NovelToon NovelToon
KAMPUNG JIN

KAMPUNG JIN

Status: tamat
Genre:Horor / Rumahhantu / Misteri / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Devi Wahyuni Halim

Arga pulang ke dusun terpencil di Banyuwangi warisan kakeknya, di kaki Gunung Raung.

Kampung itu aneh, Azan terdengar jam 3 pagi tanpa muadzin, rumah kosong tapi piring masih hangat. Warga tutup pintu sebelum maghrib.

Ternyata kampung itu dibagi dua: Jin Islam yang sholat dan menjaga, dipimpin Ustadz ghaib bernama Malik dan Jin Kafir haus tumbal yang disegel di pohon beringin Alas Purwo.

Kepulangan Arga membangunkan Jin Kafir. Sekarang dia harus pilih: kabur dan biarkan gadis yang dia suka jadi tumbal, atau sumpah setia jadi penjaga manusia untuk pasukan Jin Islam.

Kalau kalah, kampung ini akan hilang dari peta Banyuwangi selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi Wahyuni Halim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Perang Di Alam Seberang

Tangisan bayi "Ayah... Ayah..." dari dalam akar Beringin Kembar yang menganga empat meter itu semakin keras.

Malik, Ustadz Ghaib yang bercahaya putih 79 tahun, sekarang cahayanya berkedip. Putih - hitam - putih - hitam. Seperti lampu mau mati.

Tangannya yang tadinya pegang tongkat cendana, sekarang merangkak ke arah kain kafan bayi dan foto hitam putih dirinya menggendong bayi.

"Fat... Fatimah... anakku..." Malik menangis, air matanya cahaya putih menetes jadi api.

Aku tahu, kalau aku tidak lakukan sesuatu, Malik akan berkhianat. Tapi jangan sampai itu terjadi sekarang, Aku harus cegah.

Aku ingat pesan Mbah Suro Joyo Perjanjian Darah"Kalau penjaga ghaib hampir hitam, masukkan dia ke masjid tanpa karpet, suruh dia sholat di atas retakan."

Aku ambil tongkat cendana Malik yang berat itu, aku pukul pelan punggung Malik.

"Ustadz Malik! Ingat! Kamu Ustadz Ghaib! Kamu yang ajari aku Tahajud penjaga ! Kamu bukan Jin Kafir!" teriakku.

Malik menoleh, matanya sudah setengah hitam, setengah putih. "Arga... bunuh saya... kalau saya masuk ke sana, saya akan jadi Raja baru... anak saya di dalam..."ucap Malik.

Tidak ada waktu. Akar Beringin Kembar yang menganga empat meter itu sekarang sudah lima meter, dan dari dalamnya keluar tangan-tangan hitam kecil, tangan anak-anak bermata hitam, menarik jubah Malik.

Aku seret Malik. Aku seret tubuh cahaya seberat 80 kg itu sendirian, dari Beringin Kembar ke Masjid Tua Tanpa Karpet, jarak 50 meter. Jalannya lumpur, berat.

Sampai di masjid, retakan tiga meter kemarin, sekarang sudah lima meter juga, sinkron dengan gerbang beringin. Lantai cahaya masjid robek besar, dari robekan itu keluar asap hitam dan suara perang, suara pedang, suara kuda, suara takbir dan suara tawa kuntilanak bercampur.

Itu Alam Seberang. Alam Jin.

Malik jatuh tepat di atas retakan lima meter itu.

Begitu tubuh Malik menyentuh retakan, BLLLARRR!

Cahaya putih dan hitam bertabrakan. Masjid berguncang. Aku terpental tiga meter.

Retakan itu menarik kami berdua. Menarik aku dan Malik masuk ke dalam.

Aku tidak sholat. Aku tidak baca doa. Aku ditarik paksa.

Gelap. Dingin. Bau darah 100 tahun.

Aku buka mata.

Aku sudah tidak di Dusun Krajan.

Aku di Alam Seberang.

Langitnya merah darah, tidak ada matahari, tidak ada bulan, hanya api yang terbang di langit seperti burung. Tanahnya bukan tanah, tapi tulang-tulang manusia dan tulang hewan bertumpuk jadi tanah, kalau diinjak berderak.

Di depan aku, ada dua pasukan besar sedang perang.

Di sebelah kanan, pasukan Jin Islam. Jumlahnya 300, dipimpin Kiai Jirji dengan jubah hijau, bawa pedang cahaya, takbir Allahu Akbar. Di belakangnya ada keluarga-keluarga Jin Islam lain yang selama ini di rumahku.

Di sebelah kiri, pasukan Jin Kafir. Jumlahnya 1000, lebih banyak 3 kali lipat. Dipimpin Banaspati, Raja Iblis Kampung, tinggi 4 meter, kepala kerbau bermahkota tulang, mata merah, bawa gada besar dari tulang sapi. Di samping Banaspati, ada Ulo Sowo yang seharusnya sudah aku bunuh, tapi di alam ini dia hidup lagi, tubuh ularnya lebih besar 10 kali. Dan di depan pasukan Jin Kafir, ada 20 anak kecil bermata hitam, dan di depan mereka ada satu anak yang pakai kain kafan bayi, tapi sudah besar, umur 5 tahun, wajahnya mirip Malik.

Itu anak Malik.

