NovelToon NovelToon
CINTA YANG DULU KAU TOLAK

CINTA YANG DULU KAU TOLAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Kayla Rane

Wulan akhirnya terbebas dari pernikahan penuh luka setelah menceraikan Handi, suami yang kerap melakukan KDRT dan berselingkuh.

Demi menghidupi Delon dan Astrid, ia pergi ke kota dan menerima pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ART di sebuah rumah mewah.

Namun, Wulan tidak pernah menyangka pemilik rumah itu adalah Rian—lelaki yang pernah ia cintai saat kuliah, tetapi menolaknya karena menganggap Wulan bukan perempuan yang sesuai kriterianya.

Bertahun-tahun kemudian, keadaan justru berbalik. Rian mulai melihat ketulusan, ketegaran, dan kasih sayang Wulan kepada anak-anaknya. Di saat yang sama, Rian mulai menyesali pernikahannya dengan Nita, wanita karier yang lebih sibuk mengejar dunia model dan iklan daripada memperhatikan keluarga.

Rian yang dulu menolak Wulan kini perlahan jatuh cinta kepadanya. Tetapi Wulan bukan lagi gadis yang sama. Setelah melewati begitu banyak luka, mampukah ia membuka kembali hatinya untuk lelaki yang dulu pernah membuatnya merasa tidak cukup baik?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kayla Rane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 : HARGA SEBUAH KETENANGAN

...BAB 11...

...HARGA SEBUAH KETENANGAN...

Mobil yang membawa Wulan akhirnya memasuki halaman rumah Rian. Begitu mobil berhenti, Wulan langsung turun sambil membawa beberapa kantong belanja.

Sopir ikut turun untuk membantu. “Biar saya bawakan, Bu.”

“Tidak perlu. Yang ini ringan.”

“Biar saya saja.” supir itu tetap ingin membawanya.

Terpaksa, Wulan akhirnya menyerahkan dua kantong kepadanya. Ia sendiri membawa kantong berisi daging bebek. Entah kenapa, sejak meninggalkan pasar, pikirannya terus tertuju pada satu hal.

Mantan suaminya, Handi. Wulan mengira dirinya sudah cukup kuat untuk menghadapi lelaki itu. Tapi ternyata tidak.

Hanya melihat wajahnya saja sudah membuat tubuhnya kembali mengingat semua hal yang ingin ia lupakan.

Suara bentakan, pintu yang dibanting, tamparan juga pukulan Handi dulu padanya, tangannya yang selalu gemetar. Dan mendengar anak-anak yang selalu menangis di sudut kamar.

Wulan menggeleng cepat. “Sudahlah. Aku tidak ingin mengingatnya lagi.” lirihnya, dadanya seolah kembali sesak bila teringat kejadian-kejadian yang memilukan itu.

Ia tidak ingin membawa masa lalu itu masuk ke rumah ini. Rumah yang sekarang menjadi tempatnya memulai kehidupan baru.

Begitu Wulan masuk rumah, suara televisi langsung terdengar dari ruang keluarga.

“Mama!” Rana berlari menghampirinya.

Wulan spontan tersenyum. “Lho, kenapa lari-lari?”

Rana memeluk kakinya. “Dari tadi nungguin.”

“Kenapa, kangen?”

Rana mengangguk cepat. “Iya.”

Astrid yang sedang duduk di sofa langsung ikut berseru. “Ma, aku juga kangen.”

Wulan tertawa. “Baru juga sebentar ditinggalin."

“Sebentar itu lama,” jawab Astrid polos.

Delon yang sedang bermain di lantai ikut menyahut. “Uuh... Lebay.”

Astrid langsung melotot. “Kak Delon!”

Wulan menahan tawa. “Sudah-sudah, jangan bertengkar.”

Suasana kecil itu membuat ketegangan di dalam dirinya perlahan mereda.

Wulan meletakkan belanjaan di dapur. Mira yang sedang menyiapkan bahan makanan langsung menghampirinya.

“Belanjanya sudah selesai?” tanya Mira.

“Sudah.” jawab Wulan sambil mengeluarkan isi belanjaan di atas meja dapur.

Mira melihat isi kantong. “Lho, kok bebek?”

Wulan terdiam sebentar. “Kebetulan stok ayamnya habis.”

“Oh.” Mira tidak curiga. “Bebek juga enak.”

Wulan mengangguk. “Iya.” Ia tidak menceritakan kejadian di pasar, tidak ada gunanya.

Di ruang kerja, Rian masih duduk di depan laptop. Beberapa dokumen perceraian dengan Nita terbuka di atas meja.

Ia membaca satu per satu, sesekali membubuhkan tanda tangan pada dokumen yang sudah diperiksa pengacaranya.

Ponselnya tiba-tiba berdering. “Ya?”

Suara sekretarisnya terdengar dari seberang. [“Pak, untuk rapat Senin pagi tetap dilaksanakan?”]

“Jangan dibatalkan.”

[“Bapak datang ke kantor?”]

