Wang Chan hanyalah pemuda biasa dari Desa Hitam. Berkali-kali ditolak oleh sekte karena bakat rendah dan kekuatan lemah.
Namun saat desa mereka dihancurkan oleh monster iblis, ia tak punya pilihan selain melarikan diri sambil membawa seorang teman wanitanya.
Di tengah dunia kultivasi yang kejam, Wang Chan harus bertahan hidup dengan kekuatan yang nyaris tak berarti. Dari pelarian putus asa itulah, takdirnya mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Wang Chan vs Everybody II
Satu per satu penantang mulai naik. Mungkin karena mereka merasa harga diri dipertanyakan oleh seorang pemuda asing yang tidak dikenal siapa pun.
Mungkin karena mereka terhipnotis oleh hadiah bernama Wen Xiang. Mungkin juga karena mereka terlalu bodoh untuk melihat bahwa pemuda ini bukanlah lawan yang seimbang.
Pertarungan fisik murni beralih menjadi adu manifestasi energi yang semakin sengit.
Penantang kelima belas adalah seorang master pengguna elemen api. Jubah merahnya berkibar-kibar dengan sendirinya, tanpa angin.
Begitu naik ke arena, ia langsung merapalkan mantra dengan suara lantang. Telapak tangannya menyala, dan dari lidah api itu, seekor serigala api raksasa lahir.
Serigala itu mengaum.
Raungannya tidak bersuara, tapi gelombang panas yang menyertainya membuat penonton di baris depan mundur terhuyung.
Aura panas menyapu seluruh alun-alun, membuat udara terasa seperti di dalam tungku pembakaran.
"Bakar!" teriak master api itu sambil mengarahkan tangannya ke depan.
Serigala api itu melompat menerkam.
Rahangnya terbuka lebar, memperlihatkan taring-taring api yang membara, dan ia berlari menuju Wang Chan dengan kecepatan yang luar biasa untuk ukuran tubuhnya.
Wang Chan menarik napas dalam-dalam.
Aliran energi spiritual di dalam dantiannya berputar cepat, seperti pusaran air yang semakin lama semakin kencang. Ia menghentakkan kaki kanannya ke lantai arena.
BOOM!
Gelombang kejut energi spiritual berwarna biru pekat melesat keluar dari tubuhnya.
Gelombang itu membentuk dinding perisai energi yang solid di depannya, setinggi dua meter, selebar tubuhnya, berdenyut dengan cahaya biru yang menyilaukan.
Serigala api menabrak dinding itu.
Benturan antara api dan energi murni menciptakan ledakan udara yang hebat.
Hembusan panas dan dingin bercampur menjadi angin puyuh kecil yang membuat bendera-bendera di sekitar arena berkibar kencang.
Asap dan debu mengepul pekat, menghalangi pandangan hampir semua penonton.
Mengandalkan momen itu, sang master api merangsek maju di balik kabut asap.
Ia tidak butuh mata untuk tahu di mana Wang Chan berada.
Panas dari tubuh pemuda itu seperti suar di tengah kegelapan, tidak mungkin dilewatkan.
Ia melesatkan tinju apinya, kepalan yang terbungkus lidah api menyala, mengarah tepat ke dada Wang Chan.
Namun, Wang Chan jauh lebih siap.
Mata Immortal nya telah terbuka.
Di balik kabut asap, ia bisa melihat setiap gerakan master api itu dengan jelas, lebih jelas dari yang bisa dilihat oleh mata biasa di siang hari bolong.
Dari balik kabut asap, manifestasi tangan energi spiritual berukuran besar melesat keluar.
Tangan itu berwarna biru pucat, tembus pandang, tapi terlihat kokoh seperti batu karang.
Ia mencengkeram tubuh master api tersebut di udara, jari-jari raksasanya membungkus seluruh tubuh pria itu dari bahu hingga pinggang.
Master api itu terkejut.
Ia berusaha melepaskan diri, mengeluarkan api dari seluruh pori tubuhnya, mencoba membakar tangan spiritual itu.
Tapi tangannya sendiri tidak terpengaruh. Energi murni Wang Chan terlalu padat, terlalu kuat.
Dengan satu sentakan kuat dari kendali pikiran Wang Chan, tangan spiritual itu menghempaskan sang master api ke lantai arena.
