NovelToon NovelToon
Hadiah Terakhir Untuk Suami Dan Keluarganya

Hadiah Terakhir Untuk Suami Dan Keluarganya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Asrial

Dianggap tak berguna dan diperlakukan seperti pembantu, Laras akhirnya melancarkan pembalasan manis pada suami dan keluarga mertuanya.

Selama tiga tahun, mereka tidak pernah tahu bahwa fasilitas mewah yang mereka nikmati sebenarnya berasal dari bisnis rahasia Laras.

Malam saat mereka pulang merayakan kenaikan jabatan Bagas, Laras sudah menarik seluruh asetnya, menyisakan rumah kosong, gunung utang, dan surat cerai yang siap menghancurkan kesombongan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asrial, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesta Mewah Tanpa Laras

Larasati membiarkan tubuhnya bersandar di balik pintu kamar yang tertutup rapat. Ia memejamkan mata sejenak, mendengarkan suara langkah kaki Bagas yang mondar-mandir di depan kamarnya seperti binatang buas yang terperangkap dalam sangkar kecil.

"Laras! Jangan pura-pura mati di dalam sana!" suara Bagas menggelegar, disertai dengan dentuman keras pada daun pintu kayu yang bergetar hebat.

"Kau pikir kau bisa mengabaikanku setelah apa yang kau lakukan hari ini? Keluar, atau aku akan mendobrak pintu ini sekarang juga!" ancam Bagas dengan nada yang melengking tinggi, menandakan ego pria itu sudah tergores dalam.

Laras hanya menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang berdegup kencang karena adrenalin. Ia bisa merasakan dinginnya permukaan pintu di punggungnya, namun ia tidak merasa takut sedikit pun.

"Bagas, berhenti berteriak seperti orang gila," ujar Laras dengan suara tenang, hampir berbisik, meski ia tahu suaranya mungkin tidak terdengar jelas di balik tebalnya kayu pintu tersebut.

"Lebih baik kau urusi ibumu dan adikmu, daripada menghabiskan energi untuk hal yang tidak akan ada gunanya lagi," tambahnya lagi, kali ini lebih tegas dan dingin.

Di luar kamar, suara Ibu Melati kini ikut menimpali dengan nada yang jauh lebih tajam dan penuh kebencian. "Lihat anak tidak tahu diuntung itu, Bagas! Dia bahkan berani menantangmu sekarang!"

"Aku sudah bilang, dari dulu dia itu perempuan tidak tahu diri. Seharusnya dulu kita tidak perlu menerima dia masuk ke dalam keluarga kita," pekik Ibu Melati, suaranya melengking tinggi di sepanjang lorong rumah.

Laras mendengarkan setiap umpatan itu dengan perasaan hambar. Dahulu, kata-kata itu mungkin akan membuatnya menangis tersedu-sedu di lantai kamar, namun sekarang, setiap hinaan terasa seperti konfirmasi bahwa pilihannya untuk meninggalkan mereka adalah keputusan yang paling benar.

"Laras, buka pintunya sekarang juga! Siska lapar, dan kau belum menyiapkan apa-apa di meja makan!" teriak Siska dengan nada memelas yang dibuat-buat, persis seperti kebiasaannya saat ingin memanipulasi situasi.

"Kak Bagas, lihat itu, dia benar-benar sudah berani melawanku. Apa mungkin dia sudah punya simpanan lain, makanya dia jadi sok berani begini?" tanya Siska dengan nada yang lebih provokatif, sengaja memanasi suasana agar Bagas semakin murka.

Laras tersenyum getir di balik pintu. Ia membayangkan wajah Siska yang sedang memegang ponsel, mungkin sedang asyik berswafoto atau mengeluh di media sosial tentang betapa menderitanya mereka karena ketiadaan pelayan di rumah ini.

"Simpanan?" bisik Laras pada dirinya sendiri, terkekeh pelan. "Kalian bahkan tidak tahu kalau selama ini kalianlah yang hidup dari uang simpananku."

Ia melangkah menjauh dari pintu, berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke halaman belakang. Cahaya lampu taman yang temaram menerangi dedaunan yang bergoyang ditiup angin malam, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di lantai kamarnya.

"Dengar ya, Laras! Kalau sampai besok pagi tidak ada sarapan di meja makan, aku tidak akan segan-segan untuk menceraikanmu secara resmi!" teriak Bagas lagi, kali ini dengan ancaman yang terdengar sangat konyol bagi Laras.

Laras tertawa kecil, suara tawanya terdengar lirih namun penuh dengan kemenangan yang tertahan. "Silakan, Bagas. Silakan lakukan itu, karena aku pun sudah tidak sabar menunggu saat itu tiba."

Suasana di luar kamar kembali hening sejenak, seolah-olah Bagas dan Ibu Melati terkejut mendengar balasan dari Laras yang begitu tenang. Bagas tidak terbiasa dengan sikap Laras yang tidak lagi memohon maaf atau merengek untuk dimaafkan.

"Kau bilang apa tadi?" tanya Bagas, suaranya kini sedikit merendah, menunjukkan keraguan yang mulai merayap. "Apa kau baru saja menantangku untuk bercerai?"

