Di Benua Langit Biru, hukum kultivasi berlaku mutlak: fokus pada satu elemen murni adalah satu-satunya jalan pintas menuju keabadian. Mereka yang lahir dengan banyak elemen justru dianggap memiliki meridian cacat—sebuah wadah bocor yang hanya akan memperlambat kultivasi dan berakhir sebagai sampah masyarakat.
Namun, takdir justru menertawakan Ling Yun. Ia lahir dengan kutukan terjahat: memeluk empat elemen utama bumi sekaligus—Tanah, Air, Api, dan Udara—di dalam satu tubuh. Dicaci, dikhianati, dan dibuang oleh dunianya, ia menolak untuk berlutut pasrah pada nasib. Dengan tekad seteguh karang, ia merayap dari titik terendah demi membalikkan takdir langit.
Menggenggam bara api, membelah samudra, menggoncang bumi, dan memotong badai, Ling Yun menantang dunia:
"Siapa bilang empat elemen adalah sampah? Dengan empat elemen ini, aku akan menghancurkan para dewa yang angkuh, membakar kesombongan langit, dan menulis ulang hukum alam semesta!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blizzardauthor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keajaiban di Tengah Keputusasaan
Wusss!
Angin malam yang membawa hawa busuk berkelebat kencang. Kecepatan Serigala Pemakan Jiwa benar-benar di luar nalar, memangkas jarak puluhan meter dalam sekejap. Ling Yun bisa mendengar suara taring raksasa yang saling beradu di belakangnya, menghancurkan semak belukar menjadi serpihan kecil.
Uhuk!
Darah hitam kental kembali menyembur dari mulut Ling Yun, mengotori jubah pelayannya yang sudah robek-robek. Rasa sakit di perutnya kian menjadi, seakan ribuan jarum berkarat yang panas ditusukkan bersamaan ke pusat energinya. Dan Tian yang retak itu mulai menunjukkan tanda-tanda akan hancur sepenuhnya. Empat elemen liar—api, air, tanah, dan angin—yang selama sepuluh tahun ini ia tekan mati-matian, kini mengamuk tanpa kendali. Mereka saling hantam, mengoyak dinding meridian di sekujur tubuhnya dari dalam.
Sial, kalau aku tidak melepaskan segelnya sekarang, aku akan mati tercabik sebelum sempat membalas hantaman! batin Ling Yun dengan mata memerah.
Tepat saat cakar raksasa beracun milik si serigala menyambar sejengkal dari punggungnya, Ling Yun melompat ke samping dan berguling di atas tanah berbatu.
Brakkk!
Pohon tua di tempat Ling Yun berdiri sebelumnya hancur berkeping-keping akibat hantaman moncong sang monster. Tanah bergetar hebat. Serigala Pemakan Jiwa itu berputar dengan gesit, sepasang matanya yang menyala merah darah menatap Ling Yun yang kini terduduk lemas menyandarkan punggungnya pada sebuah batu besar.
Di sekeliling mereka, kabut hitam Zona Terlarang Sembilan Kematian semakin pekat. Tidak ada jalan kembali. Di sinilah tempatnya, sebuah pelataran sunyi yang dipenuhi tulang belulang putih, saksi buas keganasan sang penguasa wilayah.
Namun, alih-alih langsung menerkam untuk menghabisi nyawa Ling Yun, Serigala Pemakan Jiwa itu tiba-tiba menghentikan langkahnya. Monster itu menegakkan tubuh, lalu merendahkan kelopak matanya yang menyala merah.
Binatang iblis tingkat tinggi ini memiliki kecerdasan yang hampir menyamai manusia. Melalui instingnya yang tajam, ia bisa merasakan bahwa manusia di hadapannya ini hanyalah sebuah cangkang kosong yang rapuh. Ia menyadari sepenuhnya bahwa getaran energi di tubuh Ling Yun sangat kacau, meridiannya sekarat, dan Dan Tian-nya berada di ambang kehancuran.
Serigala Pemakan Jiwa itu mengeluarkan suara dengusan pelan dari hidungnya, lalu memperlihatkan deretan taringnya bukan dalam posisi menggeram marah, melainkan sebuah seringai. Sepasang matanya menatap Ling Yun dari atas ke bawah dengan tatapan yang sangat meremehkan. Di mata monster tersebut, mangsa di hadapannya ini bahkan tidak lebih berharga dari semut yang mengantarkan nyawa dengan sukarela.
Melihat tatapan remeh dari seekor binatang, dada Ling Yun bergemuruh hebat. Rasa hangat yang bercampur amarah yang teramat sangat menyengat harga dirinya. Seorang mantan jenius dari Dataran Pusat, seseorang yang memegang nama besar keluarga Ling, kini diremehkan oleh seekor binatang di hutan terpencil!
Kau... binatang sialan... berani-beraninya kau menatapku seperti itu?! batin Ling Yun berteriak murka.
Tetapi di saat yang sama, akal sehatnya menghantamnya dengan kenyataan yang mengenaskan. Ling Yun tahu monster itu benar. Fakta tubuhnya saat ini memang sangat menyedihkan. Dia tidak memiliki Dan Tian yang utuh, tubuhnya dipenuhi luka dalam yang parah, dan peluangnya untuk selamat dari tempat ini hampir mendekati angka nol persen. Dia hanyalah orang cacat yang sedang sekarat.
