NovelToon NovelToon
Detak Jantung Di Balik Jas Putih

Detak Jantung Di Balik Jas Putih

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Dokter
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sabia Sky

Menjadi korban perundungan dan anak broken home membuat Ardelia Aira Safira berharap kehidupan barunya di SMA Bangsa Indonesia berjalan tenang. Namun, segalanya berubah saat ia bertemu kembali dengan dr. Arkanza Dirgantara dokter muda dingin, tampan, sekaligus sahabat dari kakak iparnya.

​Berawal dari insiden yang menyelamatkan harga dirinya, Aira perlahan melihat luka masa lalu di balik sikap kaku sang dokter. Dengan kepolosan dan keberaniannya, Aira nekat mengejar Arkan. Namun bagi Arkan, perbedaan usia dan status Aira sebagai adik ipar sahabatnya adalah batas yang tak boleh dilanggar. Puncaknya, Arkan secara tegas menolak Aira serta menghancurkan hati gadis itu seketika.

​Namun, ketika Aira benar-benar memilih mundur dan menghilang, keheningan justru menyadarkan Arkan bahwa hidupnya yang monoton terasa hampa. Di antara dinding kaku rumah sakit dan riuhnya masa SMA, akankah Arkan tetap berpegang pada logika, atau menyerah pada hatinya yang mendadak kacau?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aroma Lavender dan Sudut Tembok Rumah Sakit

​Pagi ini, Aira terjaga jauh sebelum alarm ponselnya sempat memekik. Sebuah anomali yang tentu saja jarang terjadi dalam riwayat hidupnya. Gadis itu memiliki sebuah misi khusus menyetrika kemeja milik Arkan yang kemarin dipinjamnya. Pakaian itu telah dicuci dengan detergen terbaik, dibilas dengan pelembut aroma lavender yang harumnya menenangkan, dan kini siap dirapikan.

​Bu Windy yang baru saja menyelesaikan salat Subuh tertegun saat melangkah keluar kamar. Di sudut ruang tengah, ia mendapati anak gadisnya sudah berdiri tegak di depan papan setrika, jemarinya bergerak telaten menggosok helai demi helai kain.

​"Kesurupan apa kamu jam segini sudah bangun? Tumben sekali menyetrika baju tanpa disuruh?" tanya Bu Windy menghampiri dengan dahi berkerut.

​"Selamat pagi, Mama sayang yang paling cantik. Hari ini Aira sedang simulasi menjadi calon istri yang solehah. Bangun pagi-pagi demi menyetrika baju suami tercinta," sahut Aira penuh semangat, matanya berbinar menatap permukaan kain yang mulai licin.

​Bu Windy mengernyit. Ia melangkah mendekat, lalu memegang kerah kemeja sewarna biru navy yang sedang digarap anaknya. Sepersekian detik kemudian, kesadaran menghantam wanita paruh baya itu. Tanpa aba-aba, jemarinya langsung mendarat di daun telinga Aira, menjewer tangkas hingga sang anak mengaduh.

​"Aduh, aduh! Mama, sakit! Kebiasaan deh, suka sekali menjewer telinga Aira!" ringis Aira sambil memegangi telinganya yang memerah.

​"Kamu habis berbuat apa, Aira? Ini kemeja laki-laki dewasa, kan? Astagfirullah, apa yang kamu lakukan kemarin, hah?!" kepanikan mulai merayap di nada suara Bu Windy, dadanya naik turun cemas.

​"Mama, tolong buang jauh-jauh pikiran buruknya. Ini kemeja milik Kak Arkan. Kemarin dipinjamkan ke Aira karena celana olahraga Aira tembus darah," jelas Aira blak-blakan.

​Bu Windy perlahan melepaskan jewerannya, namun tatapannya masih penuh menyelidik. "Darah apa? Kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu dari Mama, kan? Apa yang terjadi antara kamu dan Dokter Arkan?"

