Diasingkan keluarga sendiri dan dituntut menopang hidup sang kakak yang seorang model, Aruna terbiasa mengalah hingga dijebak orang tuanya ke dalam pernikahan paksa dengan Kaivan Adikara. Kaivan yang dingin dan perfeksionis terlanjur menuduh Aruna sebagai wanita licik yang sengaja menjebaknya demi menumpang hidup, membuat hari-hari Aruna di rumah itu terasa makin kelam dan penuh prasangka.
Di tengah dinginnya dinding rumah Kaivan dan tekanan dari keluarga yang terus merendahkannya, Aruna perlahan belajar berhenti mengemis kasih sayang. Namun tepat saat Aruna mulai menyerah dan menutup hatinya rapat-rapat, Kaivan justru baru menyadari luka mendalam yang disimpan sang istri-memaksa pria itu berjuang dari nol untuk menebus kesalahannya sebelum semuanya terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16.Aruna
Keheningan di dalam kamar ujung lantai dua terasa begitu kental, seolah waktu telah berhenti berputar. Hanya ada suara rintik hujan yang tiba-tiba turun mengguyur kaca jendela, menciptakan simfoni dingin yang kian mengiris hati Aruna.
Di atas kasur yang tak lagi terasa hangat, Aruna terbaring miring. Matanya terbuka lebar, menatap kosong ke arah dinding kayu di hadapannya. Tidak ada lagi air mata yang menetes. Pipinya sudah mengering, meninggalkan jejak lengket dan perih di kulitnya yang pucat. Rasa sesak yang tadi sempat mengikat dadanya kini berubah menjadi kebas yang membeku.
Ponsel murah milik Aruna yang tergeletak di atas meja samping tempat tidur tak berhenti bergetar sejak tadi. Layarnya terus menyala berulang kali, menampilkan panggilan masuk dari teman-teman tempat kerjanya di kafe—Maya, Rian, dan Bagas.
Berita mengenai pernikahan rahasianya dengan Kaivan Adikara yang mendadak viral di berbagai media infotainment telah sampai ke telinga rekan-rekan kerjanya. Maya dan Rian panik serta penasaran setengah mati melihat foto Aruna bersanding dengan pengusaha ternama itu.
Sementara Bagas... laki-laki itu mencari Aruna dengan perasaan yang jauh lebih hancur. Bagas, yang selama ini memendam rasa suka pada Aruna secara diam-diam dan selalu memperhatikan keceriaan Aruna di kafe, tidak percaya bahwa gadis yang ia sukai mendadak diterpa berita pernikahan rahasia seperti ini.
Aruna menatap layar ponsel yang berkedip-kedip itu dengan pandangan hampa. Nama Maya, Rian, dan Bagas bergantian muncul di layar.
Namun, jemarinya sama sekali tidak tergerak untuk menggeser tombol hijau. Aruna terlalu takut, terlalu malu, dan tak punya sisa kekuatan sedikit pun untuk menjelaskan situasi rumit yang melilit hidupnya—terutama pada Bagas. Gadis itu akhirnya membalikkan posisi ponselnya menghadap ke bawah, memilih untuk mengabaikan seluruh denting pesan dan panggilan yang masuk.
Sementara itu, di lantai dasar, suara langkah kaki terdengar di area dapur. Bi Asih—asisten rumah tangga paruh baya yang sudah bertahun-tahun mengurus rumah Kaivan—baru saja tiba kembali setelah mengambil libur izin pulang kampung selama seminggu terakhir.
Bi Asih adalah satu-satunya pengurus rumah yang dipercayai Kaivan karena kesetiaannya sejak dulu.
Begitu melangkah ke dalam dapur, Bi Asih mengernyit heran melihat suasana rumah yang begitu sepi dan mencekik. Namun, baru saja ia hendak meletakkan tasnya, suara derap langkah kaki Kaivan yang terburu-buru menuruni tangga membuat Bi Asih terkejut.
"Pak Kaivan...?" sapa Bi Asih canggung, membungkuk sopan melihat wajah majikannya yang sangat menakutkan pagi ini.
Kaivan menghentikan langkahnya di anak tangga terakhir.
Pria itu menatap Bi Asih dengan raut kaku, terkejut sebentar mengingat wanita paruh baya itu memang dijadwalkan kembali dari liburnya hari ini. Kaivan berdehem pelan untuk menutupi kegelisahan di matanya.
"Bi Asih, kau sudah kembali?" panggil Kaivan dengan nada suara yang sengaja dibuat sedingin dan seformal mungkin.
"Iya, Pak Kaivan. Saya baru saja sampai," jawab Bi Asih sopan.
