NovelToon NovelToon
Ketika Takdir Membawa Adira

Ketika Takdir Membawa Adira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

Setelah kehilangan istrinya dalam sebuah kecelakaan tragis, Areksa Dirgantara harus membesarkan putrinya, Aretha, seorang diri.
Hingga seorang perempuan bernama Adira datang ke dalam hidupnya.
Adira hanya berniat merawat Aretha, tetapi kedekatan mereka perlahan membawa keduanya pada sebuah pernikahan yang tidak pernah direncanakan.
Bagi Adira, pernikahan itu hanya sementara. Ia masih membawa luka dari masa lalu dan takut kembali mencintai.
Sementara Areksa perlahan menyadari bahwa perasaannya kepada Adira bukan sekadar tanggung jawab.
Namun, kehadiran Adira ternyata menyimpan lebih banyak rahasia.
Ada alasan mengapa Aruna begitu mempercayainya.
Ada masa lalu yang perlahan kembali.
Dan mungkin, pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan.
Ketika takdir membawa Adira ke dalam hidup Areksa, mampukah mereka menemukan cinta di antara luka, rahasia, dan masa lalu yang belum selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perasaan Gamang Areksa

“Kalian harus menikah.”

Deg!

Areksa langsung mengangkat wajah. “Pa?”

Adira membeku. “Tuan…”

Soraya pun terdiam. Ia sebenarnya sudah menduga suaminya akan mengambil keputusan besar, tetapi tetap terkejut ketika mendengarnya secara langsung.

Bayu mengangkat tangannya. “Dengar dulu.”

Tatapannya beralih kepada Areksa. “Pernikahan ini bukan cara untuk menghapus kesalahanmu, Reksa. Kesalahan tetaplah kesalahan, dan kamu tetap harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu lakukan kepada Adira.”

Areksa menundukkan kepalanya. “Iya, Pa.”

Bayu kemudian menatap Adira. “Dan saya tidak akan memaksa kamu menerima pernikahan ini hanya karena apa yang terjadi. Kalau pada akhirnya kamu menolak, keputusanmu harus dihormati.”

Adira menatap Bayu dengan mata berkaca-kaca. “Lalu kenapa Tuan mengatakan kami harus menikah?”

Bayu menghela napas. “Karena saya takut setelah kejadian semalam, kamu akan hamil, Adira.”

Adira spontan menggeleng. “Maaf, Tuan. Saya rasa tidak akan.”

“Saya juga berharap begitu." Bayu mengangguk. "Jangan salah paham. Maksud saya, saya tidak ingin anak itu merasa jika hadirnya karena kesalahan. Tapi walaupun ternyata tidak, pada kenyataannya Reksa sudah melakukan sesuatu kepadamu. Dan sejak kecil saya selalu mengajarkan putra saya untuk bertanggung jawab atas setiap perbuatannya.”

Adira menundukkan wajah. “Maaf, Tuan… Nyonya. Saya rasa saya lebih baik berhenti menjadi babysitter Non Aretha.”

“Tidak, Adira!” Suara Areksa terdengar tegas.

“Saya tidak mau kamu pergi.”

Bayu dan Soraya saling berpandangan.

Keduanya kemudian menatap putra mereka dengan tatapan penuh tanda tanya.

Ada sesuatu dalam sikap Areksa yang membuat mereka bertanya-tanya. Mengapa sejak awal ia selalu begitu keras menolak ketika Adira ingin pergi?

Apakah putra mereka mulai memiliki perasaan terhadap wanita itu?

Adira menggeleng pelan. “Maaf, Tuan. Saya merasa tidak pantas jika harus menikah dengan majikan saya sendiri. Saya juga tidak ingin keluarga Tuan nantinya menjadi bahan gunjingan.”

“Saya tidak peduli dengan gunjingan orang, Adira.”

“Adira.” Bayu memanggilnya dengan lembut.