​"Ya ampun, Ma... Aira itu kemarin kedatangan tamu bulanan hari pertama pas ujian lari. Karena celana olahraga Aira tembus, Kak Arkan berbaik hati meminjamkan kemejanya untuk diikat di pinggang. Begitu ceritanya."

​Bu Windy mengembuskan napas lega, ketegangan di bahunya mencair. Namun, ia tetap memastikan, "Benar? Kalian tidak macam-macam, kan?"

​"Astagfirullah, Mama ini berprasangka buruk terus pada anak sendiri. Kalaupun Dokter Arkan mengajak macam-macam yang rasanya mustahil sekali Aira juga pasti menolak. Aira kan mau fokus lulus sekolah dulu, baru setelah itu kita gas ke pelaminan," sahut Aira enteng.

​

PLAKK!!!

​Sebuah tepukan mulus mendarat di lengan Aira, disusul acungan setrika yang tombol uapnya masih mendesis. "Setrika ini masih panas ya, Aira. Jangan mulai melantur atau Mama gosok mulutmu."

​"Ampun, Nyonya Besar! Aira mengaku salah," ucap Aira cepat. Ia menaruh telapak tangan kanannya di dada lalu membungkuk hormat layaknya pelayan kerajaan.

​Bu Windy hanya bisa mengelus dada, memilih melangkah ke dapur untuk menyiapkan sarapan sebelum tensi darahnya melonjak lebih tinggi akibat ulah ajaib putrinya.

⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙

​Suara kunyahan renyah dari bakwan goreng yang baru dibelinya menemani langkah Aira memasuki gerbang sekolah. Di pos penjagaan, tampak Pak Dadang, sang satpam sekolah, sedang duduk santai menikmati secangkir kopi hitam.

​"Selamat pagi, Pak Satpam yang paling tampan tiada tanding!" sapa Aira riang, menghampiri pos.

​Pak Satpam menoleh, hampir tersedak kopinya sendiri. "Lho, Neng Aira? Jam berapa ini? Tumben sekali sudah datang. Tidak salah lihat jam dinding di rumah, kan?"

​"Hari ini saya habis mendapatkan hidayah subuh, Pak. Lagipula, kalau saya bangun pagi, anggaran uang rokok Bapak bisa saya alihkan untuk beli jajanan pasar," kelakar Aira sambil memamerkan deretan giginya.

​Pak Satpam hanya menggeleng-gelengkan kepala, terbiasa dengan celotehan santai muridnya yang satu ini. "Tapi ini masih terlalu pagi, Neng. Baru jam enam lewat sedikit. Anak-anak lain biasanya baru datang setengah tujuh lewat."

​"Tidak apa-apa, Pak. Suasana sepi begini justru menenangkan," sahut Aira seraya melirik kantong plastiknya. "Eh, Pak Satpam, ini gorengan saya masih banyak. Silakan diambil, Pak. Enak dimakan hangat-hangat sambil minum kopi."

​"Aduh, tidak usah, Neng Aira. Bawa saja buat sarapan di kelas, kasihan kamunya nanti kelaparan," tolak Pak Satpam sungkan.

​"Bawa saja, Pak. Saya sudah sarapan nasi goreng tadi di rumah, ini cuma opera tes pencuci mulut tapi perut saya mendadak sudah kenyang. Anggap saja ini kompensasi absen absen rokok Bapak hari ini," ucap Aira sambil meletakkan bungkusan itu di atas meja pos.

​"Ah, kalau begitu Bapak tidak usah sungkan-sungkan ya kalau mau menolak. Terima kasih banyak, Neng Aira!" seloroh Pak Satpam diiringi tawa renyah.