Laras tidak menjawab. Ia justru duduk di kursi riasnya, menatap bayangan dirinya di cermin. Ia memperhatikan bagaimana matanya yang dulu terlihat lelah kini mulai memancarkan sorot mata yang tajam dan penuh dengan kepastian masa depan.

"Jawab aku, Laras! Jangan diam saja seperti pengecut di dalam sana!" teriak Bagas kembali, kali ini dengan nada yang lebih frustrasi daripada sekadar amarah.

"Kak, biarkan saja dia. Mungkin dia sedang kerasukan setan atau memang sudah bosan hidup enak," sahut Siska dengan nada meremehkan yang sengaja dikeraskan agar bisa didengar oleh Laras.

"Besok juga dia pasti akan bersujud di kaki Kakak kalau dia tahu kita tidak akan memberinya uang untuk kebutuhan pribadinya," lanjut Siska dengan tawa puas yang terdengar sangat memuakkan bagi telinga Laras.

Laras menutup matanya, membiarkan keheningan kembali menguasai ruangan. Ia tidak memedulikan apa pun yang mereka katakan. Baginya, mereka hanyalah suara-suara latar belakang dari sebuah drama yang akan segera mencapai babak penutupnya.

Ia mengambil dokumen-dokumen yang sudah ia persiapkan dengan rapi di dalam tasnya. Ia menatap map berisi catatan keuangan dan bukti kepemilikan aset yang selama ini ia sembunyikan dengan sangat hati-hati.

"Kalian tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi sampai fajar menyingsing," gumamnya pelan.

Laras bangkit berdiri dan berjalan menuju lemari, ia mematikan lampu kamar, membiarkan kegelapan menyelimuti ruangan itu. Ia ingin mereka berpikir bahwa ia telah tidur, atau mungkin telah pergi meninggalkan rumah.

"Ibu, mungkin dia sudah pergi membawa barang-barangnya?" tanya Siska dengan suara yang tiba-tiba berubah menjadi penuh kecemasan.

"Jangan bodoh, Siska. Dia mau ke mana malam-malam begini? Dia itu tidak punya tempat lain selain rumah ini," balas Ibu Melati dengan nada yang mencoba meyakinkan dirinya sendiri, meski terselip nada cemas di sana.

"Laras, keluar sekarang! Aku serius! Kalau kau tidak keluar dalam hitungan ketiga, aku akan mendobrak pintu ini dengan paksa!" teriak Bagas, terdengar suara langkah kakinya yang berat bergerak mundur, bersiap untuk menabrak pintu.

Laras tetap berdiri di samping tempat tidur, mematung dengan tenang. Ia tahu Bagas tidak akan benar-benar mendobrak pintu itu karena pria itu sangat mencintai harga diri dan barang-barang mewahnya. Kerusakan sedikit saja pada pintu rumah akan menjadi beban biaya yang harus dikeluarkan oleh Bagas sendiri, sesuatu yang sangat ia benci.

"Satu," hitung Bagas dengan suara yang berusaha dibuat mengancam.

"Dua," lanjutnya, suaranya bergetar sedikit karena ia tidak mendapatkan reaksi apa pun dari dalam kamar.

Laras memejamkan mata, membiarkan keheningan menjadi senjata utamanya. Ia sudah tidak lagi takut pada ancaman-ancaman kosong yang selama ini menjadi makanan sehari-harinya.

"Tiga," Bagas mengakhiri hitungannya, namun pintu itu tidak disentuhnya.

Hening yang menyelimuti rumah itu kini terasa lebih berat dan menekan. Tidak ada suara gedoran, tidak ada teriakan, dan tidak ada lagi suara Siska yang mengejek. Mereka semua kini terjebak dalam kebingungan dan kecemasan yang mereka ciptakan sendiri.

Laras tersenyum tipis dalam kegelapan. Ia tahu bahwa ketidakpastian adalah hukuman yang paling tepat bagi orang-orang seperti mereka yang terbiasa mengendalikan hidup orang lain.

Ia perlahan membaringkan tubuhnya di tempat tidur, merasakan kelembutan sprei yang ia beli dengan uangnya sendiri. Meski rumah ini penuh dengan kebencian, malam ini adalah malam terakhir baginya untuk merasakan ketenangan sebelum badai besar yang ia rancang sendiri akan menghancurkan segalanya.

Ia tidak akan tidur malam ini. Ia akan menunggu hingga pagi tiba, hingga cahaya fajar memberikan tanda bahwa saatnya telah tiba untuk mengambil kembali apa yang memang menjadi miliknya.

Di luar pintu, Bagas akhirnya terduduk di lantai, napasnya terdengar kasar dan tidak teratur. Ibu Melati dan Siska pun terdiam, tak lagi berani mengeluarkan suara, menyisakan kesunyian yang mencekam di dalam rumah besar yang kini terasa seperti penjara bagi mereka sendiri.

Laras memejamkan mata, membiarkan dirinya hanyut dalam pikiran tentang kebebasan yang menanti di depan mata. Besok, semuanya akan berubah, dan tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menghentikannya lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!