Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh, Naya yang hancur melarikan diri ke bar untuk menenggelamkan kesedihannya sebelum akhirnya memutuskan menginap di rumah Nessa.
Dalam keadaan setengah sadar, Naya masuk ke rumah Nessa dan menemukan Kafka yang baru pulang dari luar negeri, tetapi karena gelap dan pengaruh alkohol ia mengira pria itu adalah "jasa hiburan" yang sengaja dipesan Nessa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Cahaya matahari Minggu pagi menyusup malu-malu dari balik celah tirai, menyorot tepat ke wajah Naya. Wanita itu mengerjap pelan, menyesuaikan matanya dengan pendaran cahaya terang di dalam kamar tamu. Tidak ada lagi sisa-sisa awan mendung dari badai semalam, yang tersisa hanyalah langit biru bersih dan udara pagi yang terasa lebih segar dari biasanya.
Naya menarik napas panjang, merenggangkan otot-otot tubuhnya yang masih terasa sedikit kaku. Entah sihir macam apa yang dimiliki Kafka, pelukan pria itu semalam berhasil menyedot habis seluruh rasa sesak di dada Naya. Ia tidak lagi bermimpi buruk tentang apartemen bernomor 402, ia juga tidak terbangun dengan dada yang berdenyut nyeri. Sebaliknya, saat ia membuka mata hari ini, hal pertama yang terlintas di kepalanya justru sepasang mata legam dan aroma cedarwood yang memabukkan.
Naya segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berusaha mengusir bayangan Kafka dari benaknya. Berbahaya. Membiarkan pria itu terus-menerus mendominasi pikirannya adalah sebuah kesalahan fatal.
Ia beranjak dari tempat tidur, melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Di depan cermin wastafel, Naya mengamati pantulan wajahnya. Matanya sudah tidak sebengkak kemarin, meskipun sisa-sisa kelelahan masih sedikit tercetak di sana. Naya meraih botol kecil dari dalam tas makeup-nya, meneteskan serum Azarine andalannya ke telapak tangan, lalu menepuk-nepukkannya dengan lembut ke seluruh wajah. Sensasi dingin dari serum itu perlahan meresap, disusul dengan olesan pelembap Glad2Glow yang segera menenangkan kulitnya yang semalaman meradang akibat menangis.
Merasa jauh lebih segar, Naya mengganti pakaiannya dengan kaus putih santai dan celana bahan katun yang longgar. Ia memutuskan untuk turun ke bawah, membawa serta laptop kerjanya. Menyibukkan diri dengan pekerjaan di hari Minggu mungkin bukan ide yang cemerlang, namun itu adalah satu-satunya cara paling efektif untuk mengalihkan pikirannya dari sosok Kafka.
Suasana lantai satu rumah Nessa tampak sangat sepi. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Nessa maupun adiknya. Naya mendudukkan dirinya di salah satu kursi bar di area dapur bersih. Ia menyalakan laptop, membuka peramban, dan segera masuk ke akun Canva miliknya. Masih ada beberapa salindia presentasi proyek tambahan yang harus ia rapikan tata letak visualnya sebelum diserahkan kepada klien besok lho. Naya menenggelamkan dirinya ke dalam tumpukan palet warna, jenis huruf, dan elemen grafis.
Dua puluh menit berlalu dalam keheningan yang hanya diisi oleh suara klik mouse Naya.
"Fokus sekali, Kak."
Suara bariton yang berat, rendah, dan mengalun sangat dekat di telinga kirinya membuat bahu Naya terlonjak kaget. Jantungnya seketika mencelus.
Sebelum Naya sempat menoleh, ia sudah bisa merasakan hawa panas dari tubuh seseorang yang berdiri tepat di belakang kursinya. Aroma mint dan kayu seketika menginvasi ruang udaranya. Kafka tidak hanya berdiri di sana; pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan sebelah tangannya di tepi meja tepat di samping laptop Naya, sementara lengan kirinya bersandar di punggung kursi yang diduduki Naya.
Secara tidak langsung, Kafka kembali mengurung Naya di dalam teritorinya. Jarak wajah mereka dari samping mungkin tidak lebih dari sepuluh sentimeter. Naya bisa melihat dengan jelas ujung hidung bangir pria itu dari sudut matanya.