“Kamu tau? Saya bukan orang yang memandang rendah orang lain hanya karena latar belakangnya. Ketika kamu menjadi bagian dari keluarga ini, martabat kamu adalah martabat keluarga saya juga. Tidak ada seorang pun yang berhak merendahkan kamu.”

Air mata kembali menggenang di mata Adira. “Maaf, Tuan. Saya tetap tidak bisa. Saya memaafkan semua yang dilakukan Tuan Reksa kepada saya, tapi—”

“Pa, boleh Reksa bicara berdua dengan Adira?” Areksa memotong perkataan Adira.

Bayu menatap putranya beberapa saat. “Silakan.”

Kemudian Bayu menunjuk Areksa dengan tatapan tegas. “Tapi ingat, jangan pernah kamu ulangi lagi perbuatanmu semalam.”

“Pa, please…”

“Iya, iya. Papa percaya kamu bisa menjaga diri.”

Soraya menghela napas. “Kalau ada apa-apa, panggil Mama.”

Areksa mengangguk.

Bayu dan Soraya pun meninggalkan ruangan itu. Keduanya hendak melihat Aretha yang masih terlelap.

Begitu pintu tertutup, ruangan kembali sunyi. Kini hanya ada Areksa dan Adira.

Untuk pertama kalinya, mereka harus membicarakan masa depan tanpa ada orang lain yang menjadi penengah.

“Adira…”

Areksa menghampiri wanita itu yang masih menundukkan wajah. Ia kemudian berlutut di hadapannya.

“Tolong, Tuan. Jangan begini…”

“Oke.” Areksa mengangguk dan bangkit. “Tapi kita masih bisa bicara, kan?”

Adira hanya menganggukkan kepalanya.

Areksa kemudian duduk di sampingnya. Beberapa saat ia hanya memandang Adira yang masih menunduk.

“Saya benar-benar minta maaf atas apa yang saya lakukan kepada kamu. Tolong maafkan saya.”

“Sudah saya maafkan, Tuan.”

“Iya, saya tau.” Areksa menghela napas. “Tapi saya tetap tidak tenang kalau belum mempertanggungjawabkan semuanya, Adira. Bagaimana kalau kamu hamil?”

“Tuan, tenang saja. Saya rasa saya tidak akan hamil.”

“Kalau memang nantinya kamu tidak hamil…” Areksa terdiam sejenak. “Kamu bisa melepaskan pernikahan itu, Adira.”

Adira akhirnya menatapnya.

“Tapi tolong, jangan pernah tinggalkan Aretha.”

Adira tersenyum tipis, tetapi ada kepedihan di matanya. “Tuan berkata seperti ini hanya karena saya masih memberikan ASI kepada Non Aretha, kan?”

“Bukan be—”

“Kita lihat saja nanti apakah saya hamil atau tidak.”

Adira memotongnya dengan lembut. “Kalau ternyata saya tidak hamil, mungkin saat itu Non Aretha sudah mulai MPASI. Saya siap kalau nantinya kita harus berpisah, Tuan. Aretha bisa minum susu formula. Dan saya bisa pergi.”

“Kenapa kamu ingin sekali pergi?”

Pertanyaan itu membuat Adira terdiam beberapa saat.

“Karena saya tau saya tidak mungkin menggantikan posisi Aruna di kehidupan siapa pun di rumah ini.”

Areksa hendak menyela, tetapi Adira melanjutkan.

“Saya tau diri, Tuan. Saya sudah sering dihina dan direndahkan. Saya tidak mau mengalami hal seperti itu lagi.”

Ia menarik napas panjang, berusaha menahan air matanya. “Dan kalau kita memang harus menikah…”

Adira menatap Areksa dengan mata berkaca-kaca. “Saya berharap hanya orang-orang di rumah ini yang tau. Untuk orang lain, saya tetap hanya babysitter Non Aretha. Saya tidak ingin pernikahan ini membuat orang-orang semakin mudah merendahkan saya.”

Areksa menundukkan wajah. Ia mulai memahami alasan Adira begitu ingin menjaga pernikahan itu tetap menjadi rahasia.

