Aura Luminar bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Bangkit dari kematian akibat pengkhianatan tunangan nya dan selingkuhannya, dia datang dengan jiwa yang baru, membawa dendam untuk menghancurkan orang-orang yang sudah membunuhnya.
Kaisar Zane Caliber, dingin, dominan, dan tidak tersentuh. Pria kejam yang tidak pernah memberi ampun pada musuhnya, gila kerja, dan tidak pernah tertarik dengan wanita mana pun, membuat takhta Permaisuri kosong tanpa pendamping.
Sebuah permainan berbahaya dimulai saat Aura sengaja memancing perhatian sang Kaisar, untuk belas dendam dengan mantan tunangan nya, sang Pangeran yang telah mencampakkan nya.
Akankah Zane tetap berdiri kokoh sebagai penguasa yang tak tersentuh, atau justru terjerat dalam pesona dan perangkap yang diciptakan Aura?
_____________
"Lahirkan keturunan untuk ku, akan kuberikan kekuasaan di bawah kaki mu."~ Kaisar Zane Caliber
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGUNTIT
"Kue di kedai ini memang paling enak di seluruh ibu kota, Lady Aura," ucap Kaisar Zane dengan suara beratnya.
Aura melotot kaget, cepat-cepat mundur satu langkah.
"Y-Yang Mulia?!" seru Aura refleks, untungnya suaranya ditahan agar orang-orang di sekitar tidak mendengar.
Sora yang berada di belakang Aura hampir saja menjatuhkan dompet koinnya ke tanah, kaget melihat penguasa kekaisaran berdiri santai di pasar ramai begini.
"Sedang apa Anda di sini?!" bisik Aura tajam, alis cantiknya bertaut rapat penuh kecurigaan.
Kaisar Zane, menatap Aura santai tanpa beban.
"Aku cuma sedang jalan-jalan menikmati udara pagi," jawab Kaisar Zane dusta, padahal dia memang sengaja menguntit Aura setelah Nico melaporkan keberadaan gadis itu di pasar.
"Jalan-jalan?" ulang Aura cibir, menatap Kaisar Zane dari atas sampai bawah.
"Pria sekelas Kaisar jalan-jalan di pasar kumuh begini tanpa pengawal? Anda sedang membohongi anak kecil, ya?" cibir Aura pedas.
Kaisar Zane terkekeh pelan, tawa renyahnya sukses membuat beberapa wanita di sekitar kedai melirik ke arah mereka.
"Aku tidak bohong, Lady," jawab Kaisar Zane santai.
"Lagi pula, Nico ada di sana," lanjut Kaisar Zane menunjuk ke arah pojok jalan dengan dagunya.
Aura melirik ke arah yang ditunjuk dan melihat Nico sedang menyamar jadi penjual buah sembari meringis canggung ke arahnya.
Aura memutar matanya malas melihat tingkah konyol atasan dan bawahan ini.
"Terserah Anda saja," gerutu Aura kesal.
"Sora, ayo kita cari kedai lain, di sini mendadak hawanya sangat tidak menyenangkan," ajak Aura berbalik badan, berniat melangkah pergi.
Sret
Sebelum Aura sempat melangkah jauh, pergelangan tangannya mendadak ditahan pelan oleh tangan kokoh milik Kaisar Zane.
Aura menegang, mendelik tajam ke arah tangan pria itu.
"Lepaskan tangan Anda, Yang Mulia," ancam Aura dingin dengan raut wajah galaknya.
Kaisar Zane tidak langsung melepasnya, pria itu justru makin mengikis jarak di antara mereka, menatap lurus wajah galak calon Permaisurinya.
"Pesan yang kamu sampaikan lewat Nico kemarin... cukup kasar, Lady Aura," ucap Kaisar Zane bersuara rendah, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang amat berbahaya.
Aura menyunggingkan senyum sinis nya, sama sekali tidak takut.
"Bagus kalau Anda mengerti," ucap Aura menyentakkan tangannya hingga terlepas.
"Saya kan sudah bilang, saya tidak butuh sampah mewah Anda. Jadi stop mengganggu hidup saya!" tegas Aura penuh penekanan.
Kaisar Zane bukannya marah, pria dewasa itu justru tertawa kecil, mengamati raut emosi di wajah cantik Aura yang tampak begitu menggemaskan di matanya.
"Kamu menyebut perhiasan langka kerajaan sebagai sampah mewah?" pancing Kaisar Zane lagi.
"Iya! Memangnya apa lagi?" tantang Aura menaikkan dagunya angkuh.
Kaisar Zane memajukan wajahnya sedikit, berbisik tepat di samping telinga Aura hingga napas hangatnya terasa menyentuh kulit leher gadis itu.
"Kalau begitu, bagaimana kalau aku menawarkan diriku sendiri untukmu? Apakah aku juga termasuk sampah mewah, Lady?" bisik Kaisar Zane dengan nada suara yang teramat goda dan dalam.