"Pintu kamar wanita di ujung koridor lantai dua sudah aku kunci dari luar," kata Kaivan datar, mengabaikan fakta bahwa ia baru saja mengurung seseorang.
"Jangan ada yang berani membuka pintu itu atau mengantarkan makanan ke sana sebelum aku pulang kantor nanti sore. Biarkan dia merenungkan kesalahannya."
Bi Asih tertegun. Matanya membelalak kaget mendengar perintah tajam tersebut. Ia memang belum sempat bertemu Aruna, namun ia tahu dari informasi sebelumnya bahwa ada orang baru yang tinggal di rumah ini.
"T-tapi Pak... kalau tidak diberi makan dan minum sampai sore"
"Aku tidak minta pendapatmu, Bi Asih!" potong Kaivan tegas dengan nada mengomeli yang ketus.
"Lakukan saja apa yang kukatakan! Dia bukan putri raja yang harus dimanja di rumah ini. Kalau dia kelaparan, itu salahnya sendiri karena terus membuat masalah!"
Bi Asih menundukkan kepalanya dalam-dalam, tidak berani membantah lagi karena paham betul sifat temperamental majikannya. "B-baik, Pak Kaivan..."
Kaivan mendengus kasar, lalu berjalan kaku melewati Bi Asih menuju pintu keluar rumah untuk berangkat ke kantor.
Sementara itu, di lantai paling atas gedung Adikara Tower, suasana kerja berlangsung luar biasa menegang.
Kaivan duduk kaku di kursi kebesarannya. Jas abu-abu mewahnya masih terpasang rapi, namun jemarinya tak berhenti mengetuk-ngetuk permukaan meja mahoni dengan ritme yang tak beraturan. Di hadapannya, tiga layar monitor menampilkan pergerakan saham, berkas akuisisi, dan draf laporan keuangan.
Namun, tidak ada satu pun angka di layar itu yang benar-benar masuk ke dalam pikirannya.
Pikiran Kaivan melayang jauh, terkunci di sebuah kamar di lantai dua rumah mewahnya. Bayangan wajah Aruna—matanya yang berkaca-kaca ketakutan, bibirnya yang memutih kaku saat memegangi dadanya yang sesak terus menerus melintas tanpa permisi.
"Pak Kaivan?" panggil Sekretaris Dimas yang berdiri di sisi meja seraya menyodorkan sebuah map dokumen tebal.
"Ini draf keputusan pembatalan seluruh kerja sama anak perusahaan Adikara dengan pihak Rasyara Group. Jika Anda sudah menandatanganinya, tim hukum akan langsung mengirimkan surat penghentian hubungan bisnis ini siang ini juga."
Kaivan matung. Matanya menatap pulpen premium di tangannya, lalu beralih menatap map dokumen itu. Inilah tujuannya. Inilah balasan yang pantas untuk Rendra Rasyara yang sudah berani memanfaatkan dan memerasnya.
Namun, mengapa bayangan Aruna mendadak hadir di pikiran Kaivan saat ia hendak menorehkan tinta emasnya?
“Saya tidak pernah berniat memeras Pak Kaivan... Tolong percaya pada saya...”
Suara parau gadis itu bergema kembali di sudut sanubarinya, sangat jernih dan sarat akan penderitaan.
Kaivan mendengus kasar. Tangannya yang memegang pulpen bergetar tipis. "Dimas," panggil Kaivan dengan suara bariton yang terkesan dingin dan berat.
"Iya, Pak?"
"Bagaimana respon media setelah tim humas mengeluarkan pernyataan singkat tadi pagi?" tanya Kaivan, matanya menyipit tajam.
Dimas menggeser tablet di tangannya dan membaca laporan terbaru. "Spekulasi media sudah mulai mereda, Pak. Sebagian besar wartawan kini berfokus pada rumor kebangkrutan Rasyara Group. Namun... ada satu hal yang baru kami temukan dari analisis unggahan media sosial."
Kaivan mengangkat alisnya kaku. "Apa itu?"
Dimas berdehem pelan sebelum menjelaskan. "Foto akad nikah yang diunggah oleh Ibu Rosmala kemarin... dari sudut pengambilan gambarnya, dipastikan diambil secara diam-diam dari barisan belakang tamu. Dan berdasarkan pelacakan akun, foto itu diunggah dari ponsel pribadi Ibu Rosmala tanpa ada keterlibatan atau pengiriman berkas dari perangkat lain di lokasi tersebut."
Ceklek.
Pulpen di tangan Kaivan mendadak berhenti bergerak. Pria itu mendongak kaku, menatap Dimas dengan sorot mata membeku.
