NovelToon NovelToon
AKU YANG DIPANDANG HINA

AKU YANG DIPANDANG HINA

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:648.2k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Dimata publik, kehidupan wanita bernama Ayunda sangatlah sempurna. Karir cemerlang, ekonomi mapan, paras cantik jelita dengan senyum menawan.

Namun dibalik itu semua, Ayunda memeluk lara seorang diri. Dipaksa bertanggung jawab atas dosa tidak pernah dilakukannya.

Sedari kecil, hidup Ayunda bak di neraka, diperlakukan semena-mena, haknya sebagai seorang anak dirampas.

Ketika dewasa, sekuat tenaga dia menyembunyikan identitasnya, serta melakukan hal besar demi memperjuangkan masa depan yang hampir direnggut paksa.

Rahasia apa yang coba disembunyikan oleh Ayunda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter : 08

“Keterlaluan bener si Dwira!” Seila berada di puncak emosi, tangannya terkepal kuat.

Sorak sorai terus menerus terdengar, membuat Ayunda merasa tersudut terlebih banyak pasang mata yang mengarah ke arahnya.

Tidak ada cara lain, Ayunda melingkari lengan Seila, sedikit menarik agar temannya sudi melangkah.

Tanpa orang sadari, dan memang sang artis pandai memainkan ekspresi – Syafira dan Vinira menyeringai culas.

Seperti orang tidak bersalah, Dwira menghampiri kedua sahabatnya, lalu menarik lengan mereka agar sesi foto lekas terlaksana.

Momen itu direkam, difoto ratusan kamera ponsel dan ada juga bidikan tangan wartawan tabloid.

Sebisa mungkin Ayunda menghindari tertangkap lensa kamera, posisinya sedikit tertutup badan Seila yang memiliki tinggi sama dengannya.

Ketika sudah sangat dekat dengan kedua artis, salah satu dari mereka menyeletuk yang langsung mengundang rasa penasaran penonton sebab suaranya tertangkap mikrofon.

“Maaf kalau salah menebak, tapi sepertinya memang benar … kamu Ayunda, kan? Dulu pernah sekolah di SMP Bekti?” Vinira sedikit menekuk lutut supaya seperti benar-benar terkejut ketika memperhatikan wajah tertunduk.

Ayunda menelan air ludah, dia sudah menduga kalau sesi foto ini tidak akan berakhir tanpa sandiwara di atas panggung.

“Eh beneran kamu Ayunda kan, yang dulu suka bantuin ibu kantin jualan saat jam istirahat?” Syafira ikutan bertanya dengan nada antusias.

“Gila gak tuh, artis sekelas Syafira dan Vinira masih mau menyapa teman sekolahnya yang sepertinya dari kalangan rakyat jelata. Secara SMP Bekti berskala internasional loh,” suara sumbang salah satu fans yang berdiri dekat panggung terdengar nyaring.

Ayunda mengangkat dagu, memaksakan tersenyum meskipun hatinya meradang dan dada terasa sesak. “Apa kabar nona Syafira, nona Vinira. Selamat ya, sekarang kalian sudah jadi artis top.”

“Kamu itu masih aja sama seperti dulu. Terlalu formal banget.” Syafira memeluk lengan Ayunda dan memutar badannya sehingga menghadap penonton. “Perkenalkan, dia salah satu teman baik kami semasa putih biru, sayangnya dulu gak sampai tamat, lantaran terkena kasus yang sebenarnya cuma kesalahpahaman semata.”

Di hadapan ratusan bahkan mungkin mencapai jumlah hampir seribu, Ayunda sebisa mungkin tidak menangis. Dia berdiri tegar, walaupun mulai difitnah oleh gosip murahan yang langsung mengarah ke praduga liar tak terkendali.

Sesaat suasana menjadi gaduh, dan pihak penyelenggara acara tidak langsung bertindak.

Beberapa menit kemudian, Vinira maju satu langkah berdiri tepat disamping adik teramat sangat dibencinya. “Tolong jangan berspekulasi aneh-aneh. Namanya juga dulu terlalu muda, pas pula memasuki masa pubertas, ada yang melaporkan kalau teman kami ini kepergok ciuman di belakang gedung kesenian.”

“Tapi beneran cuma salah lihat loh, untungnya aku dan Vinira sedari awal memang tidak percaya kalau teman kami berbuat asusila, langsung meminta pihak sekolah bertindak adil.” Syafira merangkul pundak Ayunda.

“Masa Ayunda seperti itu?” gumam Dwira, tatapannya seolah tidak percaya.

“Puas lu! Seneng nonton dia dipermalukan di hadapan publik?!”

Seila maju, tanpa permisi menarik siku Ayunda dari arah belakang, lalu sedikit menyeret sampai langkah si wanita terseok-seok menuruni tangga.

Pembelaan para artis itu tidak serta-merta membungkam mulut para penonton yang terlanjur bersorak.

Gosip panas layaknya bola api mulai berhembus kencang melalui ketika jemari, mengirim foto, video ke jagat maya.

“Minggir kalian!” Seila berteriak bak orang kesetanan, genggam tangannya dikencangkan.

Susah payah dia menyibak lautan manusia, kala berhasil langsung berlari menuju toilet wanita di lantai yang sama dengan atrium.

.

.

Di dalam bilik toilet, Ayunda duduk di atas kloset. Tidak ada air mata, cuma tatapan hampa. Bibirnya terkatup rapat, enggan menanggapi suara ribut pertengkaran antara Seila dan Dwira.

“Maaf, Sei. Gua beneran gak tahu kalau Yunda kenal sama Syafira, Vinira, bahkan pernah satu sekolah!” Dwira mencoba menjelaskan.