Perang di Alam Seberang sudah dimulai sejak 1947, tapi malam ini puncaknya karena aku bawa Malik masuk.

Banaspati melihat Malik yang tergeletak di tanah tulang, setengah putih setengah hitam.

"HAHAHA! MALIK! AKHIRNYA KAU KEMBALI! KAU BAWA PENJAGA BARU UNTUKKU!?" suara Banaspati menggelegar, membuat tulang-tulang di tanah beterbangan.

Malik mencoba berdiri, tapi tangannya hitam.

Anak kecil yang mirip Malik itu, anaknya, lari ke arah Malik, "Ayah! Ayah! Ayo ikut kami! Ibu menunggu!"

Malik goyah. Dia mau berdiri ke arah anaknya, ke arah pasukan Jin Kafir.

Aku harus lakukan sesuatu. Aku di alam Jin, aku manusia satu-satunya. Aku tidak punya Banyu Suci. Aku hanya punya tongkat cendana Malik.

Aku ingat mereka Yang Sholat di Tengah Malam. Tahajud penjaga.

Di tengah perang 1300 Jin yang saling tebas pedang cahaya dan gada tulang, aku, Arga, manusia, sujud. Sujud di atas tanah tulang.

Aku sholat. Tidak ada sajadah, tidak ada karpet. Sama seperti Masjid Tua Tanpa Karpet. Aku sholat Tahajud di Alam Seberang.

"Allahu Akbar..."

Begitu aku takbir, sesuatu terjadi.

Dari langit merah Alam Seberang, turun cahaya putih seperti di masjid kemarin. Cahaya itu tidak turun ke pasukan Jin Islam. Tapi turun ke aku.

Tubuhku bercahaya. Sujudku bercahaya.

Semua Jin, baik Islam maupun Kafir, berhenti perang, menoleh ke aku.

Banaspati marah, "MANUSIA SHOLAT DI ALAM KAMI! BUNUH DIA!"

20 anak bermata hitam, termasuk anak Malik, lari ke arahku, mau bunuh aku saat sujud.

Tapi Kiai Jirji dan 300 pasukan Jin Islam melompat, membuat lingkaran di sekelilingku yang sedang sujud, pedang cahaya mereka berputar.

"JANGAN SENTUH PENJAGA! DIA SEDANG SHOLAT!" teriak Kiai Jirji.

Perang paling brutal terjadi di sekelilingku yang sedang sujud tahajud. Pedang cahaya tebas leher Jin Kafir, kepala kerbau Banaspati dipenggal tapi tumbuh lagi, darah hitam muncrat ke tubuhku yang sujud.

Aku tetap sujud, baca doa yang sama: "Ya Hafidz, Ya Mani', Ya Jabbar, Ya Mutakabbir, tutup gerbang ini..."

Doaku di Alam Seberang, efeknya 100 kali lebih kuat dari di dunia manusia.

Tanah tulang di bawahku retak, keluar cahaya putih dari bawah, cahaya itu menyebar, membakar tulang-tulang.

Anak kecil yang mirip Malik yang mau bunuh aku, begitu kena cahaya sujudku, dia menjerit, mata hitamnya hilang, matanya jadi normal, hitam putih seperti manusia, dan dia menangis, "Ayah! Sakit!"

Malik yang lihat anaknya kesakitan karena cahaya sujudku, tiba-tiba cahaya putihnya kembali penuh. Hitamnya hilang.

Malik berteriak, "ANAKKU!"

Dia lari, menerobos perang, memeluk anaknya yang sedang terbakar cahaya.

Begitu Malik memeluk anaknya dengan cahaya putih, anak itu berubah. Kain kafan bayinya hilang, jadi baju putih santri kecil.

Banaspati melihat itu, dia marah besar, dia angkat gada tulangnya, mau pukul aku dan Malik dan anaknya sekaligus.

Gada besar itu turun...

Dan...

Aku terbangun.

Aku kembali di Masjid Tanpa Karpet di Dusun Krajan. Retakan lima meter masih ada, tapi sudah tidak berasap hitam, sudah bercahaya putih lagi, tertutup sedikit jadi dua meter.

Malik tergeletak di sampingku, masih peluk anak kecil santri umur 5 tahun yang bercahaya putih, anaknya, yang sudah kembali jadi Jin Islam, bukan Jin Kafir.

Anak bermata hitam pemimpin pasukan tadi, sekarang sudah jadi anak santri biasa, tidur di pelukan ayah mereka.

Perang di Alam Seberang malam ini, dimenangkan oleh satu sujud manusia di tengah 1300 Jin.

Malik menatap aku, air matanya masih cahaya.

"Arga... kamu baru saja sholat di alam yang tidak pernah dimasuki manusia hidup sejak Mbah Suro Joyo 1984... kamu tutup gerbang dari dalam..."

Di luar masjid, langit hitam yang menutupi dusun akhirnya hilang total. Bulan purnama terlihat jelas untuk pertama kalinya.

Tapi di bawah Beringin Kembar, kain kafan bayi yang tadi, sekarang kosong, tapi ada darah segar menetes dari akar yang masih menganga dua meter.

Darah Banaspati. Raja Iblis terluka karena santetnya berbalik dan anak buahnya direbut.

Dan Banaspati tidak akan diam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!