"Maksudmu... foto itu diambil murni tanpa sepengetahuan siapa pun di lokasi?"
"Benar, Pak Kaivan," jawab Dimas jujur.
"Nona Aruna bahkan tidak pernah memegang ponsel atau mengirim pesan apa pun dalam beberapa hari terakhir. Dari pantauan tim IT kami, tidak ada jejak komunikasi antara Nona Aruna dan keluarga Rasyara sejak hari pertama beliau tinggal di rumah Anda."
Keheningan yang luar biasa tebal seketika menyelimuti ruang kerja mewah itu.
Dada Kaivan terasa seperti dihantam oleh batu besar yang amat sangat berat. Udara di sekitarnya mendadak terasa makin menyempit dan menyiksa. Seluruh tuduhan beracun yang ia lontarkan tadi pagi—tuduhan bahwa Aruna berkongkalikong dengan ibunya, bahwa Aruna berpura-pura polos untuk menjebaknya—runtuh seketika tanpa sisa.
Gadis itu... benar-benar tidak tahu apa-apa.
Gadis itu tulus. Dan dirinya... dengan begitu kejam dan membabi buta, telah meluapkan seluruh kebenciannya pada seorang korban tak berdaya yang sudah menyerahkan hidupnya sebagai jaminan.
"Pak Kaivan? Anda baik-baik saja?" tanya Dimas cemas melihat perubahan raut wajah atasannya yang mendadak memucat kaku dengan rahang menegang.
Kaivan tidak menjawab.
Tangannya yang mencengkeram pulpen gemetaran kencang. Bayangan saat ia membanting pintu kamar Aruna, menguncinya dari luar, dan melarang Bi Asih memberi gadis itu makan dan minum kembali menampar kesadarannya dengan sangat keras.
Harusnya aku biarkan saja kau mati pingsan di atas lantai hari itu!
Nikmati sangkar emasmu, Aruna!
Kalimat-kalimat biadab yang keluar dari mulutnya sendiri tadi pagi kini berbalik menusuk ulu hati Kaivan bagai ribuan belati panas. Rasa bersalah yang luar biasa dahsyat menyapu bersih seluruh barikade gengsi dan gengsi angkuh di dalam dadanya.
"Batal," desis Kaivan tiba-tiba dengan suara bergetar yang ditahan.
Dimas terperanjat. "Maaf, Pak?"
"Batalkan penandatanganan ini!" bentak Kaivan seraya melempar pulpennya ke atas meja hingga memantul keras. Pria itu langsung bangkit berdiri dari kursinya dengan gerakan terburu-buru yang tak pernah Dimas lihat sebelumnya.
Kaivan menyambar jas kerjanya dari sandaran kursi dan mengambil kunci mobil di atas meja dengan jemari yang berguncang hebat.
"Pak Kaivan! Anda ada rapat penting dengan dewan komisaris sepuluh menit lagi!" seru Dimas panik saat melihat majikannya melangkah cepat menuju pintu keluar.
"Tunda semuanya!" perintahkan Kaivan tanpa menoleh sedikit pun. Suaranya terdengar sangat parau dan panik. "Jadwalkan ulang besok! Aku harus pulang sekarang!"
Tanpa memedulikan tatapan heran dari para karyawan di koridor kantor, Kaivan berlari kecil menuju lift khusus eksekutif. Pikirannya kacau balau, dipenuhi rasa cemas yang tak tertahankan.
Gadis itu sedang sakit. Tubuhnya baru saja pulih dari demam tinggi. Tangannya memegang dadanya yang sesak tadi pagi... dan ia telah menguncinya di dalam kamar yang dingin tanpa makanan, tanpa air, dan tanpa akses bantuan sedikit pun selama berjam-jam!
"Bodoh! Kau memang pria paling bodoh, Kaivan!" umpat Kaivan pada dirinya sendiri di dalam lift, meremas rambutnya kencang-kencang dengan mata memerah.
Laju mobil sport hitam milik Kaivan membelah jalanan kota Jakarta dengan kecepatan di atas rata-rata. Pria itu menerobos hujan deras yang mulai turun lebat, melompati beberapa lampu lalu lintas tanpa peduli pada bahaya.
Jemarinya mencengkeram kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih pasi.
"Tolong... bertahanlah, Aruna..." bisik Kaivan berulang kali di dalam kabin mobil yang hening. Suaranya tak lagi menyiratkan kesombongan atau ketegasan kaku, melainkan ketakutan murni yang teramat sangat.
Begitu mobilnya memasuki pelataran rumah mewah di area Jakarta Selatan, Kaivan mengerem mendadak hingga terdengar decitan ban yang melengking di atas aspal basah. Pria itu bahkan tidak mematikan mesin mobilnya secara sempurna. Ia melompat keluar, menembus terpaan hujan deras, dan mendobrak pintu utama rumahnya dengan kasar.
