Malam di kota metropolitan itu tidak pernah benar-benar tidur. Lampu-lampu neon berkilauan memantul di aspal basah sisa hujan sore tadi, menciptakan kilauan warna-warni yang mempesona namun juga menyembunyikan banyak rahasia di baliknya. Di tengah hiruk-pikuk itu, di salah satu klub malam paling eksklusif dan terkenal berbahaya di pusat kota, Grey Cha Lavian sedang menikmati malamnya seperti biasa.
Bagi banyak orang, Grey adalah definisi sempurna dari seorang play girl. Cantik, cerdas, berani, dan memiliki pesona yang mampu membuat hampir semua pria berlutut di hadapannya. Rambut panjang berwarna cokelat gelap dengan sedikit sentuhan pirang, mata abu-abu yang tajam dan penuh misteri, serta senyum menggoda yang selalu terukir di bibir merahnya. Dia tidak pernah terikat pada satu orang pun. Baginya, hubungan hanyalah permainan, dan dia adalah pemenang yang selalu berkuasa. Dia mendekat saat dia mau, pergi saat dia bosan, dan tidak pernah meninggalkan jejak perasaan di belakangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elfin hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Kembali ke Rumah, Tempat Paling Aman
Perjalanan pulang dari Maladewa terasa panjang dan sunyi. Pesawat pribadi Davian melesat tinggi membelah awan, membawa mereka menjauh dari pulau indah yang sempat berubah menjadi medan pertempuran itu. Di dalam kabin mewah yang luas itu, Grey duduk bersandar erat di dada suaminya, selimut tebal menutupi tubuh mereka berdua. Dia masih terlihat lelah, sisa ketakutan dan adrenalin semalam masih terasa di setiap urat sarafnya, namun hatinya kini tenang. Selama tangan besar Davian masih menggenggam tangannya erat, selama detak jantung pria itu masih dia dengar berirama tenang di telinganya, dia tahu dia aman.
Davian sama sekali tidak melepaskan pelukannya semenjak mereka naik ke pesawat. Tangannya sesekali bergerak mengusap lengan atau rambut istrinya, gerakan berulang yang menenangkan sekaligus meyakinkan dirinya sendiri bahwa wanita itu benar-benar ada di sini, utuh, dan selamat. Di wajahnya tidak ada lagi senyum lembut atau tatapan penuh gairah seperti saat mereka sedang berlibur dulu. Kini, kembali terpancang wajah dingin sang Penguasa, wajah yang menyimpan amarah yang belum tuntas dan tekad pembalasan yang sudah matang sepenuhnya.
"Kau tidurlah sebentar, Sayang. Perjalanan masih lama," bisik Davian pelan, mencium puncak kepala Grey. Suaranya lembut, sangat kontras dengan kilatan tajam di matanya saat dia menatap keluar jendela.
Grey menggeleng pelan, mendongak menatap wajah samping suaminya. "Aku tidak bisa tidur kalau tidak melihatmu. Aku takut… kalau aku tidur, saat bangun nanti kau sudah pergi lagi bertarung."
Kalimat sederhana itu membuat hati Davian terasa dicubit perih. Dia memutar wajahnya, menatap mata abu-abu yang masih menyimpan sisa air mata ketakutan kemarin itu. Dia sadar, bahaya yang selalu mengikutinya tidak hanya mengancam nyawanya, tapi juga perlahan melukai jiwa wanita yang dicintainya. Dia telah membawa Grey ke dalam dunianya yang gelap, berdarah, dan penuh risiko. Tapi melihat kesetiaan Grey yang tak tergoyahkan, melihat bagaimana wanita itu tetap bertahan dan mencintainya meski tahu betapa mengerikannya hidup bersamanya… Davian tahu, dia tidak akan pernah membiarkan pengorbanan itu sia-sia.
"Selama kau tidur, aku akan di sini. Aku tidak akan ke mana-mana. Janji," ucap Davian tegas, mencium bibir istrinya lama dan dalam, menanamkan rasa aman yang mendalam.
Akhirnya, dibuai oleh kehangatan pelukan suaminya dan irama dengung mesin pesawat yang menenangkan, kelopak mata Grey perlahan tertutup dan dia terlelap dalam tidur yang damai. Davian memastikan istrinya benar-benar tidur nyenyak sebelum dia perlahan melepaskan pelukannya sedikit, lalu memberi isyarat dengan tangan ke arah sekretaris pribadinya yang berdiri diam di sudut ruangan.
Pria itu segera mendekat dengan wajah tegap dan serius, membungkuk hormat namun berbicara dengan suara rendah agar tidak membangunkan Nyonya Argantha yang sedang tidur.
"Semua persiapan sudah selesai, Tuan. Pasukan pengamanan sudah dikalikan sepuluh kali di seluruh wilayah kediaman utama. Semua akses masuk dan keluar dikunci dan dijaga ketat. Dan mengenai identitas orang yang mengirim penyerang di Maladewa… kami sudah mendapatkan jejaknya."
