Di penghujung tahun 1989, Kota Marunda digegerkan oleh hilangnya Nirmala Hadiningrat, anak perempuan berusia tujuh tahun dari keluarga terkaya dan paling berpengaruh di kota tersebut. Tanpa ada tuntutan uang tebusan, satu-satunya petunjuk yang ditinggalkan pelaku di kamar korban hanyalah sebutir talas hutan misterius yang dibungkus kain kafan kusam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Hollow Archive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia
Aris memacu kembali Corolla DX miliknya menyusuri jalanan suburban yang mulai ramai di siang hari. Informasi dari Dokter Sembiring tentang Kecubung Hitam Lereng Kelam membuat rahangnya mengeras.
Benang merah masa lalu seolah belum sepenuhnya putus dari hidupnya. Begitu mobilnya berhenti di depan rumah nomor 42, suasana di sekitar TKP sudah dipenuhi oleh tetangga yang berbisik-bisik di balik garis polisi.
Di halaman rumah, seorang pria berwajah kusut dengan kemeja safarinya yang lecek sedang ditenangkan oleh Januar. Pria itu adalah Herman (35 tahun), suami dari Ratna sekaligus ayah dari Dani. Wajahnya merah, matanya sembab, dan dia terus meronta ingin masuk ke dalam rumah.
"Lepaskan saya! Di mana istri dan anak saya?!" teriak Herman, suaranya terdengar pecah di antara kerumunan warga.
Aris mendekat, memberi isyarat kepada Januar untuk melepaskan tangannya pada pundak pria itu.
"Tuan Herman, saya Detektif Aris. Saya yang memimpin penyelidikan ini," ucap Aris dengan nada suara berat namun penuh penekanan. "Saya harap Anda bisa tenang. Masuk ke dalam hanya akan merusak jejak yang ditinggalkan pelaku."
Mendengar kata 'pelaku', Herman seketika tatapan matanya beralih menatap ke arah Aris. "Pelaku? Maksud Anda... mereka dibunuh? Siapa yang tega melakukan ini pada mereka?"
Aris mengamati gerak-gerik Herman dengan jeli. Sebagai detektif, dia terlatih melihat kepalsuan di balik topeng duka. Ada sesuatu yang aneh dari reaksi Herman. Pria itu baru saja tiba dari dinas luar kota, namun aroma tubuhnya tidak menunjukkan bau perjalanan jauh; melainkan bau minyak wangi murah bercampur aroma alkohol.
"Kita bicara di dalam mobil saya," Aris menunjuk ke arah Corolla DX-nya. Aris tidak langsung mencecar Herman dengan pertanyaan seputar pembunuhan. Dia memutar korek Zippo-nya, menyalakan sebatang rokok kretek, dan menawarkan satu kepada Herman yang langsung ditolak dengan gelengan kepala
"Anda bilang Anda baru kembali dari dinas luar kota di dinas pekerjaan umum. Di mana tepatnya lokasi proyek Anda, Tuan Herman?" tanya Aris, menembakkan pertanyaan pertama sambil menghembuskan asap rokoknya ke arah jendela yang terbuka.
"Di... di proyek jembatan daerah pesisir, Detektif. Saya berangkat sejak dua hari lalu."
Aris meraba saku jaket kulitnya, lalu mengeluarkan sebuah benda yang dia temukan di bawah kolong meja makan tadi: boneka jerami kecil dengan ikatan rambut panjang milik Ratna.
Aris meletakkannya tepat di atas dasbor mobil, di depan mata Herman.
"Jika Anda berada di pesisir, lalu bagaimana benda ini bisa ada di bawah meja makan Anda?" tanya Aris. "Dan kenapa istri Anda memiliki serbuk tanaman langka dari lereng Gunung Kelam di bawah kukunya sebelum dia mati lemas bersama anak Anda?"
Aris sengaja mengulur waktu interogasi di dalam mobil. Dia mengetuk kaca jendela dengan pola ritmis tertentu, sebuah kode rahasia yang langsung dipahami oleh Januar yang berdiri di luar.
Sementara Aris terus mencecar Herman tentang detail proyek jembatan pesisir, Januar diam-diam mendekati bagasi mobil jip dinas milik Herman dan mengambil tas jinjing kanvas besar berwarna hijau yang terletak di kursi belakang.
Di dalam kabin mobil, Herman semakin terdesak.
"Saya bersumpah, Detektif! Saya tidak tahu apa-apa tentang boneka jerami itu! Ratna... istri saya memang belakangan ini sering bertingkah aneh. Dia ketakutan dan merasa ada yang mengawasi rumah ini,"
bantah Herman dengan suara meninggi, keringat membanjiri dahinya. Tepat saat itu, pintu mobil Aris diketuk dari luar. Januar berdiri di sana, Aris menurunkan kaca jendela. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Januar menyodorkan sebuah benda yang baru saja dia temukan dari dalam tas jinjing milik Herman.
Buku catatan harian bersampul kulit. Bukan buku itu yang membuat mata Aris menajam, melainkan selembar tiket bus antarkota yang terselip di dalamnya.
Tiket itu tertanggal kemarin malam, dengan rute perjalanan bukan dari daerah pesisir, melainkan dari sebuah kota kecil di lereng dekat Gunung Kelam. Alibi Herman tentang dinasti kerja di pesisir runtuh seketika.
Pria itu terbukti berbohong dan baru saja kembali dari wilayah Gunung Kelam beberapa jam sebelum mayat istri dan anaknya ditemukan. Aris mengambil buku catatan tersebut dan melemparkannya ke pangkuan Herman.
"Dinas di pesisir, tapi membeli tiket bus dari kaki Gunung Kelam kemarin malam? Tuan Herman, kebohongan Anda sudah selesai.
Sekarang katakan pada saya, apa yang sebenarnya Anda lakukan di gunung itu, dan siapa yang memberikan boneka jerami ini?"
Herman menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya dan mulai terisak.
"Saya terpaksa, Detektif..." bisik Herman di sela tangisnya. "Jika saya tidak pergi ke sana, orang itu mengancam akan menghabisi kami semua. Tapi saya bersumpah, bukan saya yang membunuh Ratna dan Dani! Saat saya pulang subuh tadi, mereka sudah tidak bernyawa!"