Lima tahun menikah, Kanisha Rayya Shanika selalu percaya bahwa rumah tangganya bersama sang suami, Arven Mahendra, akan berjalan harmonis untuk selamanya. Ia rela menekan mimpinya sendiri demi menjadi istri sempurna dan ibu terbaik bagi anak angkat yang sangat ia cintai. Namun semua kepercayaan itu runtuh dalam satu malam.
Kanisha memergoki Arven berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri—wanita yang selama ini ia anggap hanya rekan kerja biasa. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, kenyataan yang jauh lebih kejam kembali menghantamnya. Anak angkat yang ia rawat dengan penuh kasih ternyata adalah darah daging hasil hubungan terlarang suaminya dengan sang selingkuhan.
Dikhianati sebagai istri sekaligus dipermainkan sebagai seorang ibu, Kanisha memilih pergi dan mengakhiri pernikahan yang telah menghancurkan hidupnya. Dengan tekad untuk bangkit, Kanisha mulai membangun hidup baru dan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
"Nggak apa-apa sayang..." Suaranya bergetar.
"Kamu nggak perlu kuat malam ini. Mama ada disini, papa juga, kami berdua akan selalu ada bersamamu."
Kalimat itu menjadi pemicu terakhir. Pertahanan Kanisha yang sudah retak sejak tadi akhirnya benar-benar runtuh, tangisnya pecah namun kali ini berbeda. Bukan tangisan seorang istri yang kehilangan suaminya, bukan tangisan seorang wanita yang masih berharap dicintai, melainkan tangisan seseorang yang sedang menguburkan seluruh mimpinya. Satu per satu semua mimpi yang pernah ia bangun bersama Arven akhirnya mati malam ini. Dan Kanisha menangisinya untuk terakhir kalinya. Tangisnya semakin keras, tubuhnya bergetar hebat di pelukan ibunya sementara Dahlia hanya bisa terus memeluknya.
Ia tidak berusaha menghentikannya, tidak berusaha menenangkan terlalu banyak karena terkadang seseorang memang harus menangis sampai habis mengeluarkan semua rasa sakitnya sekaligus menguburkan seluruh dukanya agar esok bisa mulai berjalan lagi.
Malam semakin larut, tangisan Kanisha perlahan mulai mereda, tenaganya habis, matanya terasa panas,dadanya terasa sesak, namun perlahan semuanya mulai mereda seperti badai yang akhirnya kehabisan amarah. Dahlia membantu Kanisha berbaring di atas tempat tidur setelah putrinya itu mengganti pakaiannya yang basah karena hujan, menyelimuti tubuh putrinya dan mengecup keningnya.
"Sayang." Kanisha perlahan menoleh dan melihat Dahlia tersenyum meski matanya masih merah. "Kamu tetap putri mama yang paling kuat."
Air mata kembali menggenang di mata Kanisha namun kali ini ia hanya mengangguk pelan, kemudian memejamkan matanya. Dan untuk pertama kalinya setelah semuanya terjadi, Kanisha akhirnya jatuh tertidur.
Pagi datang jauh lebih cepat dari yang Kanisha kira. Sinar matahari perlahan masuk melalui celah tirai kamar dan menyinari ruangan yang sudah lama tidak ia tempati. Kanisha membuka matanya perlahan, beberapa detik ia hanya menatap langit-langit kamar dalam diam lalu perlahan semuanya kembali ia ingat. Perselingkuhan suaminya, kebohongan yang selama ini ditutupi suaminya, talak yang diberikan suaminya dan semuanya. Namun anehnya, air mata Kanisha tidak langsung jatuh seperti biasanya.
Kanisha hanya menghela napas panjang kemudian duduk perlahan di atas tempat tidur. Jam menunjukkan pukul lima pagi, biasanya pada jam seperti ini ia masih tidur atau sedang menyiapkan sarapan untuk Arven, memikirkan kebutuhan suaminya sekaligus memastikan segala sesuatu berjalan sesuai keinginan pria itu. Namun pagi ini berbeda.
Tidak ada Arven, tidak ada rumah Mahendra, tidak ada kewajiban untuk menyenangkan siapa pun. Hanya ada dirinya sendiri dan entah kenapa itu terasa asing. Perlahan Kanisha turun dari tempat tidur, langkahnya membawanya menuju meja rias yang berada di dekat jendela. Ia duduk di sana lalu menatap pantulan dirinya di cermin. Dan untuk beberapa saat, Kanisha hanya diam. Matanya memperhatikan wajah yang ada di depannya. Wajah yang sangat ia kenal namun juga terasa seperti orang asing.
Matanya sembab, kelopak matanya membengkak, wajahnya pucat, rambutnya berantakan, bibirnya kering dan ada kelelahan yang begitu jelas terlihat di sana. Kanisha menatap dirinya lama sekali sampai akhirnya ia mengangkat tangan untuk menyentuh pipinya sendiri lalu tersenyum kecil.
"Kapan terakhir kali aku benar-benar mengurus diriku sendiri?" Bisiknya pelan.
Dan saat itulah Kanisha menyadari sesuatu.
Selama bertahun-tahun ia terlalu sibuk memperhatikan Arven sampai lupa memperhatikan dirinya sendiri. Ia selalu memastikan Arven baik-baik saja, memastikan Arven makan tepat waktu, memastikan kebutuhan Arven terpenuhi, memastikan Arven nyaman, namun dirinya?
