Selama ribuan tahun, Kekaisaran Shen berdiri di Benua Zhanxi, melewati perang, pergantian kaisar, serta zaman yang terus berubah. Namun di balik sejarah panjang itu, terdapat satu nama yang hanya dianggap sebagai legenda.
Shen Hao Feng.
Kaisar pertama sekaligus pendiri Kekaisaran Shen—seorang Dewa Fana yang telah menghilang selama lebih dari sepuluh ribu tahun.
Ketika perang kembali menghancurkan wilayah Kekaisaran Shen dan musuh mulai menginjak tanah yang dahulu ia bangun dengan tangannya sendiri, sosok yang seharusnya hanya tinggal dalam sejarah itu akhirnya kembali.
Ia melihat bagaimana kekaisarannya berubah. Ia melihat rakyatnya menderita. Dan ia melihat tanah yang pernah ia lindungi dihancurkan oleh tangan musuh. Kini, Shen Hao Feng tidak kembali untuk merebut takhta. Ia kembali untuk mencari tahu siapa yang berani menghancurkan Kekaisaran Shen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyo Erdika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. 30.000 Tahun Lalu Guruku Ialah Seorang Dewa Ilusi
Sekembalinya Shen Hao Feng ke medan perang. Ia melihat bahwa semua sudah usai dan mereka masih diam di tempat karena menunggu perintah selanjutnya dari Shen Hao Feng. "Karena ini adalah kemenangan kita maka ini memang kemenangan kita!."
"Hoaaa!!..."
"Hidup Leluhur!..."
Xin Lia di atas benteng bersama beberapa iblis yang tersisa merinding dan merasa hati mereka bergetar. Mereka saja yang kebanyakan di ranah Langit awal dan puncak belum bisa menyelesaikan masalah peperangan ini selama beberapa tahun. Tetapi manusia yang paling banyak berada di ranah Bumi akhir dan Langit awal mampu menyelesaikan masalah ini dalam satu perang.
Akan tetapi sebenarnya tidak seperti itu, dengan kombinasi serangan Naga Jade di udara dan Shen Luo, Chang Jia sebagai serangan utama bersama Jing Yun, Chen Ming, dan Ning Mei mereka berhasil menghancurkan garis utama musuh dengan cepat sehingga para Pasukan lemah dapat menyerang lebih leluasa.
-Malamnya Di Kota Jianghou.
"Maaf saya telambat." Xin Lia masuk ke dalam ruangan berisi orang-orang penting yakni Shen Hao Feng, Chang Jia, dan Shen Luo dengan jamuan di antar iblis pelayan. Xin Lia duduk di tempat petinggi iblis berada atau hanya dia saja yang masih hidup.
Shen Hao Feng menatap jamuan yang besar di hidangkan di meja panjang. "Kenapa kamu merasa sungkan Xin Lia? Aku tahu siuatasimu sedang sulit tapi tidak perlu memaksakan diri."
Xin Lia tersenyum kecut, sejujurnya ia tak enak dengan Shen Hao Feng. "Maaf tuan Shen Hao Feng tapi saya tidak mau membiarkan penyelamat kami kelaparan."
Shen Hao Feng menggeleng tak berdaya. "Lupakan saja. Chang Jia, Shen Luo kalian makan saja jamuan itu jangan sungkan-sungkan."
"B-baik Guru." Chang Jia awalnya ragu sesaat lalu saat mencoba memakan makanan itu ia ketagihan dan terus makan.
"Ya Leluhur." Berbeda dengan Chang Jia ia makan dengan lebih terhormat untuk menjaga citranya sebagai Kaisar manusia saat ini.
"Jadi... Aku membawa seseorang untuk pembahasan pertama." Shen Hao Feng mengisyaratkan Jing Li untuk masuk ke ruangan. Ketika Jing Li masuk hanya Xin Lia yang tahu tapi Shen Luo dan Chang Jia tidak.
"Permisi maaf menganggu pesta kemenangan kalian." Jing Li berlutut di tanah memohon. Shen Hao Feng menghela nafas berat. "Sejak aku mengalahkan Gong Mo, Jing Li tiba-tiba muncul dan memohon padaku untuk membawa ras mereka ke Benua Zhanxi."
Shen Luo terkejut dan segera menolak. "Maaf Leluhur tapi kami tidak bisa menerima itu. Karena ras Iblis tetaplah musuh tapi meski kita tetap menerima mungkin di Benua Zhanxi mereka diterima tapi bagi benua lain? Itu sangat berbahaya."
