NovelToon NovelToon
PRINCESS AZURA

PRINCESS AZURA

Status: tamat
Genre:Aliansi Pernikahan / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:920.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mae_jer

Putri Azura dari kerajaan Utara, menikah dengan pangeran Xavier, putra Mahkota kerajaan Selatan. Xavier membenci Azura saat mengetahui wanita itu hanya memanfaatkannya demi pernikahan politik. Semua orang yang pernah dekat dengan Azura pun berpaling darinya dan menganggapnya wanita jahat yang haus akan kekuasaan.

Namun, apakah sang putri benar-benar jahat? Atau dia hanya menjadi boneka politik yang berusaha bertahan hidup?

Nanti akan terungkap bahwa di balik keanggunan dan kepintarannya, Princess Azura diam-diam melindungi Xavier dan orang-orang yang dia sayangi dari bahaya yang jauh lebih besar. Kebencian perlahan berubah jadi keraguan, hingga akhirnya kebenaran mengejutkan terkuak, kebenaran tentang betapa pahitnya kisah hidup Azura dan cintanya yang tulus terhadap Xavier.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bersihkan dirimu

"Kau... kau... hanya kau ..." rintih Azura tanpa sadar, kepalanya menggeleng lemah.

Kalimat itu, meski diucapkan dalam keadaan begitu, entah kenapa membuat rasa sesak di dada Xavier sedikit berkurang. Ia semakin mempercepat gerakannya, mendorong masuk semakin dalam dengan setiap hentakan pinggangnya, tubuh keduanya beradu hingga menimbulkan suara tepukan kulit yang berirama dan basah. Air di dalam bak mandi bergoyang-goyang hebat memercik keluar karena gerakan mereka yang semakin liar.

Xavier mengangkat salah satu kaki Azura meletakannya di bahunya, memperlebar aksesnya semakin dalam lagi. Ia menatap wajah wanita itu yang memerah karena rangsangan, menatap bibir yang terbuka mengerang namanya, menatap mata yang berkaca-kaca itu. Ia benci wanita ini. Ia sangat membencinya. Tapi saat ini, saat tubuh mereka menyatu sedalam dan serapat ini, ia merasa seolah-olah ada bagian dari jiwanya yang juga tersedot masuk, bersatu, dan menolak untuk berpisah. Rasanya, seperti ia pernah melakukan ini jauh sebelumnya dengan wanita ini. Tapi itu tidak mungkin kan? Mereka saja belum lama saling kenal.

"Kau milikku..." desis Xavier tanpa sadar.

Gerakannya semakin cepat dan kencang, napasnya semakin berat dan panas. Ia tidak lagi menahan diri sepenuhnya, namun ia memastikan setiap tusukannya menghantam titik kenikmatan, bukan titik rasa sakit. Ia menyerang tubuh Azura dengan rasa nikmat yang dahsyat, memeras setiap tetes rasa yang ada di sana hingga wanita itu kembali melengkungkan tubuhnya, menggigil hebat, dan memuncratkan cairan kenikmatan kedua kalinya ke dalam tubuh Xavier.

Puncak kenikmatan itu menjadi sinyal bagi Xavier. Dengan raungan tertahan yang parau, ia menancapkan dirinya sedalam-dalamnya, menahan posisinya di sana sekuat tenaga, dan membiarkan semburan panasnya meledak memenuhi rongga tubuh Azura, membanjirinya dengan rasa hangat yang mendalam. Tubuhnya menegang kaku di atas wanita itu, urat-urat di leher dan lengannya menonjol karena tenaga yang dikerahkan, sementara napasnya keluar dalam hembusan-hembusan berat yang panjang.

Untuk beberapa saat yang lama, keduanya hanya diam dalam posisi itu, saling menempel rapat, bernapas dengan terengah-engah, tenggelam dalam sisa rasa yang mendominasi seluruh panca indra mereka. Air di bak mandi sudah dingin, tubuh mereka penuh keringat dan percikan air, namun rasa panas di antara keduanya belum juga mereda.