BRAK!
"Pak Kaivan?!" Bi Asih yang baru selesai merapikan ruang tamu terkejut setengah mati melihat majikannya pulang di tengah hari dengan pakaian basah kuyup dan raut wajah liar seperti orang kesetanan.
"Kunci! Mana kunci cadangan kamar atas?!" jerit Kaivan dengan suara bariton yang melengking panik, napasnya memburu kasar.
"A-ada di saku jas Pak Kaivan sendiri tadi..." jawab Bi Asih ketakutan seraya menunjuk ke arah jas yang dipegang Kaivan.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Kaivan merogoh saku jasnya, menyambar kunci besi kecil itu, lalu melompati anak tangga dua sekaligus menuju lantai dua. Sepatu kulit mewahnya yang basah meninggalkan jejak air di atas lantai kayu, namun pria itu tidak peduli.
Pikirannya hanya tertuju pada satu nama: Aruna.
Kaivan tiba di depan pintu kamar di ujung koridor.
Tangannya yang gemetaran hebat berusaha memasukkan anak kunci ke dalam lubangnya. Karena panik, kunci itu sempat terjatuh dua kali ke lantai.
"Sialan!" umpat Kaivan frustrasi, meraih kembali kunci itu dan memutarnya dengan paksa.
KLAK.
Kunci terbuka.
Kaivan mendorong pintu kayu itu hingga terhempas kencang menghantam dinding.
"Aruna!" panggil Kaivan dengan suara gemetar, melangkah masuk ke dalam kamar yang gelap dan dingin.
Hening. Tidak ada jawaban sama sekali. Ponsel Aruna yang terbalik di meja kecil tampak meredup setelah panggilan kesekian dari Bagas, Rian, dan Maya akhirnya terputus otomatis.
Cahaya temaram dari koridor menerobos masuk, menerangi sebagian isi kamar. Mata Kaivan membelalak lebar ketika melihat pemandangan di hadapannya.
Aruna tergeletak kaku di atas lantai marmer yang dingin di samping tempat tidur. Tubuh ringkihnya meringkuk pasrah.
Punggung tangan kanannya yang merah melepuh akibat tumpahan kopi tadi pagi tampak membengkak parah tanpa balutan, sementara bibirnya yang memutih kaku terkunci rapat. Gadis itu sudah tidak sadarkan diri, terkulai lemas di dalam kesunyian kamar yang gelap.
"Aruna!"
Lutut Kaivan serasa lemas seketika. Pria tinggi angkuh itu melempar jas basahnya ke sembarang arah dan berlutut jatuh di atas lantai marmer di samping tubuh Aruna. Dengan jemarinya yang berguncang hebat, Kaivan merengkuh tubuh dingin Aruna ke dalam pelukannya.
"Aruna... bangun, Aruna!" panggil Kaivan panik, menepuk-nepuk pipi pucat Aruna dengan telapak tangannya yang hangat.
Kulit gadis itu terasa begitu dingin bak es, sementara napasnya sangat lambat dan tipis, nyaris tak terasa di jemari Kaivan.
Rasa penyesalan yang amat sangat menghantam dada Kaivan hingga pria itu merasa sulit untuk bernapas. Seluruh kesombongan, omelan ketus, dan gengsinya hancur berkeping-keping di tempat.
Di dalam pelukannya, gadis yang selama ini ia hina sebagai barang jaminan kini tampak begitu rapuh dan tak berdosa sebuah nyawa yang hampir ia padamkan sendiri dengan kejam.
"Maafkan aku... Aruna, tolong bangun..." bisik Kaivan parau, matanya memerah menahan panas air mata penyesalan yang baru pertama kali dalam hidupnya menetes jatuh membasahi dahi pucat Aruna.
Tanpa berpikir panjang, Kaivan menyelipkan tangannya di bawah lutut dan punggung Aruna, mengangkat tubuh ringkih yang terasa sangat ringan itu ke dalam dekapannya. Pria itu berdiri kaku, lalu berlari keluar kamar menuruni tangga dengan kepanikan yang membakar seluruh jiwanya.
"Bi Asih! Siapkan mobil! Panggilkan dokter paling cepat ke rumah sakit sekarang juga!" teriak Kaivan menggelegar di sepanjang tangga, memeluk erat tubuh Aruna yang tak berdaya di dadanya, berdoa dalam hati agar takdir tidak mengambil gadis itu sebelum ia sempat menebus seluruh kesalahan dan prasangka buruknya.
_Bersambung