Namun, satu hal masih mengganjal pikirannya.

“Kenapa harus seperti itu?”

“Harus, Tuan.”

“Kenapa?”

Adira menarik napas pelan. “Karena saya tidak ingin orang-orang berpikir saya menikahi Tuan hanya karena ingin mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Saya juga tidak ingin keluarga Tuan menjadi bahan pembicaraan hanya karena saya. Dan saya tidak mau ada yang mengatakan saya mencoba menggantikan Aruna.”

Beberapa detik berlalu dalam keheningan.

Lalu tiba-tiba Areksa bertanya, “Apa kamu menyukai Kenzo?”

Adira mengernyit. “Kenapa jadi ke Dokter Kenzo?”

Areksa tidak menjawab.

Adira memperhatikannya beberapa saat, tetapi pria itu justru berdiri.

“Baiklah.”

“Tuan?”

“Saya turuti keinginan kamu.”

Areksa berjalan menuju pintu. “Untuk sementara, hanya orang-orang di rumah ini yang tau.”

Adira masih memandang punggungnya. “Tuan…”

Areksa berhenti, tetapi tidak berbalik. “Jangan khawatir. Saya tidak akan memaksa kamu menceritakan apa pun kepada siapa pun.”

Setelah mengatakan itu, Areksa keluar meninggalkan Adira sendirian.

Adira menghela napas panjang.

Sementara di balik pintu, langkah Areksa terhenti sesaat.

Entah mengapa, pertanyaan tentang Kenzo tadi justru terus berputar di kepalanya.

Dan semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin jelas satu hal yang terasa mengganggunya. Ia cemburu

***

Soraya mengetuk pelan pintu kamar Areksa.

“Boleh Mama masuk?”

“Masuk aja, Ma.”

Soraya membuka pintu lalu masuk. Ia duduk di tepi ranjang, kemudian menatap putranya yang tampak masih tenggelam dalam pikirannya.

“Reksa, jadi apa keputusan Adira?”

“Dia mengiyakan.”

Soraya mengangguk lega.

“Tapi dengan satu syarat. Hanya orang-orang di rumah ini yang boleh tahu tentang pernikahan kami.”

Soraya mengernyit. “Kenapa begitu?”

“Katanya dia sadar dengan posisinya, Ma. Dia merasa tidak mungkin menggantikan Aruna. Dia juga tidak mau keluarga kita dipermalukan kalau orang-orang tau aku menikahi babysitter anakku sendiri.”

Soraya tersenyum tipis. “Tapi menurut Mama, Adira memang sudah menggantikan posisi Aruna di hati kamu.”

Areksa langsung menoleh. “Kenapa Mama bicara seperti itu? Aku masih menyayangi Aruna.”

“Mama tau.” Soraya tidak membantah. “Dan Mama tidak pernah meminta kamu melupakan Aruna.”

Ia menggenggam tangan putranya. “Tapi menyayangi seseorang yang sudah meninggal bukan berarti hati kamu harus berhenti merasakan sesuatu kepada orang lain. Kamu bisa saja melakukan kesalahan itu dengan perempuan lain di acara tadi malam. Bahkan ada orang yang mungkin dengan senang hati mendekati kamu.”

Tatapan Soraya menjadi lebih serius. “Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu justru pulang. Dan perempuan yang kamu cari adalah Adira.”

“Ma…”

“Dengarkan Mama dulu.”

Soraya tersenyum kecil. “Ketika Adira ingin mengundurkan diri dan pergi dari rumah ini, kamu langsung menolaknya. Bahkan kamu terlihat sangat takut kehilangan dia.”

“Itu karena Aretha masih membutuhkannya, Ma.”

“Benarkah?” Soraya tertawa pelan.

“Kalau memang hanya karena Aretha, Mama rasa kamu tidak akan terlihat seperti orang yang kehilangan sesuatu ketika Adira ingin pergi. Dan sekarang kamu bahkan bersedia menikah dengannya.”