Rian melihat tumpukan dokumen di depannya. “Iya. Saya datang.”

[“Baik, Pak.”] Sambungan berakhir.

Rian menyandarkan tubuhnya ke kursi. Untuk beberapa hari terakhir, pikirannya memang terlalu banyak tersita oleh masalah rumah tangga.

Tetapi pekerjaan tetap harus berjalan. Ia tidak mungkin terus berada di rumah.

Besok, semuanya harus kembali normal. Atau setidaknya, terlihat normal.

Rian bangkit dan keluar dari ruang kerja. Ketika melewati ruang keluarga, ia melihat Wulan sedang duduk di lantai bersama Rana.

Anak kecil itu sedang menyusun balok. “Yang ini di atas, Mama.”

“Kalau yang ini?”

“Di situ.”

Wulan mengikuti petunjuk Rana. Menara balok itu semakin tinggi.

Astrid ikut memperhatikan. “Kalau roboh bagaimana?”

Rana menjawab santai. “Bikin lagi.”

Rian tersenyum kecil. Ia tidak sengaja berdiri cukup lama di sana.

Wulan yang menyadari keberadaannya langsung menoleh. “Pak?”

“Hm?”

“Bapak belum makan siang?”

“Belum.”

“Saya akan siapkan.”

“Tidak usah.” Rian berjalan mendekat. “Aku bisa ambil sendiri.”

Wulan langsung berdiri. “Bukan begitu, Pak.”

“Aku cuma bercanda.” Rian tersenyum. Lalu ia ikut duduk di sofa dan berkumpul bersama mereka.

Wulan menatapnya sebentar, lalu kembali duduk.

Rana langsung bangkit dan menghampiri Rian. “Papa!”

“Apa sayang?”

“Lihat!” Rana menunjuk menara baloknya. “Bagus kan?! Ini rumah.” kata bocah itu.

“Rumah siapa?”

“Rumahnya Mama Wulan.”

Rian terdiam. Wulan langsung tersenyum canggung. “Namanya juga anak-anak.”

Rian tertawa kecil. “Tidak apa-apa.” Rana kembali bermain bersama Astrid.

Rian menatap Wulan. “Di pasar tadi ramai?”

Wulan sedikit terkejut. “Em lumayan."

“Kamu capek?”

“Tidak terlalu.” Wulan menggeleng kepala.

Rian mengangguk. Ia sebenarnya ingin sekali bertanya lebih banyak tentang dirinya, kemana setelah kelulusan 10 tahun lalu. Ingin mengobrol tanpa ada rasa canggung, seperti dulu saat pertama kalinya mereka kenal di kampus.

Namun melihat ekspresi Wulan yang terlihat dingin, ia mengurungkan niatnya.

Malamnya, setelah anak-anak tidur, Wulan kembali ke dapur untuk merapikan beberapa peralatan.

Rumah sudah tenang. Rian masih berada di ruang kerja. Wulan sedang mencuci gelas ketika tiba-tiba tangannya berhenti.

Bayangan Handi kembali muncul di benaknya. Wajah lelaki itu ketika merebut ayamnya. Tatapan yang meremehkannya, cara bicaranya, semuanya masih jelas.

Air mengalir dari keran. Wulan memejamkan mata yang terasa panas. “Kenapa aku harus bertemu lagi dengannya?” Ia menarik napas panjang.

Dulu ia takut pada Handi. Sekarang pun sebenarnya masih. Namun ada sesuatu yang berbeda. Dulu ia tidak punya pilihan lain. Tapi sekarang ia sudah pergi dari lelaki arogan dan temperamental itu.

Ia sudah memiliki pekerjaan sendiri. Ia memiliki anak-anak yang menyayanginya. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia memiliki tempat yang terasa aman.

Wulan kembali mencuci gelas. Ia tidak boleh membiarkan Handi menghancurkan ketenangan yang baru saja ia dapatkan.

Di tempat lain, Handi masih memikirkan kejadian pagi tadi. Ia duduk di dalam mobil bersama Sinta.

“Handi.”

“Hm?”

“Kamu dari tadi diam saja. Ada apa?" Sinta menatapnya curiga. “Apa karena perempuan di pasar tadi?”

Handi melirik. “Perempuan yang mana?”

“Yang rebutan ayam denganku.”

Handi tertawa kecil. “Bukan, aku tak lagi mikir siapa-siapa.”

Sinta menyandarkan kepala ke kursi. “Terus kenapa kita tadi sampai mengikuti mobilnya segala?”

Handi tidak menjawab. Pikirannya kembali pada rumah besar di kawasan elite itu. Jujur saja, Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Wulan bisa berada di sana.

Selama menikah, Wulan tidak pernah hidup seperti itu. Bahkan untuk membeli kebutuhan rumah tangga saja sering meminta uang kepadanya.

Bagaimana mungkin sekarang perempuan itu bisa keluar dari mobil mewah dan masuk ke rumah sebesar itu? Pikirnya.