Wajah Jing Li terangkat memohon keras. "Saya mohon! Saya akan melalukan apa saja bahkan jika itu menjadi pengikut dan saya rela berikan nyawa saya untuk menyelamatkan ras peri iblis dari tangan Sekte utara!."
Wajah Shen Luo mengeras tegang. "Masalahnya tidak sepele itu... Aku tidak bisa mengambil resiko melawan ribuan benua demi menjaga ras iblis. Menurut leluhur bagaimana?."
.
Sebelum Shen Hao Feng berbicara, Chang Jia menyela dengan mulut penuh. "Kenapa kita tidak menghabisi semua musuh ras peri iblis alias si Sekte Utara itu? Kalau sudah beres kan masalah selesai."
Mata Shen Hao Feng menyipit ke arah Chang Jia dan menjitak dahinya karena kesal pembicarannya di potong. "Aduh!." Chang Jia mengusap dahinya yang merah. "Maaf..."
"Hah..." Shen Hao Feng menghela nafas. "Begini saja, kita akan cari solusi untuk soal itu. Jing Li ada dimana Ras iblis Peri tinggal?." Shen Hao Feng membuka peta benua iblis tengah meja agar semua orang bisa melihatnya.
Jing Li tanpa ragu menunjuk gunung Shiaodai tepatnya sebelah Timur dari Kota Benteng Louyang fraksi Sekte Utara. Tapi Gunung Shiaodai juga di kepung oleh 2 Kota fraksi Sekte Utara yang membuat bagian ini sulit untuk di atasi.
"Hm... Kota Louyang, Kota Yuhuan, Kota Zeun. Ketiga kota ini memiliki ukuran cukup besar dan pastinya kita tidak bisa menyerang mereka tanpa persiapan." Shen Hao Feng menggeleng kecil.
"Selain itu lihat ini." Shen Luo menggeser energinya dari Kota Zeun ke Kota arah Tenggara bernama Kota Cinhu. "Dia dekat dengan Kota Cinhu. Jika kita tidak menginvasi cepat maka akan datang bala bantuan besar dari Kota Cinhu dan saat itupun kita habis." tegasnya.
"Tidak mungkin..." Mata Jing Li melebar pasrah dan takut. "T-tapi saya tidak mau ras iblis peri musnah karena keegoisan Sekte Utara... Ras kami sudah menderita populasi sejak lama jika begini terus kami akan punah. Tolong bantuannya!." ia membenturkan kepalanya ke lantai saat bersujud sampai dahinya berdarah.
Semua orang terdiam melihat betapa kerasnya Jing Li mencoba melindungi rasnya. Tapi Shen Hao Feng tidak akan membiarkan itu berlangsung lama.
"Tidak apa... Aku tidak bilang aku tidak mampu jadi tenang saja." Shen Hao Feng tersenyum padanya. "Karena aku adalah orang yang tidak pernha mengenal batasan."
Chang Jia, Shen Luo tersenyum penuh keyakinan. Karena jika Shen Hao Feng sudah berkata seperti itu maka penentuannya sudah di tentukan.
.....
-Alam Para Dewa Langit.
"Lumayan juha kemampuannya." Dewa Penjaga pintu tersenyum tertarik melihat pertarungan Shen Hao Feng dengan Gong Mo. "Pertarungan menggunakan ilusi dan teknik... Aku merasa familiar... Ah pasti itu bukan dia tapi kenapa aku merasa ilmunya sama?."
"Hahaha menarik." Penjaga Dewa tertawa keras. "Jika dia benar seperti dugaanku maka aku semakin menanti untuk melawannya."
"Wah wah Jian Na kamu terlihat gembira apa ada sesuatu yang membuatmu tertawa sebagai penjaga gerbang?." teman penjaga lainnya datang untuk bertamu.
Jian Na tersenyum miring. "Hung Cha apa kamu ingat Dewa ilusi? Aku merasa dia memiliki murid dan namanya adalah Shen Hao Feng."
Wajah Hung Cha terkejut sekali. "Dewa Ilusi? Ah mana mungkin. Dia kan pemberontak yang sudah di hukum oleh Kaisar Dewa. Dia sudah di bunuh dan mayatnya di buanh ke alam Fana. Mana mungkin dia memiki murid kan?."
Jian Na kembali menonton Shen Hao Feng yang berdiri diam di bawah pohon hutan belakang Kota Jianghou. "Entahlah... Siapa tahu? Aku terus menonton pertarungannya dan saat dia memakai ilusi yang terasa nyata itu membuatku teringat sejarah Dewa ilusi."
