NovelToon NovelToon
Ketika Wanita Licik Diselingkuhi

Ketika Wanita Licik Diselingkuhi

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna / Pelakor / Selingkuh / Cinta Terlarang / Kaya Raya / Playboy
Popularitas:20.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ocean Na Vinli

Norman Turner mengira Grace Wills, wanita yang mudah dibodohi, sayangnya ia tidak memahami istrinya dengan baik.

Grace Wills malah memilih langkah yang paling berbeda saat mengetahui suaminya mendua.

Apa yang dilakukan Grace Wills? Penasaran, kepoin yuk ceritanya ...

Untuk tahu info update, follow IG: @nana_vinli
Diusahakan update setiap hari, 1 sampai 3 bab.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tuduhan Dalam Amarah

Suara Norman terdengar lantang hingga beberapa orang yang sedang lalu-lalang di pelataran kafe menoleh ke arah mereka. Beberapa pengunjung yang hendak masuk ke kafe bahkan memperlambat langkah. Rahang Norman mengeras, sementara tatapannya menuding Grace seolah-olah dialah pihak yang telah melakukan kesalahan.

Grace mengangkat alis. Ia bahkan sempat melirik Norman dari ujung kepala hingga kaki sebelum mengembuskan napas pendek.

"Berdasarkan apa kau berpikir aku berselingkuh?" tanyanya tenang.

Norman mengerutkan kening. "Kau bersama seorang pria di dekat kafe, lalu kau masih berani bertanya?"

"Memangnya aku melakukan apa?" Grace menyilangkan tangan di depan dada. "Tadi kami hanya duduk dan berbicara sebentar. Apa sekarang aku harus meminta izin darimu setiap kali berbicara dengan seseorang?"

"Grace!" bentak Norman.

"Kenapa?" Grace menatap Norman tanpa gentar. "Kau boleh menghabiskan waktu dengan perempuan lain, tetapi aku bahkan tidak boleh berbicara dengan seorang pria? Menarik sekali aturan yang kau buat."

Mona yang berdiri di samping Norman langsung tertegun. Ia melirik Grace, lalu mengalihkan pandangan kepada beberapa orang yang mulai memperhatikan mereka.

"Jangan memutarbalikkan keadaan!" Norman kembali membentak. "Aku melihatmu bersama pria itu!"

"Kalau begitu, kau sudah melihatnya sendiri, bukan?" Grace mengangkat bahu. "Kami hanya duduk bersama. Tidak ada yang perlu dibesar-besarkan."

Norman mengepalkan tangan. Ia tidak bisa menerima jawaban Grace yang terdengar begitu santai, seolah-olah tuduhannya sama sekali tidak berarti.

"Jadi, siapa pria itu?" desak Norman.

Grace melirik sekilas ke belakangnya, ke arah tempat pria bertopi yang tadi bersamanya berdiri. Namun, Kevin ternyata sudah tidak ada di sana. Ia telah pergi tanpa banyak bicara, bahkan sebelum Norman sempat mengetahui siapa dirinya.

"Entahlah. Memangnya aku harus melaporkan semua orang yang berbicara denganku kepadamu?" jawab Grace.

"Grace, jangan mempermainkanku!"

"Aku tidak sedang mempermainkanmu." Grace menatap Norman lurus-lurus. "Kau sendiri yang datang dan menuduhku tanpa mengetahui apa pun."

Beberapa orang masih memperhatikan mereka. Ada yang berbisik kepada temannya, ada pula yang melirik Norman dengan ekspresi tidak suka. Berita perselingkuhannya dengan seorang perempuan yang identitasnya belum diketahui memang telah membuat citranya buruk. Kini, melihatnya menuduh istrinya di depan umum, sebagian orang tampak semakin tidak bersimpati kepadanya.

Norman menyadari tatapan-tatapan itu, tetapi ia terlalu kesal untuk menghiraukannya.

"Jaga ucapanmu, Grace!" hardik Norman.

Grace justru tersenyum tipis. "Kenapa? Kau takut orang-orang mendengar?"

"Grace!" seru Norman lagi.

"Sudahlah. Aku tidak punya waktu untuk ini."

Grace memasang topinya.

"Aku sudah menyampaikan keinginanku dengan jelas. Aku ingin bercerai. Tinggal tanda tanganmu yang belum ada," sambung Grace.

Tatapan Norman berubah tajam. "Aku tidak pernah mengatakan akan menyetujuinya."

"Kalau begitu, jangan menghalangiku hanya karena kau tidak suka melihatku melanjutkan hidup," balas Grace.

Grace melirik Mona sekilas sebelum kembali menatap Norman.

"Dan satu lagi. Kalau kau ingin mencari tahu siapa yang bersamaku tadi, silakan. Tapi jangan sampai kau lupa siapa perempuan yang berdiri di sampingmu sekarang."

