kebiasaan moral yang buruk sedangkan Keylana tak kalah nakal, memanggil Julian dengan nama depannya.
Ini tentang Rasionalitas yang terus dipertanyakan dan Perasaan yang dianggap tidak penting.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bubble🫧, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Kegelisahan
Lana keluar dari kamar mandi yang beruap dengan mengenakan handuk dan rambut yang masih lembab. Jejak kaki lembab di marmer mengikuti saat ia berjalan melintasi ruangan ke koper yang tidak ia dibongkar.
Vila luas ini terasa sepi, Sebuah kemewahan yang disediakan oleh Julian. Ia menyiapkannya untuk keluarganya yang datang dari Munich walau hanya diisi empat orang.
Sebuah jubah sutra putih tersampit di tepi meja rias saat Lana mulai mengeringkan rambutnya.
Suara pengering rambut memenuhi kesunyian kamarnya. Pantulan dirinya di cermin tampak melamun.
Lana berpikir berpikir bahwa dilihat dari segi manapun, Pertunangan ini sepenuhnya berhasil.
Julian luwes dalam mengurus hubungan dua rumahtangga. Dia bertanggungjawab atas hal yang tidak diminta demi kenyamanan keluarga seperti vila ini. Dalam kesetaraan, ia secara pribadi terus menyusul keluarga Reinhardt.
Dan malam ini, di pesta pun tanpa cela KECUALI isi pikiran lana sendiri.
Dalam segi apapun, Julian sangat sesuai dengan apa yang keluarga butuhkan. Untuk ku.....
Itu berbeda, Atau tidak.
Lana akan mendapatkan segalanya, kehidupan di sisi Julian yang sepenuhnya berkecukupan dan disaat bersamaan hubungan bisnis akan berjalan baik.
Lalu kenapa?
Mengapa terasa berat sekali dan aneh untuk sepenuhnya menyerahkan semua dalam hubungan ini pada Julian. Mengapa harus terus melawan alih- alih terhanyut seperti air mengalir.
Jubah itu bergemerisik lembut di tubuh lana, Ia Mengikat tali pitanya di pinggang sambil melihat pantulan dirinya. Rambut hitam dan mata biru yang gelisah tanpa sebab.
Apakah secara fisik, ini... Cukup?
Lana menengadahkan wajahnya dengan mengusap dengan kedua tangan. Rasa kurang percaya diri itu muncul lagi.
Bukan perasaan biasa seperti saat takut tampil di panggung, ini seperti sedang menusuk jiwa secara berkepanjangan.
Alasan dari kegelisahannya jelas karena Kebebasan Julian. Bagaimana seorang pria lajang yang menjanjikan dan terasa nyaman bagi wanita diluar itu membagikan dirinya.
Jika Playboy adalah ejekan, Maka neraka adalah situasi perasaan Lana.
Ia duduk di tepi tempat tidur setelah rutinitas malamnya selesai, menatap kakinya yang terbalut sendal putih tapi pikirannya berada di tempat lain.
Dua tahun berada dalam hubungan beracun telah merubah banyak hal. Lana seperti mengalami Lima tahun pelajaran hidup, bukan dua.
Mengetahui tentang wanita lain bukanlah hal yang membuatnya terkejut karena ia telah mengetahuinya sebelum menerima lamarannya, tapi rasanya mengalami itu adalah hal yang baru dan sialnya nyata.
Haruskah ia kembali, pergi dari tempat ini?
Beberapa orang mengatakan bahwa ia telah menemukan jalan yang tepat.
Julian adalah pilihan tepat untuk penyatuan ini
Bisnis tidak mengenal perasaan
Orang sepertinya tidak ada lebih dari satu
Kehidupanmu akan terjamin
Yang lain, adalah yang lana sukai.
Hubungan beracun tidaklah berhasil
Terkadang logika bukan segalanya, perasaan bisa lebih masuk akal untuk dirimu sendiri
Dan yang sedikit lebih brutal.
Itu kebodohan, dimana harga dirimu?! membiarkan dirimu diinjak-injak!
Lana tidak bisa menyangkal bahwa ia sendiri tidak tau apa yang ia lakukan. Ia tidak sepenuhnya menyerah tapi juga tidak melawan secara berlebihan.
Terus menunda-nunda keputusan yang akan menentukan hidupnya, tapi waktu berlalu dua tahun sejak ia menunda.
Lana menghela nafas berat, berbaring di tempat tidur menarik selimut sampai ke bahu.
Matanya melihat ke dinding saat ia meringkuk ke samping, memperlihatkan dinding seolah itu lebih penting dari tidurnya.
Ia berguling ke sisi lain lalu kembali ke sisi awal, lalu tengkurap dan menghadap langit-langit.
Setiap pembangkangan adalah upaya perlawanan dari rasa sakit. Setiap pembangkang adalah pagar yang membatasinya dari aliran sungai yang bisa menyeretnya ke dalam aliran yang tidak ia ketahui hilirnya.
Dan aturan?
Lana mendengkus, Lengannya menutupi dahinya.
Setengahnya benar dan setengahnya adalah salah satu bagian dari upaya membatasi. Lana tidak mau dirugikan, tidak ingin pagarnya jebol tanpa hasil pasti.
Julian tidak mendapatkan apa yang ia inginkan, Lana tidak kehilangan miliknya.
