Aira dan Airin adalah kembar yang tak pernah serupa. Airin adalah "Permata Maheswari"—cantik, cerdas, dan dicintai. Sementara Aira hanyalah "Cacat Produksi"—kusam, bodoh, dan terbuang di gudang belakang karena tak mampu bersaing dengan standar keluarga yang gila gelar.
Satu-satunya cahaya dalam hidup Aira adalah ingatan tentang Alvaro, bocah laki-laki kumal yang dulu ia selamatkan dan ia beri seluruh hatinya. Namun, ketika Alvaro kembali sebagai pewaris tunggal konglomerat yang tampan dan berkuasa, takdir mempermainkan Aira dengan kejam.
Alvaro salah mengenali "Ai" sahabat kecilnya. Berkat kelicikan dan nama mereka yang hampir mirip, Airin dengan mudah mencuri identitas Aira. Kini, pria yang paling dicintai Aira justru menjadi orang yang paling rajin menghina dan merundungnya demi membela sang kembaran palsu.
Di tengah luka yang menganga, muncul Bara—sang bad boy penguasa sekolah yang menolak tunduk pada siapa pun. Bara berjanji akan memberikan dunia pada Aira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
"Varo... aku takut. Kakek... Kakek seolah-olah mengulitiku dengan tatapannya tadi. Aku merasa seperti pencuri yang sedang diinterogasi."
Suara Airin pecah di tengah kesunyian lorong rumah yang remang-remang, menciptakan gema yang menyayat hati bagi siapa pun yang mendengarnya. Tubuhnya bergetar hebat, tangannya yang dingin mencengkeram lengan kemeja Alvaro seolah-olah ia baru saja lolos dari maut. Di bawah temaram lampu dinding yang berpendar kuning redup, Airin tampak begitu rapuh—setetes air mata jatuh tepat di saat yang pas, meluncur lambat membasahi pipinya yang pucat, memberikan kesan dramatis yang sempurna.
Alvaro tidak menjawab dengan kata-kata, namun rahangnya yang tegas tampak mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. Ia melingkarkan lengannya yang kokoh di bahu Airin, menarik gadis itu masuk ke dalam dekapan perlindungannya yang posesif. Tatapannya yang tadi menghangat saat menatap Airin, seketika berubah menjadi belati tajam yang berkilat penuh amarah saat beralih menancap ke arahku.
Aku berdiri tiga langkah di depan mereka, mematung dengan jari-jemari yang masih memerah dan mengeriput karena bekas sabun cuci piring yang keras. Seragam rumahanku yang lusuh terasa semakin menyesakkan saat aku mencoba menarik napas.
"Aku cuma melakukan apa yang disuruh Ibu, Al. Aku tidak bermaksud mengacaukan suasana..." suaraku terdengar parau, nyaris seperti bisikan yang hilang ditelan sunyi.
"Tutup mulutmu, Aira!" bentak Alvaro. Suaranya rendah, berat, namun penuh penekanan yang menyakitkan, sanggup merobek sisa keberanian yang kupunya.
Ia melangkah maju satu tindak, masih mendekap Airin dengan protektif, hingga wajahnya yang tampan hanya berjarak beberapa senti dari wajahku. Aku bisa mencium aroma parfum maskulinnya yang maskulin—campuran kayu cendana dan citrus yang dingin. Aroma yang sepuluh tahun lalu selalu membuatku merasa aman, aroma yang menjadi rumah bagiku, namun sekarang aroma itu terasa seperti racun yang membakar paru-paruku.
"Kenapa kamu nggak bisa biarkan dia bahagia sehari saja? Apa dunia ini belum cukup menyakitimu sampai kamu harus menularkannya pada saudaramu sendiri?" Alvaro menatapku dengan kebencian murni yang terpancar dari mata elangnya yang gelap. "Apa seiri itu kamu lihat kembaranmu punya masa depan? Apa sedengki itu hatimu melihat Airin dihargai, sementara kamu sendiri tahu bahwa kamu cuma sampah?"
Kata-kata itu menghantam dadaku lebih keras daripada tamparan fisik apa pun yang pernah kuterima dari Ayah. Sampah. Pria yang dulu menangis di bawah pohon mangga sambil berjanji akan menjagaku selamanya, sekarang menyebutku sampah hanya demi membela wanita yang baru saja merampok mahakaryaku, identitas kembarku, dan seluruh masa laluku.
"Sampah?" suaraku bergetar hebat, air mata mulai menggenang di balik kacamata tebal yang kupakai. Aku mendongak, menatap langsung ke dalam matanya yang tidak lagi mengenaliku. "Kamu nggak tahu apa-apa, Al. Kamu cuma melihat apa yang dia mau kamu lihat. Kamu buta karena air mata palsu itu! Kamu tidak sadar bahwa yang kamu peluk itu adalah pencuri yang berpura-pura menjadi korban!"