“Maaf lu gak guna! Coba lu periksa media sosial, cuplikan tadi langsung viral dengan hastag – teman artis pernah berbuat senonoh. Belum lagi penuh komentar cemooh, menyudutkan! Lu punya otak kan, digunain lah! Jangan kayak otak Udang!” Seila menyalakan keran air, membasuh wajahnya, mencoba mendinginkan kepala terasa panas.

“Lu nyadar gak sih, mulutmu jahat banget tau nggak? Tadi itu ketidaksengajaan. Lagian mereka langsung konfirmasi kalau cuma kesalahpahaman, dan nama Ayunda pun udah dibersihkan!” Dwira sakit hati oleh kalimat pedas Seila.

Seila mengeringkan tangan di High-Speed Hand Dryer, lalu dia membuang tisu yang tadi untuk mengelap wajah.

“Coba deh lu ambil gelas kaca, lalu banting, terus disatuin lagi. Kalau kelihatan berbahaya, yang lebih muda aja – selembar kertas diremas, lalu dikembalikan seperti awal. Hasilnya apa? Tetep masih ada bekasnya ‘kan?” tanyanya dengan nada rendah, tatapan tegas.

“Sama seperti gosip, tuduhan tak berdasar, fitnah terlanjur tersebar. Meskipun kebenaran pada akhirnya datang, tetap meninggalkan jejak. Terlebih bagi orang yang nggak ngotak, mereka gak akan peduli dampaknya, terpenting ikutan menghakimi, mencaci maki,” ujarnya seraya menghela napas.

Seila mendekati pintu toilet, menggedor-gedor sedikit keras. “Mau sampai kapan lu sembunyi? Percuma. Wajahmu udah terpampang di laman media sosial. Lebih baik kita pulang!”

“Kalian pulang duluan aja, aku masih mau disini.” Ayunda menyimpan ponselnya ke dalam tas kecil.

“Yun, Ayunda, aku minta _”

Seila mencegah Dwira, menyeret temannya keluar dari dalam kamar mandi.

Selepas kepergian kedua sahabat Ayunda, seorang security meletakkan dua buah papan kuning dengan tulisan tambahan – Toilet tidak dapat digunakan, sedang dalam perbaikan.

Ayunda masih berdiam diri di toilet, sampai sebuah pesan masuk pada ponselnya, baru ia beranjak keluar. Memilih pulang, tidak lagi berminat menghabiskan hari libur di luar apartemennya.

***

Keesokan harinya, tepat pukul delapan pagi, Ayunda sudah tiba di perusahaan Wangsa group.

Penampilannya terlihat segar, senyum hangat menghiasi bibir berlipstik warna lembut.

Ayunda melangkah penuh percaya diri, seolah kejadian memalukan di mal kemarin tidak pernah terjadi.

“Pagi, Ayunda,” Yusniar menyapa sang asisten, mereka sama-sama masuk ke dalam lift.

“Pagi juga, Mbak. Tadi diantar pak suami ya?”

“Iya dong, makanya gak nebeng kamu,” jawab Yusniar.

“Yaa … gak ada pemasukan tambahan aku, biasanya dapet transferan uang bensin dari mbak, Niar,” ia terkikik.

Begitu sampai di lantai 21, mereka bergegas meletakkan barang bawaan lalu melangkah tergesa-gesa masuk ke dalam ruangan direktur.

“Tolong bookingkan tempat yang sesuai dengan standar tunangan saya.”

“Untuk acara lamaran atau hanya dinner romantis, Tuan?”

.

.

Bersambung.

1
Didi Setiadi
truss, trusss , gass terosss
Anonim
Aku deg-degan juga ini
Takut terjadi sesuatu pda mereka
Anonim
Ayunda tenangkanlah dirimu
Tuan Daksa pasti menjagsmu
Anonim
Pantas pantas sekali sikap Ayunda pada wanita yang seharusnya menjadi ibu yang menjaganya
Y.S Meliana
si pemilik senyum manis kah
Y.S Meliana
oooh maka'y si binar punya bnyk uang, g tau'y maenan si effendi
Y.S Meliana
hhhhmmmm... 😏😏😏 sapa ini orang'y
Y.S Meliana
nah lho 😄😄 yg ngadu malah pak Basri
Y.S Meliana
pasti ini, pasti di paksa keluar dari hunian mewah sm si tuan bpk'y si bayi 😄
Lesmana
waahhh gak sabar nih nunggu..diapain enaknya binar sama author cublik eh sama daksa mksdnya🤭🤭
neni nuraeni
aduuh lnjutt semoga Yunda dan bayinya ga knp"
Moms Rafi-alhusaini 🌺
Alhamdulillah papi pepaya udh dateng 🥰
🌷💚SITI.R💚🌷
kayanya bpk si bayi de
🌷💚SITI.R💚🌷
lkamu tenang aja yunda
🌷💚SITI.R💚🌷
belajar dr oengslaman di omelin mulu ya ya daksa
Siti Mamahe Kaila Izana
eh eh eh Maen Sosor 😚😗😙 aja Ning papi Daksa kaya Soang 🪿.
Mau ngintip takut jadi pengen kan berabe Mana Pak donatur Jauh lagi 😌😌
Tri Lestari Endah
semoga papa Daksa bisa menghancurkan effendi dN binar sebelum mereka menemukan yunda 😍🙏
lyani
benar si.. kembali.... hadapi. Nadira jg ada campur tangan daksa
lyani
sekali tepuk segerombolan lalat mati y yer
lyani
owalahh....jentikin jari aja si daksa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!