Memiliki tubuh obesitas ternyata membuat Amanda dibenci orang-orang di sekeliling, keluarga yang selama ini dia percaya. Di saat usianya berusia 10 tahun ibunya pergi meninggalkannya membuatnya hidup bersama sang ayah.
Hidupnya sejak kecil begitu sempurna nyaris tidak pernah merasakan kesulitan, ketika sang ayah menikah dengan teman masa SMA- ya yang sudah memiliki dua Putri. Amanda justru mendapatkan kasih sayang dari ibu tirinya.
Tetapi siapa sangka Amanda menyadari semua itu hanyalah sandiwara ketika dia sudah dewasa. Tubuhnya yang gendut dengan wajah yang jelek, cupu membuat keluarganya jijik kepadanya, kematian ayahnya membuat penderitaan hidupnya semakin bertambah.
Pria yang dia nikahi baru 1 bulan ternyata memiliki hubungan dengan saudara tirinya, dikhianati oleh keluarganya sendiri membuat Amanda nyaris ingin mengakhiri hidup.
Tetapi semangatnya kembali dalam bentuk pembalasan ketika semua berlalu dia datang dengan penampilan yang sempurna bahkan nyaris Tidak dikenali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonecis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4. Semua Benar-benar jahat
Meski suaminya sudah diketahui selingkuh, tetapi tetap saja tidak ada yang bisa di lakukan Amanda, tidak ada satupun keluarga yang membelanya.
Amanda kerap kali harus menyaksikan di depan matanya bagaimana Sisil dan Reno yang selalu bergandengan saat melewati dirinya tanpa mempedulikannya seperti menjadikannya hanya sebagai bayangan.
Tidak ada yang paham bagaimana perasaan, seolah-olah apa yang mereka lakukan bukanlah hal yang harus dipermasalahkan, menjadi suatu kebanggaan yang membuat Alea benar-benar hanya bisa terdiam.
Air matanya kerap kali jatuh melihat sikap-sikap orang-orang yang ada di rumah sendiri, rumah itu seketika menjadi neraka dan menyakitkan, penghianatan yang telah dia terima.
Reno membuka pintu mobil Sisil dan memperlihatkan keromantisan mereka di depan Amanda yang berdiri di depan pintu dengan raut wajah sedih.
Sisil sangat bangga dengan apa yang dia lakukan dan bahkan sengaja menurunkan kaca mobil dengan bermesraan pada suami saudaranya itu dan tangannya juga dengan enteng melambaikan tangan kepada Sisil.
Menekankan pada Amanda bahwa hanya dia yang pantas untuk menjadi bagian dari hidup Reno dan sementara dia hanya dijadikan sebagai selingan.
"Sudahlah untuk apa harus bersedih? toh tidak akan mengubah apapun?" Amanda membalikkan tubuhnya ketika mendengar suara tersebut yang tak lain adalah Maudy.
"Amanda, biarkan saja mereka seperti itu, mereka melakukannya dengan saling menyukai satu sama lain dan tidak ada paksaan. Apa kamu tidak merasa bersalah menjadi orang ketiga diantara mereka berdua?" tanya Amanda.
"Jadi menurut Kakak aku adalah orang ketiganya dan sementara Sisil yang merusak rumah tanggaku?" tanya Amanda.
"Bukankah mereka berdua sudah menjelaskan kepada kamu, bahwa mereka sudah saling menyukai dan saling mencintai sebelum menikah dengan kamu. Papa yang menjodohkan kamu dengan Reno dan Reno terpaksa mengikuti kemauan Papa karena merasa tidak enak. Papa tidak bisa pergi dengan mudah jika belum melihat kamu menikah dengan Reno," ucap Maudy.
"Jika Reno tidak menyukaiku dan seharusnya mengatakan secara jujur kepada Papa, bukan malah terpaksa menikah denganku dan ujung-ujungnya seperti ini," ucap Amanda.
"Ternyata kamu memang sangat sulit sekali untuk mencerna, Amanda Reno terpaksa menikah dengan kamu hanya karena mereka tidak enak dengan Papa. Jadi jangan terus membahas hal-hal yang itu itu terus!" tegas Maudy.
"Kakak berpihak pada Sisil meski dia yang salah?" tanya Amanda.