Handi menoleh ke arah Sinta. “Kamu masih ingin menikah denganku?”

Sinta tersenyum. “Tentu.”

“Kalau begitu kamu harus sabar.”

“Kenapa?”

Handi tersenyum. “Aku sedang menyiapkan masa depan kita.”

Sinta terlihat senang. Ia tidak tahu bahwa di balik senyum Handi, ada sesuatu yang lain.

Rasa penasaran. Handi ingin tahu kehidupan Wulan sekarang. Bukan karena rindu dan bukan karena cinta.

Melainkan karena ia merasa harga dirinya terusik. Ia tidak terima melihat perempuan yang dulu ia rendahkan kini hidup jauh lebih baik darinya.

****

Senin pagi datang... Rumah kembali sibuk. Delon bersiap kembali ke sekolah. Astrid membantu Wulan menyiapkan sarapan. Sedangkan Rana masih mengantuk dan tidak mau turun dari tempat tidurnya.

Wulan membujuknya. “Ayo bangun sayang, sarapan dulu yuk.."

“Lana masih ngantuk.”

“Nanti Papa berangkat kerja, kamu nggak tahu.”

Rana langsung membuka mata. “Papa mau pergi?”

“Iya.”

Rian yang sudah mengenakan kemeja dan jas turun dari tangga. “Papa berangkat ya.”

Rana langsung berlari menghampirinya. “Papa mau kerja??”

Rian menggendong putrinya. “Iya sayang, Papa kerja dulu.”

“Pulang lagi nggak?”

“Tentu saja Papa nanti pulang."

Wulan memperhatikan dari kejauhan. Rian kemudian menyerahkan Rana kepadanya.

“Jaga dia baik-baik.”

Wulan mengangguk tersenyum. “Iya, Pak.”

"Terimakasih..." ucapnya, lalu Rian berjalan menuju pintu.

Namun sebelum keluar, ia berhenti. Ia menoleh lagi kepada Wulan. “Kalau ada apa-apa, telepon aku.”

Wulan sedikit terkejut. “Eng... Iya.”

Rian akhirnya pergi.

Wulan melihat mobil majikannya meninggalkan halaman. Ia tidak tahu bahwa sejak pagi tadi, seseorang sedang memperhatikan rumah itu dari kejauhan.

Sebuah mobil berhenti beberapa ratus meter dari gerbang. Di dalamnya, Handi menatap rumah besar tersebut. Ternyata ia kembali hanya untuk melihat keberadaan Wulan dan kedua anaknya.

Namun Handi belum tahu siapa pemilik rumah mewah itu. Handi memperhatikan mobil Rian yang baru saja keluar.

Kemudian matanya kembali tertuju pada rumah itu. “Apa mungkin, dia hanya bekerja di rumah ini?”

Bersambung...

1
Lisa
Moga dgn berjlnnya waktu..Wulan dpt menerima Rian.
Lisa
Rian harus tegas..milih Wulan atau Clarisa..
falea sezi
laki g punya pendirian klo.mau ma. Clarisa jauhin wulan😒 serakah jd. laki. jangan php
falea sezi
cari krja di tempat lain aja rian aja plin plan🤣
araaself
lanjutt
Lisa
Clarisa ini ganggu suasana rumah aj..tiap hari dtg ke rmhnya Rian..moga aj Rian g tertarik pd Clarisa 🤭
Lisa
Aduh Bu Ranti dtg lg..ganggu aj nih
Lisa
Pasti Rian g mau menerima perjodohan itu
Lisa
Bu Ranti ini cerewet banget..
falea sezi
cari krja di tempat lain wulan😒
falea sezi
pergi aja wulan cari krja lain 😒 ngapain di injak2 gt meski cm. pembokat 😒
Lisa
Bu Ranti aj yg pergi dr rumahnya Rian..benar Rian kmu harus tegas terhadap ibumu..Wulan ga salah..
falea sezi
klo ikut ngatur krja g nyaman keluar aja cari krja lain😒 bawel amat lampir
Lisa
Ranti ini ikut campur aj dlm RT nya Rian..udh mending balik ke rmhmu sana Bu 🤭😊
Lisa: 😊😊 ya Kak
total 2 replies
Lisa
Ibunya Rian ini mengganggu ketenangan aja..udh biarkan Rian mengatur hidupnya sendiri.
Lisa
Ngapain juga Handi peduli sama Wulan..toh mrk udh bercerai dan dari dulu Handi terpaksa nikah dgn Wulan
Lisa
Rian mulai jatuh cinta lg nih 😊
falea sezi
🤣🤣mampus sok cari yg modern makan itu cwek. modern😒😒😒 sukurin dapet istri spek jalang
✨Kayla Rane✨: hahaaa😂 bener k
total 1 replies
Lisa
Handi emg kejam bgt..cpt sembuh y Wulan dr luka fisik & luka batinnya..skrg kmu punya Rian yg selalu ada utkmu..
Lisa
Udh Handi g usah ngawasi Wulan terus..urus aj hidupmu sendiri.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!