​Aira tertawa kecil, melambaikan tangan pamit lalu berjalan menuju gedung kelasnya. Karena koridor masih lengang, ia sengaja berjalan sambil melompat-lompat kecil, membuat gantungan kunci di tas ranselnya berdenting ritmis. Rencananya sore ini adalah menebus jam tidur. Masih ada waktu satu jam sebelum bel masuk, waktu yang sangat ideal untuk meringkuk di meja kelas.

​Aira mendorong pintu kelas yang rupanya sudah tidak terkunci oleh penjaga sekolah. Ruangan itu tampak remang-remang karena tirai jendela belum dibuka. Ia berjalan ke sudut kanan belakang, tempat bangku regulernya berada, lalu mengempaskan tubuh.

​Setelah menaruh tas, Aira mengeluarkan botol minumnya. Namun, baru saja seteguk air melewati tenggorokannya, bulu kuduk di leher belakangnya mendadak berdiri tegak. Sebuah suara dengkuran halus bernada konstan terdengar memantul dari arah pojok kiri kelas yang gelap.

​Aira membeku. Ia mencoba menenangkan diri, berpikir bahwa itu mungkin hanya efek sisa ketakutan setelah menonton film horor Bangku Kosong semalam. Namun, suara dengkuran itu justru semakin jelas dan ritmis.

​Didorong oleh rasa penasaran bercampur takut, Aira bangkit dari kursinya. Sambil menggenggam botol minumnya erat-erat seperti senjata, ia melangkah perlahan mendekati deretan bangku di pojok kiri. Di sana, di atas meja yang disatukan, tampak sesosok tubuh meringkuk di balik jaket tebal berwarna hitam.

​Karena suasana yang remang dan otaknya yang terlanjur dipenuhi imajinasi mistis, Aira tidak berpikir panjang. Ia menjerit histeris.

​"Astagfirullahalazim! Hantuuu!!!"

​SYURRR!!!!

​Tanpa ampun, Aira menyiramkan seluruh sisa air di botol minumnya tepat ke arah sosok berjaket hitam tersebut.

​"Hantu! Ada hantu!" teriak sosok di balik jaket yang langsung terlompat bangun karena kaget dan basah kuyup.

​"Demi apa, hantunya bisa berteriak hantu juga?!" pekik Aira makin histeris. Ia berbalik arah dan berlari kencang keluar pintu kelas.

​Namun, alih-alih mengejarnya dengan wujud menyeramkan, sosok berjaket hitam itu ikut berlari keluar ruangan dan langsung membanting pintu kelas di belakang mereka.

​"Mana? Di mana hantunya?!" tanya cowok itu dengan napas memburu, matanya liar menatap koridor yang sepi sebelum pandangannya jatuh pada Aira.

​Aira mengerapkan mata, membelalak tak percaya. "Bayu?!"

​Bayu menurunkan kupluk jaketnya yang basah, menampilkan wajah dongkol dengan rambut yang lepek terkena air. Seragam sekolah bagian depannya kini tampak berbercak basah kuyup akibat ulah radikal Aira.

​"Jangan bilang... yang kau sebut hantu tadi itu aku?!" desis Bayu, suaranya sarat akan kekesalan yang mendalam.

​"Ya... aku kira kau penunggu kelas ini! Lagipula, kenapa kau sudah ada di dalam kelas dengan posisi tidur seperti itu? Pintu kan tadi tertutup!" bela Aira, mencoba menutupi rasa bersalahnya.

​Bayu mengepalkan kedua tangannya, menarik napas panjang demi menahan diri agar tidak meledak. Entah sudah berapa kali hidupnya mendadak sial setiap kali berdekatan dengan gadis ajaib di hadapannya ini. Dan hari ini, ia terancam masuk angin karena pakaiannya basah kuyup di pagi buta.

⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙

​Satu jam kemudian, Aira tampak berdiri di luar toilet pria dengan raut wajah tidak enak hati. Sebagai bentuk pertanggungjawaban, ia tadi terpaksa berlari ke masjid sekolah untuk meminjam sebuah sarung inventaris milik marbot agar bisa dipakai oleh Bayu, sementara celana sekolah cowok itu dijemur di tralis jendela kelas.