Perlahan namun pasti, Xavier menarik keluar tubuhnya, meninggalkan rasa hampa yang mendadak terasa di dalam sana. Ia menatap sisa cairan bercampur yang menetes pelan dari celah kewanitaan Azura, seulas senyum sinis namun penuh kepuasan terukir di bibirnya.

Ia lalu berjalan menjauh menuju sisi lain ruangan, mengambil handuk besar yang tersedia, lalu mengusap kasar tubuh kekarnya sendiri seolah-olah apa yang baru saja terjadi hanyalah sekadar rutinitas biasa, tanpa makna apa pun. Setidaknya itulah yang ingin dia percayai.

Azura masih terdiam kaku di pinggiran bak mandi, kakinya gemetar hebat dan nyaris tak sanggup menopang berat tubuhnya sendiri. Rasanya seluruh tenaganya tersedot habis, daging-daging di dalam tubuhnya terasa ngilu namun anehnya terasa begitu nyaman dan lengkap.

Ia menunduk, memeluk kedua lututnya yang masih basah, wajahnya bersembunyi di antara lengan, berusaha mengumpulkan kembali sisa-sisa kewarasannya yang berantakan. Di satu sisi ia merasa begitu hina, diperlakukan seperti benda pemuas nafsu semata, namun di sisi lain, kenangan akan kelembutan gerakan Xavier yang perlahan dan dalam tadi masih jelas di ingatannya, membuat jantungnya berdebar kencang dengan rasa yang rumit.

Suara dingin Xavier memecah keheningan itu, menusuk langsung ke kesadaran Azura.

"Bersihkan dirimu, kita akan segera berangkat ke Utara."

Kalimat itu diucapkan dengan nada datar, tegas, dan tanpa emosi sedikit pun, persis seperti perintah yang diberikan seorang tuan kepada pelayannya. Xavier bahkan tidak menoleh sedikit pun ke arahnya saat mengucapkannya.

Ia sudah mengenakan kembali celana dan kemejanya, menutupi tubuh indah yang baru saja menghabisi Azura, dan kini ia berdiri tegap di dekat pintu, sedang merapikan kerah bajunya dengan tenang.

Azura mengangkat wajahnya perlahan, menatap punggung lebar pria itu dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Ke Utara?" ulangnya lirih, suaranya masih parau dan berat.

"Sekarang? Pestanya tiga hari lagi kan?"

Xavier berbalik badan, menatap wanita itu dengan sorot mata abu-abunya yang tajam dan dingin, seolah tak ada satu pun momen keintiman yang tercipta di antara mereka beberapa saat lalu.

"Rencanaku berubah. Bersiaplah dalam lima menit. Jangan membuatku menunggu."

Ada ketegasan yang tak terbantahkan dalam setiap ucapannya. Di balik itu, sebenarnya Xavier sendiri pun tak paham sepenuhnya mengapa ia memutuskan untuk berangkat lebih awal. Ada sesuatu yang mengganjal, tapi dia tidak tahu apa itu.

Di sisi lain, ia sadar semakin lama ia diam di sini, semakin sering ia mendapati dirinya kehilangan kendali, terbuai oleh aroma dan sentuhan wanita yang seharusnya ia benci mati-matian itu. Ia harus menjauh, menjaga kewarasannya, dan menjaga hatinya agar tidak kembali terkalahkan oleh pesona  wanita pembohong itu.

"Dan ingat," tambah Xavier lagi, nada suaranya semakin rendah dan penuh peringatan, langkahnya mendekat kembali ke arah bak mandi hingga ia berdiri tepat di hadapan Azura yang masih telanjang bulat dan pasrah.

Xavier berjongkok sedikit, mencengkeram rahang wanita itu dengan kasar namun tidak menyakitkan, memaksanya menatap lurus ke dalam matanya.

"Sepanjang perjalanan ke Utara, kau harus selalu berada di dekatku. Kalau kau kedapatan melakukan sesuatu yang merugikan aku dan orang-orangku, kau akan lihat bagaimana kejamnya aku." ucapnya dengan nada penuh ancaman.

