NovelToon NovelToon
Satpam Penjaga CEO

Satpam Penjaga CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Romansa Fantasi / Nikah Kontrak
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Bimo, seorang pemuda kaya yang enggan dijodohkan, menyusun rencana konyol dengan meminta sahabatnya semasa SMA, Arga, seorang anak panti asuhan bertubuh tegap yang akrab dipanggil Dewa, untuk menyamar menjadi dirinya. Tugas Dewa sederhana: bersikap norak dan menyebalkan di depan Nadia Nugroho, CEO wanita dingin pemimpin imperium bisnis Nugroho Group, agar kencan perjodohan itu batal total.

Namun, rencana konyol itu berantakan. Nadia yang tak mudah terkecoh justru melayangkan ancaman pembalasan yang sanggup membangkrutkan perusahaan keluarga Bimo seketika. Terdesak, Dewa terpaksa menandatangani Surat Kesepakatan Pernikahan Kontrak atas nama Bimo.

Di tengah situasi yang kian kacau dan pernikahan resmi yang dihitung hari, Dewa berusaha menyambung hidup dengan melamar kerja sebagai petugas keamanan. Tanpa ia sadari, hari pertama tugasnya sebagai Satpam justru menempatkannya di lobby utama Menara Utama Nugroho Group, gedung megah milik keluarga sang CEO dingi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Operasi Masker Hitam

Arga menyandarkan punggungnya pada dinding lorong belakang pos keamanan, menatap layar ponselnya yang telah gelap. Panggilan dari Pak Hendra sudah terputus beberapa menit lalu, tetapi ancaman penalti dan blacklist yayasan masih bergema keras di kepalanya. Tidak ada jalan keluar. Ia tidak bisa mundur, tidak bisa pindah, dan jelas tidak punya uang untuk membayar denda jika nekat berhenti bertugas.

Arga meraup wajahnya kasar, mengembuskan napas berat yang berhembus pasrah.

"Nggak ada pilihan lain, Ga," bisiknya pada diri sendiri, mencoba memompa sisa-sisa keberanian. "Lu butuh makan, lu butuh bayar kontrakan. Mau nggak mau lu harus tetap kerja di sini. Yang penting, jangan sampai si CEO dingin itu ngeliat muka lu secara jelas."

Arga mengotak-atik kantong celana serta tas selempang kecil yang ia titipkan di loker pos penjagaan. Jemarinya meraba kain tebal di dasar tas. Sebuah masker kain tebal berwarna hitam polos, aksesoris wajib yang selalu ia pakai saat mengendarai motor tua kesayangannya demi menahan debu jalanan.

Arga menatap masker tebal itu dengan mata berbinar. Sebuah ide nekat terlintas cepat di kepalanya.

"Ini dia. Masker hitam!" gumam Arga seraya tersenyum tipis. "Kalau gue pakai masker ini dipadu topi pet yang diturunin sedikit, muka gue cuma keliatan matanya doang. Dia pasti nggak bakal sadar kalau Satpam yang berdiri di lobi ini adalah 'Bimo Palsu' yang bikin dia emosi di kafe kemarin."

Tanpa membuang waktu, Arga segera mengenakan masker kain hitam tersebut, menyangkutkan tali elastisnya di kedua telinganya. Ia menarik kainnya ke atas hingga menutup rapat batang hidungnya, lalu menarik bagian bawahnya sampai menyelip di bawah dagu. Arga kemudian mengambil topi pet Satpamnya, memposisikannya sedikit lebih rendah agar pinggiran topi menutupi sebagian kening dan alisnya.

Resmi sudah. Operasi Masker Hitam dimulai.

Arga melangkah keluar dari ruang loker menuju pos utama di mana Komandan Bambang sedang mencatat log kualifikasi shift pagi di atas meja kerja. Langkah kaki Arga yang tegap namun terkesan ragu membuat pimpinannya itu mendongak.

Komandan Bambang menaikkan sebelah alisnya, memandangi penampakan Arga yang kini hampir seluruh wajahnya tertutup kain hitam.

"Lho, Arga? Kamu kenapa pakai masker kain tebal begitu?" tegur Komandan Bambang dengan dahi berkerut heran. "Peraturan seragam kita kan cukup pakai seragam standar. Kena angin malam pas berangkat kerja tadi?"

Arga memasang raut muka lesu, meski tak terlihat di balik masker, lalu berdeham dengan suara yang dibuat serak dan berat.

"Anu, Komandan... maaf banget," ujar Arga seraya memegang lehernya, berpura-pura terbatuk kecil. Uhuk! Uhuk! "Tiba-tiba tenggorokan saya gatal parah, Komandan. Hidung juga bersin-bersin terus dari tadi."