Deg
Deg
Deg
Desir hangat mendadak menjalar di dada Aura. Wajah cantiknya seketika memerah padam karena rasa kaget sekaligus emosi yang memuncak.
Aura mendorong dada Kaisar Zane dengan kedua tangannya sampai pria itu mundur satu langkah.
"Anda benar-benar pria tua yang tidak punya malu, Yang Mulia!" bentak Aura pelan dengan napas memburu.
Kaisar Zane tertawa puas melihat reaksi gadis galak di depannya yang makin salah tingkah dan emosi.
"Ayo pergi, Sora!" perintah Aura cepat, melangkah pergi dengan hentakan kaki kesal tanpa mau menoleh lagi ke belakang.
"I-iya, Nona!" jawab Sora panik, menyempatkan membungkuk sebentar ke arah Kaisar Zane sebelum berlari mengejar majikannya.
Kaisar Zane berdiri tegak di tengah jalanan pasar, menatap punggung Aura yang makin menjauh sembari menyunggingkan senyum paling hangat yang pernah ia miliki.
"Keras kepala sekali..." gumam Kaisar Zane pelan pada dirinya sendiri.
"Tapi makin galak begitu, kamu makin kelihatan menggemaskan, Aura," batin sang Kaisar tersenyum tipis, merasa harinya dibuka dengan sangat sempurna oleh reaksi gadis pujaannya itu.
Aura berjalan dengan langkah lebar dan terburu-buru, menghentakkan kakinya ke tanah pasar yang kotor dengan wajah memerah padam, dada gadis itu kembang kempis menahan rasa malu sekaligus amarah.
"Pria tua gila! Tidak tahu malu! Bisa-bisanya dia bicara begitu di tempat umum!" gerutu Aura tanpa henti, memegangi dadanya yang masih berdebar kencang.
Sora berlari kecil di belakangnya, napasnya sedikit terengah-engah berusaha mengejar langkah majikannya yang sangat cepat.
"N-Nona, pelan-pelan! Nanti Anda bisa jatuh!" panggil Sora panik.
Aura menghentikan langkahnya mendadak di dekat gang yang agak sepi, lalu berbalik menatap Sora dengan tatapan mata membelalak galak.
"Sora! Kamu lihat kan tadi? Pria menyebalkan itu benar-benar makin ngelunjak!" bentak Aura meluapkan kekesalannya.
"Menawarkan dirinya sendiri? Cih! Dia pikir dia siapa?! Memangnya aku sudi memiliki pria tua seperti dia?!" lanjut Aura menggebu-gebu, mengibaskan tangannya di udara.
Sora mengusap dadanya, mencoba menenangkan majikannya sembari menahan tawa kecil yang hampir meledak di bibirnya.
"Tapi Nona... wajah Nona tadi memerah waktu Kaisar Zane berbisik di telinga Nona," goda Sora polos.
Aura melotot tajam, menunjuk wajah pelayannya itu dengan telunjuknya.
"Sora! Kamu mau aku potong gajimu bulan ini?!" ancam Aura pedas.
Sora langsung menutup rapat mulutnya dengan kedua tangan, menggelengkan kepalanya secepat kilat.
"T-tidak, Nona! Saya salah bicara! Wajah Nona merah karena kepanasan! Iya, karena panas matahari!" cicit Sora memberi alasan konyol.
Aura mendengus sinis, memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Memang panas! Udara di sekitar pria itu selalu membuat darahku naik!" omel Aura merapikan posisi gaun nya yang sedikit berantakan.
Sementara itu, tidak jauh dari posisi Aura dan Sora berdiri, Kaisar Zane masih melangkah santai menyusuri pasar, pria bertubuh tegap itu memandangi Aura yang sedang mengomel dari kejauhan dengan sudut bibir yang tak henti-hentinya terangkat.
Nico, yang sudah melepas penyamarannya sebagai penjual buah, berjalan mengekor tepat di samping sang Kaisar.
"Yang Mulia... Anda benar-benar menikmati menggoda Lady Aura ya?" bisik Nico sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kaisar Zane melipat kedua tangannya di balik punggung, menatap punggung Aura yang masih tampak emosi.
"Sangat menikmati, Nico," jawab Kaisar Zane santai tanpa ragu.
"Melihat wajah cantiknya yang memerah karena emosi itu jauh lebih berharga daripada seluruh dokumen laporan perang di meja kerjaku," lanjut Kaisar Zane, seperti anak remaja yang jatuh cinta.
Nico meringis pelan, merasa kasihan sekaligus heran dengan nasib majikannya yang sudah mabuk cinta.
"Tapi kalau Anda terus-menerus menggodanya seperti tadi, Lady Aura bisa-bisa benar-benar menusuk Anda, Yang Mulia," ucap Nico ragu.
Kaisar Zane terkekeh rendah, tawa khasnya yang amat menawan.
effort nya ga main-main loo
🥰🥰🥰
good luck kaisar💪
Coba ajak makan, klo jawabannya terserah, brati tambah runyam urusan menahklukan hatinya 😛