"Kenapa tidak? Sisil adalah adik kandungku dan bukankah seharusnya sebagai seorang Kakak harus berpihak kepada adiknya," jawab Maudy menekankan kepada Amanda yang semakin melukai hati Amanda.
"Sudahlah, kamu jangan drama, kamu terima saja takdir kamu sudah seperti ini," ucap Maudy tidak banyak bicara dan kemudian berlalu dari hada Amanda.
"Amanda semakin terluka mendengar kata-kata Maudy membuat air matanya kembali jatuh.
"Kenapa semua orang semakin jahat kepadaku?"
"Kenapa sejahat ini?"
"Apa yang terjadi?" Amanda benar-benar merasa kecewa dan tidak percaya dengan semua yang terjadi, katanya benar-benar berubah 180 derajat ketika sang ayah meninggal.
Banyak perubahan yang dilakukan orang-orang yang di sekitarnya yang semakin tidak menghargainya, mengejeknya secara terang-terangan dan memperlihatkan rasa ketidaksukaan mereka kepada Amanda secara cepat tanpa ada pura-pura.
*****
Amanda ikut sarapan bersama dengan Mata, Maudy, Sisil dan Reno yang mana semua orang menikmati sarapan masing-masing dan ternyata Amanda tidak sarapan dan dia hanya diam, tidak seperti biasanya akan mulai menikmati makanan yang banyak karena makan sedikit tidak akan cukup untuk lambungnya.
Tiba-tiba Amanda meletakkan map berwarna hijau di atas meja tempat memberikan pada Reno membuat Reno perlahan mengangkat kepalanya dengan mengerutkan dahi.
"Apa ini?" tanya Reno.
"Aku sudah menandatangani surat perceraian yang telah aku ajukan sekarang tinggal kamu yang menandatanganinya, maka kita berdua akan resmi berpisah," ucap Amanda ternyata mengambil keputusan agar harga dirinya tidak semakin diinjak-injak.
"Kamu mengajukan perceraian ke pengadilan?" tanya Maya memastikan pada anak tirinya itu.
"Benar! Ini sudah menjadi keputusan yang bulat, aku benar-benar memutuskan untuk berpisah dan tidak ada yang bisa dipertahankan dalam rumah tangga yang dilakukan dengan secara terpaksa," jawabnya dengan tegas.
Reno menghela nafas, tidak banyak bicara, tidak protes dan tidak berusaha untuk berbicara dengan istrinya, mengambil pulpen yang sudah disediakan dan dengan enteng menandatangani surat perceraian tersebut.
Amanda melihat betapa santainya suaminya itu, benar-benar semakin sakit, Reno benar-benar tidak bersalah dan mungkin itu yang telah dia tunggu-tunggu selama ini, Sisil tersenyum melihat bagaimana Reno menandatangani surat perceraian tanpa keraguan sama sekali.
"Sudah selesai," ucap Reno memberikan kembali dokumen tersebut.
"Kamu benar-benar setuju berpisah denganku tanpa berpikir untuk memperbaiki sedikit saja rumah tangga kita?" tanya Amanda.
"Heh Amanda, pertanyaan itu sebaiknya aku tanyakan kembali kepada kamu? Apa menurut kamu aku harus mempertimbangkan perpisahan ini, kamu yang meminta untuk berpisah dan aku sudah menuruti keinginan kamu," jawab Reno.
"Lagipula mana mungkin Reno harus memikirkan secara matang-mata untuk mendatangi perceraian itu apalagi harus membujuk kamu untuk tidak berpisah. Ini adalah hal yang ditunggu-tunggu Reno lepas dari wanita obesitas seperti kamu!" tegas Sisil.
"Jahat, kalian berdua benar-benar jahat, kalian berdua tidak tahu berterima kasih, apa yang kalian pakai saat ini dan apa yang kalian nikmati adalah uangku, aku benar-benar muak dengan kalian dan sebaiknya kalian pergi dari rumah ini!" tegas Amanda sejak tadi sudah menahan diri dan mengambil tindakan.
"Ha-ha-ha!" Sisil justru tertawa mendengar Amanda berusaha untuk mengusir mereka berdua.