Soraya menatap putranya lekat-lekat. “Kalau hati kamu benar-benar masih tertutup untuk perempuan lain, kamu pasti akan menolak pernikahan ini.”

Areksa menghela napas panjang. “Ma…”

“Jujur sama Mama, Reksa.” Soraya melembutkan suaranya.

“Apa sebenarnya yang kamu rasakan kepada Adira?”

Areksa terdiam cukup lama. Ia sendiri seperti sedang mencari jawaban dari pertanyaan itu.

“Ma, aku juga nggak tau.”

Soraya menunggu.

“Sejak Adira datang ke rumah ini, aku merasakan sesuatu yang berbeda.”

Areksa mengusap wajahnya. “Aku ingat betul, aku tidak pernah mengenalnya sebelumnya. Tapi setiap kali melihat dia, rasanya seperti… aku pernah bertemu dengannya.”

Soraya mengerutkan kening. “Seperti pernah mengenalnya?”

“Iya.” Areksa mengangguk.

“Aku juga nggak mengerti kenapa. Bahkan ada beberapa hal kecil tentang Adira yang terasa familiar.”

Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan. “Dan ada satu hal lagi yang terus mengganggu pikiranku.”

“Apa?”

“Permintaan terakhir Aruna. Aruna begitu yakin Adira harus menjaga Aretha. Dia bahkan meninggalkan petunjuk tentang Adira sampai aku bisa menemukannya.”

Areksa menatap kosong ke depan. “Seolah-olah dia tau sesuatu yang tidak aku tau.”

“Mungkin memang begitu.”

“Tapi apa?”

Soraya menggeleng. “Mama juga tidak tau.”

Areksa menghela napas. “Makanya aku bingung, Ma. Kenapa Adira? Kenapa Aruna begitu mempercayakan Aretha kepadanya?”

Soraya tersenyum tipis. “Kalau begitu, jangan buru-buru mencari jawaban dari orang lain.”

Ia menepuk tangan putranya. “Cari tau dulu jawaban dari hati kamu sendiri.”

Areksa terdiam. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak langsung membantah ketika nama Adira dikaitkan dengan hatinya.

***

Adira masih duduk di kamar setelah Areksa pergi.

Ruangan itu kembali sunyi, tetapi pikirannya justru semakin ramai.

Kami akan menikah.

Kalimat Bayu tadi terus terngiang di kepalanya.

Ia tidak pernah membayangkan hidupnya akan sampai pada titik seperti ini.

Menjadi istri dari Areksa Dirgantara.

Pria yang sejak awal ia kenal sebagai majikannya.

Pria yang merupakan suami dari sahabat masa kecilnya. Aruna.

Nama itu saja sudah cukup membuat dada Adira terasa sesak.

Adira menunduk dan menggenggam jemarinya sendiri.

“Aku tidak mungkin menggantikan kamu, Aruna…” Ia berbisik lirih.

Sejak pertama kali datang ke rumah ini, Adira selalu sadar dengan posisinya. Ia hanya seorang perempuan biasa yang datang untuk membantu merawat seorang bayi.

Sedangkan Aruna adalah perempuan yang dicintai Areksa.

Istri yang menjadi ibu Aretha. Perempuan yang memiliki tempat istimewa di keluarga Dirgantara.

Lalu bagaimana mungkin dirinya bisa berdiri di tempat itu?

Adira mengusap air matanya. Namun yang paling membuatnya bingung adalah sikap Areksa.

Pria itu tidak pernah membiarkannya pergi. Bahkan ketika Adira mengatakan ingin mengundurkan diri, Areksa langsung menolak.

“Saya tidak mau kamu pergi.”

Adira memejamkan mata.

Mengapa kalimat sederhana itu justru terus terngiang di kepalanya?

“Kenapa, Tuan?”

Ia tidak tau apakah Areksa mempertahankannya hanya karena Aretha masih membutuhkan ASI darinya.

Atau ada alasan lain yang bahkan belum mampu diakui pria itu.