Meskipun menyadari fakta pahit tersebut, seulas senyum sinis dan liar justru terukir di bibir Ling Yun yang berdarah. Matanya yang semula meredup kini kembali menyala dengan tekad murni yang sangat pekat.
"Fakta bahwa aku cacat memang benar..." desis Ling Yun rendah, sembari memaksakan kedua kakinya yang gemetar untuk kembali berdiri tegak. Tubuhnya sempoyongan, tetapi pundaknya tetap tegap. "Tapi menyerah pada binatang sepertimu? Jangan harap!" Ling Yun berteriak kencang.
Ia mengunci rahangnya rapat-rapat. Rasa sakit yang luar biasa tidak lagi ia pedulikan. Ia memfokuskan seluruh sisa kesadarannya, bukan untuk mempertahankan hidup, melainkan untuk meledakkan seluruh esensi jiwanya pada kedua lengannya. Ia siap meledakkan dirinya bersama monster ini demi harga diri yang menolak diinjak-injak.
Namun, tepat ketika energi keputusasaan Ling Yun berbenturan dengan hawa membunuh dari sang monster, tanah di bawah batu besar tempat Ling Yun bersandar mendadak runtuh.
Sebuah getaran frekuensi tinggi menjalar dari kedalaman bumi. Sesuatu yang terpendam di sana selama ribuan tahun mendadak bereaksi terhadap kombinasi unik dari getaran ekstrem empat elemen liar yang keluar dari tubuh Ling Yun. Tiba-tiba, sebuah pilar cahaya kelabu menembus tanah berlumpur, langsung menyelimuti tubuh Ling Yun dan mementalkan Serigala Pemakan Jiwa hingga terlempar beberapa meter!
Di dalam pilar cahaya itu, sebuah benda asing berbentuk bulat kelabu melayang naik dari pecahan tanah. Ling Yun tidak tahu benda apa itu, dan ini adalah pertama kalinya ia melihat pusaka aneh tersebut. Namun, getaran murni dari kepasrahan dan tekad empat elemennya entah bagaimana telah memicu benda misterius ini.
Bzzzzzt!
Benda bulat misterius itu mendadak retak, lalu menembak langsung masuk ke dalam ulu hati Ling Yun. Begitu objek tersebut menyatu dengan tubuhnya, sebuah keajaiban besar yang tak masuk akal langsung terjadi.
Benda itu meleleh di dalam tubuhnya, berubah menjadi aliran energi asing yang hangat dan sangat masif, mengalir deras menuju pusat perutnya. Aliran itu langsung membungkus Dan Tian Ling Yun yang retak. Bak perekat dewa, energi misterius tersebut menyatukan kembali kepingan-kepingan Dan Tian-nya yang hancur, menghapus semua luka dalam, dan menyusun kembali pusat energinya menjadi sebuah wadah baru yang berkilau seputih salju. Ling Yun bisa merasakan pusat energi barunya kini jauh lebih kokoh, seolah-olah dilapisi oleh dinding pertahanan yang tidak bisa ditembus dengan mudah.
Tidak hanya menyembuhkan lukanya, keajaiban dari benda asing ini juga langsung menjinakkan situasi kacau di dalam tubuhnya.
Empat elemen liar (api, air, tanah, dan angin) yang tadinya mengamuk hebat dan hampir meremukkan tubuh Ling Yun, mendadak ditarik paksa oleh energi baru tersebut menuju pusat perutnya. Keempat elemen itu langsung tunduk patuh tanpa perlawanan. Mereka mulai berputar dengan sangat harmonis, membentuk sebuah roda pusaran energi empat warna yang bergerak seimbang dan saling mendukung satu sama lain.
Elemen air langsung menyembuhkan sisa-sisa meridian yang rusak dalam hitungan detik, elemen tanah memperkeras struktur tulangnya, elemen angin mempercepat aliran tenaga, dan elemen api memperkuat daya ledak energinya. Ling Yun sendiri tertegun merasakan bagaimana tubuhnya secara otomatis menjalankan siklus energi yang sangat sempurna ini, menciptakan sebuah dasar kekuatan baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Meridian di kedua lengan Ling Yun yang tadinya hampir putus, kini justru melebar berkali-kali lipat, dialiri oleh tenaga gabungan empat elemen yang sangat padat dan murni.
Melihat fenomena supranatural dan perubahan drastis tersebut, tatapan remeh di sepasang mata merah Serigala Pemakan Jiwa seketika lenyap. Monster itu tersentak mundur beberapa langkah, seluruh bulu di punggungnya berdiri tegak karena merasakan tekanan aura yang tiba-tiba melesat naik bagai menembus langit dari tubuh pemuda yang beberapa detik lalu ia anggap sebagai sampah sekarat.
Ling Yun mengangkat kepalanya perlahan. Pilar cahaya kelabu di sekelilingnya memudar, memperlihatkan sepasang mata yang kini berkilat memancarkan empat warna elemen yang selaras sempurna.
"Sekarang..." ucap Ling Yun, suaranya bergetar dengan kekuatan energi yang begitu padat hingga membuat kabut hitam di sekitar mereka koyak. "Mari kita lihat, siapa yang sebenarnya pantas memberikan tatapan remeh di sini."
Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se ras ku.