NovelToon NovelToon
Dendam Yang Salah (Sang Bos)

Dendam Yang Salah (Sang Bos)

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:311
Nilai: 5
Nama Author: shkira

Sebuah pertemuan yang tidak terduga terjadi pada Mariana purnama, yang akan mengubah hidup nya, akibat salah sasaran kebencian dan juga dendam dari seorang bos mafia, yang di kenal sebagai Hansen Deen.yang punya pengaruh dan kuasa besar di negara A.


pertemuan yang awalnya tidak di sengaja untuk Ana malah menjadi pertemuan yang akan membawa nya dalam masalah besar untuk hidup nya.

SELAMAT MEMBACA ,SEMOGA TERTARIK😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shkira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPS 1

Di PEMAKAMAN UMUM.

Mariana purnama, Gadis malang yang baru saja di tinggal pergi oleh kedua orang tua nya, tergolek lemah di depan tanah makam kedua orang tua nya yang masih basah. Mata nya yang sembab menatap lirih batu nisan mereka.

bibir nya gemetar menahan sesak di dada. air mata terus mengalir sejak ia menerima kabar kecelakaan yang menimpa kedua orang tua nya saat mereka pergi ke kota untuk menjual hasil panen, yang menyebabkan mereka tewas dalam kecelakaan.

Saat mendengar kabar itu Seketika dunia nya runtuh.

Ana tidak pernah mau beranjak dari makam ayah dan ibu nya. Ia terus memeluk batu nisan mereka dan tidak mau melepaskan nya. Meski sahabat nya Risa telah membujuk nya agar ia rela melepas kepergian kedua orang tua nya.

Ana menatap kosong sambil terus bergumam pelan "Ayah, ibu kenapa kalian pergi tidak membawa ku, aku ingin ikut dengan kalian!" Tangis nya. Pecah.

Risa berlutut di samping Ana mencoba menenangkan nya. Di pemakaman itu hanya tinggal mereka berdua.

Matahari mulai menyembunyikan diri. Risa mulai gelisah ketika melihat sahabat nya semakin larut dalam kesedihan.

Ia mencoba membujuk nya lagi.

"Ana, relakan mereka, biarkan paman dan bibi tenang di sana, kamu jangan seperti ini mereka akan sedih melihat nya!" Ucap nya, pelan.

Ana memeluk sahabat nya erat tangis nya pecah dalam pelukan " Risa bagaimana aku bisa hidup tanpa mereka," Isak nya sangat menyedihkan, membuat hati Risa sangat sakit melihat sahabat yang sejak kecil selalu ceria dan kuat, kini rapuh di mata nya.

Risa mengusap pelan air mata nya yang diam-diam jatuh, dada nya terasa sesak "kamu bisa hidup tanpa mereka, kamu bisa Ana, karena itu harapan paman dan bibi, pada mu!"

Tangis ana semakin pecah, ia tahu apaa yang di katakan Risa adalah benar, kedua orang tuanya selalu berharap agar ia hidup dengan baik kelak, meski tanpa mereka. Kata-kata itu pernah di ucapkan oleh Mereka sebelum kecelakaan itu terjadi.

Ana menangis, ia hanya bisa menangis hati nya sungguh hancur di paksa dunia agar rela melepas kedua orang yang amat sangat ia cintai.

Hari ini adalah hari yang paling menyakitkan untuk nya,

Di usia nya yang masih 22 tahun, harus kehilangan kedua orang tuanya. Semua harapan yang pernah ia ucapkan dulu kepada mereka kini semua nya telah hilang bersama jasad mereka yang telah pergi.

Sekarang ia harus kuat berdiri untuk masa depan hidup nya yang dulu pernah ia ucapkan pada kedua orang tua nya, jika ia akan tetap hidup meski mereka tidak di sisi nya. Janji itu ia ucap atas permintaan mereka. Ia pikir itu hanya lah sebuah janji biasa, namun ternyata itu adalah arti untuk kepergian mereka sekarang.

Matahari telah tenggelam sepenuh nya Risa membawa Ana pergi dari pemakaman. Langkah mereka semakin menjauh.

Pandangan Ana kosong kedepan, ia tidak mempedulikan langkah nya. Untuk terakhir kali nya ia menoleh ke arah makam kedua orang tua nya, sebagai perpisahan terakhir Sebelum ia melangkah jauh dari mereka.

di depan rumah sederhana Ana berdiri menatap sakit rumah yang dipenuhi kenangan hangat bersama kedua orang tua nya. Ia berdiri menatap lirih sekarang mereka tidak tidak ada lagi di sana. Hanya kenangan yang di tinggalkan mereka untuk nya.

Langkah Ana berat melewati pintu, setiap kenangan di rumah itu bermunculan di benak nya. Ia tersenyum hancur mengingat semua itu.

Mata nya menatap lirih kursi kayu tempat di mana ayah nya selalu duduk di sana saat menjelang malam, menonton acara favorit nya di televisi.

Lagi-lagi air mata nya memaksa untuk keluar, ia merasa sangat lelah dengan tangis nya yang tidak kuasa ia hentikan.

Ia teringat dua Minggu yang lalu ia merayakan tahun baru bersama ayah dan ibu nya di rumah.

Ana tidak menyangka tahun baru saat itu adalah tahun baru terakhir ia bersama mereka. Jika ia tahu itu adalah tahun baru terakhir nya dengan mereka, ia akan menghabiskan sepanjang malam bersama tanpa harus memejamkan mata.