Adira tidak berani berharap. Ia sudah terlalu sering belajar bahwa berharap kepada seseorang hanya akan membuat dirinya kembali terluka.

Apalagi sekarang ia harus menikah dengan pria yang masih mencintai mendiang istrinya.

Pernikahan mereka mungkin hanya akan menjadi sebuah tanggung jawab.

Tidak lebih.

Adira mengusap pipinya yang basah. “Kalau memang ini harus terjadi…"

Ia menarik napas panjang. “Aku akan menjalaninya.”

Bukan karena ingin mendapatkan kehidupan mewah.

Bukan karena ingin menjadi bagian dari keluarga Dirgantara.

Dan bukan pula karena ingin mengambil tempat Aruna.

Ia hanya ingin bertanggung jawab atas keputusan yang telah dibuat.

Namun jauh di dalam hatinya, ada satu ketakutan yang tidak bisa ia abaikan.

Bagaimana jika suatu hari Areksa menyesal telah menikah dengannya?

Bagaimana jika ia kembali memandang Adira hanya sebagai perempuan yang hadir setelah Aruna pergi?

Dan yang paling menakutkan…

Bagaimana jika suatu hari hatinya sendiri justru benar-benar jatuh kepada Areksa?

1
sunaryati jarum
Emak beri dr Kenzo Adira itu istri majikannya
🤣🤣🤣
sunaryati jarum
Beneran jatuh cinta Tuan Reksa
cutegirl
nah kan begtu enak Diomongin
sunaryati jarum
Jadi ternyata Little girl kamu itu Adira bukan Aruna, jangan buru-buru buru Nak Reksa juga jangan memaksa ,beri perhatian nanti trauma dengan pernikahan dulu akan hilang hatinya jadi luluh
sunaryati jarum
Jalani saja Adira ikuti kehendak Authoor , yang penting upnya lancar pembaca senang,tegang , geram dan senyum juga gemas /Drool//Drool//Drool/


🥰🥰🥰🥰🥰🥰
sunaryati jarum
Emak berharap kalian menerima dan menjalankan pernikahan ini dengan penuh tanggung jawab bersama
sunaryati jarum
Berarti malai itu kamu sadar , karena masih terbayang kemolekan tubuh Adira.Semoga Adira memang jodohmu yang akan mendampingi sama kamu menua Nak Reksa
sunaryati jarum
Jalani saja Adira.Mungkin Areksa pernah bertemu Adira,atau cinta pertama saat kecil,jadi sekarang rasanya sangat familiar
sunaryati jarum
Ayah yang bijaksana sana,kirain. terjebak Felicia ternyata dengan Adira,itu kemauan Aruna,Niki Reksa harus menikah ya dengan Adira
Syti Sarah
kyak nya udh bucin tuh areksa sama Adira 🤭🤭
Syti Sarah: tinggal mnunggu Adira mnerima nya aja lgi kak 🤭
total 2 replies
NN
lanjut
Syti Sarah
smoga suatu hari nanti mreka bisa mnjdi sbuah kluarg yg bnar2 bhgia dan bisa mnrima stu sama lain 😊
kembangperawan
kapan terungakp siapa gadis kecik areksa?
Syti Sarah
areksa juga mnyukai Adira
just a grandma
blang aja kmu mencintai adira kan Reksa🥲
Syti Sarah
apakah nanti Adira akan mambenci areksa ya 🤔
Syti Sarah: psti nya itu Thor .bikin areksa pusing 7 kliling dulu Thor demi untuk mndpatkn Adira 🤣🤣🤣
total 2 replies
sunaryati jarum
Berarti kalian.pernah ketemu saat kecil
Syti Sarah
psti di kasi obat perangsang deh oleh felicia.itu psti rncan nya dgn mama nya 😏
Syti Sarah: iya btul bnget kak
total 2 replies
Lisa
ya benar Kak..Areksa menyukai Adira 😊
Syti Sarah
bilang aja klau kamu menyukai Adira 🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!