Kalimat itu membuat Mona membeku. Matanya membesar sesaat, lalu jemarinya mencengkeram tas dengan kuat.

Beberapa orang yang mendengar ucapan Grace mulai melirik Mona. Tatapan mereka belum menunjukkan kepastian, tetapi cukup membuat perempuan itu merasa tidak nyaman. Salah seorang pengunjung bahkan memandangnya dari ujung kepala hingga kaki sebelum kembali berbisik kepada temannya.

Mona segera memalingkan wajah. Ia berusaha mempertahankan sikap tenangnya, tetapi gerakan tangannya yang meremas tali tas menunjukkan kegugupannya.

Grace melihat perubahan itu dan hanya tersenyum samar.

Ia tidak perlu menyebut nama Mona ataupun membongkar identitasnya. Untuk sekarang, biarlah perempuan itu merasakan sendiri betapa tidak nyamannya berdiri di samping seorang pria yang telah menjadi bahan gunjingan publik.

Tanpa menunggu jawaban Norman, Grace berbalik dan melangkah meninggalkan pelataran kafe.

Norman mengepalkan tangan. Matanya mengikuti punggung Grace sampai perempuan itu menghilang dari pandangannya.

"Norman." Mona menyentuh lengannya, berusaha mengembalikan perhatian pria itu kepadanya. "Kita harus pergi. Kau masih punya jadwal pertemuan dengan tim perusahaan," ujar Mona.

Norman tidak menjawab.

"Kakekmu juga sudah memperingatkanmu agar tidak kembali melewatkan jadwal penting," lanjut Mona. "Kerja sama dengan Tuan Julian belum benar-benar aman. Kau tidak bisa terus mengabaikan urusan perusahaan hanya karena Grace."

Nama Julian akhirnya membuat Norman mengalihkan pandangan. Ia mengembuskan napas kasar sebelum meraih jasnya.

"Aku tahu apa yang harus kulakukan," jawab Norman dingin.

Hari-hari berikutnya berlalu tanpa banyak perubahan bagi Grace. Ia tetap menjalankan pekerjaannya di butik Vow & Veil, mengurus pesanan, memeriksa rancangan, dan memastikan seluruh kegiatan bisnisnya berjalan sebagaimana mestinya.

Sementara itu, Norman semakin sulit menghubunginya. Pesan-pesannya sering tidak dibalas, sedangkan panggilan teleponnya berakhir tanpa jawaban.

Beberapa kali Norman berniat mendatangi rumah George, tetapi ia selalu mengurungkan niatnya. Ia belum siap menghadapi kemungkinan Grace menolaknya di depan ayahnya sendiri.

Akhirnya, ia memutuskan mendatangi Vow & Veil.

Norman tentu mengetahui butik itu milik Grace. Dulu, ia sesekali berkunjung ke sana, meskipun belakangan ini ia semakin jarang melakukannya.

Begitu memasuki butik, pandangannya langsung menyapu ruangan, mencari sosok perempuan yang ingin ditemuinya.

Ben, karyawan baru yang bekerja di butik Grace, sedang berada di dekat meja depan. Begitu melihat Norman, ia langsung mengenali pria itu. Berita perselingkuhan Norman telah ramai dibicarakan, dan Ben tahu betapa buruknya perlakuan pria itu terhadap atasannya.

Ben mengangkat wajah dan menyandarkan sebelah tangan di meja.

"Cari siapa, Tuan Turner? Jangan bilang mau mencari istri sendiri," sindir Ben.

Norman mengerutkan kening. "Aku ingin bertemu Grace."

"Oh, Nyonya Grace." Ben mengangguk pelan. "Sayangnya, beliau sedang tidak bisa ditemui."

"Aku suaminya," tegas Norman.

"Ya, saya tahu." Ben menatapnya sekilas. "Sulit juga tidak tahu setelah berita tentang Anda ramai di mana-mana."

Wajah Norman langsung berubah masam.

"Jaga ucapanmu," perintah Norman.

Ben mengangkat bahu. "Saya cuma bicara berdasarkan berita yang beredar, Tuan. Kalau tidak suka, mungkin sebaiknya masalahnya diselesaikan dengan istri Anda, bukan dengan saya."

Norman menatap Ben, tajam. "Panggil Grace. Aku harus bicara dengannya."

Ben mengamati Norman sesaat. "Saya bisa menyampaikan bahwa Anda datang. Tapi keputusan untuk menemui Anda tetap ada di tangan Nyonya Grace."

"Kau sengaja mempersulitku?" tanya Norman dengan nada kesal.

"Tidak, Tuan. Saya hanya bekerja di sini," jawab Ben.

Ben kemudian menghubungi Grace. Beberapa menit kemudian, ia kembali dengan jawaban yang sama.