"CUKUP!" Alvaro semakin mengeratkan cengkeramannya di bahu Airin, seolah takut kata-kataku akan menodai kesucian gadis itu. "Jangan pernah lagi bandingkan dirimu dengan Airin. Dia bekerja keras untuk desain itu, dia menjahitnya sampai jari-jarinya terluka, dia punya bakat yang tidak akan pernah kamu miliki. Dia punya masa depan yang cemerlang. Sedangkan kamu? Kamu cuma noda yang nggak tahu diri di keluarga ini. Kamu hanyalah parasit yang merasa berhak atas keberhasilan orang lain."
Di balik bahu Alvaro, aku bisa melihat Airin terisak lebih keras, menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu. Namun, di balik aktingnya yang memilukan, aku sempat menangkap kilatan mata yang tajam dan dingin. Airin sedang tersenyum dalam diam. Dia sedang menikmati kehancuranku.
"Sudah, Varo... jangan bentak Aira lagi," bisik Airin dengan nada yang dibuat sedemikian rapuh, suaranya teredam oleh kemeja Alvaro. "Mungkin ini salahku karena terlalu banyak berharap padanya. Mungkin aku yang salah karena berharap dia bisa bangga pada prestasiku."
"Nggak, Ai. Kamu nggak salah sedikit pun," bisik Alvaro lembut ke telinga Airin, kontrasnya begitu menyakitkan dibandingkan suaranya yang kasar padaku tadi. Ia kembali menatapku dengan pandangan jijik yang sangat murni. "Jangan pernah lagi muncul di depan Kakek dengan tingkah konyolmu itu. Jangan lagi bersembunyi di balik tirai atau mencoba membisikkan kebohongan. Kalau sampai kamu merusak jalan Airin sekali saja, aku sendiri yang akan memastikan kamu pergi dari rumah ini dengan tangan kosong. Aku tidak main-main, Aira."
"Alvaro, dengarkan aku sekali saja... lihat tanganku!" Aku mencoba meraih tangannya, ingin menunjukkan bekas tusukan jarum yang masih baru di ujung jariku, bukti bahwa akulah yang menjahit gaun itu hingga fajar menyingsing. Namun, sebelum jemariku menyentuh kulitnya, ia menepisnya dengan kasar seolah tanganku adalah kotoran yang menular.
"Jangan sentuh aku," desisnya dingin.
Hening yang mematikan jatuh di lorong itu. Dunia seolah berhenti berputar bagiku. Aku melihat pria yang kucintai selama sepuluh tahun dalam diam, pria yang menjadi satu-satunya alasanku bertahan di neraka rumah ini, kini memandangku seolah aku adalah monster paling menjijikkan di muka bumi.
Tanpa sepatah kata lagi, Alvaro memutar tubuhnya. Ia merangkul pinggang Airin dan membimbingnya menjauh, meninggalkan lorong gelap itu menuju ruang tengah yang terang benderang. Aku bisa mendengar suara lembut Alvaro yang mencoba menenangkan Airin, membisikkan janji-janji manis tentang masa depan, suara yang dulu menjadi miliki, namun sekarang telah dirampas sepenuhnya oleh kebohongan yang sempurna.
Aku berdiri mematung sendirian di tengah lorong yang kian dingin. Cahaya lampu di depanku seolah menjauh, menciptakan bayangan panjang yang menelan tubuhku. Aku bisa mencium aroma parfum Airin yang tertinggal di udara—manis, harum mawar yang mahal, namun terasa begitu mematikan.
Telapak tanganku yang merah karena sabun kini terasa perih, tapi perih itu tak sebanding dengan rasa hampa yang menggerogoti jiwaku. Di rumah ini, di lorong ini, aku menyadari satu kenyataan yang paling pahit. Bukan hanya sapu tangan bordir atau desain gaun terbaikku yang telah dicuri, tapi posisiku di hati Alvaro telah digantikan oleh sebuah kepalsuan yang ia puja sebagai kebenaran paling suci.
Aira Maheswari. Nama itu kini hanya berarti 'sampah' di telinga orang yang paling ia sayangi. Aku adalah bayangan di rumahku sendiri, terasingkan dalam darah dagingku sendiri. Sementara di balik pintu yang tertutup itu, kembaranku sedang merayakan kemenangannya, bersulang di atas tumpukan air mataku yang tak akan pernah mereka lihat, apalagi mereka hargai.
Aku jatuh terduduk di lantai marmer yang dingin, memeluk lututku sendiri dalam kegelapan. Tidak ada yang datang. Tidak ada yang bertanya apakah aku baik-baik saja. Di dunia Alvaro, aku sudah mati. Dan di duniaku sendiri, aku hanyalah sisa-sisa yang menunggu waktu untuk habis.