Pernikahan Vivian Valerie Ananditha dan Radhit Gezha Revandhana bukanlah sebuah dongeng indah. Bagi Radhit seorang pengusaha muda yang arogans, gila kerja, dan terbiasa memegang kendali Vivian hanyalah sebuah "beban" dan "kewajiban konyol" yang terpaksa dia jalani demi memenuhi wasiat almarhum ayahnya.
Di mata Radhit, Vivian adalah wanita lemah, membosankan, dan tidak bernilai. Setiap hari, kehidupan rumah tangga mereka dipenuhi dengan kedinginan, pengabaian, hingga bentakan verbal yang merendahkan. Tidak ada tempat untuk Vivian di dalam hati Radhit, terlebih ketika hadir sosok Clarissa Olivia seorang model cantik nan manipulatif yang pandai memainkan peran di balik panggung bisnis Radhit.
Namun, di balik diamnya Vivian yang penurut, ada sebuah rahasia kecil yang dia jaga dengan nyawanya: sebuah kehidupan baru sedang tumbuh di dalam rahimnya.
Vivian bertahan menelan semua luka, caci maki, dan aroma parfum wanita lain dari pakaian Radhit semata-mata demi janin di perutnya. Dia berhar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bumi punya Ayah
Pertanyaan polos dari bibir mungil Bumi menggantung di udara pagi itu.
“Paman Radhit itu... beneran Ayahnya Bumi ya?”
Radhit membeku di tempatnya. Napasnya tertahan di tenggorokan, sementara dadanya bergemuruh hebat oleh rasa cemas, takut, sekaligus harapan yang membakar jiwa. Ia tak berani memotong, tak berani mendesak. Pandangan Radhit sepenuhnya terkunci pada Vivian, menyerahkan seluruh takdir masa depannya pada bibir wanita itu.
Vivian menarik napas dalam-dalam. Sinar matahari pagi yang menembus celah dedaunan membiaskan pendar hangat di wajahnya yang kini tampak begitu tenang. Tidak ada lagi keraguan, kebencian, atau trauma yang menyelimuti matanya.
Perlahan, Vivian berlutut di hadapan Bumi. Jemari lembutnya mengusap pipi empuk sang buah hati, lalu merapikan poni rambut balita itu dengan penuh kasih sayang.
"Bumi..." panggil Vivian dengan suara yang begitu lembut, namun bergetar oleh haru. "Sini, Sayang... tatap mata Ibu."
Bumi menatap ibunya dengan mata bulat yang jernih dan polos.
Vivian menggenggam kedua tangan mungil Bumi, lalu melirik pelan ke arah Radhit yang berdiri gemetar di samping mereka. Vivian mengangguk kecil pada Radhit sebuah isyarat tipis yang memberi izin bagi pria itu untuk mendekat.
Radhit perlahan ikut berlutut di samping Vivian di atas lantai kayu teras. Pria yang dulu tak tertandingi di dunia bisnis itu kini merendahkan seluruh tubuhnya, menunduk dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Bumi ingat kan, dulu Ibu pernah cerita..." tutur Vivian pelan, menatap anaknya. "Kalau Ayahnya Bumi itu sedang pergi jauh... sedang bertarung melawan rasa salahnya dan belajar untuk jadi orang yang lebih baik?"
Bumi mengangguk pelan. "Ingat, Ibu. Kata Ibu, Ayah lagi berjuang..."
Vivian mengukir senyum paling tulus yang pernah disaksikan Radhit selama bertahun-tahun. Lelehan air mata kebahagiaan akhirnya meluncur mulus di pipi Vivian.
"Sekarang... perjuangan Ayah sudah selesai, Nak," bisik Vivian, lalu perlahan mengarahkan kedua tangan kecil Bumi untuk menyentuh pipi Radhit. "Paman Radhit ini... adalah Ayah kandung Bumi. Ayah yang melindungimu dari api... Ayah yang sangat, sangat mencintai Bumi."
JLEB!
Kata-kata itu runtuh bagaikan hujan rahmat di atas tanah padang pasir jiwa Radhit yang selama ini gersang.