"Maaf, Tuan. Nyonya Grace belum bisa menemui Anda," kata Ben.

Norman tertawa pendek tanpa humor. "Dia benar-benar menghindariku."

Ben tidak menjawab. Ia hanya menatap Norman dengan ekspresi yang sulit diartikan, membuat pria itu semakin kesal.

Norman akhirnya pergi dengan wajah muram. Namun, sebelum meninggalkan butik, ia sempat menoleh sekali lagi ke arah ruangan di bagian dalam, seolah berharap Grace tiba-tiba berubah pikiran dan muncul di hadapannya.

Harapan itu tidak terwujud.

Di sisi lain, keadaan keluarga Turner juga tidak sedang baik-baik saja.

Pemberitaan mengenai perselingkuhan keluarga Norman telah memengaruhi citra perusahaan. Sejumlah mitra mulai mempertanyakan stabilitas kepemimpinan keluarga tersebut, sementara beberapa calon klien memilih menunda keputusan sampai situasi mereda.

Masalah itu tentu tidak muncul semata-mata karena skandal perselingkuhan. Perusahaan Turner memang telah dibebani utang yang menumpuk, dan ketidakpastian di kalangan mitra hanya membuat keadaan semakin sulit.

Dalam sebuah pertemuan internal, Norman harus menghadapi pertanyaan demi pertanyaan yang membuat suasana ruang rapat terasa menyesakkan.

Setelah pertemuan berakhir, ia kembali ke ruangannya dengan wajah kusut. Berkas-berkas di atas meja bahkan tidak sempat disentuhnya ketika pikirannya kembali tertuju kepada Grace.

Mona yang mengikutinya masuk segera menutup pintu.

"Norman, sampai kapan kau akan terus seperti ini?" tanya Mona, menahan kekesalan. "Kau tidak bisa membiarkan urusan pribadi mengganggu pekerjaanmu."

Norman mengangkat wajah. "Aku tidak meminta pendapatmu."

Mona terdiam, lalu menggigit bibirnya sendiri. Ia sudah cukup lama mengenal Norman untuk mengetahui bahwa pria itu sedang sulit didekati.

"Aku cuma ingin membantu," ujar Mona, berusaha melunakkan suaranya.

"Kalau begitu, bantu aku menyelesaikan masalah perusahaan. Jangan terus membicarakan Grace," sahut Norman.

Mona mengencangkan rahangnya. Ia tidak menyukai kenyataan bahwa Norman masih begitu mudah tersulut setiap kali nama Grace disebut.

Mona akhirnya mengambil tas.

"Aku ada urusan di luar. Aku akan kembali nanti," katanya.

Norman hanya mengangguk tanpa benar-benar memperhatikan Mona.

Tanpa membuat janji terlebih dahulu, Mona memutuskan pergi ke Vow & Veil. Ia mengetahui letak butik tersebut karena pernah berkunjung ke sana, dan sebagai sekretaris Norman, ia juga tahu bahwa butik itu milik Grace.

Begitu memasuki butik, Mona langsung berjalan menuju meja depan. Ben yang sedang merapikan dokumen segera mengangkat kepala.

Tatapannya bergerak dari kepala hingga kaki perempuan itu. Penampilan Mona tampak rapi, tetapi raut wajahnya menunjukkan ketidaksabaran. Ia berjalan dengan dagu terangkat, seolah tidak terbiasa ditolak.

Ben mengernyit tipis. Ia belum mengenal perempuan itu secara pribadi. Dari caranya melangkah, ia menduga perempuan tersebut bukan pelanggan yang hendak berbelanja dengan tenang.

"Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?" sapa Ben.

"Aku mencari Grace Wills," jawab Mona singkat.

"Apakah Anda sudah membuat janji?" tanya Ben.

"Tidak perlu. Aku mengenalnya," sahut Mona, agak ketus.

Ben menatap Mona sekali lagi. Ada sesuatu dalam nada bicara perempuan itu yang membuatnya merasa kedatangannya bukan sekadar urusan pekerjaan.

"Kalau begitu, saya akan menyampaikan kedatangan Anda terlebih dahulu," ujar Ben.

"Tidak usah." Mona melambaikan tangan dengan tidak sabar. "Aku bisa mencarinya sendiri."

Ia langsung melewati meja depan sebelum Ben sempat mencegahnya.

"Nona, tunggu sebentar!" seru Ben.

Namun, Mona tidak menghiraukannya. Ia terus berjalan menuju bagian dalam butik, seolah-olah tempat itu miliknya sendiri.

Ben menghela napas pendek, kemudian menyusulnya. Ia tidak suka seseorang menerobos masuk ke tempat kerja Grace tanpa izin.

Pada saat yang sama, Grace keluar dari ruang kerjanya. Kedua lengannya terlipat di depan dada ketika melihat Mona berjalan ke arahnya.

