Di saat fisiknya yang sawo matang selalu dihina oleh geng Ivanka, Alisha membuktikan bahwa kecerdasan dan rasa percaya diri jauh lebih memikat daripada standar kecantikan dunia. Namun, ketangguhannya diuji oleh Reyshaka, rival abadi berotak encer yang hobinya berdebat, tapi diam-diam selalu pasang badan paling depan saat Alisha direndahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang BK, Hukuman Lapangan, dan Perhatian yang Bergeser
Atmosfer di dalam ruang BK terasa begitu dingin, kontras dengan suhu luar ruangan yang mulai menyengat. Pak Bambang duduk di balik meja kerjanya yang dipenuhi tumpukan berkas pelanggaran siswa, menatap tajam tiga murid yang berdiri berjejer di depannya.
Rendi berdiri di sebelah kanan sambil terus memegangi rahangnya yang mulai membiru akibat pukulan Shaka. Di tengah, Aleta berdiri tegak dengan satu kaki masih beralaskan kaus kaki saja karena sepatu kirinya disita sebagai barang bukti di atas meja. Sementara di sebelah kiri, Shaka berdiri dengan posisi istirahat di tempat, wajahnya teramat tenang seolah-olah ia sedang mengantre di kasir koperasi sekolah, bukan sedang disidang.
"Coba jelaskan ke Bapak, kenapa kalian bisa bikin keributan memalukan begitu di koridor kelas dua belas?!" bentak Pak Bambang, memukul meja dengan telapak tangannya.
"Dia duluan, Pak!" Aleta langsung memotong, jarinya menunjuk lurus ke arah wajah Rendi tanpa ada rasa takut sedikit pun. "Dia tuh hobi banget catcalling anak kelas sepuluh. Tadi pas saya jalan sama Mbak Alisha, dia dengan asbun dan rasisnya ngatain warna kulit Mbak saya! Dia bilang Mbak Alisha keruh sedangkan saya bening! Saya gak suka ya, Pak, sama orang yang hobi body shaming begitu, meskipun alasannya cuma bercanda! Mulutnya emang harus disumpal pake sol sepatu biar paham sopan santun!"
Pak Bambang agak tertegun mendengarkan rentetan kalimat Aleta yang meluncur cepat seperti senapan mesin.
"L-loh, Pak, saya kan cuma bercanda! Lagian emang bener kan mereka beda warna kulitnya? Masa cuma begitu aja saya ditampar pake sepatu sampai pipi saya lebam begini! Terus si Shaka tiba-tiba dateng langsung mukul saya tanpa sebab!" bela Rendi, mencoba mencari simpati dengan suara yang dibuat memelas.
Pak Bambang menoleh ke arah Shaka. "Reyshaka! Kamu ini juara kelas, anak olimpiade, rekam jejak kamu bersih! Kenapa kamu malah ikut-ikutan main fisik begini?!"
Shaka tidak mengatakan sepatah kata pun. Ia hanya menatap lurus ke depan dengan pandangan dingin yang kosong. Baginya, tidak ada yang perlu dijelaskan atau dibela di depan guru BK. Dia memukul Rendi karena cowok itu pantas mendapatkannya, simpel. Melihat keterdiaman Shaka dan keras kepalanya Aleta, Pak Bambang akhirnya mengembus napas frustrasi.
"Sudah! Tidak ada yang mau mengalah! Rendi, kamu ke UKS obati memar kamu! Dan untuk kalian berdua, Shaka, Aleta, karena kalian sudah main fisik dan merusak ketertiban, sekarang juga kalian berdiri di lapangan upacara! Hormat ke tiang bendera sampai satu jam pelajaran selesai!" putus Pak Bambang tegas.
Matahari siang itu mulai naik tepat di atas kepala ketika Shaka dan Aleta mulai menjalankan hukumannya. Dari koridor pinggir lapangan, Alisha berdiri mematung dengan perasaan bersalah yang teramat dalam. Matanya menatap lekat-lekat ke arah dua orang yang kini berdiri tegap di tengah lapangan semen yang panas. Adiknya yang keras kepala, dan cowok kulkas sepuluh pintu yang rela mengotori tangannya demi membelanya.
"Alisha!!"
Sebuah suara napas yang terengah-engah dari arah belakang membuat Alisha menoleh. Amelia datang dengan berlari kecil, wajahnya memerah dan keringat bercucuran di pelipisnya.
"Mel? Kok lo di sini? Bukannya tadi mau ke kantin sama Raihan?" tanya Alisha heran.
"Gimana... gimana gue bisa tenang di kantin, Sha!" ucap Amelia sambil memegangi lututnya, mencoba mengatur napasnya yang ngos-ngosan. "Gue tadi nungguin lo sama Raihan di koridor bawah tapi gak dateng-dateng. Terus anak-anak heboh bilang ada kejadian lempar sepatu sama baku hantam di koridor kelas dua belas. Gue langsung lari cari lo! Lo gak apa-apa, kan? Gak terluka, kan?"
Alisha menggeleng lemah, matanya kembali menatap ke arah lapangan. "Gue gak apa-apa, Mel. Tapi Aleta sama Shaka yang kena hukuman di sana."
****
Begitu bel tanda pergantian jam pelajaran berbunyi, menandakan satu jam pelajaran hukuman telah usai, Shaka dan Aleta berjalan lunglai ke pinggir lapangan untuk berteduh di bawah pohon rindang dekat koridor. Fisik Aleta yang masih kelas sepuluh tampak benar-benar terkuras, ia langsung duduk selonjoran di lantai semen sambil mengipasi wajahnya pakai buku.