BRAK!
Tubuh pria itu menghantam lantai kayu dengan kekuatan yang membuat seluruh arena bergetar. Lantai di bawahnya retak, membentuk lubang dangkal seukuran tubuhnya.
Master api itu tidak bergerak. Matanya terpejam, pakaian merahnya terkoyak di beberapa tempat, dan api di tubuhnya telah padam seluruhnya.
Penonton di bawah arena mulai riuh rendah.
Suara decak kagum, bisik-bisik tak percaya, dan tepuk tangan kecil mulai bermunculan dari berbagai sudut.
Qing Yi di sudut kerumunan melebar matanya. Mulutnya sedikit terbuka, matanya berkedip beberapa kali, seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja ia saksikan.
Ia tidak menyangka Wang Chan bisa sekuat ini.
Selama ini ia mengira bahwa dirinya yang lebih unggul berkat latihan Teratai Biru dari Liu Chiyang.
Tapi sekarang, melihat Wang Chan menumbangkan belasan orang tanpa luka sedikit pun, ia mulai bertanya-tanya.
Siapa yang diam-diam melatih pemuda itu?
Liu Chiyang di sampingnya hanya tersenyum penuh arti.
Tangannya bersilang di dada, matanya tidak lepas dari sosok Wang Chan di arena.
Ada kebanggaan di matanya, tapi ada juga sedikit rasa penasaran.
Karena ia juga tidak tahu dari mana Wang Chan mendapatkan kekuatan sebesar ini.
Di balkon lantai atas, pandangan Wen Tianren menajam. Matanya yang dingin kini terpaku pada Wang Chan, tidak bergerak, tidak berkedip.
Ada kilatan dingin di matanya, tapi juga ada sedikit rasa ingin tahu.
'Pemuda ini bukan siapa-siapa. Tidak ada yang mengenalnya. Tapi kekuatannya... tidak bisa dianggap remeh.'
Di sampingnya, Wen Xiang memperhatikan dengan jemari yang bertautan di pangkuannya.
Wajahnya yang lembut itu sedikit terpaku, matanya mengikuti setiap gerakan Wang Chan di arena.
Bukan karena ia jatuh cinta, tapi karena ia terpesona oleh ketenangan pemuda itu.
Di tengah puluhan orang yang saling bertarung, di tengah ribuan pasang mata yang menatap, di tengah tekanan untuk tampil sempurna, Wang Chan berdiri dengan tenang.
Seolah semua ini bukan apa-apa. Seolah ia hanya sedang berjalan-jalan di pasar.
Wang Chan masih berdiri tegak di tengah arena yang kini sudah hancur berantakan.
Lantai kayunya berlubang di sana-sini, bekas ledakan energi, bekas hantaman kapak, bekas cakaran api.
Tapi ia berdiri di tengah semua kekacauan itu dengan tenang, jubahnya masih rapi, napasnya masih teratur.
Cadangan energi spiritualnya masih sangat melimpah. Seolah belasan pertarungan tadi hanya pemanasan.
Di sekeliling arena, para penantang lain yang tadinya mengantre dengan penuh percaya diri kini saling pandang.
Beberapa mulai mundur pelan, meninggalkan antrean. Beberapa lainnya pura-pura tidak melihat, menunduk.
Nyali mereka ciut.
Melihat belasan orang bertumbangan dalam waktu singkat, tidak ada yang ingin menjadi nomor berikutnya.
Wang Chan mengusap keringat tipis di dahinya dengan punggung tangan.
Ia melihat ke sekeliling, menatap kerumunan yang mulai lengang di area pendaftaran.
"Tidak ada lagi?" tanyanya.
Suaranya tidak keras, tapi di tengah alun-alun Kota Jiang yang mendadak hening, kata-katanya terdengar jelas oleh hampir semua orang.
Hening.
Tidak ada yang menjawab. Tidak ada yang naik.
Angin berembus pelan, membawa debu dan daun-daun kering melintasi arena yang hancur.
Di balkon, Wen Pang mengangguk kecil. Wen Tianren menyipitkan matanya. Wen Xiang menggigit bibir bawahnya pelan.
Dan di sudut kerumunan, Qing Yi menghela napas panjang, tidak tahu harus merasa bangga atau kesal.