"Ada perlu apa kau datang ke sini?" tanya Grace.

Mona berhenti beberapa langkah di hadapannya. Matanya menyapu penampilan Grace sebelum bibirnya melengkung sinis.

"Akhirnya kau muncul juga," ucap Mona.

Grace tidak membalas. Ia hanya menatap Mona dengan ekspresi datar, menunggu perempuan itu menjelaskan maksud kedatangannya.

"Kau sengaja menghindari Norman, bukan?" Mona melangkah lebih dekat. "Kau membuatnya kesulitan menemuimu, menolak semua panggilannya, lalu terus mengulur waktu untuk urusan perceraian kalian."

Grace mengangkat sebelah alis.

"Menarik. Jadi, sekarang kau datang ke tempat kerjaku untuk membicarakan perceraian yang bahkan bukan urusanmu?" balas Grace.

"Jangan berpura-pura tidak tahu!" bentak Mona. "Kau tahu betapa sulitnya keadaan Norman sekarang, tetapi kau masih saja menyusahkannya!"

Grace mengembuskan napas, lalu menggeleng pelan.

"Kalau dia kesulitan, mungkin sebaiknya kau membantunya menyelesaikan masalahnya. Bukankah itu yang selama ini kau lakukan?" sindir Grace.

Wajah Mona memerah. Ia tidak menyangka Grace akan membalas perkataannya tanpa menunjukkan sedikit pun rasa gentar.

Ben yang berdiri tak jauh dari mereka mulai memperhatikan percakapan itu dengan lebih serius. Ia tidak tahu hubungan perempuan tersebut dengan Grace, tetapi sikap Mona yang datang tanpa janji lalu menerobos masuk sudah cukup membuatnya tidak senang.

"Kau benar-benar tidak tahu malu!" bentak Mona.

Grace tetap berdiri tegak. "Kau sudah selesai? Kalau iya, pintu keluar ada di belakangmu."

Mona mengepalkan tangan. Tatapannya semakin tajam ketika melihat Grace sama sekali tidak terpengaruh oleh amarahnya.

Ia maju selangkah, lalu mengangkat tangan dan mengarahkan jari telunjuknya tepat ke wajah Grace.

"Dasar jalang! Kau tidak pantas berdiri di samping Norman. Hanya aku yang pantas menjadi istrinya!" seru Mona.

Plak!

1
Susan Paulina
Mantap Thor, di tunggu Up selanjutnya 😘
Susan Paulina
Lanjut lagi Thor, saya suka sekali ceritanya, gk berbelit belit 👍
Lovita BM
Grace kakean omong, sudah berkali-kali disakitin, lsg jambak rambutnya seret keluar, itu baru perempuan Badas sbg istri sah 😏
yula
💪💪💪💪💪thor
mery harwati
Perusahaan sebesar Siera Sunwork tidak punya nama tamu yang mengundangnya 🫣 Aneh klo relasi bisnis tidak mencantumkan nama perusahaan & nama orang yang akan menghadiri rapat kan? Disabotase, alasan klise itu
Bodyguard pun tak ada bwt Grace ☹️
mery harwati
Grace, aq kasih vote ya bwt kamu biar kamu semakin waspada dengan segala kelicikan keluarga Turner meski mereka taringnya sudah patah💪
Hati² sama Norman ya Grace
mery harwati
Gimana anak keturunan Edmund mau bener kelakuannya, klo biangnya aja udah berotak kotor 🤣
yula
💪💪💪💪💪thor lanjut
yula
💪💪💪💪💪thor
mery harwati
Tragis nasib Johan 😔
Mungkin Julian menjadi tau arti kesetiaan setelah kematian Johan anak tunggalnya
Bagaimana nasib Omar yang menembak Johan? Matikah atw dipenjara?
yula
💪💪💪💪💪thor
Nurhartiningsih
suka deh sama tokoh wanita yg ngga cengeng
Lovita BM
👏🏼👏🏼😲
Lovita BM
nah moment ini yg aq tunggu 😁
Lovita BM
WOWW plot twist nih 👍
mery harwati
Jacob, Hendry, Edmund masih tetep menyalahakan Grace & ingin Grace celaka🙈
Dew666
Siapa yg bantu Grace ? Kevin kah?
Oma Gavin
norman kah atau justru mona
mery harwati
Waahh tak tau klo Grace dalam perlindungan Julian Sinclair meski Grace sendiri tak menyadari perlindungan tersebut 🤭
Belum lagi pasukan bayangan Kevin Cloud & Mia dan jangan lupakan Carmen meski berkhianat pada Grace tapi Carmen berniat menebus kesalahannya dengan membantu Grace menghadapi Norman meski tak harus tampil di depan Grace
Susan Paulina
Di tunggu Up selanjutnya Thor 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!