JANGAN MAKAN AKU!
Aku hanyalah penyelam mutiara miskin yang bernasib sial. Niat hati mencari nafkah di kapal peneliti asing, aku justru terjebak dalam pembantaian keji di Teluk Bayangan. Kapal kami hancur, Sahabatku dibantai, dan laut berubah merah oleh darah.
Di hadapan para siren yang siap mengoyak dagingku, insting survivalku mendadak liar. Demi bertahan hidup, aku rela membuang harga diri, berlutut, menari dengan tubuh bersimbah darah, dan membualkan pujian setinggi langit untuk memohon ampunan. Bualan manisku rupanya menarik perhatian Pangeran Nataniel, iblis laut paling kejam dan mengerikan.
Bukannya dibunuh, aku malah diseret ke dalam istana karangnya sebagai satu-satunya tawanan manusia. Di mata Sang Pangeran, aku hanyalah seekor badut yang menarik untuk diamati. Di antara maut dan cengkramannya yang menyiksa, aku harus terus memutar otak dan bersilat lidah. Aku harus memastikan mulut manisku ini cukup ampuh untuk menjinakkannya, sebelum dia menjadikan ku santapan makan malam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena kira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perburuan Makan Malam
# Perburuan Makan Malam #
Perkataan Nataniel bukanlah gertakan kosong belaka. Pangeran Siren yang baru saja menaiki tahta Penguasa Samudra itu benar-benar menjalankan rencananya tanpa belas kasihan sedikit pun. Di atas ranjang sutra koral Kamar Utama, ia menggempur tubuh kecilku secara brutal, maraton, dan tanpa jeda. Setiap sentuhan, cengkeraman, dan gejolak gairahnya meluap seperti badai samudra yang mengamuk, membuatku benar-benar kewalahan dan kehilangan akal sehat.
Jika aku hanyalah gadis manusia normal biasa, tubuhku dipastikan sudah hancur berkeping-keping atau pingsan tak sadarkan diri sejak satu jam pertama.
Beruntung, naluri bertahan hidupku sebagai mantan penyelam laut dalam profesional telah membuat fisik ku lebih kuat daripada gadis-gadis biasa lainnya, ditambah lagi tadi pagi Nataniel memaksaku menelan tablet ajaib yang mengembalikan kebugaran ku. Dan ternyata satu pil itu sama dengan seribu khasiat penambah stamina dan regenerasi sel super cepat! Tanpa vitamin gaib itu, pinggulku pasti sudah remuk tak berbentuk di bawah kungkungan Pangeran Iblis ini.
Namun, daya tahan tubuh ajaib pun ternyata memiliki batasan yang sangat mendasar, urusan perut!
*KRRRRUUUUKKKKK!*
Di tengah tensi panas yang kian membara dan gempuran Nataniel yang belum ada tanda-tanda mereda, sebuah suara nyaring yang teramat sumbang mendadak bergema keras dari dalam perutku. Suara keroncongan itu begitu kencang hingga menggetarkan udara di antara dada kami yang masih mendesah membara.
Gerakan Nataniel seketika terhenti mendadak. Pangeran Siren itu membeku di atas tubuhku, menundukkan wajahnya dengan pendaran iris keemasan yang menatap perutku dengan dahi berkerut tajam. Aku meringis pelan, memamerkan raut wajah memelas paling kasihan yang pernah ada.
"P-Paduka... itu hanya jeritan perut, hamba belum menelan apapun dari semalam..." cicitku pelan dengan suara bergetar, masih dengan kedua tangan memeluk tengkuk sang raja muda.
Keegoisan sang Raja Siren tentu tidak semudah itu ditenangkan. Nataniel yang belum terpuaskan secara sempurna menatapku dengan tatapan geram dan napas memburu. Gejolak gairah superior masih menyala-nyala di balik matanya, menuntut pemenuhan hadiah yang telah dijanjikan.
Melihat riak bahaya di wajah tampannya, otak cerdikku langsung berputar cepat. Aku mengubah taktik seketika! Wajah memelas prihatinku langsung berganti menjadi raut wajah manja yang teramat manis dan memikat.
"Paduka...hamba ingin melayani sampai pagi, tapi belum malam saya sudah kehabisan daya. Padahal aku ingin mengajari paduka berbagai keseruan lain."