Berapa banyak wanita yang dibuang seperti sampah, menderita karena ekspetasinya pada seorang pria. Berakhir dengan fisik dan mental yang tercabik, dan lana tidak bisa menjamin dirinya berbeda dari mereka.
Hanya itu upaya putus-asanya untuk menjaga dirinya sendiri.
...---...
Jam berdetak melewati tengah malam, Berlin tetap tidak tertidur.
Julian telah sampai ke penthousenya, Langit-langit tinggi dengan kemewahan dan nuansa warna gelap dan maskulin walau lana juga sesekali tinggalkan disana.
Julian duduk di tempat tidurnya, jubah sutra gelap dibiarkan terbuka saat duduk bersandar di kepala tempat tidur.
Rambut hitamnya yang lembab meneteskan air ke selimut kashmir di bawahnya, Ibu jarinya berada di atas layar kunci selama beberapa detik sebelum mengusapnya dengan tegas.
Layar menyala dan menampilkan layar utama Lana -- fotonya dari liburan musim di aspen tahun lalu.
Ia tersenyum puas saat dia menelusuri pesan-pesan terbaru Lana. Sebagian besar normal saja - pesan teks dari teman sekelas tentang pertanyaan atau pengingat tentang ujian yang akan datang.
Tapi ada satu thread yang langsung menarik perhatiannya - percakapan dengan teman sekelas laki-laki bernama Ethan.
Pesan-pesannya awalnya biasa saja -- mempelajari rencana, pembaruan proyek -- tetapi kemudian berubah menjadi lebih genit.
Ethan: Hai Keylana, kamu terlihat sangat cantik di kelas hari ini. Apakah aku sudah memberitahumu hal itu?
Stempel waktu menunjukkan bahwa itu telah dikirim dua hari yang lalu, pada malam hari.
Balasan Lana singkat dan manis: Terima kasih, Ethan. Kamu terlalu baik.
Setelah pertukaran itu, tidak ada pesan lebih lanjut dari salah satu pihak selama hampir 24 jam.
Lalu datang pesan lain dari Ethan: Hei, Mungkin kita bisa minum kopi di luar proyek kelompok? Hanya kita?"
Pesan lainnya menyusul: Atau jika kamu sibuk, kamu bisa menentukan waktunya.
Pesan itu dicap tadi malam, jam biasa lana sudah tidur.
Lana sepertinya tidak membaca pesan teks tersebut karena dia sedang sibuk mempersiapkan pergi ke pesta.
Julian menggenggam telepon erat-erat seolah bisa melukai pria itu secara langsung.
Ia berkali-kali membaca ulang undangan Ethan. Sebuah otot berkedut di rahangnya. Keyakinan santai dalam kata-kata pria itu terasa seperti tantangan langsung padanya.
Hanya kita berdua? Jempol Julian mengetik di atas keyboard dengan agresif.
Tanggapannya terhadap Ethan langsung muncul di layar ponsel. Penuh semangat yang membuat Julian semakin kesal. Ia kembali mengetik dengan marah ke aplikasi perpesanan Lana.
Lana: Maaf, Ethan. Aku sibuk.
Konfirmasi 'terkirim' muncul sebentar sebelum Julian mengunci telepon dan melemparkannya ke meja samping tempat tidurnya dengan keras menciptakan suara dentuman.
Tetesan air terciprat dari rambutnya yang basah saat dia berdiri tiba-tiba, mondar-mandir di sepanjang kamar tidurnya yang luas.
"Hanya kita berdua."
Julian bergumam pelan, mengusap rambutnya yang masih basah dari dahinya. Pria seperti itu mustahil hanya satu. Lana terlalu manis jika dibiarkan melayap sendirian, terutama selalu terlihat lajang.
Julian berhenti mondar-mandir dan berbalik menghadap jendela, menatap kota yang berkilauan seperti bintang.
Pantulan dirinya di kaca menunjukkan seorang pria yang terlihat kurang percaya diri dibandingkan biasanya.
"Ethan sialan!"
Julian mengacak-acak rambutnya dengan frustasi, membuat tetesan air beterbangan.
"Dia mengira dia bisa masuk begitu saja ke DM pacarku seperti itu?"
Pikirnya, Tunangannya berarti miliknya. Yang berarti juga pacarnya walau selama ini mereka seperti musuh.
"Dia pikir dia siapa?"
Pantulan Julian di kaca gelap memperlihatkan seorang pria yang sedang mendidih karena amarah yang protektif.
Dia berpaling dari jendela untuk berjalan dengan gelisah melintasi lantai kamar tidurnya.
"Dia melihatnya di kelas selama satu jam seminggu dan berpikir itu memberinya hak untuk memanggilnya cantik." Gerutunya.
"Cantik?"
Julian mendengus keras, kata itu terasa pahit di lidahnya.
"Dia cantik. Benar-benar menakjubkan. Si idiot itu pikir dia punya kesempatan?!"
Langkah Julian semakin gelisah lalu berhenti sambil meletakkan dua tangan di pinggulnya
Dia membayangkan Lana duduk di seberang Ethan di sebuah kafe, menertawakan lelucon konyol bersama. Gambaran itu hampir membuatnya ingin berubah menjadi monster yang menghancurkan kota jika dia bisa.