Alena tidak pernah menyangka akan dinikahi oleh Aditya Pradana, CEO dingin yang juga mantan kakak iparnya.
Tujuannya satu: menjadi ibu untuk Sean, anak tiri berandal yang membencinya setengah mati.
Sean melakukan segala cara untuk mengusir Alena.
Balapan liar, berkelahi, membolos.
Tapi Alena yang berjilbab ini tidak takut.
Ia lawan balik Sean di arena balap dan di lapangan futsal.
Hingga Sean diam-diam kagum dan berbisik, "Siapa sebenarnya kamu, Bunda?"
Di sisi lain, Aditya Pradana yang dibantu Rendra, mulai menyadari...
Adik iparnya yang dulu pendiam itu, kini menjadi wanita yang tidak bisa ia lepaskan.
Pernikahan kontrak ini, apakah akan berakhir dengan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Sorak sorai masih menggema di lapangan futsal indoor itu.
Skor 3-2. Tim Sean menang berkat gol terakhir dari tendangan keras Alena.
Setelah futsal dimenangkan oleh Alena, suasana yang tadinya tegang karena perkelahian berubah menjadi penuh tawa.
Dito yang tadinya berkelahi dengan Sean, kini malah bertekuk lutut di depan Alena sambil memegang lututnya yang pegal, tapi wajahnya tertawa.
"Ampun Bunda... ampun... Bunda jago banget! Saya nyerah, saya yang salah tadi ngejek Sean! Maaf ya Sean, Bunda lo keren banget sumpah!" kata Dito sambil mengacungkan jempol.
Sean diam diam semakin kagum dengan ibu tirinya itu. Ia berdiri di tengah lapangan, napasnya masih terengah-engah, keringat membasahi dahinya. Matanya tidak lepas dari sosok Alena.
Ia tak menyangka bahwa ibu tirinya yang berjilbab, yang memakai gamis peach dan pashmina sport itu, ternyata jago dalam segala hal. Kemarin jago balapan motor sport mengalahkan Rival geng motor yang bahkan Sean tidak bisa kalahkan, hari ini jago futsal dengan tendangan sekeras pemain profesional.
Meskipun awalnya Sean marah karena merasa dipermalukan di depan teman-temannya, namun akhirnya Sean merasa bangga. Dadanya membusung. Karena ibu tirinya itu sudah membuat Dito bertekuk lutut dan meminta maaf, tanpa kekerasan, hanya dengan skill.
"Gue akui dia hebat..." gumam Sean pelan hampir tidak terdengar, tapi Alena mendengarnya dan tersenyum di balik pashminanya yang sedikit berantakan karena keringat.
Mereka kemudian pulang. Sean menolak naik mobil.
"Gue pulang naik motor gue aja," kata Sean dengan gengsi, mengambil helmnya.
Alena mengangguk paham, tidak memaksa. "Hati-hati di jalan ya Sean. Saya pulang duluan."
Sean pulang dengan motor sportnya, sementara Alena dengan mobil Alphard hitamnya yang disetiri Rendra.
Di sepanjang jalan pulang, suasana di dalam mobil hening. Rendra sesekali melihat ke arah kaca spion mobilnya. Di spion itu, ia melihat Bu Alena yang sedang duduk di belakang, pashmina peachnya sedikit miring, wajahnya berkeringat tapi terlihat sangat bahagia dan bercahaya. Ia baru saja selesai bermain futsal dengan gamisnya.
Rendra tersenyum kecil dalam hati. " Pak Aditya tak salah memilih istri. Bu Alena rupanya sehebat itu."pujinya dalam hati. _Tidak salah Pak Aditya memilih adik iparnya sendiri untuk menjadi istrinya. Perempuan seperti ini yang bisa meluluhkan Sean dan menghidupkan kembali rumah itu._
Sesampainya di rumah mewah Pradana, Alena langsung mandi. Ia membersihkan semua debu lapangan futsal dari tubuhnya. Setelah mandi, ia memakai gamis rumahan yang lembut berwarna putih bersih dan pashmina voal warna dusty pink yang dililit simple dan anggun. Wangi vanilla dari tubuhnya menyebar lembut.
Sore itu jam 17.30, Alena duduk di taman belakang yang indah, di bawah pohon mangga besar. Di taman itu ada ayunan kayu dan kursi rotan. Alena duduk sembari membaca buku. Buku tentang psikologi remaja, ditemani kopi latte kesukaannya yang masih mengepul hangat. Pemandangan yang sangat anggun, seorang wanita berjilbab membaca buku di taman sore hari.