Selama ini, Nataniel memang tidak pernah tahu dan sama sekali tidak pernah peduli soal urusan makanan manusia, termasuk aku! Sejak awal aku ditangkap dan diseret ke istana karang ini, pria ikan itu membiarkan budak manusia kerdilnya ini bertahan hidup sendiri seperti mencari ikan, kepiring, atau kerang sendiri di tepian karang . Namun kini, melihat rengekan manja yang membuatnya sangat penasaran tentang gaya-gaya baru yang asing baginya, mau tak mau Nataniel menghentikan aktifitasnya dengan wajah kesal.
Dengan decakan kesal yang teramat berat, Nataniel menarik tubuhnya bangkit berdiri. Ia menyambar jubah hitamnya, lalu memanggil koki kerajaan dengan sihir transmisi udara. Menyuruh mereka menghidangkan makanan tanpa daging.
Hanya dalam hitungan menit, belasan koki istana bertubuh menyeramkan datang berbondong-bondong membawa nampan-nampan perak berisi deretan hidangan istana.
"Sajikan makanan terbaik!" perintah Nataniel dingin dari tepi ranjang.
Namun, begitu nampan-nampan perak itu dibuka di hadapanku, mataku langsung melotot horor!
("Ya Tuhan... ini makanan apa pajangan museum monster?!") jerit monolog batinku yang syok setengah mati. ("Itu hidangan pertama kenapa ada mata cumi-cumi raksasa seukuran bola basket masih berkedip-kedip?! Terus yang disebelahnya lagi apa?! Daging gurita ungu berbintik hijau yang masih mengeluarkan uap beracun! Ini koki istana mau kasih aku makan malam apa mau bikin aku mati mendadak?!")
Aku menggelengkan kepala keras-keras, mendorong nampan-nampan perak itu jauh-jauh seraya menatap Nataniel dengan wujud penolakan mutlak.
"Nggak mau! Hamba nggak mau makan makanan beracun begitu! hi...." seruku takut.
Nataniel membelalakkan matanya, emosinya mulai merayap naik ke puncak. "Kau menolak hidangan terbaik istana karang, Serangga?!"
"Itu bukan makanan manusia Paduka! Itu masakan pembuat mutasi biologis!" balasku tak mau kalah. "Daripada makan makanan aneh di istana, lebih baik hamba cari ikan segar saja di luar sebentar. Hamba janji akan segera kembali."
Dengan amarah yang makin memuncak akibat tertahannya gairah dan penolakan makanan, Nataniel menyambar jubah tebalku, membungkus tubuhku kasar, lalu memapah dan menyambar pinggangku lincah. Dalam satu kali pijakan sihir gravitasi yang dahsyat, kami melesat melintasi lorong istana hingga tiba di puncak tebing karang tertinggi yang menghadap langsung ke lautan lepas yang gelap dan dalam.
Angin malam yang dingin berhembus kencang mengibaskan rambut kami.
"Kau mau ikan segar, kan?!" geram Nataniel dengan napas memburu dan aura membunuh yang kembali meledak. "Biar kuburu makan malammu sekarang juga!"
Sihir gravitasi murninya yang sudah pulih total seketika terpancar hebat dari telapak tangannya. Nataniel melayangkan jari-jarinya ke atas permukaan laut lepas, menggunakan sihirnya sebagai umpan penarik tak terlihat di dalam air asin yang pekat.
*SRAAASSSS!*
Tangan Nataniel terangkat tinggi ke udara, dan seketika itu pula permukaan samudra meledak hebat! Dari balik hempasan ombak raksasa, muncul sesosok makhluk air berukuran luar biasa megah dan mengerikan yang terangkat melayang oleh sihir gravitasi!
Seekor Paus Purba bersisik tajam seukuran lapangan sepak bola terangkat tinggi di atas tebing!
"Aaaaaakh! Bukan itu! Itu terlalu besar Paduka!" jeritku histeris seraya menutupi kepalaku, takut ketimpa paus gila tersebut.
Nataniel mengibaskan tangannya kasar, melempar paus itu kembali ke laut hingga menimbulkan dentuman air yang menggelegar. Ia mengangkat tangannya lagi!