​Pintu toilet terbuka, menampilkan sosok Bayu yang melangkah keluar. Aira seketika terperangah, sebelum akhirnya tawanya pecah tak tertahankan.

​"Ya ampun, Bayu! Hahaha! Kau sudah cocok sekali jadi ustadz muda yang siap memimpin pengajian!" gelak Aira sambil memegangi perutnya.

​Bayu mengenakan seragam sekolah yang setengah basah, dipadukan dengan sarung kotak-kotak berwarna hijau pudar yang dililitkan agak tinggi di pinggangnya.

​"Ini semua karena ulahmu, ya! Kalau bukan karena takut masuk angin dan tidak punya celana ganti, aku tidak akan sudi memakai kain apek ini!" ketus Bayu, wajahnya merona merah akibat menahan malu.

​"Iya, iya, maaf. Namanya juga refleks karena kaget dan mengira kamu makhluk halus. Sudah, ayo sekarang kita ke ruang guru untuk meminta izin resmi," ajak Aira, mencoba meredakan kekesalan sang ketua kelas.

​Sepanjang perjalanan menuju ruang guru, Bayu otomatis menjadi pusat perhatian. Murid-murid yang baru berdatangan langsung berbisik-bisik, bahkan beberapa teman satu gengnya tak segan melempar ledekan keras.

​"Woy, Bayu! Habis disunat massal di mana kau pagi-pagi begini?!" teriak salah seorang siswa dari lantai dua.

​Bayu memilih menulikan telinga, berjalan dengan langkah cepat di belakang Aira. Di ruang guru, Aira dengan kemampuan diplomasinya yang ajaib berhasil meyakinkan guru piket mengenai kronologi kecelakaan air tersebut, sehingga Bayu diizinkan mengikuti pelajaran dengan atribut sarung terikat.

⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙

​Pada jam pelajaran kedua, kelas mereka kedatangan Pak Yadi, guru mata pelajaran Bahasa Inggris yang terkenal tegas.

​"Bayu, silakan maju ke depan dan kerjakan soal nomor enam di papan tulis," perintah Pak Yadi dari balik kacamata minusnya.

​Dengan tingkat kepercayaan diri yang entah datang dari mana, Bayu bangkit. Kain sarungnya berkelebat ritmis mengiringi langkahnya ke depan kelas.

​Pak Yadi menghentikan ketukan penanya, menatap muridnya dari atas ke bawah dengan dahi berkerut. "Bayu, kenapa kamu memakai sarung di jam pelajaran saya?"

​"Bayu habis disunat sama Aira tadi pagi, Pak! Makanya belum bisa pakai celana!" celetuk Panji asal dari bangku belakang, memicu ledakan tawa dari seisi kelas.

​Aira langsung berbalik, memberikan tatapan tajam yang menghunus lurus ke arah Panji. "Kamu mau aku sunat dua kali, Panji? Sini maju kalau berani!" ancam Aira dengan penekanan intonasi yang mematikan.

​Panji seketika bungkam, membuat gerakan menutup ritsleting di bibirnya. Sementara seisi kelas masih terpingkal-pingkal, Zara yang duduk di sebelah Aira hanya bisa menggelengkan kepala pasrah. Ia sudah terlalu terbiasa dengan drama harian sahabatnya yang selalu berhasil membuat kelas geger.

⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙

​Bel pulang sekolah yang dinanti akhirnya menggema. Dengan langkah riang dan hati yang berbunga-bunga, Aira bergegas meninggalkan area sekolah. Tujuan utamanya sore ini adalah Rumah Sakit Medika Sentra Surya, tempat Arkan bertugas. Ia ingin mengembalikan kemeja navy sekaligus mencuri waktu untuk melihat wajah pria yang disukainya.

