NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dewa Pedang

Reinkarnasi Dewa Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bajing33

Di puncak kejayaannya, Ye Xuan — dijuluki Dewa Pedang Sembilan Langit — nyaris mencapai keabadian sejati setelah tiga abad menempa jalan pedang tanpa tanding. Namun pada malam pendakiannya, saudara seperguruan yang paling ia percaya menikamnya dari belakang, bersekongkol dengan kekuatan tersembunyi yang selama ini bergerak dalam bayangan. Jiwanya tercerai-berai, terlempar melintasi ruang dan waktu selama tiga ratus tahun.
Kini, jiwa itu terbangun di dalam tubuh Lin Mu, putra bungsu Klan Lin yang dianggap sampah — pemuda tujuh belas tahun dengan meridian yang rusak parah, sasaran hinaan seluruh kota kecil di Perbatasan Utara, dan baru saja dipukuli setengah mati oleh tunangannya sendiri dari Klan Zhao di depan umum.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 — Ruang Rahasia di Bawah Aula Leluhur

Malam setelah pertemuan klan, Tetua Qing memanggil Lin Mu kembali ke kebun obat, kali ini dengan obor kecil di tangan dan wajah yang penuh perhitungan.

"Dua bulan tidak akan cukup jika kau hanya mengandalkan Napas Fondasi Sembilan Aliran biasa," katanya. "Tapi ada satu tempat yang mungkin bisa mempercepat segalanya—tempat yang belum pernah kubuka selama enam puluh tahun aku menjaga rahasia klan ini."

Ia membawa Lin Mu menyusuri lorong bawah tanah tersembunyi di balik Aula Leluhur, pintu masuknya disamarkan di balik salah satu ukiran leluhur yang tampak biasa saja bagi siapa pun yang tak tahu rahasianya. Tangga batu tua menurun jauh ke dalam tanah, dikelilingi keheningan yang terasa lebih tua dari klan itu sendiri.

Di ujung lorong, sebuah ruangan bundar terbentang luas, dindingnya diukir penuh formasi kuno yang berpendar redup kebiruan—formasi pengumpul qi, jenis yang bahkan pada masa kejayaan Ye Xuan dulu tergolong langka dan mahal untuk dibangun.

"Leluhur pendiri klan kami membangun ini lima ratus tahun lalu, meniru rancangan Ruang Meditasi Inti di Puncak Pedang Sembilan Langit—tempat kau dulu melatih murid-muridmu, jika catatan itu benar," Tetua Qing menjelaskan. "Formasi ini hanya bisa diaktifkan oleh seseorang yang memiliki hawa qi yang cocok dengan cetakan aslinya. Selama lima ratus tahun, tak seorang pun di klan ini pernah berhasil membukanya."

Lin Mu melangkah ke tengah ruangan, menempatkan telapak tangannya di atas altar batu di pusat lingkaran formasi. Sesaat tak terjadi apa-apa—lalu cahaya kebiruan itu meledak menyala, mengalir mengelilingi seluruh ruangan seperti sungai cahaya yang terbangun dari tidur panjangnya.

Tetua Qing terperangah, mundur beberapa langkah karena tekanan qi yang tiba-tiba memenuhi ruangan itu berlipat-lipat kali lebih pekat dari sebelumnya.

"Kepadatan qi di sini setara sepuluh kali lipat dunia luar," gumamnya takjub. "Bahkan aku, di usia seratus tahun ini, baru pertama kali merasakan kepekatan qi seperti ini."

"Di sinilah aku akan menghabiskan dua bulan ke depan," Lin Mu berkata, duduk bersila di tengah lingkaran formasi, merasakan aliran qi yang jauh lebih deras mulai menyerbu meridiannya yang masih setengah tersumbat. "Terima kasih, Tetua."

Dua bulan berikutnya berlalu seperti mimpi yang berat namun penuh kemajuan.

Setiap fajar, Lin Mu turun ke ruang rahasia itu, melatih Napas Fondasi Sembilan Aliran dengan kepadatan qi yang dipercepat oleh formasi kuno. Rasa sakit menyertai setiap terobosan—meridian yang tersumbat selama tujuh belas tahun tidak terbuka tanpa perlawanan, dan lebih dari sekali ia harus menahan diri agar tidak berteriak saat qi yang deras memaksa jalan melalui jaringan tubuh yang belum siap menampungnya.

Namun rasa sakit itu adalah sesuatu yang sudah lama ia kenal akrab. Tiga abad yang lalu, ia pernah menembus tujuh terobosan besar tanpa sekali pun mengeluh. Tubuh boleh baru, tapi mental seorang Dewa Pedang tidak pernah benar-benar lapuk oleh waktu.