*SRAAASSS!* Kali ini dari dalam laut muncul seekor Hiu Megalodon dengan taring-taring mencuat sepanjang manusia dewasa!
"TIDAAAK! Itu monster! Mana muat di perutku!" jeritku lagi seraya memeluk kaki Nataniel ketakutan.
Nataniel makin gelap mata. Ia mengibaskan tangannya berturut-turut, memanggil dan mengangkat makhluk-makhluk legendaris samudra dari dasar tergelap. Mulai dari Orca, hingga Kraken Raksasa yang memiliki ratusan tentakel beracun ikut terangkat melayang membasahi tebing karang!
"Mana yang kau mau, Serangga?! Pilih salah satu atau kulempar kau ke mulut mereka!" raung Nataniel dengan mata menyala merah darah, emosinya sudah berada di titik didih tertinggi!
Melihat Kraken raksasa yang menggeliat-geliat di atas kepala kami, puncak kekonyolan di dalam kepalaku mendadak meledak begitu saja.
"Hamba cuma pengen makan ikan lele, Paduka!" teriakku polos tanpa berpikir panjang.
Nataniel membeku seketika. Matanya melotot selebar mangkuk, tatapannya seolah-olah menganggap diriku telah kehilangan seluruh akal sehat.
*DUAAAAARRRRR!*
Amarah mutlak Nataniel akhirnya meledak tak tertahankan lagi! Sihir gravitasinya menyambar lautan lepas tanpa kendali, menghancurkan ombak dan bebatuan karang di sekitar kami hingga berkeping-keping!
"KAU SEDANG MEMPERMAINKAN KU, SERANGGA?!" raung Nataniel dengan suara menggelegar yang menggetarkan seluruh tebing. "MANA ADA IKAN LELE DI AIR ASIN SAMUDRA INI! APA KAU BENAR-BENAR INGIN BERENANG BERSAMA MEREKA SEKARANG JUGA?!"
Melihat tebing karang yang hampir runtuh akibat murka sang Pangeran Iblis, aku langsung melompat memeluk pinggangnya erat-erat seraya berteriak panik meminta ampun.
"M-maaf...Ampuni hamba Paduka! Apa saja! Makanan apapun boleh!" jeritku ketakutan setengah mati. "Tapi tolong pilihkan dua puluh ekor ikan normal yang ukurannya seukuran lengan saya saja! Jangan monster laut sebesar gunung lagi, perut hamba terlalu kecil!"
Nataniel menghentikan ledakan sihirnya, menatapku dengan napas memburu dan aura gelap yang sangat mencekam. Dengan gerakan dingin yang mematikan, ia menarik dua puluh ekor ikan kakap laut berukuran besar dari dalam air, lalu melemparkannya ke atas tebing, disebelah ku yang masih berlutut memeluk pinggang Nataniel.
"Makan semuanya sekarang," bisik Nataniel rendah di samping telingaku, suaranya sarat akan ancaman bahaya yang teramat pekat. "Karena begitu kau selesai mengunyah ikan terakhir... aku akan melanjutkan tagihan hadiahku yang tertunda di tempat ini juga! Bukankah kau akan mengajari gaya lain?"
*CETAZZZ!*
Mataku membelalak lebar menatap daratan karang yang dingin dan terbuka lebar di tepi jurang samudra!
("Di... DI SINI?! DI TEPI TEBING KARANG TERBUKA BEGINI?!") jerit batinku histeris dengan jantung yang berdegup kencang bagaikan mau melompat keluar.
"A-Anuuu... Tolong bakarkan...hehe..."
"SERANGGAAAAAAA!"
⭐ ⭐⭐⭐⭐
IKAN LELE DI AIR ASIN BIKIN NATANIEL EMOSI JIWA!! 😱🔥 Nataniel udah sampai manggil Kraken sama Megalodon, eh Alessia malah minta ikan lele! Tapi penderitaan Alessia belum selesai, karena Nataniel berniat menagih gempuran hadiah di atas tebing karang terbuka!
Gimana nasib Alessia yang bakal dihajar gempuran Nataniel di tepi jurang samudra? Apakah ada yang bakal melihat aksi liar mereka dari kegelapan laut? Penasaran banget kan, Kiravers?! Tahan napas dan gasss pol lanjut ke Bab 36 buat saksiin KELANJUTANNYA! ✨