​Sambil menenteng paper bag tiruan berpita rapi, Aira yang masih mengenakan seragam putih abu-abu berlapis jaket denim melangkah menyusuri koridor rumah sakit setelah mendapat izin di meja informasi.

​Di depan pintu ruangan kerja Arkan, ia menarik napas dalam, merapikan poninya, lalu mengetuk pintu perlahan. Begitu mendengar suara bariton dari dalam yang mengizinkan masuk, Aira mendorong pintu dengan senyum termanisnya.

​Arkan tampak sedang fokus memeriksa beberapa lembar rekam medis pasien di atas meja kerja. Pria itu bahkan tidak mendongak, kemungkinan mengira bahwa yang datang adalah salah satu perawat jaga.

​"Selamat sore, Kak Arkan," sapa Aira lembut, lalu menduduki kursi kosong di depan meja kerja tanpa diminta.

​Mendengar suara yang sangat familier itu, pena di tangan Arkan terhenti. Ia mendongak, matanya menatap Aira dengan kilat keterkejutan yang tertahan. "Kamu? Kenapa bisa ada di sini?"

​"Aira ke sini mau mengembalikan kemeja Dokter yang kemarin. Ini sudah dicuci bersih, wangi aroma lavender, dan disetrika dengan penuh rasa cinta," ucap Aira penuh percaya diri sambil mengangsurkan paper bag ke atas meja.

​Arkan melirik bingung bungkusan tersebut, lalu menyandarkan punggungnya di kursi. "Cepat juga layanan laundry di rumahmu."

​Aira hanya menyengir kuda. Berada dalam jarak sedekat ini dengan Arkan selalu berhasil membuat ritme jantungnya berantakan, menyisakan rasa canggung yang aneh namun menyenangkan.

​Di tengah keheningan yang mendadak tercipta, sebuah suara keroncongan yang cukup nyaring terdengar berasal dari arah perut Aira. Suara itu begitu jelas di ruangan yang kedap tersebut, membuat Arkan langsung mengalihkan pandangan ke arah perut gadis itu.

​Aira seketika merona merah, refleks memegangi perutnya dengan wajah menahan malu.

​"Belum makan siang?" tanya Arkan pendek.

​Aira menggeleng pelan dengan senyum kikuk yang dipaksakan.

​Arkan mengembuskan napas, lalu bangkit dari kursi kerjanya dan meraih jas dokternya yang tersampir. "Ikut saya ke kantin. Kebetulan saya juga melewatkan makan siang karena jadwal operasi tadi."

​Aira langsung berdiri dan membuntuti langkah Arkan dari belakang. Struktur tubuh Arkan yang menjulang setinggi 185 cm membuat tubuh mungil Aira yang hanya 160 cm benar-benar tenggelam di balik punggung lebar pria itu. Apalagi sore ini Aira hanya mengenakan sepatu kets datar tanpa hak.

​"Kamu jangan berjalan di belakang saya seperti itu. Kalau kamu tertinggal atau tersesat di lorong ini, saya juga yang repot," ujar Arkan tanpa menoleh, namun langkahnya sedikit melambat.

​Aira menurut. Ia mempercepat langkah hingga kini posisi mereka berjalan berdampingan. Sembari melangkah, pandangan mata Aira justru terkunci pada jemari tangan Arkan yang berayun santai di sisi tubuhnya. Pikiran remajanya mulai berkelana jauh, membayangkan betapa indahnya jika jemari mereka saling bertautan di sepanjang koridor rumah sakit ini.

​Namun, karena fokusnya terbagi penuh pada lamunan visual tersebut, Aira tidak menyadari ada sudut tembok pilar di depannya.

​JEDUG!!!

​"Aduh!!!" pekik Aira kesal bercampur sakit saat dahinya membentur permukaan keras tembok pilar hingga tubuhnya terhuyung ke belakang.