Kapan terakhir kali ia benar-benar memikirkan dirinya sendiri? Kanisha bahkan tidak ingat. Ia menatap wajahnya lebih lama lalu perlahan tertawa kecil. Tawa yang tidak mengandung kebahagiaan, hanya penyesalan.
"Aku bahkan nggak kenal sama diriku sendiri sekarang."
Matanya kembali turun kemudian berhenti pada jari manis tangan kirinya dan di sanalah benda itu masih berada. Cincin pernikahannya. Cincin yang selama lima tahun tidak pernah ia lepaskan, cincin yang dulu membuatnya menangis bahagia saat Arven memasangkannya, cincin yang dulu ia anggap sebagai simbol cinta, komitmen dan masa depan, Namun sekarang? Benda itu terasa begitu asing dan berat.
Kanisha menatap cincin itu lama sekali sampai akhirnya ia mengangkat tangan. Jarinya menyentuh cincin tersebut perlahan dan untuk sesaat dadanya kembali terasa sesak. Bukan karena masih mencintai Arven tetapi karena benda kecil itu menyimpan terlalu banyak kenangan. Kenangan yang kini berubah menjadi luka. Kanisha menarik napas panjang lalu perlahan mulai melepaskan cincin itu sedikit demi sedikit sampai akhirnya cincin tersebut terlepas dari jarinya.
Kanisha menatap benda itu di telapak tangannya kemudian ia meletakkannya di atas meja rias karena ia tahu jika ingin maju, ia harus melepaskan masa lalu dan itu dimulai dari sini. Dari cincin kecil itu, dari simbol yang selama ini mengikatnya pada kehidupan yang sudah berakhir. Setelah itu Kanisha berdiri. Tatapannya perlahan menyapu seluruh kamar dan akhirnya berhenti pada sebuah laci. Langkahnya bergerak ke sana, membukanya perlahan dan di dalamnya terdapat berbagai album foto, kotak kenangan dan bingkai kecil.
Foto-foto lama. Semua tentang dirinya dan Arven.
Kanisha menatap benda-benda itu tanpa ekspresi. Dulu ia menyimpan semuanya seperti harta paling berharga. Sekarang? Tidak lagi. Perlahan ia mulai mengambil satu per satu. Foto pernikahan, foto bulan madu, foto ulang tahun pernikahannya dan foto-foto yang dulu membuatnya tersenyum bahagia.
Kini hanya terasa seperti pengingat kebodohan. Tangannya bergerak tanpa ragu, mengumpulkan semuanya satu demi satu sampai kedua tangannya penuh.
Tidak ada air mata, tidak ada keraguan karena semalaman ia sudah menangis cukup banyak. Sudah cukup, benar-benar cukup. Kemudian ia berjalan menuju tempat sampah sedang yang berada di sudut kamar dan berhenti di depannya. Menatap semua kenangan itu sekali lagi, lalu...
Bruk, Semua foto itu jatuh ke dalam tempat sampah satu per satu tanpa sisa, tanpa pengecualian. Kanisha berdiri diam memandangnya. Dadanya terasa aneh, kosong namun juga ringan seolah beban yang selama ini menempel di pundaknya mulai terangkat sedikit demi sedikit. Ia tidak sedang melupakan masa lalu, ia hanya sedang berhenti hidup di dalamnya. Perlahan Kanisha menghembuskan napas panjang kemudian menoleh ke arah lemari pakaiannya.
Hari baru sudah dimulai dan ia tidak ingin menghabiskannya dengan menangisi seseorang yang tidak pantas mendapatkan air matanya lagi. Langkahnya berjalan menuju lemari, membuka pintunya perlahan dan memperlihatkan deretan pakaian yang tersusun rapi di sana. Kanisha memperhatikan semuanya beberapa saat lalu tangannya bergerak mengambil satu set pakaian.
Nyaman namun cukup untuk membuatnya merasa seperti dirinya sendiri lagi. Pakaian itu ia letakkan di lengannya kemudian ia menutup pintu lemari. Menatap kamar itu sekali lagi, untuk pertama kalinya, Ia tidak merasa ingin mengambil kembali apa yang sudah dibuangnya karena keputusan itu sudah dibuat. Tidak ada jalan mundur. Kanisha menggenggam pakaian di tangannya sedikit lebih erat lalu berbalik melangkah menuju pintu kamar mandi. Langkahnya tenang, pelan namun pasti seperti seseorang yang akhirnya memutuskan untuk meninggalkan masa lalu di belakangnya.
Dan tanpa menoleh lagi ke arah tempat sampah yang berisi seluruh kenangan bersama Arven, Kanisha membuka pintu kamar mandi kemudian melangkah masuk ke dalamnya.
Aku udh mmpir....slm knal....
dr awl aku udh gedek sm s pcundang...kya'nya dia emng ga pnya hti,smp tega ngucapin kta2 mnyakitkn sm istrinya...mnimal kl dia pnya hti,diem aja....kl mau psah,tnggal psah.....yg bkin dngkol,ga ngrsa brslah sm skli.....sntai bgt mlah....
tp abs ni prshaannya bkln hncur,scra pd tngkt dewa kl slma ni bs skses krna usaha sndri....pdhl tnp bntuan istrinya,udh bmgkrut dr dlu kaleee.....😡😡😡
dari semua karyamu , aku selalu suka dengan semua jalan ceritanya kak. Alurnya pas, konfliknya ada, jalan ceritanya rapi dan nggak putus di tengah jalan.
terus tingkatkan semua ceritanya supaya lebih baik kak, aku suka semua🤭☺️