Dari jendela kamarnya di lantai dua, Sean memperhatikan. Ia sudah mandi juga, memakai kaos oblong hitam. Ia melihat ibu tirinya yang sedang tenang membaca buku. Tidak ada lagi kesan wanita penggoda yang ia tuduhkan selama ini. Yang ada hanyalah sosok ibu yang teduh.
Entah dorongan dari mana, Sean memberikan diri untuk mendekat. Langkahnya pelan, ragu-ragu, masih dengan gengsi berandalnya.
Ia berdiri di depan Alena yang sedang membaca.
Alena mendongak, sedikit kaget.
Sean terdiam sebentar, lalu dengan suara yang dibuat sejutek mungkin, tapi sebenarnya ia penasaran setengah mati, ia bertanya.
"Dari mana anda belajar memakai motor sport dan bermain futsal?"
Alena meletakkan bukunya perlahan.
Sean melanjutkan, dengan nada yang masih ketus tapi ada rasa kagum yang tidak bisa ia sembunyikan, "Apa lagi yang anda bisa yang saya belum tau? Saya fikir anda hanya bisa menggoda ayahku saja agar mau menikahi anda."
Pertanyaan itu cukup menusuk. Jika Alena yang dulu, mungkin ia akan menangis. Tapi Alena yang sekarang hanya terdiam. Ia tak menyangka Sean akan bertanya seperti itu kepadanya secara langsung.
Namun sedetik kemudian, Alena tersenyum. Bukan senyum marah, tapi senyum penuh kemenangan. Senyum yang tulus dan lembut.
Akhirnya. Akhirnya Sean mau berbicara dengannya. Setelah sekian lama hanya diam, marah, dan menghindar, akhirnya anak tirinya itu mau mendekat dan bertanya, meskipun tampak gengsi dan dengan kata-kata yang masih kasar.
Setidaknya usahanya itu sudah sedikit membuahkan hasil. Meja makan pagi tadi, futsal sore tadi, tidak sia-sia.
Alena menutup bukunya dan menatap Sean dengan mata yang teduh dari balik pashmina dusty pinknya.
"Sean," kata Alena lembut, "Saya belajar motor sport dari almarhum Abah Saya. Abah dulu mekanik balap dan daya belajar futsal karena dulu saya jadi tulang punggung keluarga, harus main dengan anak-anak laki-laki di kampung biar dapat uang jajan."
Sean terdiam mendengar jawaban itu. Ada rasa bersalah yang menyelinap.
"Dan satu lagi Sean," lanjut Alena sambil menyeruput latte-nya, "Saya tidak pernah menggoda Ayahmu. Ayahmu yang meminta Saya untuk menikah dengannya. Karena Ayahmu ingin kamu punya ibu lagi. Ibu yang bisa menemanimu sarapan dan menemanimu main futsal."
Sean tercekat, kata-kata itu tepat sasaran di hatinya.
Ia ingin menjawab, tapi gengsinya masih menahannya. Ia hanya berdeham, "Hmm... terserah."
Ia lalu berbalik mau pergi, tapi sebelum pergi ia berbisik pelan, sangat pelan, hampir tidak terdengar, "Kopi latte anda wangi..."
Alena tersenyum semakin lebar. Kemenangan kecil yang sangat indah.
Dan dari atas, tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dari balkon lantai tiga.
Aditya sudah pulang. Ia berdiri di balkon kamarnya dengan setelan jas yang sudah ia lepas, hanya memakai kemeja putih yang lengannya digulung. Di tangannya ada secangkir kopi hitam.
Ia melihat pemandangan di taman itu. Melihat Alena dengan gamis putih dan pashmina dusty pinknya yang sedang tersenyum menatap punggung Sean yang berjalan pergi dengan salah tingkah. Melihat Sean yang akhirnya mau mendekati ibu tirinya.
Rendra yang berdiri di belakangnya berbisik, "Pak, sepertinya rencana Bapak berhasil."
Aditya tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya melihat mereka dari balkon dengan senyum tipis. Senyum tipis yang untuk pertama kalinya dalam 5 tahun terlihat begitu tulus, bukan senyum dingin CEO, tapi senyum seorang ayah dan seorang suami yang melihat rumahnya yang sudah lama mati, kini mulai hidup kembali karena wanita berjilbab di taman itu.
Senyum tipis itu adalah awal dari sesuatu yang baru.
Adzan magrib berkumandang,Alena gegas masuk kedalam rumah dan melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim.
*Bsambung*