​Arkan terkejut, langsung membalikkan badan dan mendapati Aira sudah terduduk di lantai koridor sambil memegangi dahinya dengan kedua tangan, matanya terpejam menahan nyeri.

​Arkan berjongkok di hadapan gadis itu, raut wajahnya tampak gusar namun tersirat kecemasan. "Kamu ini bisa tidak kalau jalan itu menggunakan mata dengan benar?" ketusnya.

​Aira memanyunkan bibirnya dalam-dalam. Ini murni kesalahannya yang terlalu sibuk mengagumi jari-jari tangan Arkan sampai melupakan eksistensi arsitektur bangunan di sekitarnya. "Sakit, Kak..." keluhnya lirih.

​"Coba lepaskan tanganmu, letak lukanya di mana?" perintah Arkan.

​Aira menurunkan jemarinya, memperlihatkan dahinya yang tertutup poni. Arkan menggeser untaian rambut depan Aira, lalu menekan lembut bagian kulit yang mulai memerah. Sentuhan itu spontan membuat Aira meringis kecil.

​"Ceroboh," komentar Arkan dengan ekspresi sedatar papan tulis, namun gerakannya saat membantu Aira bangkit berdiri terasa sangat hati-hati. "Kita kembali saja ke ruangan saya. Nanti saya minta staf kantin mengantarkan makanan ke atas. Kita makan di dalam saja daripada kamu menabrak hal lain lagi."

​Aira hanya pasrah mengekor di belakang Arkan, meratapi nasib dahinya yang kini mulai berdenyut pasca-benturan.

⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙⚙

​Dua puluh menit berlalu. Makanan yang dipesan telah tandas tak bersisa, dan lebam kemerahan di dahi Aira pun sudah dikompres serta diolesi salep memar oleh Arkan. Kini, suasana ruangan kembali tenang dengan kesibukan masing-masing.

​Arkan kembali berkutat dengan tumpukan berkas pasiennya, sementara Aira duduk di sofa sembari membolak-balik selembar brosur penerimaan mahasiswa baru dari salah satu universitas negeri yang ia temukan di meja tamu.

​"Dokter Arkan... kalau nanti setelah lulus sekolah Aira mengambil kuliah jurusan keperawatan, menurut Dokter cocok tidak?" tanya Aira memecah keheningan.

​Arkan menggelengkan kepalanya perlahan tanpa mengalihkan pandangan dari kertas di tangannya. "Tidak"

​Aira mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban instan dan jujur dari sang dokter. "Ih, padahal kan skenarionya bagus sekali kalau Aira jadi perawat dan Dokter Arkan jadi dokternya. Kita bisa jadi pasangan dinas yang paling serasi di rumah sakit ini. Bisa kerja bareng seharian, makan siang bareng, lalu pulang bareng..." Aira mulai menopang dagunya, tersenyum-senyum sendiri membayangkan masa depan fiktif tersebut.

​"Berhentilah berhalusinasi di siang bolong, Aira," potong Arkan dengan suara flat.

​Aira bersiap melayangkan argumen balasan, namun getaran dan nada dering nyaring dari ponsel di saku jaketnya menggagalkan niatnya. Di layar tertera nama sang kakak Reyhan.

​Aira menekan tombol hijau dengan ragu. "Halo, Bang?"

​"Kamu di mana sekarang?" suara bariton Reyhan di seberang telepon terdengar menuntut.

​"Ini... Aira lagi di jalan kok, Bang. Sedang mau proses pulang," jawab Aira berbohong, matanya melirik cemas ke arah Arkan.

​"Cepat langsung pulang ke rumah. Jangan coba-coba pergi menemui Arkan lagi ke rumah sakit, apalagi bertingkah centil di sana. Abang tahu kelakuanmu," tegas Reyhan di balik telepon dengan volume yang cukup keras hingga gaungnya samar-samar terdengar oleh Arkan yang berada tidak jauh dari sana.