Di minggu ketiga, Meridian Pusar Naga akhirnya terbuka penuh.

Di minggu kelima, dua meridian sekunder menyusul.

Di minggu ketujuh, untuk pertama kalinya sejak kebangkitannya, Lin Mu merasakan fondasi qi-nya cukup stabil untuk mencoba menggerakkan pecahan Penakluk Fajar dengan gerakan dasar Jurus Pedang Sembilan Aliran—versi paling sederhana dari ribuan jurus yang pernah ia ciptakan di masa lalunya.

Lin Wan sesekali datang membawakan makanan, terkejut melihat perubahan pada adiknya setiap kali berkunjung—tubuhnya yang dulu kurus kering perlahan mulai berisi, matanya yang dulu redup kini memancarkan ketenangan yang aneh, hampir menakutkan bagi seseorang seusianya.

"Kau benar-benar berubah, Lin Mu," katanya suatu sore, duduk di tepi ruang latihan sambil mengamati adiknya berlatih jurus pedang dengan sebatang ranting kayu, karena pecahan Penakluk Fajar terlalu berharga untuk dipakai latihan kasar. "Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu malam itu di alun-alun, tapi... aku bersyukur."

"Suatu hari akan kuceritakan semuanya, Kak," Lin Mu menjawab, menghentikan gerakannya sejenak untuk tersenyum tipis padanya. "Tapi belum sekarang."

Sementara itu, kabar tentang latihan intensif Lin Mu mulai bocor perlahan ke telinga Klan Zhao melalui mata-mata mereka, meski tak seorang pun berhasil menembus rahasia ruang bawah tanah itu. Zhao Yan, yang awalnya merasa puas atas kehancuran tunangannya, mulai merasakan kegelisahan aneh setiap kali laporan-laporan itu sampai padanya—desas-desus tentang aura mengintimidasi yang kadang terasa dari arah kediaman Klan Lin, tentang seorang pemuda cacat yang katanya kini berlatih pedang setiap malam tanpa henti.

Di minggu kesepuluh, hanya beberapa hari menjelang turnamen, Lin Mu duduk kembali di pusat ruang formasi untuk sesi latihan terakhirnya, mencoba menembus satu terobosan besar terakhir yang tersisa sebelum hari pertandingan—transisi penuh dari Pembuka Meridian menuju tahap pertama Pengumpulan Qi.

Qi mengalir deras memenuhi seluruh tubuhnya, formasi kuno di sekelilingnya berpendar semakin terang seolah ikut merayakan momen itu. Rasa sakit membakar setiap jengkal meridiannya, namun di tengah rasa sakit itu, Lin Mu tersenyum.

Ini baru permulaan, pikirnya, saat cahaya kebiruan formasi mencapai puncaknya, menandai terobosan yang telah lama ia tunggu. Turnamen tiga hari lagi hanyalah langkah pertama menuju puncak yang dulu pernah kutaklukkan—dan kali ini, tak seorang pun akan bisa merebutnya dariku dengan pengkhianatan murahan.

Di luar ruang bawah tanah, tanpa disadari siapa pun di dalamnya, Tetua Qing berdiri di ambang tangga batu, menyaksikan pancaran cahaya yang merembes samar dari celah-celah dinding kuno itu, wajahnya dipenuhi ekspresi yang sulit dijelaskan—campuran antara harap, cemas, dan keyakinan yang perlahan tumbuh bahwa legenda yang selama ini hanya ia dengar dalam cerita, kini benar-benar hidup kembali di hadapannya.

1
Ilham Yono
mulai ada titik terang
semngat thor/Determined/
Ilham Yono
hem ...cukup menegangkan/Determined/
Ilham Yono
👍👍👍👍👍 good
Ilham Yono
langkah cerdik🤯
Ilham Yono
alur cerita bagus ..laut cerita yang runtut, tidaknyerlalu cepat dan tidak lambat juga..nice story
Ilham Yono
nice ude, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh
Aisyah Suyuti
seru
Ilham Yono
di tunggu Thor lanjutannya
Ilham Yono
ada ancaman tersembunyi
Ilham Yono
fightings
Ilham Yono
good battle
Ilham Yono
finely
Ilham Yono
musuh yang bergerak dibalik bayangan/Grimace//Joyful/
Ilham Yono
hem...aula bayangan... Shadow recruit
Ilham Yono
aula bayangan muncull assassin's mo yin
Ilham Yono
feeling good
Ilham Yono
bahaya mengintai
Ilham Yono
good feeling
Ilham Yono
hem/Facepalm//Determined/
Ilham Yono
hem.....musuh bergerak dalam bayangn/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!