"Hm?." karena penasaran juga Hung Cha memutuskan untuk melihat seperti apa rupa manusia itu. "Dia? Pria itu? Dia tampan sekali tapi sayang sekali dia manusia Fana." menghela nafas kecewa.
"Huh terserah kau saja Hung Cha." dengus Jian Na dan lanjut memperhatikan Shen Hao Feng.
-Belakang Kota Jianghou.
Shen Hao Feng meminum arak dari cincin penyimpannya dan merasa situasi ini sama persis saat dia kecil di zaman Purba kala itu. Saat mata Shen Hao Feng terpejam ia teringat kenangan penuh api dendam dan darah di pedangnya di tengah pertempuran sengit itu.
30.000 tahun yang lalu masa-masa bahkan saat itu Shen Hao Feng tidak memiliki apa-apa. Ia hanya anak muda di ranah master tahap awal da bahkan saat itu kekuatan seperti itu sangat tidak berguna.
"Hah! Hah.... Ha! Sial! Sial!... Kenapa aku! Hah! Ren Jizhou kau membuatku marah! Bisa-bisanya kau mengorbankanku demi pasukan bisa melewati selat Fuizhou!." teriak Shen Hao Feng saat berlari penuh rasa takut dan sakit akibat banyak luka di bagian perut dan dadanya.
"Musuh terlihat!."
"Lepaskan anak panahnya!."
Satu prajurit membidik dan menembus lengan kanan Shen Hao Feng. "Eh?." mata nya melebar terkejut.
"Kena! Cepat kejar dia!."
Segera ratusan prajurit berlari menghampiri Shen Hao Feng. Tapi Shen Hao Feng menolak untuk diam dan terus berlari walau rasanya sangat sakit pada lengan kiri.
"Aku ingin hidup... Aku ingin hidup.. Hah, hah... Tolong Dewa... Tolong aku balaskan dendamku!." teriaknya dalam hati.
Namun di depan Shen Hao Feng justru ada pria tanpa lengan memakai jubah dan topi menutupi kepala dan wajah atasnya bersandar di batang pohon.
"Warga?." gumam Shen Hao Feng. "Hei apa yang kau lakukan disini! Cepat lari!."
"Hm?." sudut bibir pria agak tua itu terangkat dan tidak beranjak dari tempatnya sama sekali.
"Eh? Kenapa kau tak bergerak cepat lari! Aku dalam kejaran musuh atau kau akan ikut mati juga!."
Namun pria itu tetap tidak bergerak sehingga Shen Hao Feng menggertakkan giginya. "Dunia itu... Kejam dan penuh pengorbanan. Tapi tanpa itu manusia tidak akan menjadi apa-apa."
Shen Hao Feng menahan kakinya untuk tak berlari dan melindungi pria itu di punggungnya. "Aku akan melindungimu cepatlah lari!." ia meraih pedang hanya dengan tangan kiri.
Ratusan pasukan lawan bergegas mengepung mereka berdua sehingga tidak ada jalan keluar. "Mereka terkepung!."
"Bunuh mereka semua sampai tidak ada yang tersisa!."
"Tidak mungkin..." Mata Shen Hao Feng memancarkan keputusasaan. "Maaf... Tapi aku sepertinya akan membawamu mati disini."
"Mati?." pria itu menjawab dengan nada main-main. "Kita tidak akan mati." ia maju menepuk bahu Shen Hao Feng. "Sudah kuputuskan bahwa aku akan memilihmu sebagai penerusku."
Sebelum Shen Hao Feng sempat menjawab, mata pria itu memancarkan energi biru dan tajam seperti pemburu. "Dunia Kekacauan."
Wung....
Semua yang disana terasa seperti terhisap ruang dan ketika Shen Hao Feng membuka matanya. Ia melihat dunia yang kacau, tanah retak, meteor berjatuhan, monster memakan manusia. Dan ada satu sosok menakutkan besar memerharikan mereka.
"D-dimana aku?." Sebelum Shen Hao Feng berjalan pun dia kembali ke alam semula. "Aku kembali?."
Bruk...
Suara orang jatuh satu per satu membuat bulu kuduk Shen Hao Feng berdiri. Saat ia memerhatikan bahwa itu dari suara ratusan pasukan musuh yang tiada.
"Sudah selesai... Haha mereka begitu lemah." ejek pria sebelumnya. Sedangkan Shen Hao Feng memandanya dengan berbagai perasaan emosi.
"Siapa... Kau?."