Namun semua telah berlalu menyesal pun tidak akan pernah bisa memutar waktu, tubuh nya jatuh di sofa ia berbaring pelan di sana , matanya sangat lelah hingga rasa nya ia ingin tertidur agar ketika bangun nanti semua nya hanyalah mimpi Yang panjang.

Perlahan mata nya terpejam. Risa menatap sakit melihat Ana meringkuk di atas sofa. Ia mengambil selimut untuk menutupi tubuh Ana.

Risa duduk di sisi lain sofa, menunggu orang tuanya Kembali dari rumah kepala desa, yang saat itu mengurus surat ijin membawa ana pergi ke kota bersama mereka.

Tidak lama Kedua orang tua nya kembali. Percakapan mereka membangunkan Ana dari tidur nya.

Suara mereka terdengar seperti kedua orang tua nya sehingga Ana terbangun dengan hati yang lega. Namun ketika ia membuka mata semua nya hanyalah ilusi. Yang ia dengar dan yang ia lihat adalah om satria dan Tante mei, kedua orang tua sahabat nya.

Wajah Ana tertunduk lirih

Tante mei langsung menghampiri ana lalu memeluk nya dengan hangat, ana kembali menangis dalam pelukan Tante mei, seakan pelukan itu adalah pelukan ibu nya.

Tangisnya membuat Tante mei sangat sakit, ia tidak kuat menahan air mata nya yang akan jatuh.

Om satria menepuk punggung istri nya agar ia tenang dan tidak membuat Ana semakin larut dalam kesedihan.

Tante mei menyeka pelan air matanya. "Jangan menangis lagi, Tante ada di sini dan akan selalu ada untuk kamu Ana!" Ucap nya. Penuh kasih sayang.

Ana mengangguk pelan dalam pelukan Tante mei. Tangis nya perlahan mereda, Tante mei mengusap sisa air mata di pipi Ana.

Malam itu Tante mei dan Risa. Menemani Ana tidur di kamar nya.

Sedangkan om satria lebih memilih tidur di sofa, menjaga mereka sepanjang malam di luar agar jika mereka membutuhkan nya ia bisa langsung ada.

Ternyata mereka tidur jauh lebih tenang sehingga om satria punya kesempatan untuk memejamkan mata meski terkadang ia terbangun untuk mengecek mereka.

Mereka tidur hingga suara ayam berkokok.

Ana terbangun lebih dulu karena ia terbiasa bangun awal pagi untuk membantu kedua orang tua nya berkebun.

Ia lupa jika mereka sudah tidak ada di sisi nya lagi. Ana meringkuk menyembunyikan wajah nya di sela lutut. Ia diam-diam menangis.

Suara isak nya terdengar oleh Tante mei dan Risa. Mereka terbangun melihat ana meringkuk. Di ujung ranjang.

Tante mei dan Risa langsung memeluk nya agar ia tidak merasa sendiri.

.

.

.

Pagi itu, Tante mei menyiapkan sarapan untuk mereka. Sebelum nya Tante mei dan suami nya sepakat untuk bicara dengan Ana soal mereka yang ingin membawa nya ke kota.

"Ana!" Panggil Tante mei pelan.

Ana yang sedang menyantap makan nya langsung menoleh pada Tante mei, wajah nya terlihat lebih segar dari sebelum nya. Perlahan ia bisa menerima kepergian kedua orang tua nya.

"Ada apa Tante?" Balas nya.

Tante mei melirik pada suami nya yang mengangguk meminta nya mengatakan apa yang ingin ia katakan, " Apa kamu mau ikut kami ke kota?.. Tante dan om satria khawatir kamu tinggal sendiri di desa!" Tanya nya. Pelan.

Ana tertunduk diam, seperti enggan untuk pergi.

Tante mei mencoba sekali lagi untuk bicara dengan Ana. "Tante tidak memaksa, tapi Tante berharap kamu tidak menolak nya!" Ucap nya berharap.

Ana meletakan pelan sendok yang ada di tangan nya, expresi nya berbeda dari sebelum nya "ya Tante aku mau!" Balas nya lirih.

Tante mei dan yang lain tertegun kaget ketika Ana setuju dengan rencana mereka..

Tante mei mengambilkan ayam goreng untuk Ana dan di letakan di piring nya " Makan yang banyak, hari ini kita berkemas besok sebelum siang kita akan kembali ke kota!" Ucap nya, bersemangat.

Mereka kembali menyantap sarapan mereka hingga habis sambil berbincang menyusun semua rencana untuk masa depan Ana di kota nanti.

sebelum nya Ana sempat menolak, ketika tante mei dan suami nya. Mengatakan akan memberi nya apartemen untuk ia tinggal di kota nanti. Karena menurut nya itu terlalu berlebihan untuk nya dan ia tidak ingin merepotkan keluarga mereka.

Namun Karena tidak ingin melihat Tante mei sedih Karena penolakan nya terus menerus. sehingga membuat ana menyerah dan membiarkan Tante mei yang mengatur semua keperluan hidup nya di kota.

Ia setuju dengan cepat pergi ke kota lantaran Tidak ingin terus larut dalam kesedihan, karena di rumah itu penuh kenangan bersama kedua orang tuanya yang akan membuat ia tidak mudah rela melepaskan nya.

.

.

.

.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!