"Kaf... kamu ngagetin aja," protes Naya, suaranya keluar sedikit bergetar, mati-matian menahan diri agar tidak menoleh sepenuhnya, karena jika ia melakukannya, bibir mereka pasti akan bersentuhan.
Kafka terkekeh pelan. Getaran dari dadanya merambat melalui sandaran kursi, mengirimkan gelombang kejut kecil ke punggung Naya.
"Aku sudah memanggilmu dari ujung tangga, tapi Kakak terlalu asyik dengan desain di layar itu sampai tidak mendengarku," jawab Kafka tenang. Matanya menatap lurus ke arah layar laptop Naya, seolah benar-benar tertarik pada salindia presentasi tersebut, mengabaikan fakta bahwa posisi mereka saat ini membuat Naya nyaris tidak bisa bernapas.
Kafka baru saja selesai mandi. Rambut hitamnya masih sedikit basah, disisir asal ke belakang. Ia mengenakan kaus oblong berwarna navy yang melekat pas di tubuh berototnya. Sisa aroma sabun mandi pria itu berpadu sempurna dengan wangi alaminya, menciptakan kombinasi yang membuat kepala Naya pening.
"Ini... cuma revisi kecil buat bahan meeting besok," Naya mencoba menjelaskan, tangannya bergerak kaku menggeser tetikus, berpura-pura fokus merapikan sebuah kotak teks di layar Canva.
"Pemilihan warnanya bagus. Elegan," puji Kafka santai. Pria itu sedikit memiringkan kepalanya, membuat embusan napasnya kini menyapu tengkuk Naya yang tidak tertutup rambut. "Tapi aku jauh lebih suka melihat warna rona di pipimu saat ini, Kak."
Gerakan tangan Naya di atas mouse terhenti total. Wajahnya seketika memanas. Sialan. Kafka tahu persis apa efek dari kedekatan dan kata-katanya ini terhadap Naya, dan pria itu jelas sangat menikmatinya.
Naya menghela napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Ia memutar kursinya setengah derajat, memaksa dirinya menatap mata legam pria itu.
"Kaf, bisa nggak kamu jangan..." Naya menelan ludah, kata-katanya tercekat saat ia menyadari betapa dalam dan pekatnya tatapan Kafka padanya. "...jangan terus-terusan godain aku kayak gini?"
Senyum menggoda di bibir Kafka perlahan memudar, digantikan oleh raut wajah yang luar biasa serius. Pria itu tidak beranjak dari posisinya, tidak juga memperlebar jarak di antara mereka.
"Aku tidak sedang menggodamu, Kak Naya," suara Kafka turun satu oktaf, menjadi geraman pelan yang sarat akan dominasi. "Setiap kata yang keluar dari mulutku adalah kejujuran. Aku hanya sedang mengungkapkan apa yang aku lihat dan apa yang aku rasakan."
Tangan kanan Kafka yang berada di tepi meja perlahan bergerak naik. Ujung jarinya yang hangat menyentuh punggung tangan Naya yang sedang bertumpu di samping laptop. Sentuhan itu seringan bulu, namun efeknya membakar hingga ke sumsum tulang.
"Mata Kakak sudah tidak bengkak," Kafka berbisik, ibu jarinya kini mengusap buku-buku jari Naya dengan lambat. "Tolong berjanjilah satu hal padaku. Jangan pernah lagi menangis untuk sesuatu yang tidak berharga. Aku tidak suka melihatmu terluka."
Naya terdiam. Ia tenggelam dalam lautan hitam di mata Kafka. Ada ketulusan yang begitu absolut di sana, sebuah janji perlindungan tanpa syarat yang membuat Naya merasa sangat berharga. Untuk pertama kalinya, Naya tidak berusaha menarik tangannya dari genggaman Kafka. Ia membiarkan pria itu menyentuhnya, membiarkan kehangatan itu mengalir, membiarkan dinding pertahanannya hancur berkeping-keping. Naya tahu, ia sudah jatuh terlalu dalam.
"Gue pulang bawa martabak telur sama boba, guys!"