"Lah? Tadi pas apel pagi kamu kelihatan segar bugar begitu?" Komandan Bambang menatap Arga dari atas sampai bawah dengan pandangan penuh selidik.

"Iya, Komandan. Sepertinya alergi debu AC gedung ini kumat," keluh Arga berasumsi cerdik. "Apalagi tadi pas di luar sempat kena angin kencang di area parkir. Daripada saya bersin-bersin di depan tamu VIP atau malah nularin flu berat ke staf lobi, makanya saya inisiatif pakai masker motor saya ini, Komandan."

Komandan Bambang menyandarkan punggungnya di kursi kerja, menimbang-nimbang penjelasan anak buahnya itu.

"Hmm... logis juga sih," sahut Komandan Bambang seraya mengangguk-angguk pelan. "Lobi utama kita kan area steril. Kalau ada petugas keamanan yang bersin atau batuk-batuk di depan eksekutif, bisa bikin citra pelayanan kita jatuh."

"Nah, betul banget itu, Komandan!" puji Arga cepat, menimpali agar alasannya makin kokoh. "Saya cuma mau menjaga profesionalitas kerja. Saya tetap sanggup berdiri dan bertugas delapan jam penuh kok, cuma butuh masker ini saja supaya aman dari debu dan enggak menulari orang lain."

"Ya sudah kalau begitu," putus Komandan Bambang seraya mengetuk penanya di atas meja. "Kamu boleh pakai masker itu selama bertugas di lobi. Tapi ingat, posisi berdirimu harus tetap tegap! Jangan karena merasa tertutup masker, kamu malah malas-malasan atau kelihatan loyo di depan lobi utama."

"Siap, Komandan! Terima kasih banyak atas pengertiannya!" jawab Arga lantang, memberi hormat dengan gerakan yang sangat mantap.

"Bagus. Sekarang kembali ke pos lobi utama! Bantu personil lain memantau arus lalu lintas karyawan yang mulai padat jam masuk kantor ini," perintah Komandan Bambang.

"Siap, laksanakan!"

Arga memutar badan dan melangkah menuju area lobi utama Menara Utama Nugroho Group. Setiap pijakan kakinya terasa begitu berat, seolah ia sedang berjalan memasuki medan pertempuran yang penuh dengan bom waktu.

Begitu melewati pintu kaca otomatis, kemegahan lobi utama menyambutnya. Lantai marmer putih yang mengilap, lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit, serta jajaran turnstile gate elektronik tempat para karyawan melakukan tap-in ID card membuat suasana terasa makin formal dan kaku.

Arga mengambil posisi berdirinya di sebelah kiri pintu masuk utama, tempat yang strategis untuk memantau lalu lalang orang sekaligus cukup terlindung dari sudut pandang langsung meja resepsionis. Ia menyilangkan kedua tangannya di belakang punggung, menegakkan dada, dan meluruskan pandangannya ke depan.

Di balik kain tebal masker hitamnya, Arga menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang masih berdebar kencang. Pinggiran topi pet yang sengaja ia tarik agak rendah berhasil memangkas jarak pandang orang lain terhadap wajahnya, menyisakan hanya sepasang mata tajamnya yang bergerak waspada memantau keadaan sekitar.

Beberapa karyawan berpakaian rapi melintas di depannya, sesekali memberikan anggukan sopan yang dibalas Arga dengan anggukan tegap. Di luar dugaan, penyamaran sederhananya berjalan mulus. Tidak ada satu orang pun yang menaruh curiga pada petugas Satpam bermasker hitam yang berdiri kaku bak patung di sudut lobi tersebut.

"Tenang, Ga... fokus," batin Arga menguatkan dirinya sendiri, merasakan hawa dingin AC lobi yang menusuk kulitnya. "Selama masker ini enggak lepas dan lu enggak banyak tingkah, tempat ini aman. Jalani hari ini sampai jam shift selesai, pulang, dan pikirkan langkah selanjutnya nanti."

Arga menghembuskan napas hangatnya yang tertahan di balik masker kainnya. Meski tubuhnya berdiri tegang dengan seluruh otot yang bersiap untuk merunduk kapan saja, Arga berhasil menguasai kepanikannya. Ia berdiri tegap di tengah lalu lalang orang-orang penting perusahaan, siap menjalankan tugas pertamanya di bawah bayang-bayang penyamaran baru yang terpaksa ia ciptakan.

1
Dian Paramita Dewi
Salam kenal, bantu like ya Kak 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!