"Amanda kamu tidak bisa menyuruh kami untuk pergi dari rumah ini dan seharusnya kamu yang pergi dari rumah ini. Kamu sudah memutuskan untuk berpisah dari Reno dan artinya orang yang mengajukan perceraian akan meninggalkan rumah ini dan seluruhnya sesuai dengan perjanjian yang telah kamu tanda tangan bersama dengan Reno dalam perjanjian pranikah!" tegas Sisil.
Amanda kaget mendengar pernyataan itu, jantungnya tiba-tiba saja berdebar begitu kencang.
Maudy berdiri dari tempat duduknya setelah mendapatkan perintah Maya dengan kode mata. Tidak lama Maudy kembali mengambil dokumen berwarna hitam dan meletakkan di depan Amanda.
"Bacalah dokumen yang sudah kamu tanda tangani!" titah Maya.
Amanda panik dan kemudian membaca dokumen tersebut, betapa terkejutnya Amanda saat melihat bagaimana perjanjian yang tidak masuk akal yang telah dia tandatangani.
Seluruh harta peninggalan orang tuanya yang telah diwariskan kepadanya dijatuhkan Reno dan semua akan sah menjadi milik Reno jika Amanda menceraikan Reno dan mengajukan perceraian ke pengadilan yang telah ditandatangani.
"Tidak! Apa-apaan ini?"
"Ini dokumen palsu dan aku tidak pernah menandatangani hal seperti ini," sahut Amanda panik.
"Silahkan ke pengadilan untuk mengurus dokumen tersebut jika memang palsu dan saya tidak membayangkan betapa banyaknya kerugian yang akan kamu dapatkan, akibat dokumen yang kamu katakan palsu dan padahal itu adalah tanda tangan kamu," sahut Maya.
"Kalian menjebak saya, saya benar-benar tidak pernah melakukan semua ini!" tegas Amanda.
"Sudahlah Amanda jangan drama, kamu sudah mendatangani dokumen tersebut dan terima saja risiko dari apa yang telah kamu lakukan," sahut Sisil.
"Kak Maudy. Apa ini dokumen yang Kakak berikan kepadaku untuk ditandatangani di saat hari pernikahanku?" Amanda mengingat dokumen hitam tersebut memang pernah diberikan Maudy kepadanya dan waktu itu Maudy mengatakan bahwa itu adalah dokumen pernikahan.
"Benar, ini adalah Dokumen yang telah kamu tanda tangani, jadi kamu sudah mengingatnya bahwa pernah menandatangani dokumen tersebut, jadi berarti tidak ada hal yang harus dipermasalahkan," sahut Maudy.
"Kalian semua benar-benar jahat, kalian menjebak ku, kalian bukan manusia, kalian mengkhianati, kalian jahat!" Amanda mengumpat dengan penuh kemarahan atas apa yang telah diberikan kepada.
"Mulai drama," sahut Sisil dengan tersenyum miring.
Amanda harus meratapi nasibnya melihat orang-orang di sekitarnya tampak tersenyum dengan kebodohannya, jebakan mereka sama berhasil menghancurkan Amanda, tidak dihargai diselingkuhi di maki dan direndahkan bahkan akan kehilangan seluruh harganya akibat jebakan yang diberikan kepadanya, tidak ada satupun orang yang di sana membelanya dan justru menertawakan dirinya.
*****
Merasa sudah tidak ada artinya dunia yang begitu kejam semenjak ditinggalkan sang ayah membuat Amanda tampak melamun yang murung di pinggir jembatan, kepalanya menunduk melihat sungai yang mengalir deras dengan tatapan mata kosong, air matanya terjatuh.
Amanda terbayang bagaimana masa kecilnya yang sangat bahagia ketika ibunya masih bersamanya, semuanya berpisah ketika kedua orang tuanya memutuskan bercerai dan ibunya meninggalkan dirinya.
Amanda masih bahagia bersama sang ayahnya dan bahkan ketika ayahnya memutuskan untuk menikah lagi membawa dua anak perempuan ke rumahnya.
Dia merasa bahagia dan mendapatkan kasih sayang, memiliki saudara sebagai temannya bermain dan semuanya berjalan baik-baik saja, tetapi semuanya harus hancur ketika sang ayah meninggal.
Bersambung...