Urat-urat di pelipis Davian menonjol keluar. Tangannya mengepal erat hingga buku jarinya memutih. Dia menatap wajah istrinya yang damai itu sejenak, sebelum kembali menatap sekretarisnya dengan tatapan membunuh yang mengerikan.
"Siapa?" tanyanya singkat dan dingin.
"Keluarga Lavian, Tuan. Tuan Haris Lavian dan istrinya. Mereka bekerja sama dengan musuh lama Anda, Tuan Rendra. Mereka yang menjual informasi keberadaan Anda dan Nyonya ke sana. Mereka yang berani membocorkan lokasi liburan Anda demi imbalan kekayaan dan perlindungan dari Tuan Rendra."
Jawaban itu tidak mengejutkan Davian, namun rasa marahnya tetap meledak hebat. Dia sudah menduga. Hanya ada satu orang yang memiliki alasan cukup besar sekaligus cukup gila untuk berani menyakiti Grey dan mengganggunya seperti ini: keluarga kandung Grey sendiri. Mereka tidak puas hanya dengan menyakiti hati, menuduh kotor, dan berniat menjual anak mereka. Mereka berani menjual nyawa anak kandungnya sendiri ke tangan musuhnya hanya demi uang dan kekuasaan.
"Dasar sampah… dasar manusia tidak punya hati…" geram Davian rendah, suaranya berat dan penuh kebencian. Matanya menyala merah menyala. "Mereka pikir dengan bersekutu dengan Rendra, mereka akan selamat? Mereka pikir mereka bisa lari dari murkaku? Baiklah… kalau mereka sudah meminta mati, aku akan kabulkan permintaan mereka itu dengan cara yang paling menyakitkan."
Davian menghela napas panjang, berusaha menahan amarahnya agar tidak meledak saat istrinya sedang beristirahat. Dia kembali menatap sekretarisnya dengan pandangan tajam dan penuh perintah mutlak.
"Pasang pengepungan total di sekeliling kediaman keluarga Lavian. Jangan biarkan satu pun dari mereka keluar atau berkomunikasi dengan siapa pun. Biarkan mereka hidup dalam ketakutan, biarkan mereka merasakan neraka sebelum aku datang sendiri untuk menghancurkan mereka. Dan pastikan saat kita sampai di rumah nanti, tidak ada satu pun orang asing yang boleh lewat di radius satu kilometer. Aku ingin rumahku menjadi benteng yang tak tertembus. Aku ingin Grey merasa bahwa dia adalah wanita paling aman di dunia."
"Siap, Tuan."
Beberapa jam kemudian, pesawat itu akhirnya mendarat kembali di tanah kelahiran mereka. Langit kota tampak mendung namun bersih, udara kota yang biasa terasa bising kini terasa asing namun melegakan bagi Grey saat dia membuka matanya. Dia kembali ke rumahnya. Kembali ke tempat yang benar-benar menjadi miliknya.
Mobil limosin hitam panjang milik Davian sudah menunggu di landasan pribadi. Davian menggendong Grey keluar dari pesawat, tidak membiarkan kakinya menyentuh tanah sedikit pun seolah istrinya adalah permata paling rapuh dan berharga. Di sepanjang jalan menuju kediaman utama, Grey melihat betapa ketatnya penjagaan di mana-mana. Mobil-mobil patroli anak buah Davian terlihat berjejer di setiap persimpangan, pria-pria berbadan besar dan bersenjata lengkap berdiri tegap di pinggir jalan, memberikan hormat saat mobil tuannya lewat.
"Kau memanggil semua orang pulang?" tanya Grey pelan, masih bersandar di dada suaminya di dalam mobil.
Davian mengecup keningnya, tangannya mengusap rambut panjang itu. "Aku tidak mau mengambil risiko lagi, Sayang. Di mana pun kita berada, bahaya bisa datang. Tapi di sini… di rumah kita… akulah rajanya. Di sini, tidak ada yang berani bernapas sembarangan, apalagi menyakitimu. Aku mengerahkan semua kekuasaanku hanya untuk menjaga satu hal: keselamatanmu."
Tak lama kemudian, mobil itu memasuki gerbang besar kediaman Argantha. Gerbang besi raksasa itu terbuka lebar dan tertutup kembali rapat seketika setelah mereka lewat. Halaman luas yang biasanya terasa sepi kini dipenuhi barisan pengawal yang berdiri tegap di setiap sudut, siap siaga 24 jam. Rumah megah itu berdiri kokoh dan gagah, tampak seperti benteng yang tak bisa ditembus oleh apa pun atau siapa pun.