Azura tertawa, menatapnya penuh keberanian.

"Tenang saja, pangeran. Aku tidak sebodoh itu." balasnya.

Xavier mendengus kasar, melepaskan rahang Azura dengan sentakan kecil. Matanya menyala tajam, tak ada sedikit pun kelembutan yang tersisa di sana.

"Tepati janjimu."

Pria itu lalu berbalik dan melangkah pergi. Suara langkah kakinya menjauh perlahan, meninggalkan Azura sendirian di tengah ruangan yang kini terasa hening dan dingin.

Azura menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan kedua tangan yang masih gemetar. Senyum tipis namun getir terukir di bibirnya. Ancaman itu bukan hal baru baginya, setiap kata tajam seperti itu sudah menjadi makanannya sehari-hari. Namun entah mengapa, hatinya tetap sedikit nyeri mendengarnya, terutama setelah keintiman yang baru saja mereka lalui.

Dengan sisa tenaga yang ada, ia bangkit berdiri, menyiramkan air bersih ke sekujur tubuhnya untuk menghapus segala jejak penyatuan tadi. Ia harus kuat, perjalanan ke Utara mungkin akan penuh dengan tantangan. Tapi ... Dia bisa melihat putranya lagi, itu jelas membuatnya senang.

Kita akan segera bertemu sayang.

Gumamnya dalam hati. Ia harus mencari cara membawa putranya bersamanya saat kembali lagi ke Barat, lalu melarikan diri. Dari semua orang yang memanfaatkannya, juga dari ...

Xavier.

1
Lis mania
Terima kasih banyak Thor, bagus banget ceritanya 👍🙏
Hatijah Cantik
cocoklah kan katanya Xavier jg TDK bisa punya keturunan itu kata sang Ratu ibunya xavier
Hatijah Cantik
dalam sinopsisnya Xavier ,pangeran kerajaan selatan tapi dalam cerita sebelumnya dia pangeran kerajaan barat , mana yg benar nih.
Elta Sugiarti Solibut
ceritanya luar biasa menarik
Rizky Manik
👍🏻👍🏻👍🏻
Yeni Ismayani
bagus
Dewi Ansyari
Endingnya bagus banget soalnya semuanya bahagia, semoga sukses selalu thorr🥰🥰
Dewi Ansyari
Itulah hukumanmu Elish,makanya jangan fitnah Xavier,apalagi selama ini Dy
udah menderita kehilangan Azura, makanya jangan sombong dan seenaknya saja
Dewi Ansyari
Akhirnya pulang istanah juga Azura dan Violet
Dewi Ansyari
Akhirnya raksasanya mati juga,bagus bantuannya cepat datang dari istanah
Dewi Ansyari
Ternyata benar Azura masih hidup,dan Sudah punya anak cewek dengan xavier
Dewi Ansyari
Jangan2 sebelum jatuh di jurang Azura sedang hamil,dan itu anaknya dengan Xavier
Dewi Ansyari
Kasihan Orion nyesekk banget kehilangan ibunya yg sudah berjuang selama ini agar Dy selamat 😭😭😭😭
Dewi Ansyari
RAsakan kamu Xavier peneysalanmu sudah percuma
Dewi Ansyari
Astaga Azura mati thorr nyesek banget,kasihan Arion😭😭😭, dan Xavier percuma saja kamu menyesal semuanya sudah jadi bubur😡😡😡
Dewi Ansyari
Semoga saja Azura bisa menang
Dewi Ansyari
Kasihan anak Azura😭😭di siksa
Dewi Ansyari
Anak Azura siapa Ayahnya apakah Xavier atau malah orang lain
Dewi Ansyari
Kasihan Azura 😭😭😭 Dy seakan hidup sendiri karena sekarang Dy tidak punya Sandaran😭😭😭
mariama ama
akhirnya happy ending Terima kasih banyak kaka author sayangkuhh lope lope sekebon jeruk 😍😍😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!