Alisha dengan cepat berjalan menghampiri mereka membawa dua botol air mineral dingin yang sengaja ia beli di koperasi tadi. Ia memberikan satu botol kepada Aleta, lalu melangkah mendekati Shaka yang sedang menyeka keringat di lehernya dengan handuk kecil.
"Nih, minum dulu," ucap Alisha pelan, menyodorkan botol air mineral dingin ke hadapan Shaka.
Shaka menoleh, menatap Alisha sekilas sebelum menerima botol itu. "Thanks," ujarnya singkat, langsung meneguk air tersebut hingga tersisa setengah.
Alisha menggigit bibir bawahnya ragu, matanya menatap Shaka dengan lekat. "Shak... gue mau nanya. Kenapa lo sampai nekat mukul Rendi tadi? Lo tahu kan taruhannya gede banget? Ini pertama kalinya lo masuk ruang BK dan dihukum di lapangan. Reputasi lo sebagai anak emas guru bisa rusak gara-gara ini."
Shaka menurunkan botol minumnya, lalu menatap Alisha lurus-lurus ke dalam matanya. Sisa-sisa tatapan dinginnya di ruang BK tadi lenyap, berganti dengan binar tajam yang intens.
"Gue gak peduli soal reputasi atau ruang BK," jawab Shaka, suaranya terdengar sangat rendah namun bergetar tegas di rungu Alisha. "Gue cuma nepatin janji taruhan kita kemarin. Siapa pun yang berani nyenggol lo, orang pertama yang bakal bertindak itu gue. Dan gue gak suka ada orang lain yang bicara sampah soal penampilan lo di depan gue."
Jantung Alisha langsung berdegup ugal-ugalan mendengar jawaban jujur dan protektif dari Shaka. Ia buru-buru memalingkan wajahnya yang mendadak terasa panas memerah, menyembunyikan senyumannya di balik rambut panjangnya yang masih bertengger jepit beruang cokelat.
Sementara itu, di sudut lain pinggir taman sekolah, Amelia masih berdiri menunggu di dekat koridor. Langkah kakinya ragu untuk mendekat ke arah Alisha dan Shaka yang terlihat sedang mengobrol serius. Namun, fokus Amelia teralih ketika sesosok cowok jangkung dengan karisma cool-nya berjalan mendekat ke arahnya. Raihan.
Raihan berhenti tepat di depan Amelia, menatap gadis itu dengan tatapan bersalah yang teramat gentle.
"Mel, sorry banget ya," ucap Raihan, suaranya terdengar tulus. "Gara-gara keributan tadi, kita gak jadi ke kantin bareng. Gue musti mantau Shaka di ruang BK tadi. Nanti pulang sekolah gue ganti deh, kita jajan di depan, ya?"
Amelia mendadak kaku, debaran di dadanya kembali berdisko. "Eh? I-iya, Han, gak apa-apa kok. Santai aja," jawab Amelia dengan senyuman salting yang mati-matian ia tahan.
Raihan memberikan satu senyuman tipis yang sangat tampan, lalu tangannya yang memegang satu botol teh kemasan dingin bergerak melintasi Amelia. Namun, bukannya memberikan minuman itu ke Amelia, langkah tegap Raihan justru terus berlanjut melewati gadis itu, berjalan lurus menuju ke arah bangku taman di mana Aleta sedang berkumpul bersama teman-teman sekelasnya dari kelas sepuluh.
Amelia berbalik, menatap punggung Raihan dengan dahi berkerut bingung.
Di bawah pohon, Aleta sedang duduk lemas dikelilingi oleh tiga orang teman kelas sepuluhnya yang sedang heboh menanyakan kronologi kejadian tamparan sepatu tadi. Tiba-tiba, sebuah botol teh dingin yang segar ditempelkan di pipi kanan Aleta, membuat gadis itu tersentak kaget.
"Nih, buat lo. Biar otak lo gak makin panas," ucap Raihan santai, berdiri di depan Aleta dengan satu tangan dimasukkan ke saku celana abu-abunya.
KYAAAAA!
Demi apa Kak Raihan?!
Teman-teman kelas sepuluh Aleta langsung histeris tertahan, saling menyenggol lengan satu sama lain dengan wajah kegirangan melihat kedatangan cowok paling populer di sekolah itu yang tiba-tiba memberikan perhatian manis pada Aleta.
Sementara itu, Aleta yang energinya sudah benar-benar habis akibat dijemur satu jam di lapangan, tidak memiliki sisa tenaga untuk merespons gombalan atau bersikap sinis. Ia mendongak, menatap Raihan dengan mata sayu yang lelah. Tidak ada rasa salting atau baper di wajahnya, murni hanya rasa haus yang luar biasa.
Aleta menerima botol minum itu dengan gerakan pelan. "Makasih ya, Kak Raihan," ucap Aleta lempeng dan formal, sebagaimana layaknya seorang adik kelas yang menghormati kakak kelasnya tanpa bumbu-bumbu asmara.
Raihan yang melihat respons super datar dari Aleta justru kembali mengembangkan senyum smirk-nya yang penuh ketertarikan. Sisi penakluk dalam dirinya semakin membara melihat betapa kokohnya benteng pertahanan anak baru di depannya ini.
Di kejauhan, Amelia hanya bisa menatap pemandangan itu dengan perasaan yang mendadak berdenyut aneh, sementara Alisha diam-diam memperhatikan bagaimana takdir perlahan-lahan mulai mengikat mereka berempat dalam lingkaran cerita yang semakin rumit di SMA Pelita Bangsa.