Begitu turun dari mobil, Grey langsung merasakan suasana yang berbeda. Di sini, tidak ada pandangan sinis, tidak ada kata-kata tajam, tidak ada rasa benci atau iri. Semua pelayan dan staf rumah tangga yang berdiri menyambut mereka menunduk hormat dengan wajah penuh senyum tulus dan rasa takzim. Bagi mereka, Grey bukan sekadar istri tuan besar, tapi wanita yang mampu membuat Tuan Argantha menjadi manusia, wanita yang menjadi pusat dari seluruh alam semesta tuannya.
"Selamat datang kembali di rumah, Nyonya Argantha," ucap kepala pelayan dengan lembut sambil tersenyum ramah.
Grey tersenyum balik, menggenggam lengan suaminya lebih erat. "Terima kasih. Senang sekali rasanya bisa kembali ke sini."
Davian langsung membawa istrinya masuk ke dalam, melewati lorong-lorong luas yang hangat dan penuh perabotan mewah, menuju kamar utama mereka yang ada di lantai paling atas. Begitu pintu kamar tertutup dan terkunci ganda di belakang mereka, Davian langsung menarik tubuh Grey ke dalam pelukan eratnya, menempelkan kening mereka berdua. Napasnya panjang dan lega.
"Akhirnya… kita benar-benar aman. Di sini, tidak ada yang bisa mengganggu kita. Dinding ini tebal dan kuat, dijaga oleh pasukan terbaikku. Tidak ada peluru yang bisa menembusnya, tidak ada orang jahat yang bisa masuk ke sini. Kau aman, Grey. Sangat aman."
Dia melepaskan pelukannya sebentar, lalu menatap wajah istrinya lekat-lekat. Wajahnya yang tadinya penuh kekejaman dan amarah kini kembali meleleh menjadi kelembutan yang tak terhingga, hanya untuk wanita di hadapannya ini.
"Maafkan aku karena harus membawamu ke dalam bahaya. Maafkan aku karena hidupku penuh darah dan musuh. Tapi percayalah, Grey… mulai hari ini, aku akan membersihkan semuanya. Aku akan menghancurkan setiap ancaman, setiap musuh, setiap orang yang berani berniat buruk padamu. Aku akan membasmi semuanya sampai ke akar-akarnya, sampai tidak ada satu pun makhluk yang tersisa yang berani menatapmu dengan pandangan salah."
Grey menggeleng pelan, tangannya yang lembut menyentuh wajah suaminya, menyisir rambut hitamnya yang sedikit berantakan. "Aku tidak pernah menyesal memilihmu, Davian. Aku tidak menyesal menjadi istrimu. Bahaya atau tidak, aku tetap akan di sisimu. Karena bagiku, bahaya terbesar di dunia ini adalah saat aku harus hidup tanpamu. Selama bersamamu, neraka pun akan berubah menjadi surga bagiku."
Kata-kata itu menembus jauh ke dalam hati Davian, membuatnya terharu sekaligus semakin bertekad bulat. Dia mengangkat tubuh istrinya, membawanya ke atas kasur empuk mereka yang besar dan nyaman, tempat di mana begitu banyak kenangan indah mereka terukir. Dia membaringkan dirinya di samping Grey, menarik tubuh mungil itu agar bersandar nyaman di dadanya, membiarkan detak jantung mereka bersatu kembali dalam irama yang sama.
Malam itu, suasana di dalam rumah Argantha begitu tenang dan damai, sangat kontras dengan kekacauan yang sedang terjadi di luar sana. Di luar gerbang itu, pasukan Davian sedang bergerak diam-diam mengepung musuh-musuh mereka. Di luar sana, ketakutan sudah mulai menghantam hati keluarga Lavian dan sekutu mereka yang pengecut itu. Mereka tahu Davian sudah kembali, mereka tahu kematian mereka sudah di depan mata, dan mereka gemetar ketakutan menunggu pembalasan yang pasti akan datang.
Namun di dalam kamar itu, di bawah selimut hangat dan cahaya lampu yang redup, tidak ada tempat untuk kebencian atau balas dendam. Davian dan Grey menghabiskan malam itu hanya dengan saling menatap, saling memeluk, dan saling meyakinkan satu sama lain. Cinta mereka mengalir lembut, menyembuhkan segala luka yang tersisa, memperkuat ikatan yang sudah tak terputuskan lagi.
Davian mencium dahi istrinya perlahan, matanya menatap langit-langit kamar dengan kilat tekad yang dingin dan tajam.
Tidurlah, Cintaku… tidurlah dengan tenang di sini, di istanamu yang paling aman. Biarkan aku yang menangani sisanya. Besok, saat kau bangun… aku akan pastikan bahwa setiap orang yang pernah membuatmu menangis, setiap orang yang pernah menyakitimu, dan setiap orang yang berani mengancam hidup kita… sudah lenyap dari muka bumi ini.
Rumah ini kembali menjadi rumah. Tempat perlindungan terakhir. Dan besok, pembalasan besar sang Penguasa akan dimulai, untuk memastikan bahwa tidak ada bahaya lagi yang berani mengintai kebahagiaan mereka selamanya.
(Lanjut ke Bab 15)