​Aira menelan ludah, buru-buru memotong pembicaraan. "Eh, iya, Bang! Ini angkot pesanan Aira sudah datang di depan muka. Sudah dulu ya, dadah!" Ucapnya cepat sebelum langsung memutuskan sambungan sepihak.

​Aira menyengir tanpa dosa ke arah Arkan, memasukkan kembali ponselnya ke saku jaket denimnya.

​Arkan meletakkan penanya, menatap Aira dengan kilat jenaka sekaligus menyindir. "Ternyata selain jago merayu pria asing, kamu juga cukup mahir memproduksi kebohongan dalam situasi instan."

​"Eh, bukan begitu, Kak! Ini namanya kebohongan demi keselamatan bersama dalam situasi darurat. Kalau Bang Reyhan sampai tahu Aira ada di ruangan Dokter saat ini, bisa-bisa Aira dicoret dari kartu keluarga karena dianggap mengganggu ketenangan publik," elak Aira mencari pembenaran.

​"Kalau kamu sudah tahu hal itu dilarang dan berisiko, kenapa masih nekat kamu lakukan?" cecar Arkan, melipat kedua tangannya di dada.

​Aira menegakkan posisi duduknya. "Karena Aira datang ke sini membawa sebuah misi penting yang mutlak, Kak."

​"Misi apa?"

​"Pertama, mengembalikan kemeja milik Kakak. Dan yang kedua... ingin mencuri hati Kak Arkan agar tidak jatuh ke tangan wanita lain," ucap Aira diakhiri dengan senyum manis tanpa beban yang menjadi ciri khasnya.

​Arkan mengembuskan napas panjang, lalu bangkit dari kursinya dan melangkah menuju pintu ruangan. "Berhenti melontarkan rayuan seperti itu, Aira. Kamu itu masih berstatus pelajar. Fokuslah pada sekolahmu dan berhenti mengganggu ketenangan kerja saya."

​"Tapi kenapa tidak boleh, Kak? Kakak Arkan kan statusnya masih sendiri dan tidak sedang terikat hubungan dengan siapa pun. Tidak ada pasal hukum yang melarang Aira untuk mendekati Kakak, kan?" bantah Aira ikut bangkit dari sofa, berjalan cepat menyusul Arkan yang kini tengah memegang gagang pintu ruangan.

​Namun, tepat saat Arkan menarik daun pintu ke arah dalam, kata-kata lanjutan yang hendak ia ucapkan mendadak terkunci di tenggorokan. Kedua pasang mata mereka seketika membelalak sempurna mendapati sesosok pria tegap dengan setelan kemeja formal sudah berdiri tegak di ambang pintu, bersiap untuk mengetuk.

​Pria itu rupanya telah berdiri di sana cukup lama untuk mendengarkan bagian akhir dari percakapan mereka.

​Arkan memejamkan matanya sejenak, menarik napas dalam demi meredakan debaran shock di dadanya. "Kamu ingin tahu apa masalahnya? Nah, situasi di depan kita saat ini adalah jawabannya," gumam Arkan pelan.

​Aira membeku di tempat, warna di wajahnya mendadak surut digantikan rasa ngeri. "B-Bang Reyhan...?"

​Reyhan berdiri kokoh di ambang pintu, tatapan matanya bergantian menatap tajam ke arah adik kandungnya dan sahabat dari istrinya tersebut dengan pandangan mengintimidasi yang siap menggelar sidang kedisiplinan keluarga saat itu juga.

​Bersambung__

_____

1
Best
jangan lupa mampir balik😁
id IG: sabia.sky: ditunggu✨
total 1 replies
Best
semangat up kak..
Best
lanjut Thor.. ✨
Best
maksa ya aira🤣
Best
kalau aku sih jadi Aira udah aku gampar mulutnya
Best
negosiasi kaya jualan aja ya aira
Best
parah nih Aira. kasian mamanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!