Teriakan cempreng Nessa yang tiba-tiba membahana dari arah ruang depan menghancurkan gelembung romantis itu dalam sekejap mata. Naya refleks menarik tangannya dari genggaman Kafka, tubuhnya tersentak kaget hingga lututnya nyaris menabrak bagian bawah meja.
Kafka mendesah kasar, menutup matanya sejenak, memancarkan aura kekesalan yang sangat pekat karena momen intimnya direnggut begitu saja. Pria itu perlahan menegakkan tubuhnya, menjauh dari Naya tepat beberapa detik sebelum Nessa muncul di ambang pintu dapur dengan menenteng dua kantong plastik besar.
"Eh, pada ngapain nih? Serius amat mukanya," selidik Nessa, menatap Naya yang wajahnya semerah tomat dan adiknya yang sedang bersedekap dada dengan raut wajah masam.
"Nggak ngapa-ngapain," jawab Naya cepat, suaranya sedikit melengking panik. "Ini... Kafka tadi bantuin gue ngelihatin desain presentasi. Iya, desain presentasi!"
Nessa menautkan alisnya curiga, lalu mengedikkan bahu acuh tak acuh. "Oh. Ya udah, nih makan siang. Gue sengaja beli banyak karena gue tahu kalian berdua pasti mager masak siang ini."
Siang itu, ketegangan di antara Naya dan Kafka berhasil diredam oleh kehadiran Nessa yang tidak henti-hentinya mengoceh tentang urusan kantornya. Naya merasa sedikit lega. Ia butuh jarak dari Kafka untuk mendinginkan kepalanya.
Menjelang sore hari, cuaca Jakarta kembali mendung. Nessa memutuskan untuk menghabiskan hari Minggunya dengan bersantai di ruang keluarga, menyalakan televisi layar datar yang besar, dan mulai menonton serial drama Mandarin favoritnya melalui aplikasi iQIYI. Volume televisi sengaja dibesarkan agar suasana rumah terasa lebih meriah.
Naya duduk menemaninya di sofa, ikut menonton meskipun pikirannya terus melayang pada sentuhan tangan Kafka tadi pagi. Sementara itu, Kafka berada di kamarnya di lantai dua, sibuk mengurus beberapa dokumen pekerjaan.
Tepat ketika adegan pertempuran pedang di layar kaca sedang mencapai puncaknya, suara bel rumah berbunyi nyaring, membelah kebisingan televisi.
Ting tong!
Nessa berdecak kesal tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. "Nay, tolong bukain pintu dong! Pasti kurir paket skincare gue tuh, dari kemarin belum nyampe juga. Pause dulu bentar nanggung banget nih adegannya!"
"Iya, iya, gue bukain," Naya terkekeh pelan. Ia bangkit dari sofa dan berjalan santai menyusuri lorong menuju pintu utama rumah.
Naya tidak merasa curiga sedikit pun. Ia meraih gagang pintu kayu besar itu dan menariknya ke dalam, mengukir senyum ramah yang biasa ia siapkan untuk kurir paket.
"Siang, Mas, paket atas nama Nes—"
Senyum di bibir Naya membeku seketika. Kalimatnya menggantung di udara. Darah di tubuhnya seolah merosot ke ujung kaki, meninggalkan rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang rusuknya.
Bukan kurir paket berseragam yang berdiri di teras rumah Nessa sore itu.
Melainkan Tante Rina.
Wanita paruh baya itu berdiri dengan wajah pucat dan raut kelelahan yang sangat kentara. Ia mengenakan blus sederhana, dan matanya langsung berkaca-kaca begitu melihat sosok Naya yang membuka pintu. Dan yang membuat napas Naya nyaris terhenti adalah sosok pria jangkung yang berdiri tepat di belakang Tante Rina, menundukkan kepalanya dengan raut wajah penuh penyesalan yang palsu. Reno.
"Naya... sayangku," suara Tante Rina bergetar. Tangan wanita paruh baya itu terulur, meraih kedua tangan Naya yang kaku dan sedingin es, menggenggamnya erat-erat seolah Naya adalah pelampung penyelamatnya. "Maafkan Tante datang tiba-tiba. Tante mohon... tolong dengarkan Tante sebentar saja."