Dua tahun penyesalan yang membakar... darah yang tercurah di tanah... berlutut di kaki Vivian... dan rasa sakit akibat dosa masa lalu... semuanya seolah terbayar tuntas pada detik ini. Vivian tidak hanya memaafkannya, tetapi juga mengembalikan identitas hakiki dirinya sebagai seorang ayah.
Tangan kecil Bumi yang hangat dan empuk kini mengusap air mata yang menetes deras di pipi Radhit.
"Jadi... Paman ini Ayahnya Bumi?" tanya Bumi polos, matanya berbinar penuh keheranan yang manis.
Radhit tak sanggup lagi menahan gejolak di dadanya. Pria itu menangkup tangan kecil Bumi yang ada di pipinya, lalu mencium jemari mungil itu berulang kali dengan tangis terisak yang pecah tanpa bersuara.
"Iya, Nak... Ini Ayah..." suara Radhit pecah, parau dan sangat bergetar. "Ayah minta maaf karena Ayah terlambat datang... Ayah minta maaf baru bisa ada di samping Bumi sekarang..."
Bumi memiringkan kepalanya, lalu tanpa ragu sedikit pun, balita mungil itu memajukan tubuhnya dan melingkarkan kedua lengan kecilnya di leher lebar Radhit.
"Ayah Radhit!" bisik Bumi ceria di telinga pria itu. "Bumi punya Ayah!"
BRUK.
Radhit merengkuh tubuh mungil darah dagingnya itu ke dalam pelukan paling erat yang pernah ia berikan sepanjang hidupnya.
Ia menyembunyikan wajahnya di bahu kecil Bumi, menangis meraung-raung meluapkan seluruh beban dosa, kepedihan, dan rasa syukur yang luar biasa. Aroma minyak kayu putih dari tubuh anaknya seolah menyembuhkan setiap inci luka batin di dalam jiwanya.
Vivian berdiri pelan, menatap pemandangan di depannya dengan lelehan air mata hangat. Ia menyandarkan tubuhnya di ambang pintu, menyaksikan bagaimana seorang pria yang pernah hancur oleh kesombongannya sendiri... kini terlahir kembali sebagai sosok ayah yang utuh melalui pelukan seorang balita.
Matahari pagi kian meninggi, menyiram teras rumah panggung itu dengan kehangatan yang sempurna. Masa lalu yang berdarah memang tidak akan pernah bisa dihapuskan, tetapi batas baru yang penuh kedamaian, forgiveness, dan harapan baru kini telah resmi dibentangkan.
Setelah tangis keharuan itu mereda, Radhit membendung air matanya dan memangku Bumi yang tertawa riang. Pria itu mendongak, menatap Vivian dengan tatapan penuh rasa hormat dan janji suci.
"Terima kasih, Vivian... Terima kasih sudah mengembalikan hidup saya," bisik Radhit tulus.
Vivian tersenyum tipis, mengangguk pelan. "Sekarang fokus kita adalah masa depan Bumi, Mas. Kita mulai semuanya dari awal... sebagai orang tua yang bijaksana buat anak kita."
Namun, di tengah kedamaian yang baru saja tercipta di teras rumah panggung itu, ponsel Radhit di dalam saku jasnya bergetar panjang. Sebuah panggilan masuk dari tim pengacara keluarga besar di kota.
Radhit mengangkatnya dengan tenang. "Ada apa?"
"Pak Radhit..." suara pengacaranya terdengar sangat serius dari ujung telepon. "Proses eksekusi penyitaan seluruh aset Nyonya Sisca telah selesai. Namun... dalam surat wasiat sisa harta keluarga besar yang ditinggalkan almarhum Ayah Anda... ada satu klausul rahasia yang mensyaratkan Anda dan Ibu Vivian harus menetap kembali di rumah utama kota selama satu tahun jika ingin seluruh warisan dinasabkan utuh atas nama Bumi."
Masalah Clarissa cari kelemahannya,dan hancurkan apa yang dimilikinya yang bisa mengancam perusahaan
Untuk Julian sungguh mulia,kamu yang menolong Vivian, melindunginya,dan memberi rasa nyaman,namun tidak memaksa Vivian, untuk memilihnya, karena dia tahu masih ada nama Radit di hati Vivian